Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 64



Mata Devan terbelalak syok mendengar ujaran Cia yang terucap dari bibirnya secara tiba-tiba tapi mampu membuatnya terkejut bukan main. Untung saja jantung Devan tidak copot ketika Cia mengatakan hal itu.


Cia menutup kedua mata, ia tak mau melihat wajah bodoh Devan yang sudah pasti sedang menatapnya dengan intens.


"Cia!" Tatap Devan tak percaya.


"Emm," sahut Cia masih menutup kedua matanya.


"Lo gila?" tanya Devan.


Cia membuka mata menatap tajam Devan yang masih syok di sana, yah semua orang pasti akan melakukan hal yang sama seperti Devan jika mendengar perkataan bodoh dari mulut Cia, tapi harus bagaimana lagi? Sekarang Cia hanya butuh pacar, itu saja tak lebih.


"Nggak!" ujar Cia lalu melangkah ke arah kasurnya membuat Devan mengikuti langkah Cia.


"Sekarang pokoknya Cia mau Devan beliin pacar buat Cia!" tegasnya lalu membaringkan tubuhnya ke kasur.


"Pacar?" tanya Devan masih kebigungan.


"Lo tuli, yah?"


Devan terdiam menopang pinggangnya seakan tak mengerti dengan jalan pikiran Cia. Memangnya ada toko yang menjual pacar, tapi dimana? Dan siapa yang menjualnya?


"Lo mau kan?"


"Nggak!"


"Hah?!!!" Tatap Cia tak percaya dengan penolakan itu.


Cia bangkit dari kasur lalu menunduk menatap Devan yang nampak menengadah menatap Cia serius. Sekarang dunia terbalik. Cia yang selalu menongakkan kepala setiap kali berbicara dengan Devan, kini Cia yang nampak terlihat tinggi setelah berdiri di atas permukaan kasur sementara Devan kini menegadahkan wajahnya menatap Cia yang terlihat tinggi darinya.


"Pokoknya Devan harus bantuin Cia!!!!" teriak Cia sembari melompat.


"Tapi Ci, gue-"


"Nggak ada penolakan!!!" tegas Cia berhasil membungkam mulut Devan membuat Devan terdiam.


"Devan mau kan bantuin Cia?" tanya Cia menatap Devan serius.


"Bantu apa?"


"Bantu cari pacar buat Cia!"


"Nggak!!!"


Cia mengkerutkan alisnya dengan tatapan tak menyangka jika Devan tak menolak permintaannya.


"Kok lo gitu sih?" tanya Devan tak terima.


"Yah lo mintanya susah gitu!"


"Ya ampun, Van apa susahnya sih? Masa lo bisa beliin gue tas tapi lo nggak bisa beliin gue pacar?"


Devan melongo.


"Apa susahnya sih beliin pacar buat Cia?"


"Yah lo nggak ngerti Ci!"


"Nggak ngerti apa?"


"Yah gue nggak mau lo pacaran!" Tegas Devan.


"Ya ampun, lo ngertiin gue dong!!! Gue cuman mau pacar untuk malam minggu doang udah itu ajah nggak lebih setelah itu udah gue putus," jelas Cia.


"Nggak!!!" tegas Devan lalu melangkahkan kakinya berniat untuk keluar dari kamar.


"Aaaaaaaa!!!" teriak Cia melompat dari kasur lalu mengelantung memeluk kaki Devan dengan erat.


"Eh apa-apaan nih?" tanya Devan heran.


"Aaaaaaaa!!! Please bantuin Ciaaaaa!!!" jerit Cia lagi.


Devan menarik nafas panjang seakan tak mampu menghadapi permohonan Cia yang begitu membuatnya bingung. Bagaimana bisa Devan membeli pacar untuk Cia? Memangnya ada yang menjual orang untuk dijadikan pacar tapi di mana?


Cia menengadahkan wajahnya menatap Devan yang sama sekali tak menatapnya.


"Van," Bujuk Cia.


"Nggak!"


Devan terdiam sambil mengusap dahinya yang kini tiba-tiba terasa pening.


"Van! Pokoknya lo harus bantuin gue!!!"


"Nggak! Kalau gue ngomong enggak, yah enggak!"


"Kok lo jahat banget sih sama gue, Van?" tanya Cia masih memeluk erat kaki Devan.


Devan terdiam. Niatnya Devan ingin pergi dari kamar Cia namun, Cia nampaknya enggan melepas kaki Devan.


Devan yang hanya terdiam itu membuat Cia cemberut, mungkin Cia harus memakai strategi yang lebih jituh untuk meluluhkan hati Devan. Yah, harus memakai tangisan.


Cia tak betul dengan Devan yang tak tega jika melihatnya menangis. Tangisan memang selalu menjadi jurus jitu sejak Cia masih kecil itu meluluhkan hati Devan.


Devan masih terdiam menanti Cia melepas pelukan dari kakinya.


"Devaaaaan mengapa engkau sangat tega seperti ini kepada anak mu yang  cantik ini?"


Alis Devan mengkerut mendengar perkataan bernada puitis dari mulut Cia dengan irama nada yang lebih mirip membaca puisi. kalimat macam apa itu? Namun Devan tak akan terpengaruh.


Cia cemberut menatap Devan yang tak menanggapi ucapannya. Mungkin Cia harus benar-benar menangis untuk membuat Devan peduli.


Cia melepas pelukan dari kaki Devan dengan memasang wajah sedih. Cia tertunduk menatap lantai kamar membuat Devan menghembuskan nafas lega, akhirnya Cia mengalah.


Devan melangkahkan kakinya ke lantai kamar Cia dengan cepat berniat meninggalkan Cia yang masih terduduk di lantai.


"Devan harus bantuin Cia!" Suara Cia terdengar lemah.


Devan menghentikan langkahnya cepat ketika suara pelan Cia terdengar.


Cia yang masih tertunduk mulai melipat bibirnya kedalam berusaha menahan tawanya melirik kaki Devan yang kini tak melangkah pergi. ternyata suara Cia yang di buat sesedih-sedih mungkin berhasil menyentuh hati Devan.


Cia menarik nafas panjang mungkin sedikit tangisan bisa membuat hati Devan menjadi luluh.


"Loli mau ngerayain hari ulang tahunnya yang ketujuh belas." Cia menghentikan ucapannya melirik Devan pelan yang masih membelakanginya.


Devan kenal dengan gadis bernama Loli itu, yah walaupun Devan tak pernah bertemu dengannya tapi Cia sering menceritakan tentang Loli yang katanya merebut idola Cia. Devan juga tak tau idola Cia itu siapa, tetapi jujur Cia selalu menceritakan tentang idolanya itu yang diselalu Cia ibaratkan sebagai pangeran.


"Tadi Cia liat di mading sekolah, katanya kalau mau ke sana harus bawa pacar kalau nggak punya pacar nggak boleh masuk," jelas Cia yang masih tertunduk sedih.


"Cia pengen ke sana, Van. Cia mau keacara ulang tahun Loli soalnya di sana ada penampilan band yang vokalisnya itu idola Cia."


"Cia mau ke sana."


Cia menarik nafas berusaha mengumpulkan rasa sedih di hatinya, perlahan tatapan Cia yang menatap lantai terlihat kabur, kini air mata itu menggantung di pinggir matanya.


Hah semudah ini kah menangis? Jika seperti ini, mungkin Cia bisa lulus menjadi artis.


"Ayo Van liat gue! Air mata gue udah mau jatuh!" gumam Cia masih yang menunduk.


Devan berbalik menatap Cia, air mata itu kini menetes dan mengalir di pipi mulus Cia.


"Yes!" Cia seakan bersorak di dalam hati setelah merasa rencananya berhasil.


Devan melangkah mendekati Cia yang masih menangis di sana. Dengan pelan Devan berlutut di hadapan Cia dan menatapnya sedih.


"Ci," suara pelan Devan terdengar membuat Cia semakin kegirangan.


"Emang nggak bisa, kalau Cia nggak keacara ulang tahun Loli?" tanya Devan.


Cia terdiam.


"What ini gimana sih? Harusnya itu lo nurutin apa mau gue!" gerutuh Cia kesal.


"Cia mau ke sana," ujar Cia diiringi tangisan.


Devan menyentuh pipi Cia yang basah itu dengan jari-jari mulusnya. Devan tak suka dengan tangisan itu.


"Dia bilang kalau Cia itu pemarah, suka ngomong kasar terus egois, Van," aduh Cia.


Kini air matanya benar-benar mengalir karena kesedihan, yah sedih karena ucapan dari Loli yang betul-betul menyinggung perasaan Cia. Di kelas tadi Cia mau menangis tapi Cia berusaha menahannya dan kini rasa sedihnya ia lepas di hadapan Ayahnya itu.


"Siapa yang bilang?" tanya Devan penuh perhatian.