Buhul ghaib

Buhul ghaib
Ular Menyerbu warga Desa



"emm.. Alhamdulillah.. Masakan Umi emang paling enak, dan sudah sangat lama kita tidak makan makanan ini ya Mi.." ucap Kasim, sembarj mengelus perutnya yang terasa kenyang.


Lastri tersipu malu mendapat pujian dari sang suami. pujian kecil seperti itu, membuatnya merasa berbunga dan bahagia sekali. Karena sejatinya wanita itu makhluk yang sangat senang dipuji dan disanjung.


Lastri yang sedang memarut kunyit untuk diambil sariinya untuk pengobatan Dina pagi ini, tersenyum menahan hatinya yang tergelitik karena mendapatkan pujian dari sang belahan jiwanya.


Lastri telah mendapatkan sari pati kunyit tersebut, dia akan meminumkannya kepada Dina sebentar lagi. Ia merasa lapar, dan sarapan.


Lastri menikmati suapan demi suapannya yang begitu dirasanya sangat nikmat, namun Ia menghentikan sejenak suapannya, karena mengingat Dina yang belum makan. Ia menambah jumlah porsinya, lalu beranjak ke kamar Dina.


Ia menarik kursi kayu mungil tanpa sandaran. Lalu duduk ditepian ranjang, Ia mengguncang lembut tubuh Dina. "Din.. Bangunlah.. Makan ya, setelah itu minum obat, jangan buat Umi takut." ucap Lastri dengan perasaan khawatir, Ia melupakan sejenak nikmat suapannya tadi.


Dina mengerjapkan matanya, lalu mencoba membukanya. Ia melihat dengan pandangan samar, lalu mengerjap-ngerjapkan mata indahnya, sehingga menjadi lebih jernih. Ia melihat Uminya sudah berada disisinya. Ia merasakan tubuhnya sedikit Pegal, Ia mencoba mengingat apa yang terjadi saat sepertiga malam tersebut.


Ia masih dapat membayangkan bagaimana Ristih mencoba untuk merusak wajahnya, bahkan melenyapkannya.


Ia tidak mengerti mengapa ular siluman itu terus mengekorinya hingga sampai ke alam dunia.


Bahkan sepertinya ular Siluman itu begitu amat dendam terhadap dirinya.


Ia tidak mengetahui bagaimana Ia sampai didalam kamar. "Abah yang gendong Dina kekamar Mi..?" Dina bertanya kepada Uminya, sembari menoleh kearah uminya, yang sudah mengepalkan suapan nasi bercampur daging sarden.


Ia sadar jika Ia tadi malam baru saja di belit oleh Ristih sang siluman ular.


"Makanlah dulu.." ucap Umi, sembari mengulurkan suapannya ke mulut Dina.


Dina membuka lebar mulutnya, lalu menerima suapan Uminya.


"suamimu yang menolongmu tadi malam, Ia juga yang membawa ikan kalengan ini" jawab Lastri, sembari mengepalkan nasi dalam piringnya.


"kanda Bromo yang menolongku..?" ucap Dina penasaran.


Lastri menghentikan sejenak kegiatannya. Lalu memandang kepada Dina.


"jadi kamu tidak tahu jika Ia tadi malam pulang..?" tanya umi kembali.


Dina membeliakkan matanya, Ia tergagap dan sedikit bingung karena terjebak dengan ucapannya sendiri.


"emm..Iya Umi, aku tau, cuma aku lupa saja." jawab Dina mencoba menutupi kebohongannya.


Lastri kembali menyuapkan kepalan nasi tersebut kepada Dina.


"setelah sarapan, minumlah sari kunyit itu. Suamimu bilang itu untuk menawarkan racun bisa ular, sekaligus untuk penyembuhan, jangan banyak dulu bergerak." Lastri berujar dengan penekanan.


Dina menganggukkan kepalanya, pertanda menyetujui.


"oh ya Din, sebenarnya suamimu itu kerja apa sih? Kenapa pulangnya itu koq ya cuma sekian jam saja, lalu pergi lagi. Apakah Ia punya istri simpanan atau gimana?" cecar Lastri dengan curiga.


Dina menatap Lastri dengan sendu, lalu tersenyum ringan. "Dia setia koq Mi, tapi Kanda Bromo memang sedang berkerja."jawab Dina dengan lirih, sembari menghabiskan kunyahannya.


Lastri terdiam sejenak, namun Ia merasa tidak puas dengan jawaban Dina, yang Ia rasa seperti ada yang ditutupi-tutupinya.


"Dina sudah kenyang Mi, terimakasih." ucap Dina, Ia ingin segera mengakhiri percakapannya dengan uminya, karena Ia tidak ingin keceplosan nantinya.


Lastri beranjak bangkit, ingin melanjutkan sarapannya yang tertunda.


Saat berada diambang pintu, Ia menghentikan sejenak langkahnya. "katakan pada suamimu, terimakasih atas semua stok bahan pangan yang dibawanya." ucap Lastri sembari keluar dari pintu kamar Dina.


Dina mengernyitkan keningnya. "berarti tadi malam Kanda pulang menolongku. Oh Kanda, aku merindukanmu.. Mengapa kau datang dan pergi sesuka hatimu.." Rintih Dina dalam kerinduannya yang mendalam.


Tak lama Lastri masuk kedalam kamarnya lagi, lalu menyerahkan gelas kaca berisi sari pati kunyit.


"Ini.. Minumlah.. Agar kamu lekas pulih." ucap Lastri, sembari menyodorkan gelas tersebut.


Dina meraih gelas tersebut, lalu meneguknya hingga habis. Ia mengambil air putih yang berada diatas sisi kanannya, lalu meneguknya sedikit.


"Terimakasih Mi.." ucap Dina, sembari menyerahkan gelas tersebut.


Dina menyerahkan gelas itu, lalu berbaring untuk menjaga jantung agar lebih rendah dari tubuh, untuk menghindari penyebaran bisa racun ular tersebut.


Lastri kembali keluar dari kamar Dina, Ia berniat membersihkan kamarnya.


🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊🐊


Ia juga memakai sarung tangan yang biasa digunakan oleh tukang las. Karena selain menghindari sayatan pada golok atau bilah bambu, juga menghindari dari sengatan hewan berbisa. Karena dihutan akan banyak binatang yang harus diwaspadai.


Kasim membawa semua peralatannya keluar rumah. Kini Ia sudah bersiap akan berangkat ke hutan, untuk mencari beberapa batang bambu, karena untuk memenuhi pesanan keranjang.


Kasim mengikatkan tali kepinggangnya , itu berguna sebagai tempat untuk sebilah goloknya.


golok itu dimasukkan kedalam sarung golok yang terbuat dari kayu yang diukirnya sendiri.


Tak lupa Ia membawa sebotol air minum yang yg dimasukkan dalam wadah bekas botol air mineral.


"Umi... Abah ke hutan dulu ya, jaga Dina dan rumah baik-baik.." pesan Kasim kepada Istrinya.


"Iya Abah,.. Sahut Lastri dari dalam dapur yang masih berkutat dengan pekerjaannya.


Kasim berjalan dengan kokohnya menuju hutan. Meskinpun usianya sudah tidak muda lagi, namun karena seringnya melakukan kegitan fisik, membuatnya masih terlihat sehat bugar.


Ia berjalan menyusuri jalanan setapak menuju hutan.


sesaat langkahnya terhenti karena melihat ular kobra berwarna hitam melintas didepanya.


"astaghfirullah.. " ucap Kasim karena kaget melihat ular yang tiba-tiba melintas didepannya. Ia memegangi dadanya yang berdebar.


Setelah memastikan ular tersebut pergi, Ia kembali melangkah kejalanan setapak.


Baru saja Ia akan melangkah kedepan, tiba-tiba saja Ia mendengar seperti suara derik pohon yang akan tumbang.


Kreeeeeeeekkk....


Kasim melirik kearah sisi kanannya, tampak sebatang pohon durian berukuran besar tiba-tiba saja seperti condong dan akan tumbang.


Dengan gerakan mundur, kasim menghindarinya, lalu...


Bruuuuuuukkk.. Braaaaakk...


Suara pohon itu tumbang dengan tiba-tiba tanpa ada sebab apapun.


Kasim memandangi pohon yang tumbang menghalangi jalannya.


"pertanda apa ini? Sepertinya Rabbi ku sedang mengingatkan agar aku tidak melanjutkan langkah kehutan." ucap Kasim, dengan ragu akan keputusannya yang ingin mencari batang bambu.


Ia mendengar suara berisik dari segala arah.


Ia mengedarkan pandangannya menayapu seluruh arah sisi hutan.


Tampak dikejauhan benda hitam yang berjalan melata diatas tanah dengan gerakan menuju kepadanya.


Kasim terperangah, karena jumlah ular itu tampak begitu banyak, bahkan seperti pasukan ular yang siap menyerbu.


Tanpa banyak berbicara, Kasim berbalik arah menuju pulang, berlari dengan sangat kencang.


Ia berteriak sekuat-kuatnya agar didengar warga desa yang lain.


Ular...ular... Ular... Ada serbuan ular ke desa ini...!! Ayo tutup pintu rumah kalian..!!" seru Kasim dengan terus berlari.


Warga yang melihat Kasim berlari ketakutan sembari berteriak menyebut kata 'ular' hanya memandangi Kasim yang dianggap mereka mungkin Ia dikejar seekor Ular dihutan, dan mencoba mengabaikan peringatan Kasim.


Kasim memasuki rumahnya dengan tergesah-gesah. "Umi.. Lastri.." Segalanya Ia sebutkan dengan sedikit panik.


Lastri yang baru saja selesai mencuci piring menghampirinya. "ada apa Bah..?" tanya Lastri sedikit heran yang melihat suaminya tampak tersengal nafasnya.


"tutup segala pintu dan jendela Mi, ada serangan ular datang menyerbu kedesa ini.. Saya melihat ribuan ular memasuki desa, dan sekarang masih ditengah hutan!!" ucap Kasim dengan nada perintah.


Lastri seketika terperangh, Ia melupakan pesan menantunya akan ada serangan ular yang menyerbu desa. Ia diingatkan agar memberitahu warga untuk tidak keluar rumah dan menutup sehala celah untuk ular bisa masuk.


Kakinya bergetar karean tak mampu menerima kenyataan. "Abah.. Kita harus mengingatkan warga yang lainnya." ucap Lastri, sembari ingin membuka pintu depan.


"tidak Lastri, aku tidak akan mengijknkanmu, ular-ular itu sudah semakin mendekat." cegah Kaskm, sembari melintangkan kedua tangannya di pintu depan, agar Lastri tak meneruskan niatnya.


Bersambung...