
3 TAHUN KEMUDIAN .....
Hari berganti hari dan terus berlalu begitu saja hingga bayi mungil itu kini sudah tumbuh besar menjadi Anak perempuan yang berwajah cantik, aktif, ceria, pintar dan menggemaskan.
Kini umur Devan telah memasuki usia 15 tahun membuat suaranya kini berangsur berubah, layaknya seperti bocah yang baru memasuki masa puber.
Di sini Devan sangat di sayangi oleh wanita gendut itu, karena Devan selalu bersikap baik di sini. Para anak-anak panti juga bersikap baik kepada Devan dan menganggap Devan sudah sebagai keluarga sendiri.
"Cia!!!" teriak Devan sambil menatap gadis kecil yang kini tengah berlarian di pekarangan rumah bersama dengan Anak-anak panti.
Dia adalah Cia, gadis yang kini tengah terdiam menatap Devan dengan rambut yang diikat dua layaknya seperti tanduk.
"Sini!" panggil Devan sambil menggerakkan tangannya.
Cia tersenyum itu kini berlari lalu memeluk lutut Devan membuat Devan tersenyum dan berlutut. membuat tatapan Devan dan Cia sejajar.
"Tadi Cia iat upu-upu, Ceoooo." suara mungil Cia terdengar membuat Devan tersenyum lepas lalu mengacak-acak poni tipis milik Cia.
"Cia dipanggil Bunda," ujar Devan memberitahu.
"Ceo angkepin Cia upu-upu yang ji cana yah!" Tunjuk Cia ke arah ranting pepohonan, namun tatapannya masih menatap Devan.
Devan bangkit lalu menggenggam jari-jari mungil itu.
"Cia dicari Bunda, Cia masuk dulu terus ketemu sama Bunda nanti biar Ceo yang ambil kupu-kupunya," jelas Devan.
"Ceo angkap upu-upu ang becal yah!" ujar Cia lagi.
"Iya, sudah sana masuk!" suruh Devan.
Cia mengangguk lalu segera berlari masuk ke dalam pintu utama panti. Devan tersenyum menatap Cia yang kini semakin menjauh. Kehidupan di panti tidak seburuk apa yang ia pikirkan selama ini. Di sini Devan mendapat sosok Ibu dari wanita pengurus panti yang sering dipanggil dengan sebutan Bunda. Di sini Devan mendapat seorang saudara, Kakak dan Adik.
Devan kini berlari ke arah pohon yang Cia tunjuk tadi, benar saja ada kupu-kupu di sana. Warna sayap kupu-kupu itu nampak indah dengan warna kuning yang bercampur dengan hitam.
Devan segera memanjat di pohon itu berusaha untuk menangkap kupu-kupu yang nampak nyaman hinggap di sebuah ranting yang hijau.
Sayap indah itu berkibas indah membuat kupu-kupu itu terbang menjauhi Devan yang belum sampai ke tempat hinggappan kupu-kupu itu.
Devan menghembuskan nafas lelah lalu segera melompat turun dari pohon. Rasanya ia kecewa dengan dirinya sendiri karena tak mampu menangkap kupu-kupu itu.
Dengan perasaaan bersalah kini Devan melangkah ke arah pintu masuk. Langkah Devan terhenti dan bersandar di sebuah dinding ketika seorang pria dan wanita nampak tertawa sambil menyentuh gemas pipi Cia.
"Ini yang namanya Cia?" tanya wanita itu sambil menatap dari ujung kaki Cia dan berakhir di sorot wajah Cia yang datar.
Wanita itu sepertinya orang kaya yah Devan bisa melihat itu dari penampilan dan mobil mewah yang terparkir di depan panti.
"Nama saya Cia. Cia cuka upu-upu," ujar Cia penuh gembira membuat wanita dan Pria itu tertawa dan mencubit gemas pipi Cia yang kini tertawa.
"Pintar sekali dan cantik yah!" tambah pria itu lagi.
"Kalau begitu saya dan suami saya setuju untuk mengadopsi Cia, iya kan, Mas?" tanya wanita itu sambil menoleh menatap Suaminya.
"Iya," jawab pria itu lalu tertawa, terlihat cukup bahagia.
Devan yang berada di luar nampak begitu syok, bagaimana bisa ia membiarkan Cia di adopsi oleh mereka. Devan harus berbuat sesuatu.
Devan kini melangkah pergi dan masuk ke dalam pintu belakang panti yang kini terlihat sunyi, tak ada orang di sana.
Dengan langkah yang tergesa-gesa Devan melangkah masuk ke dalam kamar dan meraih tas besar dari atas lemari miliknya.
Devan kini membuka lemarinya dan meraih beberapa lembar pakaian miliknya yang berada di dalam lemari. Tas yang telah berada di pegangan Devan serta pakaiannya itu dengan cepat ia bawa dengan langkah cepat ia melangkah keluar dari kamar dan segera masuk ke dalam kamar khusus untuk anak-anak perempuan yang berusia 2 sampai 5 tahun, ada banyak ranjang di sana dan salah satunya adalah tempat tidur milik Cia.
Dengan penuh hati-hati Devan kini membuka lemari berwarna pink yang terbuat dari plastik dengan gambar Doraemon itu. Dengan cepat Devan memasukkan pakaian Cia ke dalam tas besar itu bersama dengan pakaiannya yang telah ia isi tadi dengan pakaian miliknya.
Kini keputusan Devan telah bulat. Ia akan pergi dari sini dan membawa Cia. Devan tak mau jika harus dipisahkan oleh Cia.
"Ceo?" Suara wanita itu terdengar membuat Devan tersentak kaget dan segera menoleh menatap Bunda yang kini terdiam heran.
"Kamu ngapain di sini?" tanya wanita gemuk yang lebih sering di panggil Bunda.
Dengan perasaan gugup Devan segera bangkit dengan tas yang kini sudah ia tutup dengan rapat. Kini Devan benar-benar bingung, entah alasan apa yang akan ia berikan kepada wanita ini. Devan tak mungkin mengatakan jika ia berniat untuk kabur dari sini bersama dengan Cia.
"Mami sedang apa?" tanya Bunda.
"Ceo...emmm...Ceo-"
"Kenapa?" posting Bunda.
Devan terdiam, tanpa sadar menggaruk rambutnya yang tak terasa gatal.
Bunda kini menggeleng pelan lalu segera melangkah ke arah lemari Cia berniat untuk mengambil pakaian Cia. Kedua orang tua baru Cia kini sudah menunggu di luar bersama dengan Cia.
Devan melangkah mundur selangkah ke belakang, ia tak siap jika Bunda itu membuka lemari dan mendapati lemari Cia yang kini telah kosong. Ini akan menjadi musibah besar baginya. Dengan cepat Devan berlari keluar dari kamar membuat Bunda menatap heran ke arah Devan.
Lari Devan cukup kencang berlari keluar dari rumah panti. Tatapan Devan kini mengarah ke arah Cia dan kedua orang tua baru Cia yang nampak tengah berdiri di samping mobil biru. Sepertinya mereka sedang menunggu Bunda untuk mengambil pakaian Cia di lemari.
"Ciaaaaaaa!!!" teriak Devan.
Cia menoleh lalu menatap Devan.
"Sini!!!" teriak Devan.
Cia tersenyum lalu menghempas tangan wanita itu dan berlari ke arah Devan sambil merentangkan kedua tangannya.
Cia yang berniat untuk memeluk tubuh Devan tertahan ketika dengan cepat Devan mengendong tubuh kecil Cia dan memeluknya begitu sangat erat. Devan kini dengan cepat berlari ke arah pagar luar panti asuhan membuat semua Anak-anak panti menoleh.
"Ceooooooo!!!" teriak Bunda si penjaga pantai itu sambil berlari keluar dari pintu utama panti sembari menatap Devan yang masih terus berlari.