
"Makan yuk, Non!" rayu Naini sembari menjulurkan sesuap bubur di sendok itu.
Plak!!!
Bidadari itu menghempas tangan Naini dengan sangat keras membuat bubur itu terjatuh ke lantai lagi. Naini hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perasaan lelah, yah lelah dengan tindakan putri Tuannya. Sampai kapan Naini harus melakukan ini?
"Siang, Bu Naini," sapa Cia lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
"Eh Cia." Naini bangkit dari lantai dan menyambut kedatangan Cia dengan senyuman.
"Bidadarinya kenapa?"
"Bidadari?" Tatap Naini tak mengerti.
"Oh, gadis cantik itu, aku menyebutnya dengan nama bidadari, soalnya dia cantik banget sih," ungkap Cia sembari menatap bidadari itu yang masih bertelungkup.
"Ouh gitu, hahaha." Naini tertawa.
"Sini, Bu Naini biar Cia ajah yang suap," ujar Cia sambil menjulurkan jari-jarinya.
"Oh iya, Nak. Silahkan!" Julur Naini.
Cia tersenyum menyambut mangkuk itu dari tangan Naini. Cia melangkah lalu duduk di lantai putih hingga ia berhadapan dengan bidadari yang masih bertelungkup di ujung ruangan.
Naini yang melihat hal tersebut hanya mampu tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Cia dan Putri Tuannya itu.
"Hay!" sapa Cia.
Bidadari itu masih bertelungkup menyembunyikan wajahnya dengan lengan dan lututnya.
Cia membuang nafas panjang dan kembali tersenyum menatap bidadarinya.
"Aku Cia," ujar Cia berusaha mengingatkan.
Perlahan bidadari itu mengangkat wajahnya menatap Cia dengan tatapan sayup dan hal ini membuat Cia tersenyum.
"Bidadari masih ingat Cia kan?" tanya Cia.
Bidadari itu terdiam.
"Cia harap bidadari masih kenal dengan Cia!"
"Bidadari mau makan?"
Tak ada jawaban dari sana, hanya ada sorotan mata sayup dengan segala kelelahan.
Cia mengaduk bubur itu dengan sendok lalu menjulurkan sesuap bubur.
"Ayo buka mulut!" pintah Cia yang kini mendekatkan ujung sendok itu ke arah mulut bidadari.
"Ayo!" ujar Cia seakan memohon.
...____****____...
"Aku pokoknya nggak mau kalau gadis kurang ajar itu ada di dalam rumah kita, apalagi sampai bertemu dengan putri kita!!!" Oceh firdha dengan nada bentakan sembari melangkah cepat menuju ruang bawah tanah.
"Firdha!!! Kamu nggak tahu apa alasan saya mengisinkan gadis itu masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Putri kita," jelas Abraham sembari mengikuti langkah Firdha yang begitu cepat.
"Aku nggak peduli alasan kamu, Mas!"
Langkah firdha dengan cepat menuruni anakan tangga menuju kamar putrinya itu tanpa memperdulikan ujaran suaminya.
"Aaaaa!" ujar Cia membuka mulut.
Bidadari itu masih tetap terdiam tanpa ada tanggapan.
Cia menghembuskan nafas berat, kini Cia tak tahu lagi harus melakukan apa agar bidadari ini mau memakan bubur itu. Tak lama Cia tersenyum mendapatkan ide cemerlang.
"Liat ini!" pintah Cia lalu bangkit dari lantai sambil memegang sendok dengan sesuap bubur putih.
"Ayo buka mulut pesawatnya mau masuk ke dalam goa!" ujar Cia lagi sambil tersenyum.
"Aaaaaaa!" Cia mendekatkan ujung sesuap bubur itu ke arah mulut bidadari.
"Pokoknya aku-" Firdha menghentikan ucapannya tepat ketika ia berada di depan pintu yang nampak terbuka.
Bidadari itu membuka mulut membiarkan sesuap bubur itu masuk ke dalam mulutnya.
"Pinter," puji Cia sedikit tertawa.
Firdha tersenyum menatap Putrinya yang kini mau makan tanpa harus dipaksa oleh para pelayan. Perlahan air mata Firdha menetes membasahi pipinya, terharu dengan hal ini.
Jari-jari Firdha menutup mulutnya cepat menahan tangisan yang siap meledak dari mulutnya. Firdha tak menyangka jika gadis bernama Cia yang sangat tak memiliki sopan santun itu berhasil menyuapi Putrinya dengan sangat mudah.
Firdha tau betul jika putrinya itu sangat sulit berinteraksi dengan orang bahkan dengan dirinya sendiri, ibu kandungnya sendiri. Bahkan Kasya selalu marah dan berteriak tidak jelas jika Firdha dan Abraham mendekat akan tetapi, gadis bernama Cia ini mampu dekat dengan Kasya tanpa ada teriakan dan penolakan darinya.
"Mas," bisik Firdha pelan.
"Iya saya tahu, itu sebabnya saya mengisinkannya," jawab Abraham sambil mengangguk lalu memeluk tubuh istrinya itu dan hal ini membuat tangis firdha meledak di pelukan suaminya.
"Ayo kita ke atas!" bisik Abraham sembari menuntun istrinya melangkah pergi.
Cia masih tersenyum sambil menyuapi bidadarinya itu dengan semangat, sesekali tangannya menyentuh bibir tipis bidadari itu yang terlihat belepotan dengan bubur putih.
Cia meletakkan gelas kosong itu ke lantai setelah di minum habis oleh bidadari. Cia tersenyum lagi.
"Kak bidadari tau nggak Cia bawa apa?" tanya Cia mengangkat kresek hitam itu.
Bidadari itu terdiam sambil terus menatap wajah Cia.
Cia menghembuskan nafas panjang lalu dengan semangat mengeluarkan cat warna serta kuas di tangannya.
"Tadaaaaaaaa!!!" sorak Cia dengan kedua matanya yang berbinar indah sembari mengangkat cat warna dan kuas di tangannya, Masih ada harga yang tertera di sana.
"Kemarinkan Cia janji, kalau Cia bakalan hiasin kamar kak bidadari, jadiiii sekarang Cia bawa ini."
"Cia suka ngelukis loh yang walaupun jelek tapi Ayah Cia pernah ngajarin Cia melukis," jelas Cia semangat.
Bidadari itu tetap terdiam tak bicara sedikit pun.
Cia menoleh menatap dinding kamar bidadari itu yang bercat putih dengan warna yang terlihat lebih usang. Cia bangkit dari lantai lalu berlari kecil ke arah tembok itu.
"Cia bakalan ngelukis di sini," ujar Cia sambil menyentuh permukaan dinding itu sambil menatap bidadari itu yang hanya terdiam menatapnya.
Cia menatap ke arah dinding tak jauh dari bidadari yang masih duduk di sudut kamar. Cia berlari lagi.
"Bidadari melukis di sebelah sini, yah?!" Tunjuk Cia lagi.
Bidadari itu hanya terdiam menatap wajah Cia dengan serius. Cia tak tahu apa yang sedang bidadari itu pikirkan tentangnya. Cia berlari kecil lalu menyentuh jari-jari lentik bidadari.
"Ayo berdiri!"
Bidadari itu terdiam tanpa ekspresi.
"Ayo!" pintah Cia semangat menarik pelan kedua tangan bidadari itu.
Perlahan bidadari itu mengerakkan kakinya lalu segera bangkit dari lantai. Cia tersenyum, ternyata bidadarinya cantiknya itu memiliki tinggi yang sama dengan Cia.
Wajah bidadari nampak terlihat sangat jelas kecantikannya di mata Cia ketika wajah itu begitu dekat dengan wajahnya hingga Cia mampu merasakan tarikan dan hembusan nafas bidadari.
Cia tertawa lalu meraih kuas dan meletakkannya ke dalam genggaman tangan bidadari.
"Bidadari melukis di sini, yah!" pintah Cia memutar tubuh bidadari menghadap ke dinding.
Cia berlutut di lantai lalu mengeluarkan cat-cat dengan berbagai macam warna ke permukaan palet cat air plastik, yah uang Cia hanya cukup membeli palet yang murah.
"Ini." Julur Cia setelah bangkit dari lantai sambil memegan palet.