Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 85



"Devan," bisik Cia.


"Kal, bos ceo!" Bisik Adam ketakutan sambil menggeliat di bahu Haikal. Jujur Adam sangat takut pasalnya, Adam tak meminta izin kepada bosnya itu sebelum keluar dari bengkel.


"Diam, lo!!!" bentak Haikal kesal. Sejujurnya bukan hanya Adam yang takut, tapi ia juga.


"Jangan sentuh pacar gue!" Dorong Devan menghantam dada Adelio cukup keras.


"Pacar?" tanya Haikal dan Adam kompak saling bertatapan dengan sangat tak menyangka.


Apa ini serius?


Adelio terhempas ke belakang membuatnya melangkah mundur melepas pegangan di lengan Cia.


"Aaaaaa ganteng banget!!!"


"Aaaaaaa!!!"


"Ah jantung ku!!!" Suara teriakan histeris dari gadis-gadis itu terdengar jelas, bahkan para guru-guru, Bu Lia dan bu Nani juga ikut menjerit di sana.


Loli menutup mulutnya tak menyangka dengan apa yang ia lihat sekarang. Loli tak menyangka jika Cia memiliki pacar yang sangat tampan dan gagah.


"Aaaaaaaaaaaaaaa!!!" teriak Medika histeris sambil memegang kedua pipinya.


Loli yang terpukau itu kini menggerakkan kepalnya menatap sahabat yang jarang bicara itu berteriak histeris. Baru kali ini Loli melihat Medika berteriak cukup keras seperti orang kesurupan.


Fika menganga tak mengedipkan matanya menatap pria yang kini berdiri tak jauh darinya. Fika kini percaya jika yang dikatakan Cia mengenai pacarnya itu benar. Mata indah, suara indah dan semuanya.


"Kamu nggak apa-apa kan?" Sentuh Devan ke pipi Cia berhasil membuat semua orang berteriak histeris.


"Kaca mata lo mana? Terus rambut lo kenapa enggak kayak tadi?" bisik Cia dengan kedua mata yang melotot tajam.


"Gue buang. Lo nggak tau, mata gue perih bego gara-gara minyak kemiri," bisik Devan penuh tekanan dengan kedua rahangnya yang menegang.


Devan tersenyum manis lalu menoleh menatap Loli yang nampak menatanya dengan tatapan serius. Gadis-gadis itu menjerit lagi ketika lesung pipi Devan terlihat.


"Maaf, gue telat," ujar Devan masih menatap Loli dan para tamu yang hadir.


"Gi, Ogi!" panggil Bastian kaget sambil menyentuh bahu Ogi yang nampak terbelalak sedari tadi.


Ogi tak menyangka jika gadis bernama Cia itu ternyata berpacaran dengan pria yang mereka serang bengkelnya di malam minggu yang lalu, bersama dengan geng Torak.


Pria itu, ketua geng exoplanet. Dia yang telah menendang Ogi di malam itu membuatnya terhempas ke aspal.


"Bas, lo telfon polisi!"


"Polisi?"


"Lo bilang kalau ketua gang exoplanet itu mau bikin rusuh di acara ulang tahun Loli." Tatap Ogi serius.


"Gimana nih, acaranya udah mulai atau gimana nih?" Tatap Devan menatap ke setiap para tamu sambil tertawa sendiri sementara yang lainnya masih terdiam dengan suasana sunyi.


Suasana nampak hening tak ada satu pun orang yang berucap, semuanya masih terdiam.


Devan menghentikan tawanya yang tak jelas itu lalu, melangkah ke arah Cia yang nampak kebingungan dengan keheningan yang terjadi.


"Kok mereka diam?" bisik Devan.


"Ini semua gara-gara lo. Gue kan udah bilang rambut lo jangan diubah, terus kaca mata lo kenapa dilepas?" jawab dan tanya Cia penuh tekanan.


"Hah?" Tatap Devan masih heran.


"Gila lo, yah!"


"Apa sih, Ci?"


Cia terdiam tak menanggapi pertanyaan bodoh Devan. Devan menggerakkan kepalnya menatap ke seluruh tempat sambil tersenyum.


"Oh iya, yang namanya Ogi di sini siapa?!!!" teriak Devan menatap ke seluruh tamu membuat Cia melongo, entah kenapa Devan mencari Ogi.


"Gimana nih, Gi? Dia cari lo, Gi," bisik Bastian.


"Ngomong, Gi!" bisik dirga.


Jujur Ogi takut jika ketua geng exoplanet itu melihatnya akan tetapi, ia juga malu kepada kedua sahabatnya itu jika ia tak memperlihatkan dirinya kepada ketua gang itu.


Devan menoleh menatap ke sumber suara. Devan tak menyangka jika pria bernama Ogi adalah ketua gang torak yang pernah menyerang bengkelnya.


"Mata lo di mana?" bisik Devan.


"Emang kenapa?" bisik Cia.


"Jelek begitu dijadiin idola."


"Emang dia ganteng kok," ujar Cia menunduk, tak menatap wajah Devan.


"Lo tau nggak, dia yang udah nyerang bengkel."


"Hah?" Kaget Cia tak percaya.


Cia sama sekali tak menyangka jika Ogi adalah orang yang telah merusak pagar bengkel. Devan melangkah mendekati Ogi yang nampak menelan ludah karena takut. Ogi benar-benar sangat takut jika ketua gang exoplanet ini memukulnya di depan orang banyak.


"Jadi lo si Ogi?" tanya Devan berhadapan dengan pria itu.


Ogi menelan ludah melangkahkan kakinya. mundur lalu Ogi mengangguk mengiyakan membuat Devan terseyum sinis.


"Akhirnya gue bisa ketemu lo di sini." Devan tertawa licik.


"Lo jangan harap gue bisa lupa sama lo."


"Dan sekarang kita dipertemukan di sini" bisik Devan dengan jarak yang begitu sangat dekat membuat nyali Ogi menciut. Dirga dan Bastian yang melihat hal tersebut tanpa pikir panjang segera berlari meninggalkan Ogi yang masih berdiri di hadapan Devan.


"Bal!!! Ga!!!" teriak Ogi memanggil kedua sahabatnya itu setelah menyadari jika mereka telah lari.


Ogi memutar tubuhnya berniat untuk berlari ke arah sahabatnya itu yang kini semakin menjauh. Devan dengan cepat menarik kerah jas hitam Ogi.


Ogi menoleh lelu menghempas tangan Devan yang telah berhasil menghentikan langkahnya. Ogi menggerakkan tinjunya ke arah Devan. Dengan cepat menangkap tinju Ogi yang mengarah ke wajahnya. Devan menggerakkan tinju Ogi dan menatap Ogi degan tatapan tajam.


Bruk


Tubuh Ogi terhempas ke panggung setelah Devan meghantam wajah Ogi dengan sangat keras membuat semua para tamu berteriak.


Cia menutup mulut tak menyangka jika Ayahnya yang selalu ia ajak bercanda itu bisa sekasar itu kepada orang.


Ogi membuka matanya lalu mengeliat kesakitan di wajahnya. Tak mampu melawan.


Devan menghentikan tatapnya menatap sekilas dua pria yang sangat ia kenal sedang berdiri di belakang kerumunan.


"Tuh kan bos Ceo ngeliat kita." Adam gemetar hebat.


"Lo tuh yang salah, kenapa nggak minta izin tadi sama si Ceo?"


"Astagfirullah, kamu itu yang maksa saya tadi, Saya ini korban."


Devan terbelalak. Bagaimana bisa Adam, si montirnya yang Sholeh itu berada di acara ulang tahun loli ditemani Haikal si pengangguran itu.


"Lo!" Tunjuk Devan cepat ke arah kerumunan.


Haikal dan Adam terbelalak kaget. Adam begitu sangat-sangat takut dengan tatapan bosnya itu. Adam takut jika ia dipecat dari bengkel membuat Adam yang masih menggeliat di bahu Haikal kini melangkah mundur.


"Lari, Kal!!" teriak Adam, berlari.


"Dam!" panggil Haikal cepat.


Lari Adam terhenti seketika ketika berhadapan dengan gadis seksi sebatas paha yang nampak berdiri sambil memegang gelas di tangannya.


"Astagfirullah!!!" teriak Adam histeris lalu memutar tubuhnya.


Tubuhnya terhempas ke arah sebuah meja bundar yang nampak di tempati kerumunan gadis-gadis degan pakaian seksi.


Bruk


Tubuh Adam jatuh kepangkuan gadis seksi dengan rok sebatas paha serta pakaian belahan di dadanya.


Wajah Adam menghantam keras dada gadis itu yang lembut. Mata Adam membulat menatap sesuatu yang nampak tak pernah ia lihat sebelumnya.


"Masha Allah." Matanya berbinar.