
Lee mengerjapkan kedua bola matanya Ia mencoba melihat kesekelilingnya. "Dimana aku..? Tanya Lee bingung. Ia memegangi kepalanya yang masih sedikit sakit.
Lee berusaha untuk bangkit dari tidurnya, Lalu duduk bersandar disandaran ranjang.
pemuda itu merasa sangat asing ditempat tersebut. "Aku dimana..? Mengapa tempat ini begitu asing padaku..? Kemana Asih..?!" ada begitu pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Semuanya terasa begitu berat. Setelah merasa cukup baikan, Ia mencoba beranjak dari tempat tidurnya dan menuju pintu kamar untuk keluar.
Kreeeek...
Terdengar suara pintu kamar dibuka oleh sang pemuda yang masih sedikit sempoyongan. Ia berusaha untuk mengumpulkan kesadaran dan sisa tenaganya yang masih belum begitu terkumpul semuanya.
Lee berjalan dengan tertatih, terlihat sunyi. "Aku dimana..? Mengapa terlihat begitu mewah ruangan ini..?Lee berguman lirih dalam hatinya dan mencoba untuk terus sadar.
Tak selang berapa lama, Ia mendengar suara deru mesin mobil memasuki perkarangan rumah, lalu terdengar suara bocah perempuan berlari dengan suara yang yang berceloteh riang karena baru saja dibelikan seauatu yang diinginkannya.
Langkah sang gadis kecil terhenti saat melihat seorang pemuda berdiri didepannya. Lalu menyusul seorang wanita paruh baya yang membawa 2 kantong plastik berisi belanjaan yang sangat banyak.
Lee dan wanita itu saling tatap, lalu sang wanita paruh baya mencoba tersenyum ramah pada tamunya. "Kamu sudah baikan..? Kemana Asih..? Mengapa tampak sunyi sekali..?" cecar Rumini dengan pertanyaaan yang beruntun.
Seketika ingatan Lee berkelana mengingat kisah kejadian saat mereka diserang oleh kawanan para ninja yang dikirim oleh Wei.
"Apakah ibu mengenal Asih..?" tanya Lee kepada Rumini yang masih menanti jawaban dari Rumini tentang keberadaan dan siapa Asih sebenarnya.
"Lho.. Kan kamu waktu itu yang mengantarkan uang untuk biaya operasi cangkok jantung untuk anak perempuan ibu.. Apakah kamu lupa..?" Rumi mencoba mengingatkan Lee kembali.
Seketika ingatan Lee berkelana mengingat sebuah peristiwa beberapa bulan yang lalu. Namun penampilan sang ibu berbeda 360° dari waktu itu.
"Tapi.."Lee tidak meneruskan ucapannya, Ia hanya ingin mengetahui keberadaan Asih.."Kemana Asih Bu..?" tanya Lee dengan selidik.
"Kan tadi sama kamu, koq balik nanya..?" jawab Rumini merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia segera meletakkan barang belanjaannya ke meja dapur, lalu menyusuri setiap ruangan untuk mencari keberadaan Adih, namun tak ditemui. Saat melihat ke kolam renang, Ia melihat Riby sang sopir masih terkapar dilantai pinggir kolam renang dengan wajah meringis mebhannsakit, sembari memegangi senjata pamungkasnya yang masih terasa ngilu dan berdenyut.
Rumini mulai merasakan jika terjadi sesuatu pada Asih. "Apa yang sedang kamu lakukan pada gadis itu..?! Tanya Rumini dengan wajah yang sedikit berang.
"Tidak ada Nyonya, aku hanya kepleset tadi waktu berjalan dikolam renang ini.." jawab sopir itu dengan nada lirih dan wajah memerah yang menahan rasa ngilu di kedua buah jeruk lemonnya.
Rumini memandang dengan penuh geram, lalu meninggalkan sopir itu begitu saja, lalu menemui Lee.
"Sepertinya Asih sudah pergi sejak tadi, kamu makanlah dahulu, jika kesehatanmu sudsh pulih kamu boleh memilih untuk tetap tinggal atau pergi.." jawab Rumi, lalu pergi kedapur, dan memulai memasak.
Hati wanita paruh baya itu kini sedang kalut, Ia memikirkan Asih yang pergi begitu saja tanpa makan sesuatupun.
Sembari memasak, Ia mencari cara untuk menyingkirkan Sang sopir yang dianggapnya membahayakan dirinya dan juga puterinya. Ia sangat yakin jika ada sesuatu yang dilakukan sopir itu kepada Asih, dan Ia merasa was-was jika sampai itu juga dilakukan kepada dirinya dan puterinya.
tampak sekali Lee seperti orang yang beberapa gari tidak makan. Maklum, selama dihutan bersama Asih, Ia hanya memakan ikan bakar hingga sampai saat ini, tentu itu membuat tenaganya terkuras.
Setelah merasa energinya tercukupi, Lee lalu berpamitan untuk pergi, karena ada hal yang harus diselesaikannya. Ia mengirimi pesan kepada Rere, untuk menunggunya di tempat rahasia yang mereka sebut markas bagi meteka untuk membahas seluruh kegiatan yang ingin mereka sampaikan.
Lee memesan sebuah taksi online dan berpamitan kepada Rumini dan segala ucapan terimakasih atas segala apa yang diberikan oleh wanita paruh baya itu kepadanya.
Setelah taksi online yang dipesannya tiba, kini Lee meminta untuk diantar keapertemennya, dan akan melanjutkan perjalanan ke markas menggunakan kendaraan pribadinya.
Diperjalanan, Lee sudah berkoordinasi kepada Rere agar segera menuju markas dan mempersiapkan segala apa yang dibutuhkan.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan, Lee telah sampai di apertemennya, lalu Ia membayar ongkos taksinya dan menuju garasi untuk mengambil mobilnya dan menuju markas mereka yang terdapat disebuah gudang tua dan terdapat ruang bawah tanah sebagai tempat mereka untuk membahas segalanya.
"Apakah kamu sudah sampai di markas..? Tanya Lee kepada Rere dengan sedikit penekanan melalui sambungan panggilan selularnya.
"Sudah bos, saya tunggu dimarkas sekarang..!" jawab Rere dengan tegas.
"Ok.." jawab Lee, lalu pemuda itu meluncur menuju lokasi yang dimaksud.
Sesampai disebuah gang sempit, Lee menghentikan mobilnya, lalu menyusuri lorong gelap yang menghubungkan sebuah tempat yang tampak tidak terawat. Gudang yang tampak ditumbuhi tanaman liar dan merambat itu, seperti sebuah gudang terbengkalai, namun didalamnya bamyak menyimpan berbagai rahasia yang orangblain tidak mengetahuninya.
Lee berjalan mengendap, memastikan tidak ada satupun orang yang melihatnya. namun siapa sangka, kini hatinya tengah gunda gulana, karena kepergian Asih yang tanpa memberi kabar pada apapun padanya. Namun Ia juga harus profesional dengan pejerjaannya. Sehingga kini konsentrasinya sedikit terpecah. Antara hatinya yang terus mencari hati, dan fikirannya tentang pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Sesampainya di gudang yang penuh tumbuhan menjalar itu, Lee menyelinap masuk, ia menggeser sebuah meja yang terdapat disudut dinding, lalu terbukalah sebuah pintu menuju sebuah ruangan bawah tanah. Lalu Ia menutupnya kembali.
Sesampainya diruang bawah tanah, Ia dikejutkan oleh keberadaan Rere yang ternyata datang tak sendirian, melainkan bersama seseorang yang dianggap asing oleh Lee, sedangkan markas ini hanya diketahui oleh mereka berdua. Lalu kehadiran seorang pria asing itu membuat Lee tampak tidak senang, karena merasa segala kerahasiaan mereka tidak lagi steril.
"siapa dia..?!" tanya Lee dengan wajah tak suka. Saat ini suasanya hatinya sedang tidak baik-baik saja karena gadisnya sedang menghilang, lalu ditambah lagi dengan kemunculan orang ading dimarkasnya, membuat Lee merasa jengah dan semakin kesal.
Rere menghampiri Lee, lalu membisikkan sesuatu kepada pemuda tersebut. Sehingga membuat Lee mengerutkan keningnya.
"Apakah kau bisa menjaminnya bukan bagian dari mata-mata musuh yang berpura-pura bloon dan sedang mencari sumber informasi dari kita..?" desak Lee dengan penuh penekanan.
"Aku dapat menjaminnya.." jawab Rere tegas.
Sesaat Lee mencoba untuk berdamai dengan hatinya. "Baiklah.. Namun cukup satu kali ini saja.." ucap Lee penuh penekanan.
Rere menjawab denfan anggukannya.