Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 229



"Devan! Jika kamu pergi sekarang maka kamu akan menyesal untuk selama-lamanya."


Mendengar hal itu membuat langkah Devan terhenti lalu ia menoleh menatap Firdha yang kini berdiri di hadapannya.


"Aku ingin membantu kamu," ujar Firdha membuat Devan mengekerut kan alis nya tak mengerti.


"Apa yang Nyonya katakan?" tanya Devan.


"Mungkin sebaiknya kita duduk dulu, aku ingin menceritakan sesuatu yang sangat penting. Ini demi Cia dan masa depan kamu," ujar Firdha.


Devan terdiam sejenak seakan masih bingung dengan apa yang Firdha katakan.


"Mari duduk!" ajak Firdha lalu dengan langkah yang pelan ia melangkah dan duduk di kursi halte.


"Ayo silahkan!" ajak Firdha lagi sambil menepuk permukaan tempat duduk kursi halte itu.


Devan kini menelan salivanya lalu ia duduk di kursi halte namun dengan jarak yang agak jauh dari Firdha yang kini tersenyum.


"Kamu sudah besar yah sekarang dan juga sudah lebih berani, Hem aku akui kamu sudah berani sejak kecil."


"Kamu punya keberanian yang besar sehingga kamu bisa dengan beraninya menghamili putri dari keluarga Brahmana yang sangat terkenal di indonesia. Dia terkenal karena kekayaannya-"


"Nyonya ingin membantu ku atau ingin merendah kan aku di sini?" potong Devan membuat Firdha tersenyum.


"Aku ingin merendahkan kamu di tempat se-sunyi ini? Siapa yang akan menertawai mu di sini jika aku mempermalu kan mu?" ujar Firdha.


Devan menghela nafas barat seakan begitu sangat tak nyaman berada di sini.


"Em, Baiklah saya minta maaf, sepertinya saya banyak bicara kali ini tapi kali ini aku benar-benar ingin membantu mu."


"Membantu apa?" tanya Devan membuat Firdha kini terdiam sejenak lalu tak berselang lama kini Firdha dengan perlahan ia mengeluarkan handphone dari tas hitam bermerek nya.


Firdha menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk melihat di sekitarnya, ia hanya ingin memastikan jika tak ada orang yang melihatnya.


"Ambil ini!" Pintah Firdha sambil menjulurkan handphone itu ke arah Devan yang kini menatap bingung pada handphone itu.


"Untuk apa?" tanya Devan.


Firdha mendecapkan bibirnya lalu dengan cepat meraih tangan Devan dan meletak kan handphone itu ke genggaman tangan Devan.


"Pegang ini!" pinta Firdha dengan sorot mata tajam dan penuh keseriusan.


"Tapi ini apa? Ini handphone siapa?"


"Ini adalah bukti," jawab Firdha.


"Bukti?"


"Iya, aku sudah merekam percakapan suami ku, Abraham dan Jef di dalam ruangannya saat mereka menceritakan semua apa yang telah ia lakukan kepada kamu."


"Semua yang telah ia lakukan?" tanya Devan membuat Firdha kini mengangguk kan kepalanya.


"Maksud Nyonya adalah penembakan dokter Yusuf dan Bapak ku?" tebak Devan.


"Lebih dari itu," ujar Firdha.


"Lebih dari itu?"


"Devan, suami ku dan Jef yang telah merencanakan kebakaran di bengkel dan alasan kamu tidak mendapatkan pekerjaan," jelasnya membuat kedua mata Devan terbalalak kaget seakan tak menyangka jika lagi dan lagi dalan dari semua ini adalah Abraham dan Jef.


"Apa?" tanya Devan dengan kedua rahang nya yang kini menegang berusaha untuk menahan amarah nya.


"Devan!" panggil Firdha sembari menatap Devan yang kini sedang terdiam, yah Firdha tahu apa yang sedang Devan pikir kan sekarang.


"Devan! Lihat saya!" pintah Firdha membuat Devan menoleh.


"Kamu ingin bersatu Cia kan? Kamu mau Cia tetap bersama kamu kan?"


"Kalau seperti itu maka bawa handphone ini ke kantor polisi dan biarkan Antaham dan Jef masuk ke dalam penjara agar kalian bisa hidup dengan damai."


"Ini adalah bukti penting yang bisa menjatuh kan Abraham dan Jef."


"Aku tahu sudah banyak kesalahan dan dosa yang telah mereka berdua lakukan kepada kamu dan aku juga tidak bisa diam seperti ini melihat sikap dan tindakan buruk mereka."


"Tapi-"


"Apa?" tanya Firdha.


Devan kini terdiam lalu tertunduk dengan perasaan bimbang, bagaimana bisa ia melapor kan Ayah kandung dari Kasya ke kantor polisi . Yah Devan tahu Tuan Abraham memang lah telah melakukan banyak kesalahan besar kepadanya tapi bagaimana dengan perasaan Firdha dan Kasya?


Devan menghela nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perasaaan berat.


"Devan, lakukan apa yang aku perintahkan kepada kamu!" Pintah Firdha sambil menepuk bahu Devan.


Devan perlahan mengangguk lalu memasukkan handphone itu ke dalam saku jaket nya.


"Besok aku mau, di pagi hari kamu temui aku dan aku yang akan membawa mu ke kantor polisi dan melaporkannya yah aku tahu jika mungkin saja pihak kepolisian tidak akan akan percaya dengan hal ini," jelas Firdha.


"Baik, akan saya lakukan," jawab Devan.


"Kalau begitu pergi lah, aku tak mau cucu satu-satu ku hanya sendiri di dalam rumah. kamu tentu tahu kan bagaimana Abraham, bisa saja ia mengambil Cia tanpa sepengetahuan kamu!" jelas Firdha membuat Devan kini mengangguk lalu segera bangkit dari kursi halte dan dengan langkah perlahan ia melangkah memberikan jarak antara ia dan Firdha yang kini mengigit bibirnya seakan tak sanggup untuk membiar kan Devan pergi dengan bukti melalui handphone yang kini telah berada di dalam saku jaket Devan.


Langkah Devan kini terhenti lalu tak berselang lama ia kini menghenti kan langkah nya lalu menoleh menatap Firdha yang terlihat sedang tertunduk.


"Nyonya!" panggil Devan membuat Firdha kini menoleh.


"Kenapa kamu belum pergi?" tanya Firdha.


"Terimakasih, Nyonya."


"Aku hanya melakukan hal ini untuk kepentingan cucu ku, bukan kamu," ujar Firdha membuat Devan semakin melebar kan senyum nya.


"Nyonya, sekali lagi saya ucapkan-"


"Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran, Devan!" ujar Firdha yang kini terlihat tertunduk dengan tatapan kosong.


Devan kini mengangguk lalu segera berlari pergi meninggalkan Firdha yang kini terdiam di kursi halte.


Firdha menghela nafas panjang lalu beberapa detik kemudian ia kini menoleh menatap Devan yang kini sedang berlari cukup jauh darinya.


"Maaf kan aku Mas, maafkan aku!"


...____****_____...


"Aku melakukan ini semua demi kamu," ujar Firdha yang kini telah menceritakan semuanya kepada Cia yang kini terdiam seperti patung.


"Kamu tahu, Nak, saya merelakan hubungan, keluarga, pasangan dan bahkan cinta saya agar bisa melihat kamu bahagia."


"Ashia, saya mohon! Tolong jangan salah kan Abraham, suami saya dalam keadaan kritis Devan saat ini!" mohon Firdha sambil menyatukan kedua tangannya dengan tatapan memelas.


"Saya mohon!"


"Nyonya," ujar Cia yang kini kedua sorot matanya kini telah nyaris meneteskan air mata.


"Anda hanya berpisah jarak antara suami Anda dengan Anda dan Anda bisa saja melihatnya kembali jika Anda mau di dalam penjara tapi-" Cia menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Devan yang masih terbaring di atas tempat tidur ruangan ICU.


"Aku bisa saja kehilangan Ayah ku di dunia ini dan tak bisa lagi menyentuhnya atau bahkan melihatnya lagi."


Cia mengusap pipinya yang basah karena air mata lalu tersenyum berusaha untuk menutupi kesedihannya.


"Ingat Nyonya! Aku tidak akan diam jika Ayah ku benar-benar pergi dari dunia ini," ujar Cia yang kini melangkah mundur lalu segera berlari meninggalkan Firdha yang kini terdiam. .