
Suara kesakitan Adelio terdengar di ruang UGD ketika suster itu mengobati luka Adelio yang berada di wajahnya cukup banyak. Ini pertama kalinya ada yang memukul Adelio seperti itu. Yah jujur Adelio juga tak tahu berkelahi bahkan ia tak pernah belajar bela diri atau pun berkelahi. Seumur hidup Adelio tak pernah berkelahi jadi wajar saja jika ia tak membalas pukulan Devan.
"Sedikit lagi," ujar suster itu.
Adelio meringis. Ia mencoba untuk menahannya tapi tak bisa, ini terlalu sakit. Rasanya seluruh wajah Adelio terasa berdenyut tak karuan.
"Tahan! Ini hanya sedikit sakit." Suster itu mencoba menangkan.
"Tapi ini sakit," jawab Adelio seperti anak kecil.
Suster itu tertawa membuat Adelio yang semula meringis kini terdiam menatap suster wanita dengan pakaian putih, dari wajahnya ia terlihat masih muda.
"Kenapa?" tanya Adelio.
"Kamu lucu," jawabnya membuat Adelio seakan tak nyaman dengan perkataan itu.
...___***___...
Langkah pincang Adelio melangkah menyusuri jalan lorong rumah sakit yang kini sudah Sunyi. Adelio sengaja tak membiarkan suster itu memasang perban di wajahnya, yah Adelio hanya tak mau jika wajahnya terlihat sangat parah di hadapan Julia.
Sekarang sudah jam tiga subuh dan tentunya tak ada lagi yang berlalu lalang di jam tidur seperti ini kecuali penjaga keamanan yang kini sedang asik bermain catur di sebuah pos penjaga.
Adelio tak tahu mengapa pacar Cia begitu marah kepadanya dan menyuruhnya untuk menjauhi Cia. Adelio ingat betul apa yang di katakan pacar Cia jika dia akan menghancurkan orang yang telah membuat Cia menangis tapi mengapa Cia menangis? Apa itu karena salahnya hingga Cia menangis tapi apa kesalahannya.
Hal yang paling membuat Adelio juga bingung adalah Cia yang tak kembali menyusulnya dari toilet ke ruangan kelas. Langkah Adelio terhenti saat ia berada di depan pintu kamar rawat Julia. Adelio menghembuskan nafas panjang dari mulutnya lalu menggerakkan tangannya berniat untuk memutar ganggang pintu kamar ruangan Julia.
Tangan Adelio terhenti ia teringat dengan Julia. Tak berselang lama Adelio melangkah dan berhenti di depan sebuah dinding kaca dan beralih menatap wajahnya yang terlihat merah dan banyak goresan luka di sana.
"Semoga saja Ibu tak menegur dan melihat luka ini." Harap Adelio sembari terus menatap wajah Julia.
"Semoga." Harapnya lagi lalu melangkah ke arah pintu.
Adelio kini mendorong pintu ruangan Julia, sontak membuat Julia bangkit dari kasurnya. Adelio terbelalak kaget, ia pikir Julia telah tidur tapi ternyata tidak.
"Adelio." Suara samar Julia terdengar sambil menatap Adelio yang kini tengah menutup pintu dengan rapat diiringi wajah gugupnya.
"Kok kamu lama banget sih, Nak?" tanya Julia.
Adelio menelan ludah, ia masih membelakangi Julia dan mencuri waktu dengan berpura-pura menutup pintu padahal pintu telah tertutup rapat.
"Adelio," panggil Julia.
Adelio menarik nafas panjang dan segera berbalik menatap Julia. Adelio kini melangkah mendekati Julia yang kini terbelalak kaget setelah menatap wajah putranya yang nampak babak belur. Entah apa yang telah terjadi dengan putra kesayangannya itu.
"Muka kamu kenapa?" tanya Julia syok lalu menyambut putranya itu yang kini duduk di kursi tepat di samping ranjangnya.
"Ini kenapa?" tanya Julia mendekatkan jari-jari tangan infusnya ke wajah Adelio namun niatnya itu kini terhalang oleh rasa ragu. Julia tak mau membuat Adelio kesakitan.
"Adelio." Suara lembut Julia terdengar membuat Adelio menatap wajah lemas Ibunya itu. Adelio tahu jika Ibunya itu pasti sangat khawatir dengan dirinya. Dan bagaimana jadinya jika Julia tahu kalau putra kesayangannya ini babak belur karena dipukul oleh seorang pria. Yah, pasti Julia akan sedih.
"Adelio, muka kamu kenapa, Nak?" tanyanya lembut.
"Kamu jatuh?"
Adelio terdiam, tak menjawab pertanyaan Julia.
Julia mendecapkan bibirnya lalu segera mengelus rambut putranya itu. Putranya itu tak pernah berubah, ia tetap saja menyimpan masalahnya sendiri tanpa pernah mau menceritakannya kepada Ibunya sendiri.
"Ayo cerita, Nak!"
"Ibu mau dengar."
"Kamu dipukul?" tebak Julia.
Adelio menggeleng cepat lalu segera bangkit dari kursinya dan segera menggelar sebuah karpet merah di lantai.
Adelio yang masih kesakitan itu kini membaringkan kepalanya di atas lipatan tangannya membelakangi Julia yang kini hanya mampu terdiam dengan tatapan kebingungannya.
"Adelio," panggil Julia lagi.
"Aku tidak apa-apa, Bu," jawab Adelio.
"Benar?"
"Benar, Bu," jawab Adelio.
"Lalu ada apa dengan wajah kamu?" tanya Julia .
Adelio terdiam, ia tak menjawab.
"Kamu berkelahi?" tanya Julia.
"Apakah putramu ini pintar berkelahi, Bu?" tanya Adelio.
Julia tersenyum, sudah jelas Adelio tak berkelahi dan ini membuatnya tenang.
...___***___...
Motor hitam milik Devan kini berhenti tepat di depan gerbang sekolah SMA Garuda bangsa yang nampak sudah ramai. Sekarang jam telah menunjukkan pukul 6 lebih, yah mungkin tak lama lagi jam masuk segera berbunyi.
Cia melangkah turung dari motor Devan, hari ini Devan memutuskan untuk mengantar Cia ke sekolah. Devan terdiam menatap gerombolan gadis-gadis berseragam sekolah itu kini saling berbisik sambil menatapnya dengan tatapan serius.
Gadis yang Devan tatap itu kini mengeliat geli lalu segera berlari masuk ke dalam sekolah. Devan menghembuskan nafas berat, yah mungkin mereka semua telah termakan dengan ucapan bodoh Cia yang mengatakan jika Devan punya penyakit siluman monyet.
"Dah Van," ujar Cia lemas, lalu melangkahkan kakinya berniat untuk meninggalkan Devan.
"Ciaaa!!" teriak Devan.
Cia menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Devan yang kini menatapnya dengan tatapan yang seakan merencanakan sesuatu.
"Bolos yuk!" ajak Devan dengan wajah semangatnya.
"Nggak ah, untuk hari ini gue nggak mau bolos," ujar Cia dengan wajah lesunya lalu segera memutar tubuhnya membelakangi Devan lalu kembali melangkah.
Devan mendecapkan bibirnya setelah kalimat penolakan itu terlontar dari mulut Cia. Gadis yang selalu gembira ketika Devan ajak bolos pelajaran itu kini menolak tawarannya, Jadi seperti ini kalau seorang gadis sedang sakit hati. Sungguh menyedihkan.
"Dah Cia!!!" teriak Devan sambil melambaikan tangannya.
Tak ada balasan dari Cia, ia tetap saja melangkah tak memperdulikan Devan.
Devan menghembuskan nafas lelah menatap kepergian Cia, lalu segera menancapkan gas meninggalkan gerbang sekolah yang masih ramai itu termasuk para germbolam gadis yang masih menatapnya sambil berbisik.
Langkah lelah Cia kini melangkah menyusuri lorong kelas yang nampak tak seperti biasanya. Tak ada lagi teriakan gadis-gadis yang mengejarnya sambil membawa coklat, biskuit atau bahkan bunga. Rasanya dunia Cia kini tak seindah dulu.
Langkah Cia terhenti secara tiba-tiba, jujur saja Cia lupa membawa jaket Adelio. Yah walau sebenarnya jaket itu belum kering karena Cia menjemurnya di jam tujuh malam.
Cia kini hanya meghembuskan nafas yakin, semoga saja Adelio tidak marah ketika tahu jika Cia tak membawa jaketnya seperti apa yang Cia katakan kemarin, tapi mana mungkin pria berhati malaikat itu marah kepada Cia. Bicara saja dia jarang apa lagi mau marah, huh itu sangat tak mungkin bagi seorang Adelio.
Cia kini melangkah masuk ke dalam kelas yang nampak begitu hening, walaupun banyak orang di sana yang kini telah duduk di kursinya masing-masing.
Cia yang masih melangkah itu kini menoleh menatap Loli, marisa dan Medika yang nampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Bisanya mereka yang begitu aktif menyambut Cia dengan titipan untuk Devan itu.
Langkah Cia kini terdiam menatap kursi Adelio dan Fika yang nampak kosong tak ada mereka di sana. Cia tak tau mereka berdua kemana sehingga dengan kompak tak datang kesekolah. Mungkin-kah mereka berdua kini jalan-jalan untuk merayakan hari jadinya itu.
Kini Cia mengerakkan kepalanya menatap seisi kelas yang nampak begitu sibuk. Tatapan Cia itu kini terhenti menatap Yuna berdiri di meja guru sambil sibuk mengawasi Faririn yang sedang menyapu karena mendapat jadwal membersihkan.
"Yun!" panggil Cia.
"Apa, Ci?" tanya Yuna.
"Fika sama Adelio mana? Kok nggak ada?" tanya Cia sedikit menunjuk ke arah kursi mereka.