Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 17



"Haaaaaaa!!!!!!" Teriak cia ketika suara pria yang lantang itu berteriak yang berhasil membuatnya terkejut  tepat di hadapannya.


Semua murid-murid dengan cepat menatap ke sumber suara entah siapa pemilik suara keras itu yang berani berteriak ketika pak Yanto sedang mengabsen di dalam kelas. Bukan hanya murid-murid tetapi pak Yanto juga menatap ke arah adelio dan cia.


"Hantu!!!" Teriak Adelio sambil melempar sosok menakutkan itu dengan tasnya.


Cia sedikit terhempas ke belakang dan hampir saja tubuhnya jatuh ke luar jendela karena, tas hitam yang pria itu lempar. Pria yang sama sekali belum ia lihat sebelumnya namun, dengan sekuat tenaga ia kembali memajukan tubuhnya dan melompat ke meja sebelum ia jatuh ke luar jendela seperti orang bodoh.


Semua murid-murid nampak terbelalak menatap cia yang kini sudah berdiri di atas meja dengan gagahnya tanpa memperdulikan pak Yanto yang kini sudah bangkit dari Kursi dan memasang wajah sangar di sana.


"Hantu-hantu enak ajah, Lo. Lo tu yang kayak hantu!" cerocos Cia.


"Cia !!!" Teriak pak Yanto dengan suara yang cukup keras membuat Cia nampak membulatkan matanya, cia sama sekali tak percaya jika pak Yanto ada di dalam kelas ini dan baru saja melihatnya berdiri di atas meja.


Cia dengan cepat melompat dari meja tepat di Samping pria yang cukup tinggi itu yang kini melangkah mundur seakan merasa takut kepadanya.


"Kamu lompat dari jendela ?"


"Enggak Pak !" jawab Cia cepat.


"Bohong kamu ! jelas-jelas saya liat pake mata kalau, kamu masuk lewat jendela !" Ujar pak Yanto membuat cia kini tertunduk.


Cia kini terdiam entah apa yang harus ia katakan kepada pak Yanto yang kini pasti sudah dibakar emosi. kini pasti ia akan diberi hukuman lagi seperti biasa.


"Maaf pak."


Tak ada lagi kata yang bisa Cia ucapkan selain itu. Melawan itu bukan jalan yang bagus jika, berhadapan dengan musuh nomor satu murid SMA Garuda bangsa.


"Kamu saya hukum !"


Cia menghembuskan nafas berat akhirnya kalimat pak Yanto yang Cia takuti kini terlontar jelas di telinganya.


"Berdiri di depan tiang bendera selama satu jam dan setelah itu kamu kembali menghadap kepada saya !!!" Teriak pak Yanto lagi.


"Apa ? berdiri di depan tiang bendera ? Ini serius mana panas lagi. Dasar guru botak nggak punya akhlak !!! Awas Ajah lo!!!! Ihhhhhh kalau ajah bukan guru udah gue bejek-bejek tu botaknya !"  Batin cia .


Cia dengan malas melangkah melintasi pak Yanto yang nampak menatapnya dengan wajah sangarnya ditambah lagi para murid-murid yang terus menatapnya. Jika saja tidak ada pak Yanto mungkin Cia sudah menggeretak mereka semua untuk tidak menatapnya seperti itu.


Ini memalukan.


"Heh, kamu juga !"


"Saya juga ?" Tatap Adelio heran entah apa kesalahan yang ia perbuat hingga harus di hukum juga.


"Yah iya lah. Kamu kira saya nggak kaget denger teriakan kamu !"


"Sudah sana keluar !" Bentak pak Yanto membuat Adelio mengangguk pasrah rasanya berdebat  adalah hal yang paling Adelio benci.


Cia dan Adelio kini berdiri di hadapan tiang bendera yang mengibarkan bendera merah putih yang berkibar bebas di udara.


Panas terik matahari berhasil membuat keringat bercucuran dari dahi mulus Adelio.


Ini pertama kalinya seorang Adelio Dzaky Aruf dihukum di sekolah bahkan ini adalah hari pertamanya masuk sekolah di sekolah barunya di Jakarta dan itu semua karena, ulah gadis yang memanjat di jendela kelas dan berhasil  membuatnya berteriak karena, ketakutan dan sekarang berdiri tepat di sampingnya sambil memberi hormat kepada bendera merah putih.


Cia melirik pria di sampingnya itu dengan serius. rasanya ia sama sekali tak pernah melihat pria ini di kelas bahkan di sekolah. Cia mengigit bibirnya kesal gara-gara pria ini yang berteriak  berhasil  membuatnya dihukum, yah walaupun Cia sudah sering dihukum tapi, bagaimana jika, Ogi melihatnya.


Cia melirik pria yang menatap serius bendera merah putih itu dengan gagah, seakan menikmati hukuman yang di beri. Pria ini siapa ? Mengapa dia ada di kelasnya dan duduk di bangkunya, pikiran itu kini menghantui pikiran Cia. Apakah ia harus bertanya langsung dengan pria ini mengenai apakah dia murid baru atau dari mana pria ini berasal.


Tatapan murid-murid yang berlalu lalang itu kini menatap serius kearah Cia dan Adelio, terutama Adelio yang menjadi sorotan murid-murid perempuan entah karena, wajahnya yang tampan atau karena, Cia yang berada di sampingnya. Apalagi menurut murid-murid bagaimana bisa si gadis berandal itu bisa berdiri di depan tiang bendera bersama pria tampan.


"Lo murid baru ya ?" Ucapan itu kini terucap di bibir mungil Cia yah, walaupun ia tak berniat untuk bertanya tapi, ia harus tau siapa pria ini yang duduk di bangkunya.


Cia menatap pria itu yang sama sekali tak menjawab pertanyaannya bahkan tak menatapnya sama sekali.


"Nih, orang pikun apa ? Nggak denger gitu gue nanya ke dia ?"


"Lo murid baru yah ?!!" Suara Cia kini meninggi mungkin dengan cara ini pria itu akan menjawab pertanyaannya.


Adelio menutup matanya pelan lalu mengigit bibir bawahnya dengan pelan, suara gadis ini seakan menusuk gendang telinganya. Entah mengapa gadis ini memang suka berteriak entah itu di dalam kelas bahkan di lapangan pun ia juga berteriak.


Adelio menghembuskan nafas berat lalu membuka matanya pelan. Ia harus bisa memegang janjinya dengan pacarnya si Harni untuk tidak terlalu akrab dengan gadis di Jakarta walaupun itu hanya sekedar teman.


"Ini orang bisu atau apa sih ? nggak-nggak ni orang nggak bisu buktinya aja tadi dia teriak," batinnya.


"Lo pikun yah ?"


Cia menatap pria itu lagi dan terdiam menanti jawaban dari pria itu yang kini tetap saja terdiam. Cia menatap ke kiri dan ke kanan memastikan jika, pak Yanto tak melihatnya dari kejauhan.


"Huh panas !" Ujar cia lalu segera berteduh di belakang pria itu sambil  jongkok, rasanya berdiri sambil berpanas-panas itu adalah hal yang bodoh. Apa untungnya dihukum seperti ini hanya membuang-buang waktu dan tenaga.


Adelio melirik gadis itu yang melangkah ke belakang dan sekarang sedang berteduh di belakangnya. Jujur saja di pikiran Adelio seakan berbisik apakah boleh jongkok sementara pak Yanto menyuruh mereka untuk berdiri di depan tiang bendera. Adelio menoleh menatap gadis itu yang kini memaingkan rumput hijau yang ditutupi oleh bayangannya.


"Ini tidak boleh dibiarkan jika, dia kepanasan maka perempuan ini juga harus kepanasan lagian kan aku dihukum juga karena ulah gadis ini!"


Adelio melangkahkan kakinya selangkah ke kiri berusaha menjauhkan bayangannya dari gadis itu yang kini jongkok sambil menopang kedua pipinya.


Dengan cepat Cia menatap pria itu yang kini berdiri berpindah selangkah dan membuatnya diterpa sinar matahari yang mampu membuat kulit menjadi gelap serta membuat kulit berkeringat. Pria ini memang sengaja melakukannya atau ia sedang menguji kesabaran Cia.


Adelio sedikit tersenyum jujur saja melihat wajah gadis itu yang menatapnya dengan tatapan lugu karena, ia melangkah dan membuatnya kepanasan.


"Oh, berani macam-macam Lo sama gue. Lo nggak tau aja kalau Lo berhadapan dengan siapa !"


Cia melangkahkan kakinya berusaha berteduh kembali di bayangan pria itu sambil tetap berjongkok namun, pria itu kembali melangkah seakan sengaja membuat cia kepanasan di sana.


Tatapan tajam cia seakan menusuk pria itu bertubi-tubi walaupun Cia hanya mampu menatapnya dari belakang. Dengan cepat cia bangkit dari rerumputan hijau yang baru saja ia mainkan tadi. Cia mengepalkan jari-jarinya seakan ingin memukul kepala pria ini dengan tinjunya. Pria ini harus diberi pelajaran jika, tidak pria ini tidak akan pernah tau bahwa dia sedang berhadapan dengan siapa.


Cia meniup tinjunya lalu memukul mukul tinjunya itu dengan telapak tangan kirinya.


"Lebih enak pria ini gue pukul dari sebelah mana yah ? Bagian leher ?"


"Oh, tidak jangan leher Atau bagian belakang telinga ?" Cia menggeleng lagi.


"Bagian ubung-ubungnya ? Yap, bagian ubung-ubungnya saja biar ajah nyawanya keluar, biar mampus !"


Cia menatap tajam kepala pria itu dan melangkah mendekati pria itu yang nampak tak menyadari niat jahat Cia. tapi, hust ini bukan niat jahat ini balas dendam hehehe, Tertawa jahat.


Tinju Cia kini semakin mendekati pria itu yang entah siapa namanya yang jelas kini Cia tak peduli.


"Aaaaa !!!!!"teriak cia seakan mengumpulkan kekuatan ke tinjunya yang sekarang akan meluncur ke ubun-ubun pria itu sesuai dengan apa yang ia pikirkan tadi.