Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 164



Devan kini terdiam dengan langkahnya yang mondar-mandir tak jelas menanti Kasya yang tak kunjung datang ke dalam gudang. Tap kini Devan telah berada di dalam gudang.


Kini Devan amat sangat berharap jika Kasya datang ke sini untuk menemuinya. Rambutnya kini telah rapi dan hitam mengkilat setelah dipakaikan minyak kemiri. Devan ingin tampil rapi sekarang di hadapan Kasya. Sesekali jari-jari tangan Devan merapikan seragamnya yang telah diberi minyak wangi cukup menyengat, ini spesial untuk Kasya.


Devan sesekali membuka pintu gudang berusaha untuk memastikan jika Kasya telah datang. Devan kembali masuk lalu duduk di kursi yang telah ia bersihkan kan tadi, yap Devan tak mau jika celananya itu kotor.


Suara pintu yang dibuka terdengar membuat Devan menoleh dengan cepat hingga ia berhasil menatap Kasya yang kini menatapnya dengan perasan yang gugup.


Kasya kini menutup pintu gudang dengan rapat lalu segera melangkah ke arah Devan yang kini tak hentinya tersenyum bahagia. Ketika Kasya melangkah menghampiri Devan kembali merapikan rambutnya yang telah rapi itu.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Kasya menghampiri.


Devan kini tak menjawab tapi senyumnya seakan menyambut kedatangan Kasya.


Kasya kini melirik rambut Devan yang begitu rapi dan terlihat lebih berkilau dari biasanya. Devan yang sadar dengan tatapan Kasya dengan cepat merabah rambutnya membuat Kasya tertawa.


"Rambut kamu, Kamu apakan sampai berkilau seperti itu?" tanya Kasya lalu tertawa membuat Devan ikut tertawa.


"Rambut Devan udah Devan kasih minyak kemiri sama Mama Devan, katanya biar rambut Devan lembut, hitam dan berkilau," jelas Devan memberitahu dengan semangat.


Kasya mengangguk mengerti. Jujur ia tak pernah memakai minyak seperti itu.


"Rambut Devan lembut loh," ujar Devan.


"Beneran?" tanya Kasya antusias.


"Iya, kamu nggak pernah pakai minyak kemiri?" tanya Devan membuat Kasya menggeleng pelan.


"Coba deh sentuh rambut Devan!" pintah Devan sambil mengarahkan kepalanya ke arah Kasya berharap Kasya menyentuh rambutnya.


Kasya terbelalak saat Devan menunduk di hadapannya sambil mengarahkan rambutnya yang tercium begitu sangat wangi.


"Ayo sentuh rambut Devan!" pintah Devan lagi.


Kasya tak mengerakkan jari-jarinya sama sekali. Kasya ragu untuk melakukan hal ini. Jujur saja Kasya tak pernah menyentuh rambut seorang pria.


"Ayo sentuh!" pintah Devan lagi.


"Tapi-"


"Tidak apa-apa," potong Devan.


Kasya mengigit bibir, ia tak berani untuk melakukannya.


Devan menghembuskan nafas berat lalu segera menarik tangan Kasya dan meletakkanya di atas rambutnya. Kasya tersenyum ketika ia mampu merasakan rambut hitam Devan yang lembut namun sedikit berminyak.


"Rambut Devan lembut kan?" tanya Devan.


Kasya mengangguk cepat dengan perasaan gugupnya.


Devan kini segera berlutut di hadapan Kasya yang nampak terbelalak menatap aksi Devan yang diluar dugaannya.


Jantung Devan berdetak cepat. Jujur saja Devan tak pernah melakukan hal ini kepada siapa pun, tapi Devan pernah melihat hal seperti ini di TV, dimana seorang pria berlutut di hadapan orang yang dia sukai dan mengungkapkan perasaanya secara langsung. Kali ini Devan ingin melakukan hal itu di hadapan Kasya.


Dengan perlahan Devan mengeluarkan sebuah kalung emas yang berhasil membuat Kasya menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Kalung emas ini sebenarnya merupakan kalung emas milik Fatima yang dengan sengaja Devan ambil di kotak emas secara diam-diam saat Fatima sedang tertidur dengan lelap. Tujuan Devan bukan mencuri kalung ini, hanya meminjam saja.  


"Maksud kamu apa Van?" tanya Kasya.


"Kak Kasya, Kamu mau tidak-" Ucapan Devan terhenti.


Rasanya Devan sangat takut untuk mengatakan hal ini kepada Kasya. Devan takut jika Kasya akan marah jika ia mengungkapkan isi hatinya. Devan takut jika Kasya tak akan mau menerima perasaaan suka ini.


"Apa Van?" tanya Kasya meminta kelanjutan.


"Emm...kamu mau tidak jadi pacar Devan?" tanya Devan takut.


"Apa?" tanya Kasya, ia takut salah dengar.


"Kak ketua OSIS mau tidak jadi pacar saya?"


"Ini beneran?" tanya Kasya masih tak percaya.


Devan mengangguk berusaha untuk meyakinkan jika yang ia ucapkan tidaklah salah.


"Kamu mau kan jadi pacar Devan?" tanya Devan.


Kasya kini terdiam sambil memaingkan jarinya, rasanya ia tak mampu berfikir dengan jernih sekarang. Jantungya kini berdetak sangat cepat.


"Kamu mau kan?" tanya Devan sekali lagi dengan tatapannya yang menatap harap pada Kasya.


Kasya tersenyum. Wajah tampan Devan seakan membuatnya tak berpikir panjang hingga tak butuh waktu lama Kasya mengangguk membuat Devan tersenyum dan segera bangkit.


"Beneran?" Tatap Devan dengan tatapan masih tak percaya.


Kasya mengangguk lagi dengan senyum gembira.


"Beneran?" tanya Devan lagi.


"Ihh iya beneran aku," Ucapan Kasya terhenti lalu ia tertunduk malu.


"Aku mau jadi pacar kamu," sambung Kasya dengan nada suara yang seakan berbisik.


"Apa?" tanya Devan, ia berpura-pura tak mendengar apa yang baru saja Kasya dengar.


"Ih kamu gimana sih?" Pukul Kasya pelan ke lengan Devan yang kini tertawa karena bahagia.


Kini Devan mulai melingkarkan kalung itu di leher Kasya yang begitu nampak putih dan bersih. Kasya kini menyentuh kalung emas yang telah mengalungi lehernya itu yang terlihat sangat indah.


"Makasih," ujar Kasya sambil tersenyum. 


"Jadi hari ini kita pacaran," ujar Devan.


Kasya mengangguk pelan. Ini pertama kalinya Kasya memiliki seorang pacar.


Kasya kini tertunduk malu lalu dengan sekilas kedua mata Kasya terbelalak menatap kecoa yang kini bergerak ke arah kakinya.


"Aaaaa!!!" jerit Kasya lalu segera melompat dan memeluk tubuh Devan membuat mereka berdua terjatuh ke lantai gudang yang kotor.


Kasya kini memejamkan matanya sambil mengeliat geli, tanpa sadar jika kini ia telah ada di atas tubuh Devan.


Kasya dengan tatapan perlahan itu mulai membuka matanya hingga berhasil menatap sorot mata Devan yang sedang menatanya. Jantung Kasya berdetak cepat ketika mata keduanya kini saling bertatapan.


Lebih dari beberapa menit mereka berdua saling bertatapan diiringi kesunyian yang menyelimuti ruangan gudang. Devan terdiam sejenak, sebuah pikiran mengenai vidio yang ia tonton di handphone Dava terlintas. Ia juga melihat dua orang yang saling menindih di vidio itu. Tanpa sadar Devan kini menggerakkan tubuhnya hingga dengan beraninya menaiki tubuh Kasya.


Kasya menelan ludahnya dengan tatapan sorot mata Devan yang masih terus menatapnya. Devan kini dengan gerakan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Kasya dan mengecup dahinya yang terasa hangat. Secara spontan Kasya menutup matanya dan merasakan ciuman itu mulai turung ke leher Kasya yang begitu lembut sangat mulus.


Hingga tanpa sadar semuanya terjadi begitu saja tanpa ada penolakan dari salah satu dari mereka. Semuanya mengalir begitu saja membiarkan rasa yang seharusnya mereka tak rasakan di usianya yang masih sangat muda.


Semua yang telah Devan lihat di Vidio itu, Devan lakukan kepada Kasya. Dan ia merasakan semuanya.


Lebih dari 30 menit semuanya berlalu membuat Kasya duduk di sudut ruangan gudang sambil memasang kancing baju yang telah terbuka.


Air mata Kasya kini menetes tanpa henti membuat Devan yang duduk sangat jauh dari Kasya yang kini terdiam sambil memeluk kedua lututnya. Devan merasa bersalah setelah membuat milik Kasya berdarah. Kasya terlihat menangis saat ia melakukan hal itu persis seperti yang ia lihat di handphone milik Dava.


Darah segar yang terdapat di lantai berhasil membuat Kasya semakin menangis. Kasya takut jika bagian bawahnya terluka hingga mengeluarkan darah segar. Apakah mungkin darah itu keluar karena ia menstruasi atau darah itu keluar karena milik Devan yang telah menusuknya begitu sangat sakit?


Kasya kembali menangis sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangannya. Apakah ini akan baik-baik saja?