
"Nama kamu siapa?"
"Adelio Bu" jawabnya cepat sambil terus mengikuti langkah Bu Nani.
"Nama saya Nani sekaligus wali kelas kamu."
"Iya Bu," Sahut Adelio cepat.
Bruk
Sepatu hitam Cia mendarat di tanah setelah melompat dari tembok sekolah. Menatap ke kiri dan ke kanan memastikan jika, tak ada orang yang melihatnya lompat dari tembok.
Cia merapikan seragam sekolahnya yang agak berantakan dan menyisir rambut hitamnya yang agak berantakan dengan jari-jarinya lalu dengan cepat berlari sambil menunduk di bawa deretan jendela-jendela kelas yang nampak terbuka.
Ruangan kelas XII IPA nampak ricuh karena pak Yanto yang terlambat masuk kedalam kelas untuk memberikan pelajaran matematika. Di kelas ini cukup ramai karena terdapat 25 murid perempuan dan 5 murid laki-laki.
"Buku lu Reno mana ?" Tanya loli sambil memukul meja membuat Reno si pria culung dengan kaca mata bulat itu tersentak kaget.
"Sama si zandi," Jawabnya gugup lalu menunjuk pria yang tak lain adalah zandi yang sibuk menyalin jawaban matematika yang diberikan oleh pak Yanto.
Loli merupakan salah satu murid yang cukup berkuasa di kelas ini walaupun dia bukan ketua kelas di XII IPA. Dia merupakan anak dari pak Rarjo yang merupakan kepala sekolah di SMA Garuda bangsa jadi, wajar jika dia merasa berkuasa di sekolah.
Bisa dikatakan dia agak sok di kelas ini. Penampilannya memang luar biasa waw di tambah dengan barang-barang branded seperti sepatu, jam tangan, tas dan sebagainya.
Marisa, gadis cantik itu adalah sahabat baik loli. Yang bisa dikatakan merupakan anak orang gedongan yang punya banyak uang. Penampilannya pun cukup menggiurkan karena, barang-barang mewah dan super keren membuatnya selalu diincar oleh murid-murid pria.
Medika, Si gadis yang satu ini bisa dikatakan biasa-biasa saja hampir tak jauh beda dengan loli dan Marisa yang memakai barang-barang branded namun, diantara mereka Medika lebih pendiam dan tak sesombong loli dan Marisa yang memang lebih memakai kekayaannya untuk membuli para murid-murid yang miskin.
Loli, Marisa dan Medika melangkah ke arah Zandi yang duduk sambil menyalin jawaban Reno yang memang terkenal pintar dalam matematika bersama dengan Revan si murid berjiwa IPS yang terpaksa masuk kelas IPA Karena ikut Zandi yang merupakan sepupunya.
"Itu buku Reno ?" Tanya loli sambil menunjuk buku yang berada di meja. Zandi dan Revan menoleh menatap ketiga gadis yang sekarang sedang menatapnya dengan serius.
"Ingat tugasnya harus selesai kalau nggak gue lapor sama bu Nani!!!!" Teriak seorang gadis.
Gadis yang berdiri membelakangi papan tulis putih di dinding terdengar berteriak. Yena si ketua kelas yang cukup tegas di kelas yang kerjaannya mencari kesalahan murid-murid untuk di catat namanya dan diajukan ke bu Nani untuk diberikan hukuman. Yena juga termasuk musuh kelas XII IPA karena, ia mereka pernah di hukum satu kelas oleh pak Yanto karena, kesalahannya yang lumayan berisik.
Loli yang mendengar ucapan Yena meraih dengan cepat buku yang ada di meja membuat zandi dan Revan membulatkan matanya menatap heran ke arah Loli.
"Maksud lo apa, Lol ?"
Zandi bangkit dari kursi menatap Loli agak emosi.
"Yah, gue mau nulis malah nanya lagi ?"
"Loh, nggak bisa gitu dong !"
"Bayar dua ribu !" Faririn menjulurkan jari-jarinya sembari berdiri di tengah-tengah antara zandi dan loli yang kini menatapnya dengan wajah bingung.
"Duit apa lagi sih, Rin ? Kemarin lu minta duit hari ini duit lagi kagak ada yang lain apa?"
"Tau nih si Faririn, Lu korupsi ya?" Tambah Revan.
"Heh, sambel terasi ! ini buat beli cermin," celotehnya menatap zandi tajam.
"Terus yang kemarin dua ribu itu apa?"
"Itu buat beli sapu, bego ! Lo kira kelas mau di jilat biar bersih !" Ujar Faririn lagi.
Faririn merupakan bendahara di kelas ini dimana semua masalah keuangan dia yang mengurus.
Faririn juga termasuk murid yang agresif dalam hal menagih uang membuat para murid-murid menjauhi sosok Faririn ditambah lagi jika, Faririn melangkah membawa buku tagihan berwarna hitam yang selalu ia bawa jika, ingin menagih maka murid laki-laki yang hanya 5 orang itu akan lari bersembunyi dari Faririn.
"Nih gue bayar ! Lebihnya ambil ajah !"
Loli melempar uang lima puluh ribu ke arah Faririn lalu melangkah pergi sambil membawa buku Reno diikuti Marisa dan Medika.
"Eits, mau kemana, Lo ?" Faririn melangkah berusaha mencegah zandi agar tak lolos dari pembayaran cermin.
"Apa lagi sih ?"
"Bayar dulu dong."
"Gue nggak bawa duit."
"Nggak usah bohong lu ! gue tau lu punya duit."
"Nggak ada kampret!"
"Ada."
"Nggak ada !"
"Selamat pagi !" Suara sapaan itu berhasil membuat para murid-murid berlari menuju kursi masing-masing terutama Faririn dan zandi yang langsung berlari.
Bu Nani melangkah masuk sambil tersenyum menatap seisi ruangan yang nampak rapi dan bersih di tambah lagi para murid-murid yang kini duduk terdiam menanti Bu Nani angkat bicara.
Adelio melangkah masuk ke dalam kelas berusaha menahan rasa malu dikala para murid-murid menatapnya disetiap langkah yang ia lakukan. Adelio berdiri di samping Bu Nani lalu menatap para penghuni kelas yang masih menatapnya. Entah apa yang salah dengan wajahnya sehingga mereka menatapnya dengan tatapan seperti itu bahkan murid-murid di luar sana juga tak menatapnya seperti itu sampai-sampai ada yang mengintip di pintu kelas hanya untuk melihatnya.
Loli menganga menatap pria yang melangkah masuk kedalam kelas. Bagaimana mungkin ada pria tampan yang nyasar di dalam kelas ini.
"Lol dia cakep banget!" Bisik Marisa.
"Itu siapa ?"
"Sumpah ganteng banget."
"Ya ampun."
"Dia asli nggak sih ?"
"Ya ampun ih sumpah itu bibirnya seksi banget."
"Itu orang nggak sih ?"
Bisik para murid-murid sambil terus menatap wajah pria itu yang kini berdiri di samping Bu Nani.
"Jadi, anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru pindahan dari kota Makassar-"
"Oh, jadi dia orang Makassar."
"Pindahan dari mana?"
"Makassar, yah ?"
"Jauh banget."
"Ganteng banget !"
"Mungkin lebih bagus kalau kamu sendiri yang memperkenalkan diri!"
"Iya, Bu" jawab Adelio lalu menatap ke arah murid-murid yang nampaknya saling berbisik entah apa yang mereka ucapkan tapi, jujur Adelio tak peduli dengan apa pendapatnya tentang dia.
Kini lebih baik jika Adelio menjadi sosok yang lebih pendiam dari biasanya ditambah lagi jika, harus beradaptasi dengan murid-murid lain. Salah satu hal yang Adelio benci adalah menjadi orang asing di tempat asing yang ia tak kenal, ia juga harus memegang janjinya kepada Harni untuk tidak terlalu akrab dengan perempuan di kota Jakarta walaupun hanya sekedar teman sekolah atau kelas.
"Hay semua nam-"
"HAY!!!" Jawab mereka kompak memotong ujaran Adelio.
Zandi dan Revan menoleh menatap para murid-murid perempuan yang nampak berteriak kompak bahkan zandi dan Revan tak pernah menatap kekompakan ini sebelumnya.