Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 209



Motor yang melaju itu kini terhenti tepat di hadapan pagar rumah Cia yang nampak tertutup rapat, sepertinya tak ada Devan di rumah. Entah kemana Devan pergi.


Cia melangkah turun dari jok motor Adelio sembari terus menatap ke arah pintu masuk rumahnya. Adelio kini ikut terdiam dan ikut menatap ke arah pintu.


"Cia!" panggil Adelio.


"Emm, apa?" jawab Cia cepat setelah memutar tubuhnya menatap Adelio.


Adelio terdiam sembari sesekali menatap helm yang masih berada di atas kepala Cia.


"Anu, emm."


Cia terdiam dengan tatapan polosnya menanti Adelio bicara.


"Oooooh," ujar Cia lalu tersenyum.


Adelio tersenyum, sepertinya ia tak perlu berucap untuk meminta helm itu.


"Makasih yah. Udah kan? Ngantar gitu aja harus gue ngucapin terimakasih," ujar Cia lalu segera melangkah meniggalkan Adelio.


Adelio mengkerutkan alisnya, itu bukan ucapan yang Adelio harapkan dari Cia.


"Cia!" panggil Adelio lagi.


Langkah Cia kini dengan cepat terhenti setelah mendengar panggilan Adelio yang baru saja menyebut namanya. Cia tersenyum membuatnya mengigit bibir bawahnya. Entah kalimat indah apa yang akan Adelio ucapkan untuknya hari ini. Apakah sebuah kalimat sampai jumpa atau... ah ini membuat jantung Cia berdebar.


"Iya Adelio," jawab Cia semangat sambil tersenyum dan merapikan sedikit rambutnya lalu menatap ke arah Adelio yang kini nampak sedikit terkejut dengan perubahan mimik muka Cia.


"Apa?" tanya Cia serius, masih dengan senyuman yang membias indah.


"Itu aku-"


"Hem apa?"


"Em-"


"Udah bilang aja nggak apa-apa!"


"Helm nya." Tunjuk Adelio, mengingatkan .


Cia terdiam. Untuk yang kedua kalinya senyum Cia yang tulus itu tiba-tiba luntur begitu saja. Cia menyangka jika Adelio akan mengucapkan kalimat yang romantis setelah mengantarnya pulang dari sekolah tapi, ternyata Adelio memanggilnya hanya karena helm ini.


Cia mengigit bibirnya dengan kesal lalu segera menyentuh helm itu dengan kedua tangannya. Dasar bodoh, bagaimana mungkin ia lupa melepas helm ini. Ah rasanya Cia begitu sangat malu sekali. 


"Ah cuman helm butut ini doang," marah Cia yang kini melangkah ke arah Adelio sambil melepas helm hitam dari kepalanya.


"Nih!" ujar Cia sambil menjulurkan helm yang telah berada di tangannya.


Adelio meraih helm yang Cia julurkan dan segera mengantungnya di kaca spion motor. Tanpa sepata kata Cia yang masih merasa kesal dengan cepat memutar tubuhnya dan melangkah sambil menggeser pagar besi yang tertutup.


"Cia!" panggil Adelio lagi.


Cia tak menghentikan langkahnya membuatnya kini telah berada di halaman rumah.     


"Cia!" panggil Adelio lagi.


Cia tak berhenti, ia masih tetap saja melangkah.


"Cia! Aku mau ngomong!" teriak Adelio.


Langkah Cia langsung terhenti. Senyum Cia perlahan kembali tumbuh, apakah yang akan Adelio ucapkan adalah sebuah kalimat romantis? Cia mengeluh, Cia tak boleh terlalu berharap kepada Adelio lagipula Adelio itu tak pandai dalam hal romantis.


Cia menggeleng seiring menyingkirkan senyumannya lalu segera menoleh membuatnya kini menatap Adelio yang nampak menatapnya dengan sangat serius. 


"Apa lagi?" tanya Cia dengan nada bosan.


Adelio terdiam. Rasanya mengatakan hal ini cukup sukar dan mulutnya seakan terkunci rapat.


"Lo mau bilang apa sih sama gue?" tanya Cia lagi dengan kesal.


"Emm, nanti malam....aku chat yah, Kamu harus balas!" ujar Adelio lalu segera menancapkan gas meninggalkan Cia yang mematung di halaman rumahnya.  


"Itu beneran?" tanya Cia tak percaya pada dirinya sendiri.


"Adelio mau chat gue entar malam?" tanya Cia lagi sembari menyentuh kedua pipinya yang terasa memanas.


Cia masih terdiam, ia masih tak menyangka jika Adelio telah mengatakan hal itu untuknya. Adelio akan mengajaknya saling chat di malam nanti.


"Aaaaaaa!!!" jerit Cia lalu melompat-lompat kegirangan.


"Ye! Ye!! Yeeee!!! Adelio mau chat gue. Adelio mau chat gue, entar malam," nyanyi Cia sembari mengoyang-goyangkan tubuhnya.


"Hah!!!" Kejut Cia lalu segera berdiri tegak dan. menurungkan kedua tangannya yang sedari tadi menari-nari.


Cia tersenyum dengan tatapannya yang kini menatap serius ke arah Devan. Semoga saja Devan tak menanyakan sesuatu yang berhubungan oleh Adelio dan alasan mengapa ia tadi teriak-teriak tak jelas.


"Ayah dari mana?"


Devan yang mendengar perkataan Cia Kini melangkah melewati Cia yang masih terdiam lalu segera membuka pintu menggunakan kunci rumah yang telah ia keluarkan dari saku jaketnya.


PLAK


Sebuah handphone hitam bermerek terhempas di lantai membuat Devan dengan cepat meraih handphone itu dan dengan cepat pula Devan memasukkannya ke dalam jaketnya.


"Itu apa?" tanya Cia.


"coklat," jawab Devan lalu segara mendorong pintu dan melangkah masuk.


"Bohong," ujar Cia dengan cepat lalu segera mengejar Devan yang kini mulai melangkah mendekati pintu kamarnya.


"Ayah bohong yah?" tanya Cia.


Devan tak bicara.


"Cia liat Itu handphone bukan coklat."


PLAK


Pintu terhempas ketika Devan mulai menutup pintu cukup rapat membuat langkah Cia terhenti, mematung menatap permukaan pintu kamar Devan yang kini telah tertutup dengan rapat.


Cia kini merasa cemas sendiri. Entah mengapa rasanya Devan seakan menyembunyikan sesuatu.


"Itu handphone siapa?" tanya Cia sembari mengetuk pintu kamar Devan dengan pelan.


"Yah! Ayah!" panggil Cia.


Tak ada jawaban dari dalam kamar, terdengar sunyi dan sepi.


"Ayah!" panggil Cia lagi setengah berteriak.


"Apa siiiih?" Kesal Devan membuka pintu kamar dan kini ia sedang berdiri di pintu masuk kamar sambil menatap Cia yang masih menatapnya dengan serius.


Cia terdiam menatap Devan yang kini telah melepas jaketnya hingga Devan kini tengah berdiri tanpa menggunakan baju.  


"Itu handphone siapa?"


"Handphone yang mana?" tanya Devan dengan wajahnya yang terlihat pura-pura tak mengerti.


"Jangan sok nggak tahu deh Cia tadi lihat."


"Lihat apa?"


"Yang tadi yang jatuh," ujar Cia.


"Yang mana sih? Hah? Mata batin kali? Orang Ayah nggak liat kok. Emang yang mana?" tanya Devan


"Ih tadi gue liat."


"Yang mana?"


Cia menghembuskan nafas lelah lalu memasang wajah kesal di hadapan devan yang masih pura-pura tak mengerti dengan apa yang Cia katakan barusan.


"Ayah kok pura-pura nggak tahu sih?" Tatap Cia penuh curiga.


"Yah emang Ayah nggak tahu. Handphone apa sih Cia? Dari tadi kamu ngomongnya tentang handphone melulu, handphone yang mana sih?"


"Pintar banget yah boong nya."


"Ayah nggak bohong."


"Em atauuuuu." Cia mengetuk-ngetuk bibir bawahnya sambil menyipitkan kedua matanya menatap Devan yang kini terlihat gugup.


"Atau apa?" tanya Devan.


"Handphone itu punyanya si janda itu yah?" tebak Cia, membuat Devan terbelalak kaget.


"Enak aja, nggak!" bantah Devan cepat.


"Terus handphonenya punya siapa?" tanya Cia.