Father Or Boyfriend ?

Father Or Boyfriend ?
Bab 116



Langkah semangat Cia seakan berkibar pagi ini, ditambah lagi kantong keresek hitamnya itu telah penuh dengan titipan coklat dan berbagai cemilan dari fans Ayahnya yang menahannya di depan gerbang sekolah.


"Cia," panggil seseorang dari belakang berhasil membuat Cia menoleh.


Dari kejauhan nampak Fika berlari menuju ke arah Cia yang kini menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Banyak?" Tatap Fika ke arah kresek hitam yang telah mengembung itu bahkan terlihat nyaris meletus.


Cia mengangguk sambil tersenyum. Kini keduanya melangkah beriringan sambil melewati beberapa pintu kelas.


Cia meletakkan tasnya tepat di samping Adelio yang nampak melamun, entah apa yang sedang ia pikirkan. Cia mulai melangkah lalu duduk di atas meja, mungkin Cia bisa menanyakan apa masalah Adelio hingga tatapannya nampak kosong seperti itu, tak seperti biasanya, yah, walaupun biasanya Adelio memang selalu diam seperti itu.


"Emm kamu-"


"Kamu kenapa?" tanya Fika berhasil menghentikan ucapan Cia yang berniat untuk bertanya kepada Adelio yang kini menoleh menatap ke arah Fika.


Cia kini tertunduk sambil membelakangi kedua sahabatnya itu. Mungkin Fika memang bisa mencari tahu apa masalah yang dihadapi Adelio. Tak perlu Cia yang bertindak, lagi pula yang cia tahu mereka saling menyembunyikan perasaannya itu, mereka saling mencintai bukan?


Adelio hanya menggeleng seakan memberi tahu jika ia baik-baik saja hari ini.


"Pagi," sapa Faririn dengan semangat sambil berputar-putar di hadapan Cia, Fika dan Adelio. Nampaknya Faririn begitu sangat bahagia hari ini.  


"Gila lo yah?" tanya Cia sedikit tertawa.


"Maklum cia otaknya agak gesrek, iya kan Rin?" tanya Yuna sambil membawa sebuah kursi baru di tangannya.


Faririn terdiam lalu memonyongkan bibirnya setelah mendengar ujaran sahabatnya itu.


"Wah, ini kursi baru buat siapa?" Tatap Cia kagum lalu bangkit dari meja menghampiri Yuna.


"Iya dong, ini buat lo demi kenyamanan sahabat gue."


Cia terdiam, rasanya Cia begitu bahagia setelah mendengar ucapan Yuna. Cia tak menyangka jika Yuna kini mengakuinya sebagai sahabat.


"Wah!!!" teriak Zandi menghentikan langkah beratnya di samping Yuna setelah dengan susah payah mengangkat meja yang masih baru itu.


"Tuh, udah gue bawa." Kesal Zandi lalu melangkah ke arah bangkunya.


"Yee meja baru!!!" Cia bersorak gembira.


"Eh zandi, simpan di situ tuh mejanya!" Tunjuk Yuna ke arah sudut paling belakang.


Zandi mendecapkan bibirnya lagi-lagi ia yang disuruh untuk meletakkan meja itu.


"Apa lagi sih?" tanya Zandi malas.


"Mejanya simpan di situ!" Tunjuk Yuna.


"Kan lu bisa sendiri."


"Ngelawan lagi loh. Cepetan!" pintah Yuna.


Zandi menghembuskan nafas berat lalu menjambak rambutnya kesal lalu dengan langkah malas Zandi kembali bangkit dari kursinya.


"Eh tapi bukannya ini untuk Adelio yah? Kan kursi gue dipake sama si Adelio," ujar Cia.


"Oh iya, aku pindah kok," Adelio dengan sifat dinginnya itu kini bangkit dari kursi milik Cia lalu meraih tasnya.


Cia menoleh menatap Fika yang nampak tak suka jika Adelio pindah dari kursinya. Mungkin Cia bisa duduk di kursi barunya itu dan membiarkan Adelio duduk di kursinya bersama dengan Fika.


"Emm, nggak usah biar gue aja yang pindah," ujar Cia.


Adelio menghentikan langkahnya ketika kalimat itu terdengar. Dengan senyum terpaksa Cia meraih tasnya lalu melangkah ke arah kursi yang berada di sudut ruangan tepat di belakang Adelio.


Senyum sinis Fika nampak begitu menyeramkan seakan menyambar begitu saja dari bibirnya. Kini Fika bisa merebut hati Adelio tanpa keberadaan Cia di tengah-tengah mereka berdua.


"Muka lo kenapa kusut begitu?" tanya Faririn menatap Adelio yang kini kembali duduk di kursinya.


"Ah masa? Matahari aja bersinar indah begitu kayak aku yang bahagiaaaaa banget," ujar Faririn lali berputar lagi.


Plak


Putaran Faririn terhenti ketika tangannya tanpa sengaja memukul wajah Zandi yang lewat di belakang Faririn.


"Deh!!! Apaan sih lo?" Kesal Zandi sembari menyentuh pipinya.


"Yeeeeh, lo tuh yang apa?"


"Lo tuh yang nampar gue!"


"Yeeeeh, lo aja tuh yang lewat sini. Siapa suruh lewat situ," Oceh Faririn.


"Ah kampret." Kesal Zandi lalu melangkah pergi.


"Lo tuh, dasar jelek!!!" teriak Faririn dengan wajah menyeramkannya.


"Cia, lo tau nggak? Gue semalem mikirin apa?" tanya Faririn tersipu malu.


Cia terdiam menatap sikap aneh Faririn, entah apa yang akan Faririn katakan.  Semuanya terdiam seakan tak penasaran dengan apa yang Faririn pikirkan.


"Penasaran nggak?" Tunjuk Faririn ke arah wajah teman-temannya yang terlihat tak bersemangat.


Semuanya terdiam seakan ingin mengatakan tidak penasaran dengan hal itu.


"Gue..."


"Gue mikirin perut seksinya pacar lo, Ciaa!!!" teriak Faririn tertawa dengan suara yang terdengar cukup keras membuat semua siswa dan siswi yang mendengar ucapan Faririn kini menatap serius ke arah Faririn yang masih mengeliat gemas. Sementara mereka begitu syok mendengar ucapan Faririn itu.


Tanpa menunggu waktu yang lama siswi-siswi itu kini berlari mengerumuni Faririn bahkan Loli, Marisa dan Medika juga berada di gerombolan itu.


"Yang bener?"


"Kamu liat dia di mana?"


"Perutnya gimana?"


Serbu siswi-siswi itu penasaran setelah melontarkan pertanyaan untuk Faririn yang kini masih mengeliat malu, sementara cia kini hanya mampu memegang kepalanya. Syok. Cia takut jika Faririn mengatakan tentang kutang dan ****** ***** itu kepada mereka semua.


"Iya gue liat perutnya yang sixpack itu, ya ampun, terus..." Jelas Faririn membuat semuanya nampak mengeliat.


Suasana nampak hening tak ada lagi yang bicara selain bu Lia yang kini sedang mengabsen daftar hadir siswa dan siswi kelas XII IPA A.


"Cia!" panggil Yuna dari kejauhan membuat Cia menoleh.


"Kertas batik mana?" tanya Yuna mengerakkan bibirnya nyaris tak mengeluarkan suaranya.


"Aa?" Tatap Cia tak mengerti.


"Katanya kertas batik mana?" ujar Fika  yang sedari tadi memerhatikan Yuna dari kejauhan.


"Oh kertas batik itu?" tanya Cia membuat Yuna mengangguk.


"Tunggu! Gambar batiknya udah gue warnain loh, keren banget," ujar Cia lalu membuka tasnya.


Cia terbelalak menatap isi tasnya, tak ada kertas batik itu di sana, melaingkan hanya sebuah kotak pensil di tasnya.


"Kertas Batiknya Mana?"  Pikir cia gelisah.


...___***___...


Devan melangkah masuk ke dalam rumah setelah membuka pagar bengkel lalu menggantung sebuah kunci di paku, tempat biasa Devan menggantungnya. Langkah Devan terhenti menatap sebuah kertas yang Devan simpan tadi di atas meja. Apa Cia sengaja tak membawa kertas ke sekolah? Tapi itu tak mungkin, pastinya keras itu sangat penting bagi Cia ditambah lagi kertas itu adalah kerja kelompok mereka dan pasti sangat penting untuk mereka.


Devan terdiam beberapa saat, memikirkan sesuatu. Kini beberapa saat otaknya berfikir akhirnya Devan melangkah meraih keras di meja itu lalu melangkah meraih helm dan kunci motor. Kini tekadnya sudah bulat, ia akan ke sekolah Cia dan membawakan kertas batik ini.