Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 56



Suara kicauan burung-burung kecil terdengar merdu disaat mereka berteger tapi di ranting pohon mangga yang terletak di samping tembok pembatas rumah sebelah. Pagi ini langit biru terlihat cerah menaungi kendaraan yang telah berdesakan di aspal kota Jakarta yang sedang macet parah


Srek!!!


Devan membuka jendela kamar membuat cahaya sinar matahari yang masih malu-malu menampakan cahayanya menyinari wajah Cia yang masih terkapar di atas tempat tidur dengan bibir yang menganga.


Kedua alis Cia mengkerut silau ketika cahaya matahari itu menghantam lembut kedua matanya serta wajahnya yang cantik.


"Cia!"


"Emmm." Cia menggeliat di atas kasur dan menarik selimut putih itu lalu menutup wajahnya berusaha untuk menghindari cahaya yang menyilaukan matanya.


Devan mendecapkan bibirnya lalu menggeleng tak mampu menghadapi putri kecilnya yang keras kepala.


"Cia," panggil Devan dengan lembut.


Tak ada respon dari Cia bahkan dengan santainya Cia merapikan selimutnya, membungkus tubuhnya dengan selimut.


Devan menghela nafas berat dan mendengus kesal menatap Cia dengan nanar.


"Ci!!! Cia!!!" teriak Devan sambil mengguncang bahu Cia dengan kencang.


"Emmm," sahutnya dengan suara serak.


"Bangun!!!" teriak Devan.


"Emang udah pagi, yah?"


Devan menghentikan guncangannya lalu menarik selimut putih itu dari wajah Cia. 


Cia membuka matanya dengan perlahan hingga ia berhasil menatap wajah Devan yang begitu jelas dikedua sorot matanya. Devan tersenyum manis hingga lesung pipi itu terlihat jelas menghiasi pipinya, rambut hitam Devan terlihat bergoyang dihembus tiupan angin pelan serta paparan sinar matahari pagi yang memperlihatkan jelas wajah Devan di atas sana.


Wajah Cia terlihat terkesima ketika ia merasakan detak jantung Cia berdetak cepat.


"Huh!!!" Teriak Cia bangkit dari kasur dengan kedua matanya yang terbelalak serta kedua bibirnya yang terbuka seakan telah terjadi mimpi buruk.


Dasar bodoh! Ada apa dengan jantung Cia? Mengapa jantungnya berdetak seperti ini? Sadar Cia! Sadar!!!


"CI!" Tatap Devan heran.


"Lo kenapa masuk di kamar gue sih?!!!" bentak Cia dengan kesal.


"Yah gue mau ngebagunin lo, apa lagi?" Devan bangkit melangkah keluar dari kamar.


Kini Cia terdiam. Mengapa Devan yang membagunkannya di pagi ini? Biasanya setiap pagi Mamanya yang selalu membangunkannya, lalu Mamanya kemana?


Cia bangkit dari tempat tidurnya lalu berlari keluar kamar menatap ruangan Tv yang nampak sunyi. Cia berlari lagi, menatap kursi Fatima yang nampak kosong. Tak ada Fatima di sana dengan suara mesin jahitnya. Dimana dia?


Cia berlari, melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar Mamanya yang terlihat tertutup rapat.


Cia membuka pintu pelan hingga ia berhasil menatap Fatima.


Cia kini terdiam menatap Fatima yang nampak terbaring lemah di atas kasur putih. Wajahnya nampak pucat, bibirnya kering dengan rambut beruban yang dibiarkan terurai.


"Ci mandi lo! Ngapain di situ?" Devan menghampiri.


"Mama kenapa?"


Devan menoleh masuk ke kamar menatap Fatima yang masih tertidur dengan wajah yang terlihat pucat. Dengan pelan Devan menarik tangan Cia keluar dari kamar disusul tangan Devan yang menarik ganggang pintu dan menutupnya dengan rapat.


"Dev, Mama kenapa?" tanya Cia.


Devan menghela nafas sembari menatap pintu kamar Fatima yang masih tertutup.


"Van, Mama kenapa?"


"Mama sakit," jawabnya.


"Mama sakit?" tebaknya.


"Iya, Mama sakit."


"Sakit apa?"


"Cuman demam kok palingan besok juga sembuh."


Cia terdiam menatap pintu kamar Fatima dengan raut wajah sedih, baru kali ini Cia melihat Fatima sakit dengan wajah sepucat itu.


"Ya udah sana mandi!".l


Cia masih terdiam, mematung seperti sedang memikirkan sebuah hal.


"Lo kenapa sih?"


"Kalau Mama sakit terus siapa yang masak?" tanya Cia melebarkan kedua matanya.


"Untuk hari ini kita makan nasi bungkus dulu, gue udah beli kok."


"Gue nggak suka nasi bungkus!"


10 Menit kemudian...


Cia menyantap nasi bungkus itu dengan lahap di atas meja makan, kini Cia sudah siap-siap untuk berangkat ke sekolah, seragam sekolah dan tas hitam di kursi. Rambut hitam Cia pun diikat ke belakang dan telah disisir dengan rapih.


Devan yang duduk tepat di depan Cia hanya mampu terdiam menatap keganasan Cia yang menyantap nasi bungkus itu.


"Gue lapar!" singkat Cia lalu meneguk habis air di gelas kaca itu.


"Ahh, udahlah gue berangkat."


Cia bangkit dari kursi lalu melangkah pergi meninggalkan Devan yang masih terdiam di kursi.


"Ci!" panggil Devan


"Em," sahut Cia lalu menoleh menatap malas pada wajah Devan.


"Lo udah mau berangkat?" tanya Devan.


"Yah, ke sekolahlah, terus kemana lagi?" sinisnya.


Devan menelan ludah ketika jawaban Cia begitu sinis membuatnya menciut seperti es yang mencair.


Devan mengangguk lalu berujar, " Yah, udah sana!"


Cia mendecapkan bibirnya menatap Devan dengan kesal. Cia mengerakkan tubuhnya membelakangi Devan yang kini memandanginya.


"Ci! Lo nggak pergi?" tanya Devan.


Cia mendecapkan bibirnya lalu menoleh menatap Devan dengan tajam membuat Devan tersentak.


"Lo nggak ngasih gue duit?" tanya Cia kesal.


...____****_____...


Cia melangkah menuju ruangan kelas melewati pintu-pintu kelas yang berjejer rapi. Akhir-akhir ini Cia sering datang pagi ke sekolah tak seperti biasanya yang harus masuk ke sekolah lewat tembok belakang.


Cia merogoh saku bajunya lalu mengeluarkan uang lima ribu yang telah diberikan oleh Devan untuknya.


"Pelit banget sih jadi Ayah?"


Langkah Cia terhenti ketika ia menatap sesuatu yang aneh dari kejauhan. Cia mengkerutkan alisnya menatap segerombolan murid-murid perempuan yang berdiri di depan mading. Entah apa yang mereka lakukan di sana?


Apa Cia harus ke sana melihat apa yang mereka kerumuni? Cia menggeleng cepat mengurungkan niatnya.


Beberapa murid perempuan berlari melintasi Cia yang kini menoleh menatap mereka yang kini berlari ke arah kerumunan.


"Tuh orang ngapain sih?" tanya Cia bingung.


Langkah Cia kini terhenti menatap kerumunan itu membuatnya keherangan.


"Aaaaaa, ya ampun!!!"


"Seru banget tuh pasti!!!"


"Wah, ini seru banget!!!"


"Nggak sabar banget!!!"


"Eh, itu apa?"


"Minggir dong! Aku mau liat!"


"Mudah-mudahan kita di undang!!!"


"Iya, aku mau diundang."


"Aku jugaaaa!!!"


Suara teriakan dan jeritan itu terdengar di telinga Cia membuat Cia semakin penasaran dengan apa yang mereka kerumuni di sana.


"Ci!" Lari Fika menghampiri.


"Itu apa sih di sana?" tanya Cia sembari menunjuk.


Fika ikut menatap kerumunan itu dari kejauhan sembari berjinjit.


"Gue penasaran, Ci," ujar Fika tanpa menoleh menatap Cia yang menatapnya.


"Gue nggak!"


Fika menoleh menatap tak sedap pada Cia dengan wajah datarnya.


"Gue juga mau ke sana, yuk, Ci!"


"Nggak ah!" tolak Cia.


"Ayolah, Ci! Gue udah tungguin lo dari tadi tau nggak."


"Ngapain lo tungguin gue?"


Fika tersenyum malu sambil menggaruk belakang telinganya yang tak gatal.


"Yah guekan nggak berani kalau nggak ada lo." Fika tertawa.


"Kok gue sih?"


"Ei!!! Minggir Minggir Minggir!!!" teriak Cia.