Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 228



"Cia!" panggil Firdha lagi.


Cia tak menghentikan langkah nya, ia terus saja melangkah tanpa mengabai kan ujaran Firdha yang masih memangilnya.


"Cia, harus nya kamu bisa berpikir! Karena aku peduli dengan ini hingga aku merela kan suami ku masuk ke dalam penjara hanya untuk melihat kamu, Kasya dan Devan bersama dan bersatu."


Mendengar ujaran Firdha membuat langkah Cia terhenti dengan perlahan.


"Aku peduli dengan keluarga kecil kalian sehingga aku merelakan suami ku. Istri mana yang mau melihat suaminya berada dalam penjara? Tak ada yang mau tapi aku merelakan nya demi kebahagiaan Kalian."


"Aku berpikir berbulan-bulan untuk keputusan ini dan satu malam aku tidak tidur untuk memutuskan membuat keluarga kecil kalian atau tetap mempertahan kan keluarga kecil ku."


"Aku peduli dengan kamu sehingga dengan penuh keberanian aku merekam percakapan suami ku dan Jef lalu menyerahkan bukti rekaman nya pada Devan."


...___***____...


Firdha menurunkan jendela mobil hitam nya dan menurun kan kaca mata hitamnya hingga ia bisa menatap dengan jelas sosok pria yang kini sedang melangkah keluar dari sebuah toko, entah apa nama toko itu, yah Firdha tak peduli dengan hal itu. Firdha bisa melihat wajah sedih, letih dan marah pada raut wajah pria berparas tampan itu, yah siapa lagi jika bukan Devan. Firdha dengan sengaja mengikuti ke mana pun Devan pergi. Firdha tahu jika sekarang Devan sedang mencari sebuah pekerjaan.


Firdha tahu semuanya, dari bengkel yang terbakar dan penyebab Devan tak memiliki pekerjaan dan di tolak dari berbagai tempat yang ia datangi, tentu saja ini ulah suami nya, Abraham. Firdha tak akan diam saja melihat semua ini. Bagi Firdha Devan boleh saja hidup menderita tapi tidak bagi cucu satu-satunya, Cia. Setelah mengetahui jika Cia adalah Anak dari Kasya sejak itu Firdha sudah menyayangi Cia.


Firdha kembali menaikkan kaca mata nya ketika Devan sudah melangkah jauh dari toko itu dan berjalan di tepi jalan beraspal.


"Ikuti dia!" pintah Firdha lalu tak berselang lama jendela mobil itu kini tertutup rapat dan mobil kini bergerak perlahan mengikuti ke arah mana Devan pergi.


Entah bagaimana bisa Devan punya tenaga yang kuat untuk melangkah hingga ia kini telah tiba di sebuah pasar yang kini sedang ramai pengunjung, ada banyak orang di sini. Terdapat mobil truk dan mobil pengangkut karung beras, sayur dan sebagai nya yang ada di sini. Firdha kembali menurungkan kaca mobil nya dan menatap Devan yang kini sedang berbicara pada seorang pria. Firdha tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan tapi dari wajah Devan yang terlihat memelas membuat Firdha yakin jika Devan sedang meminta pekerjaan.


Firdha diam sejenak menatap apa yang ada di sekitar Devan hingga tak berselang lama tatapan Firdha kini beralih menatap dua bocah, satu laki-laki dan satu perempuan yang sedang menatap Devan.


Butuh waktu lama hingga Devan benar-benar pergi dari pasar dan membuat Firdha kini memutuskan untuk melangkah menuruni mobil mewahnya yang berwarna hitam itu hingga semua orang kini menoleh menatap Firdha. Yah siapa yang tidak menoleh jika melihat penampilan Firdha yang berpenampilan begitu


sangat berwibawa dengan mobil mewahnya.


Firdha menurungkan kaca mata nya lalu menatap dua bocah yang kini sedang menatapnya.


"kamu! Sini!" panggil Firdha sambil menggerak kan ujung jari tangannya ke arah dua Anak itu yang kini saling bertatapan seakan tak menyangka jika wanita kaya seperti Firdha bisa memangilnya.


"Cepat ke sini!" panggil Firdha lagi.


"Kami?" Tunjuk bocah laki-laki itu ke arah wajah nya dan wajah gadis kecil itu secara bergantian.


"Iya, kalian berdua. Cepat ke sini!" Tunjuk Firdha membuat dua bocah itu kini berlari menghampiri Firdha.


"Nyonya memanggil kami?" tanya bocah laki-laki itu.


Firdha tak menjawab. Ia kini mengeluar kan uang dari dompet nya membuat kedua bocah itu terbalalak kaget saat menatap uang merah dengan jumlah yang banyak keluar dari dompet bermerek itu.


"Apa ini cukup?" tanya Firdha sambil menjulur kan uang tebal ke arah dua bocah itu.


"Ambil!" Pintah Firdha.


"Ini untuk kami Nyonya?" tanya gadis itu.


"Iya, cepat ambil!" pintah nya membuat kedua bocah itu segera meraih uang itu dan saling berebut dan tarik menarik.


"Jangan berebut! Aku akan memberikan uang yang lebih banyak lagi dari pada ini kalau kalian mau melakukan apa yang aku perintahkan, kalian mau kan?" tanya Firdha membuat kedua bocah itu mengangguk.


"Iya, Nyonya. Kami akan melakukan apa yang Nyonya perintah kan kepada kami. Katakan Nyonya!" ujar bocah pria itu.


"Em bagus," ujar Firdha lalu mengangguk dan memasang kaca mata hitam nya.


...____***____...


Firdha menurungkan kaca jendela mobil mewahnya dan menatap Devan yang kini terlihat sedang mengusap wajahnya dengan keras. Sepertinya Devan terlihat benar-benar kesal dan marah saat ini yah semuanya bisa Firdha lihat dari wajah Devan. Firdha tahu kini apa yang sedang Devan pikirkan. Mungkin yang akan ia pikirkan adalah entah apa kesalahan yang ia telah perbuat sehingga harus mendapat cobaan seperti ini.


"Kamu lihat pria itu?" Tunjuk Firdha ke arah Devan membuat dua bocah yang kini berada di dalam mobil mewah itu kini menoleh.


"Iya, Nyonya," jawab kedua nya dengan kompak.


"Nah, sekarang saya mau kamu turun dari sini dan berikan minuman dingin yang telah kamu beli kepada pria itu!" Tunjuk Firdha ke arah gadis kecil yang kini mengangguk.


"Ingat, jangan mengatakan apa-apa jika dia bertanya! Setelah kamu memberikan ini kamu pergi dan jangan berhenti jika dia memanggil mu! Mengerti?"


"Mengerti, Nyonya," jawabnya.


"Em bagus," ujar Firdha lalu mengangguk.


Gadis itu kini melangkah turun dan berlari melewati jalan raya yang tidak terlalu ramai membuat Firdha kini tersenyum.


Devan kini terlihat tertunduk sambil menopang dahinya yang di penuhi dengan keringat yang bercucuran membasahi sekujur wajahnya.


Dari sini Firdha bisa melihat gadis itu mendekati Devan dan menjulurkan minuman dingin ke arah Devan.


Firdha tak tahu apa yang gadis itu katakan kepada Devan hingga berhasil membuat Devan mendongak menatap gadis kecil suruhannya.


Gadis itu bicara lagi yah Firdha tak tahu apa yang gadis itu katakan kepada Devan karena jarak mobil dan gadis itu yang agak jauh.


Devan terlihat tersenyum lalu meraihnya membuat gadis kecil itu tersenyum walau awalnya wajah Devan sempat kebingungan. Gadis itu kini masih berdiri di depan Devan sambil menggoyang-goyangan kan tubuh nya ke kiri dan kanan seakan menanti Devan untuk meminum minuman pemberiannya.


Firdha menghela nafas panjang, entah mengapa gadis kecil itu tidak pergi seperti ala yang ia suruh kan awala nya.


Tak berselang lama Devan mengucap kan sesuatu membuat gadis itu terlihat mengangguk.


Devan menoleh ke kiri dan kanan sepertinya dia terlihat sedang mencari sesorang yah mungkin Anak laki-laki yang ia lihat bersama gadis kecil yang kini masih berdiri di hadapan Devan.


Devan terlihat bicara lagi membuat gadis itu menggeleng dan ketika Devan bicara lagi gadis kecil itu tertawa lalu berlari pergi meninggalkan Devan yang kini terlihat melongo. Yah Devan akan bingung dengan sikap gadis kecil itu yang terlihat sangat aneh.


Devan terdiam sejenak lalu tak berselang lama ia kini meminum minuman dingin itu membuat Firdha kini tersenyum lalu melangkah turun dari mobil hitam nya dan mendekati Devan yang masih asik dengan minuman dingin itu.


"Selamat siang. Bagaimana rasanya setelah meminum minuman dingin itu?" tanya Firdha.


Devan yang mendengar suara itu kini mengangkat pandangannya dan menatap dari ujung high heels berwarna merah mengkilat hingga berakhir di sorotan mata Firdha yang kini tersenyum.


Firdha semakin tersenyum di saat kedua mata Devan terlihat terbelalak kaget setelah melihat sosok nya yang kini sedang berdiri di hadapan Devan. Dengan cepat Devan bangkit dari kursi, tempat duduknya dan terdiam menatap Firdha itu dengan tatapan tak percaya. Yah Firdha tahu apa yang Devan pikirkan mengenai diri nya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun akhirnya Devan bertemu langsung dengan Firdha.


"Silahkan duduk!" ujar Firdha lalu melangkah duduk membuat Devan yang masih terkejut itu untuk beberapa waktu hanya diam.


"Silahkan duduk!" pintah Firdha membuat Devan kini memutuskan untuk duduk.


Devan terdiam sejenak lalu menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk memastikan jika tak ada Tuan Abraham dan Jef.


"Cari siapa?" tanya Firdha membuat Devan menoleh.


"Maaf, mungkin saya tidak bisa berlama-lama di sini," ujar Devan lalu bangkit dari kursi halte.


"Tenang saja Devan! Abraham dan Jef tidak ada di sini," ujar Firdha menenangkan.


"Saya...saya tidak memikirkan tentang mereka, saya hanya ingin pulang," ujar Devan lalu melangkah pergi memberikan jarak antara ia dan Firdha.


"Devan! Jika kamu pergi sekarang maka kamu akan menyesal untuk selama-lamanya."