Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 112



Yang membuat mereka semakin terbelalak adalah kutang dan ****** ***** yang ada di tangan Devan.


Devan tak habis pikir dan tak menyangka jika mereka semua ada di rumah ini. Devan menelan ludah menatap tatapan mereka yang tertuju pada perut dengan tubuh mulusnya itu membuat Devan segera menunduk, ikut menatap perutnya.


Tak berselang lama tatap mereka tertuju lada satu arah membuat sorot mata Devan ikut menatap ke arah mana mereka semua melihat.


Devan yang masih terkejut itu dengan cepat menyembunyikan kutang dan ****** ***** ke belakang tubuhnya ketika tatapan pusat mereka tertuju pada benda yang ada di tangannya itu.


Devan tersenyum hambar dengan raut wajah panik menatap empat makhluk yang kini masih melongo menatapnya. Sekarang Devan tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan bahkan bibir ini pun terasa keluh untuk tersenyum.


"Ha...ha...Hay, sudah lama ada di sini?" sapa Devan sambil melambaikan tangannya yang masih memegang kutang dan ****** ***** itu


Devan yang menyadari kutang dan ****** ***** itu menjadi sorotan tatapan mereka langsung kembali menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


Nafas Cia semakin sesak, keringatnya nampak bercucuran diiringi gemetar di jari-jarinya. Tuhan, rasanya ia ingin lenyap dari tempat, sekarang ini juga. Entah apa yang akan terjadi setelah kekacauan ini.


Yuna dan Faririn kini secara perlahan tersenyum bahkan semakin lebar membuat Devan sedikit takut untuk melihatnya. Apa mereka akan berubah menjadi monster menyeramkan?


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!"


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!"


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!"


Jerit Yuna, Faririn dan Fika dengan kompak serta tatapan berbinar mereka lalu berlari ke arah Devan.


Degan cepat Devan berlari masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan rapat diiringi dengan suara bantingan pintu berusaha menjauhi tiga gadis yang menjerit itu.


Plak


Plak


Plak


Pukulan keras dari tangan-tangan Yuna, Faririn dan Fika di permukaan pintu kamar Devan terdengar cukup keras hingga membuat Devan yang bersandar di pintu mampu merasakan getaran di pintu.


Kejadian kemarin terjadi lagi.


***


"Jadi kakak ini perawat?" Tatap Yuna kagum menatap pria tampan yang kini duduk di sofa.


"Perawat mamanya Cia, yah?" tanya Faririn.


Devan mengangguk mengiyakan ucapan salah satu teman-teman Cia yang amat sangat meresahkan Devan yang kedua kalinya. Mereka bertanya begitu sangat agresif bahkan beberapa kali mereka pindah dari tempat duduknya hanya untuk duduk lebih dekat dengan Devan yang merasa tertekan itu.


"Ouh." Kagum mereka sambil menggeliat, gemas.


Cia meghembuskan nafas berat. Kebohongan apa lagi yang baru saja Devan rancang sampai harus berbohong seperti ini. Tapi alasan ini sepertinya berguna agar teman-temannya itu tidak salah paham atas keberadaan Devan di rumah ini.


"Kok kakak ganteng banget sih?" Faririn berbinar sambil memegang pipinya, gemas.


"Oh ya? Hahaha," suara tawa garing Devan terdengar membuat Cia mendecapkan bibirnya.


Lagi-lagi teman-temannya itu memuji ketampanan Ayahnya itu, jika seperti ini Devan akan besar kepala. Lihat saja wajahnya, bahkan Devan yang selalu duduk dengan wajah malas kini duduk dengan tegak dan sok maco.


"Oh ya?" tanya Devan.


"Iya Kak. Kakak itu ganteng banget," jawab Faririn.


"Ouh, begitu. Tapi katanya banyak cowok di sekolah kamu yang juga ganteng yah? Dan muka kakak pasti tidak sebanding dengan mereka yang tampan," jelas Devan, menyinggung Cia yang pernah mengatakan tentang itu.


"Nggak Kak!" bantah Yuna cepat.


"Oh ya?" Tatap Devan dengan wajah mengejek sambil melirik Cia yang menampakkan wajah datarnya.


"Memang banyak cowok di sekolah tapi tidak ada yang bisa mengalahkan ketampanan kakak," jelas Yuna.


"Kak ceo umurnya berapa?" tanya Faririn.


"Waaah, udah dewasa tapi mukanya kakak kayak baru delapan belas, iya kan, Na?" ujar Faririn menatap Yuna yang masih menatap kagum wajah Devan.


"Oh ya? Hahaha." Tawa Devan hambar.


"Em, Kakak kok mau sih pacaran sama si Cia?"


Cia mengkerutkan alisnya setelah pertanyaan dari Fika terdengar, Fika memang baru bertanya tetapi sekali bertanya pertanyaannya cukup mengejutkan.


Devan tertawa lagi.


"Sebenarnya siapa sih yang nembak?" tanya Fika membuat Devan dan Cia saling bertatapan, pertanyaan itu belum memiliki jawaban.


"Dia!" Tunjuk Devan dan Cia sambil menunjuk satu sama lain.


Ketiga gadis ini nampak terdiam sambil menatap heran dengan tingkah dua makhluk ini yang saling menunjuk.


"Kalian saling tembak?" tanya Yuna lagi.


"Nggak!" bantah keduanya kompak .


"Terus yang nembak siapa?" tanya Faririn.


"Gue," ujar Devan dan Cia lagi kompak.


Cia melotot menatap Devan, sementara Devan juga melotot membuat keduanya nampak sedang beradu ketajaman mata dengan begitu sangat sadis.


Cia melirik wajah Devan dengan tatapan kesal. Rasanya Cia ingin memukul kepala Devan itu sekali saja.


Adelio hanya terdiam sambil menggambar batik yang ada di layar laptop Cia. Yah, sekian lama mereka mencari akhirnya mereka memutuskan untuk menggambar batik keraton Yogyakarta. 


Cia terdiam lalu melangkah ke arah Adelio dan duduk di sebelahnya sambil memandangi gambar hasil tangan Adelio yang masih di gambar dengan pensil. Berbeda dengan ketiga temannya yang hanya sibuk memandangi wajah Devan. Yah, wajah Devan lebih menarik dibandingkan dengan tugas kelompoknya.


Devan mengkerutkan alisnya seakan risau jika Cia dekat dengan seorang pria bahkan kini Cia duduk begitu dekat dengan Adelio . Devan bangkit dari sofa lalu duduk menghimpit di tengah-tengah Adelio dan Cia.


"Wah panas yah?" tawa garing Devan terdengar sambil memperbaiki posisi duduknya yang kini berada di tengah-tengah. 


"Aku lebih suka duduk di lantai! Hahaha." Tawa Devan lagi.


Adelio dan Cia kini hanya terdiam sambil menatap heran dengan tindakan Devan.


...___***___...


"Dah, Ci! Dah, kakak ganteng!" teriak Faririn yang berada di atas motornya sambil melambaikan jari-jarinya ke arah Devan dan Cia yang kini berdiri di depan pagar.


"Dah!" ujar Cia sambil melambai.


Devan mulai menggerakkan tangannya berniat untuk membalas lambaian tangan teman-teman Cia, namun degan cepat Cia manarik tangan Devan dan mengengamnya dengan erat. Yah Cia hanya tak mau jika teman-temannya itu semakin suka dengan Ayahnya terlebih lagi jika Ayahnya berprilaku terlalu baik.


Cia terdiam menatap teman-temannya yang kini semakin menjauh dan menghilang dari pandangan Cia setelah mereka melewati sebuah truk besar.


Cia menghela nafas lega, akhirnya teman-teman mereka pergi dan tak curiga jika Devan adalah Ayahnya.


"Van, warnai batik Cia yah!"


"Hah?"


"Itu yang tadi temen-temen Cia gambar, lo warnai yah!" jelas Cia lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


Devan ikut masuk dengan wajahnya yang masih kebingungan menatap Cia.


"Loh kok gue?"


"Yah warnai aja! apa susahnya sih?" ujar Cia lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan rapat.


"Cia!!!" teriak Devan dari luar.


Kini Devan menghembuskan nafas berat lalu duduk di sofa menatap kertas berwarna putih yang berada di meja di mana gambar batik yang mereka gambar itu belum di warnai.