Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 205



"Perkenalkan nama saya Ceo. Saya siap menerima pekerjaan apa pun yang Bapak berikan kepada saya," ujar Devan sambil tersenyum hangat menatap pria bertubuh gemuk yang merupakan pemilik sebuah pabrik beras.


Pria itu tersenyum lalu mengangguk dan menepuk bahu Devan yang kini tersenyum, sepertinya cobaan keduanya ini dalam mencari pekerjaan dapat segera terwujud.


"Saya tidak menerima pekerja baru, Nak," ujar pria gemuk itu lalu melangkah masuk ke dalam ruangan pabriknya.


Senyum Devan sirna dari bibirnya setelah mendengar ujaran pria itu. Apakah ini tandanya dia gagal mendapatkan pekerjaan?


Devan mendecapkan bibirnya lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan tempat ini.


Pasar Raya


Devan mendekati pria berkumis tebal yang kini sedang berteriak sambil menunjuk beberapa orang-orang yang kini sedang memikul karung putih berisi beras.


"Pak," sapa Devan sambil menyapa pria itu dengan senyuman.


Pria itu masih berteriak sambil menunjuk membuat Devan kembali mengeraskan suaranya membuat pria berkumis itu menoleh.


Pria itu terdiam dengan kedua matanya yang menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Devan.


"Ada apa?" tanya pria itu.


"Bapak yang bos di sini?" tanya Devan dengan sungkan.


"Angkat yang di sana juga!!!" teriak pria itu sambil menunjuk ke arah para pemikul lalu tak lama ia menoleh menatap Devan yang masih setia menunggu jawaban dari pria itu.


"Tanya apa tadi?"


"Em Bapak bos di sini? Maksud saya bos dari orang yang memikul beras itu?" tanya Devan.


"iya," jawabnya singkat lalu kembali berteriak kepada orang-orang itu.


"Pak saya-"


Ujaran Devan terhenti saat pria itu melangkah meninggalkannya begitu saja. Devan menghela nafas berat lalu melangkah mendekati pria itu yang kini meraih buku dan menulis beberapa tulisan di sana membuat Devan yakin jika pria itu adalah bos di sini.


"Bawa satu karung lagi!!!" teriakannya.


"Pak," panggil Devan.


"Yang itu juga!!!" teriakannya.


Devan mendecapkan bibirnya kesal, entah mengapa pria berkumis ini sangat sibuk sampai-sampai mengabaikannya begitu saja. Devan menoleh menatap dua Anak kecil yang sedang menertawainya. Yah Devan tahu mereka menertawainya karena tak mendapat respon dari pria berkumis ini.


"Berani kamu ketawa? Kamu kira saya Anak kecil? Anak saya lebih besar dari pada kamu," kesal Devan sambil menunjuk dua Anak kecil itu yang kini menjulurkan lidahnya dan berlari pergi entah kemana.


Devan mendecapkan bibirnya, jika dua Anak itu ada di dekatnya mungkin ia akan menarik lidah Anak kecil itu sampai putus.


"Dasar bodoh," kesal Devan.


"Kamu masih di sini?" tanya pria itu membuat Devan dengan cepat menoleh.


"Saya mau minta waktu Bapak sebentar saja!"


"Waktu apa? Apa ini orang penjual batu kesehatan? Kalau penjual batu kesehatan silahkan pergi! Saya sudah muak mendengar penjelasan dari khasiat batu itu," jelasnya.


"Eh bukan Pak. Saya bukan penjual batu kesetanan yang seperti Bapak maksud."


"Lalu?"


"Em saya sedang mencari-"


"Cari siapa?" potong pria itu.


"Saya mencari pekerjaan, Pak. Mungkin Bapak bisa mengizinkan saya untuk kerja di sini."


Pria itu terdiam sejenak lalu mengatakan hal yang sangat Devan tak harapkan.


"Tidak ada lowongan pekerjaan," ujarnya.


"Tapi Pak-"


"Apa lagi? Sudah sana pergi!" usirnya. Tak ada bedanya dari pria yang Devan jumpai di dalam toko penjual peralatan bangunan itu.


"Sudah sana pergi!!!" teriakannya.


Devan kini tersenyum lebar walau sejujurnya ia ingin memukul pria itu dan mencekiknya tapi tak bisa.


"Aaaas, dasar bodoh, brengsek!!!" teriak Devan sambil menendang beberapa kerikil kecil yang ia lewati.


Devan sudah lelah, ditambah lagi paparan sinar matahari yang menyengat kulitnya membuatnya merasa haus. Devan menoleh menatap penjual minuman dingin yang kini sedang sibuk minuman dingin itu ke dalam gelas tembus pandang membuat Devan menelan salivanya.


Suara tawa kembali terdengar membuat Devan menoleh menatap dua Anak kecil yang kini tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya.


"Heh!!!" teriak Devan sambil melototkan kedua matanya dan mengangkat tinjunya ke atas berusaha menakuti dua Anak itu, satu laki-laki dan satu Anak perempuan.


Dua Anak itu tertawa lalu berlari dan pergi entah kemana membuat Devan terdiam sejenak berusaha menatap ke arah mana dua Anak itu pergi. Entah mengapa dua Anak itu seakan mengikutinya.


Devan menghela nafas lalu kembali melangkah. Setiap toko yang Devan jumpai selalu Devan singgahi lalu menawarkan dirinya agar dapat diterima. Devan tak peduli apa pun pekerjaan itu yang terpenting adalah uang, Devan hanya butuh itu.


"Masih bisa Pak?" tanya Devan.


"Saya tidak menerima."


"Di sini tidak menerima karyawan Dek."


"Pendaftaran nya sudah ditutup kemarin, Masnya lambat datang."


"Lowonganya sudah tutup, Bang."


"Sudah tutup."


"Sudah sana pergi! Kami tidak menerima pekerja."


"Mungkin lain kali saja yah Nak."


"Ini sudah ada yang isi Kak."


"Aaaaaa!!!" teriak Devan yang kini berada di trotoar membuat beberapa pejalan kaki menoleh lalu menatap Devan dengan serius.


"Nasib siaaaa!!!" teriak Devan lalu menendang apa saja yang ia lihat.


Devan melangkahkan kakinya yang lelah itu di jalan trotoar yang nampak ramai, dilalui beberapa orang-orang yang berlalu lalang. Ini sudah penolakan yang ke ratusan kalinya. Entah mengapa sangat susah untuk mencari pekerjaan.   


Devan kini menghela nafas lalu segera duduk di sebuah halte yang nampak sunyi, tak ada orang di sana. Rasanya Devan ingin menangis meratapi nasib siapanya. Devan tak mengerti mengapa tak ada satu pun yang mau menerimanya dan memberikannya pekerjaan.


Devan mengusap wajahnya dengan keras, rasanya ia benar-benar kesal dan marah saat ini. Entah apa kesalahan yang ia telah perbuat sehingga harus mendapat cobaan seperti ini.


Devan kini tertunduk sambil menopang dahinya yang di penuhi keringat yang bercucuran, Ini sulit.


"Mau ini?"


Suara gadis kecil terdengar sembari menjulurkan minuman dingin ke arah Devan yang kini masih tertunduk. Devan mengkerutkan dahinya saat menatap gelas tembus pandang berisi minuman dingin berwarna ungu. Devan kenal dengan minuman ini, ini minuman yang ia lihat di pasar tadi.


Devan mendongak menatap gadis kecil yang sempat menertawainya tadi.


"Mau?" tanya gadis kecil itu lagi.


Devan tersenyum lalu meraihnya membuat gadis kecil itu tersenyum sambil menggoyang-goyangankan tubuhnya ke kiri dan kanan seakan menanti Devan untuk meminum minuman pemberiannya.


"Terimakasih," ujar Devan membuat gadis itu mengangguk.


Devan menoleh ke kiri dan kanan mencari Anak laki-laki yang ia lihat bersama gadis kecil yang kini masih berdiri di hadapan Devan.


"Kamu hanya sendiri?" tanya Devan membuat gadis itu menggeleng.


"Lalu?" tanya Devan.


Gadis kecil itu tertawa lalu berlari pergi meninggalkan Devan yang kini melongo. Entah apa yang ada di pikiran gadis kecil itu hingga begitu sangat aneh.


Devan kini membuang pikirannya jauh-jauh dari Anak-anak itu membuatnya kini meminum minuman dingin itu.


"Selamat siang."


Suara wanita terdengar diiringi ketukan high heels yang menyentuh permukaan aspal.


"Bagaimana rasanya setelah meminum minuman dingin itu?"


Devan yang mendengar suara itu kini mengangkat pandangannya dan menatap dari ujung high heels berwarna merah mengkilat hingga berakhir di sorotan mata wanita itu.


Devan terbelalak kaget setelah melihat sosok yang kini sedang berdiri di hadapannya. Dengan cepat Devan bangkit dari kursi, tempat duduknya dan terdiam menatap wanita itu dengan tatapan tak percaya.