
"Masalah hidup ini berat yah. Aku nggak tahu kenapa semua orang seakan sengaja untuk menyakiti hati seseorang."
"Hati yang ingin dibuat bahagia harus disakiti."
Cia masih terdiam dengan tatapannya yang masih menatap lantai.
"Ayah aku sudah menikah yang ke empat kalinya lagi."
"Awalnya Ibu aku terima Ayah ku menikah dengan perempuan yang lebih muda dari pada ibu ku dan itu berarti Ayah ku punya dua istri dan yang lebih parahnya kami tinggal satu atap."
Cia menoleh menatap Adelio yang masih menatapnya dengan tatapan yang penuh haru. Air mata Adelio telah tumpah ruah membasahi pipinya. Tak berlangsung lama Cia kembali menunduk.
"Setiap malam Ibu ku menangis karena cemburu."
"Bisakah kamu membayangkan betapa sakitnya melihat orang yang disayang bermesraan dengan gadis pendatang yang tak jelas asal-usulnya."
"Kami duduk bersama di meja makan, mereka tertawa bahagia seperti tak menganggap keberadaan kami."
Adelio terisak saat menjelaskannya hal itu dan membuat Cia kembali melirik Adelio. Rasanya pasti sakit. Cia tak menyangka jika kisah buruk seperti ini dirasakan oleh Adelio.
Adelio menunduk dan mengusap rambutnya dengan kasar seakan ingin memukul dirinya sendiri namun ia tak ingin menunjukkan hal itu kepada Cia.
"Siapa yang tak tahan dengan hal itu?"
"Baru beberapa bulan Ayahku menikah, kini Ayah ku menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda bahkan dia seusia dengan aku."
"Karena Ibu aku tidak terima, makanya Ibu memutuskan untuk membawa aku pergi dari rumah dan sampailah aku di Jakarta."
"Hidup aku menyedihkan Cia," ungkap Adelio lagi lalu tertunduk menopang dahinya dengan jari-jarinya diiringi suara tangisan.
Cia hanya mampu terdiam, tenyata di balik sikap dingin Adelio tersimpan sebuah luka yang mendalam. Baru kali ini Cia mendengar Adelio berbicara panjang lebar bahkan yang Adelio ucapkan adalah masalah yang Adelio hadapi saat ini.
Cia menggerakkan jari-jarinya ke arah Adelio namun gerakkan jari-jarinya tertahan. Cia tak tahu harus melakukan apa. Suara tangisan Adelio berhasil mendorong Cia mengusap punggung Adelio dengan lembut. Cia tau itu semua tak mudah untuk dihadapi.
"Sa...sa...sabar!" ujar Cia gugup ketika ia mengusap punggung Adelio yang terasa hangat.
"Sekarang aku tahu."
"Sekarang aku sadar."
"Aku sadar, kalau sosok Ibu itu lebih mulia dibandingkan sosok Ayah."
Usapan Cia dengan cepat terhenti dan membuatnya terdiam setelah mendengar perkataan Adelio mengenai sosok Ibu yang lebih mulia dibandingkan Ayah.
"Tak ada Ayah yang baik."
"Tak ada!"
"Semuanya hanya menyakiti."
"Nggak!" bantah Cia cepat.
Adelio kini menoleh menatap Cia yang kini menatapnya tajam. Cia tertunduk menatap lantai berwarna putih nan bersih seakan telah menyesal menatap Adelio dengan sejahat itu.
"Yang gue pikirin berbeda dari apa yang lo pikirin, Adelio."
Adelio terheran mendengar hal itu.
"Menurut gue, Ayah lebih mulia dibandingkan Ibu," ujar Cia degan suara gemetar.
"Ibu adalah sosok yang nggak nyata keberadaanya."
"Gue nggak percaya kalau sosok Ibu itu ada."
"Gue juga nggak percaya kalau surga ada di telapak kaki Ibu."
"Maksudnya?" tanya Adelio.
Cia tersenyum sinis.
"Mana ada surga yang meninggalkan makhluknya."
"Selama gue hidup gue nggak pernah ngeliat Ibu gue, bahkan gue pengen banget ketemu sama Ibu walau hanya lewat mimpi, tapi itu sulit."
"Sosok Ibu itu nggak bisa masuk ke dalam mimpi gue, karena gue nggak tahu mukanya kayak gimana."
"Surga gue nggak ada di kaki Ibu tapi di kaki Ayah gue."
"Ayah gue yang nomor satu."
Cia mengigit bibir. Cia sangat lupa jika yang Adelio tahu jika Ayahnya itu telah meninggal dan Cia hanya di rawat oleh sosok ibu yang kini terbaring sakit di rumahnya.
"Dan?" Tatap Adelio penasaran.
"Emm, kita balik ke sekolah yuk! Gue mau ambil tas!" ajak Cia mengalihkan pembicaraan.
Cia terdiam masih dengan wajah paniknya lalu menghembuskan nafas berat. Cia kini bangkit dari kursi panjang itu lalu segera menghapus air matanya dan melangkah pergi.
Adelio terbelalak menatap rok abu-abu Cia yang terdapat bercakan darah segar ketika Cia bangkit dari kursinya bahkan di tempat duduk Cia terdapat cairan kental berwarna merah juga.
"Cia!!!" panggil Adelio dengan wajah pucat lalu dengan cepat ia bangkit dari kursi dan menarik Cia.
Cia terbelalak saat ia kembali duduk di kursinya sementara Adelio kini nampak gelisah sambil berlutut di hadapan Cia.
"Kenapa?" tanya Cia cepat.
Adelio menelan ludah seakan takut jika Cia merasa malu jika ia mengatakan yang sebenarnya. Adelio takut jika Cia merasa tak nyaman jika Adelio memberitahu ada darah di rok Cia.
"Kenapa, Lio?"
Adelio terdiam, tak tau harus berkata dan berbuat apa.
"Ka...ka...kamu sakit?" tanya Adelio asal-asalan bahkan Adelio tak tahu apa yang baru saja Adelio tanyakan kepada Cia.
"Sakit?" tanya Cia membuat Adelio mengangguk.
"Nggak!" jawab Cia sambil menggeleng.
"Emmm, aku mau kasihtahu."
"Kasi tahu apa?"
"Em, tapi kamu jangan marah!"
"Emang kenapa?"
"Itu, ahhh maksud ku rok!" Tunjuk Adelio ke arah rok yang dikenakan Cia lalu menggaruk lehernya pelan.
"Aa?" Tatap Cia tak mengerti.
"Me...merah."
"Aa?"
Adelio menelan ludah, rasanya Adelio tak tahu harus mengatakan apa agar Cia menggerti dengan maksudnya.
Dengan tatapan sekilas Adelio terdiam menatap poster menstruasi yang terpasang di dinding di depan sebuah ruangan pasien.
Mungkin itu bisa membantunya untuk menyampaikan apa yang ingin Adelio katakan.
"Itu!" Tunjuk Adelio ke arah poster itu.
Cia mengerakkan kepalanya menatap sebuah poster di dinding. Mata Cia terbelalak menatap poster itu, apakah maksud Adelio adalah...
Dengan cepat Cia menatap Adelio yang kini salah tingkah sambil menggaruk belakang telinganya. Sepertinya dugaan Cia benar.
Cia bangkit dari kursi lalu menggerakkan kepalanya menatap roknya yang terdapat bekas darah segar di sana bahkan Cia juga mampu melihat darah itu dengan jelas di sebuah kursi bekas tempat duduknya.
"Aaaa!!!" Suara jeritan kecil keluar dari mulut Cia lalu segera bersandar di sebuah dinding seperti seekor cicak berusaha agar Adelio tak melihat darah itu di roknya itu.
Adelio menutup wajahnya. Ia tak mau jika Cia semakin malu jika Adelio melihatnya.
"Jangan buka mata!" pintah Cia sambil menunjuk.
"Tidak akan!" ujar Adelio sambil menutup kedua matanya.
"Lo liat semua?" tanya Cia dengan wajahnya yang telah cucuri keringat.
"Tidak!" ujar Adelio sambil menggeleng tetap dengan tangannya yang menutup kedua matanya.
Cia menghembuskan nafas panjang seakan merasa lega mendengar hal itu.
"Sedikit," ujar Adelio membuat Cia terbelalak.
Cia mengeluh kesal seakan ingin menangis sekencang-kencangnya.
"Gimana dong?" Tatap Cia sedih menatap Adelio.