
Asih kembali memasukkan tubuhnya kedalam mobil lalu mengambil anak panahnya, dan mulai menyembulkan kepalanya kembali keluar kaca mobil. Lalu Asih membidik ban mobil kedua dan...
Sssssstttts...wuusss...
Anak panah itu menancap keban mobi bagian depan, sehingga ban itu kempis lalu hilqng keseimbangan dan berguling kesisi tepi jalan.
Seketika Edy memacu kendaraannya lebih cepat saat kepala Asih sudah masuk kedalam mobil. Sementara itu, mobil satunya yang tersisa menembaki mereka dari arah belakang.
Hingga tanpa sadar Edy membawa mobilnya menuju arah rumah Andre.
Seketika itu, mobil pengejar dibelakang mulai menyerempetkan badan mobilnya kebadan mobil milik Asih.
Lalu terjadi guncangan-guncangan yang membuat tubuh Asih dan Edy saling berbenturan.
Sementara itu terdengar suara letusan dari ban mobil yang dikendarai oleh Edy dan Asih yang terkena tembakan beberapa kali dibagian belakang.
Lalu Edy menepikan mobilnya ketepian. Asih mengambil tas jorannya dan memasukkan busur beserta anak panah dan mengancing resletingnya.
Setelah itu Asih dan Edy berusaha keluar mobil, bersamaan dengan itu, mobil pengejar sudah berada dekat dengan mereka.
Asih dan Edy segera keluar dari mobil dan berlari menghindari kejaran para musuhnya.
Namun, highless Asih memperlambat larinya.
Edy yang sabar lalu memanggul Asih dan sembari berlari mencopot highless tersebut, setelah itu menurunkan Asih lalu berlarian tanpa alas kaki.
Para anak buah Wei terus mengejar dan sesekali melepaskan tembakan kearah mereka. Aksi kejar-kejaran itu menjadinperhatian para warga yang melintas dan juga sedang mangkal dibeberapa tempat.
Asih dan Edy memasuki gang sempit. Sementara itu, anak buah Wei sudah kehabisan peluru, dan mereka terus mengejar keduanya.
Lalu mereka terus mengejarnya, hingga akhirnya Asih memperlambat larinya dan sengaja menunggu ke lima orang yang sedang mengejar mereka.
Maka baku hantam terjadi digang sempit tersebut.
Tiga orang berhasil dilumpuhkan dan kini dua orang masih terus mengejar Edy membawa Asih berlari dan hingga akhirnya mereka terjebak di gang buntu. Sebuah pagar pembatas yang terbuat dari tembok setinggi dua meter menghalangi mereka. Sedangkan kedua orang itu semakin mendekat, dan parahnya, Wei juga sudah berada dibelakang pengejar dengan menggunakan senjata Api laras panjang.
Asih lalu melakukan parkur dan melewati tembok pembatas dan Edy yang kebingungan akhirnya dibantu Asih dengan menjulurkan tas jorannya.
Edy meraihnya dan mengikuti gerakan Asih, lalu naik atas tembok pembatas dan segera melompat kebawah.
Wei yang merasa geram lalu berputar arah menuju gang sempit dan mencari rumah tersebut.
Sementara itu, Asih dan Edy menyelinap masuk kedalam rumah tersebut melalui pintu dapur yang tidak terkunci. Asih memasuki ruangan demi ruangan bersama Edy.
Lalu bersembunyi dilantai dua rumah itu. Mereka melihat Wei dan dua anak buahnya memasuki rumah yang dijadikan mereka sebagai tempat untuk bersembunyi.
Wei memastikan jika Asih dan Edy memasuki rumah tersebut.
Mereka mengetuk pintu rumah itu dengan kasar.
Lalu terdengar suara derap langkah kaki pemilik rumah yang membukakan pintu.
Saat pintu dibuka, tampak seorang wanita cantik berdiri diambang pintu.
Wei terperangah melihat kecantikan wanita itu. Ia mencoba mengingatnya pernah bertemu dimana. Seperti pernah, Ia merasa The javu.
Sesaat Ia mengingat wanita ditengah hutan yang hampir saja digagahi saat itu, namun berhasil membunuh dua orang anak buahnya dengan tenaga dalam yang sangat luar biasa.
Namun penampilan wanita itu tentu berbeda dengan wanita yang dilihatnya sekarang.
Kecantikan wanita itu melumpuhkan pandangan Wei yang seakan melayang ingin menik-matinya.
"Dimana dua orang yang memasuki rumah Kamu sembunyikan?" tanya Wei dengan nada ancaman. Namun Wei tak mampu menatap sorot mata wanita muda itu.
Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, seolah menyatakan Ia tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh pria asing itu.
Namun Wei tidak mempercayainya begitu saja. Ia ingin melukai wanita itu, namun..
Ada seauatu yang bergerak dibawah sana. Apalagi wanita itu memancarkan pesona yang tak mampu dihindari.
Wei seolah melupakan dirinya dan berniat menggagahi wanita itu. Ia mendorong wanita itu hingga terjerembab disofa.
Kedua anak buah Wei menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Bos mereka yang seolah tidak pernah melihat wanita cantik saja.
Padahal setiap saat Ia menik-mati wanita cantik manapun yang Ia inginkan.
Namun belum sempat Wei menyalurkan keinginannya, wanita muda itu memberikan tendangan tepat di senjata milik Wei yang tampak membengkak dalam sangkarnya.
Aaaarrrggggh...
"Sial, Kau!!" Maki Wei dengan geram sembari memegangi senjata pribadinya yang berdenyut kesakitan, lalu Ia mengarahkan senjata Api laras panjangnya dan ingin menembak wanita itu.
Namun Wanita itu menangkap ujung senjata api laras panjang dan menariknya, lalu berusaha bangkit dari sofa dan kembali menendang Wei dengan keras.
Seketika Wei terjungkal menabrak meja kaca hingga hancur.
Kedua anak buah Wei tercengang melihat wanita yang mereka kira cupu ternyata suhu.
Wei meringis kesakitan dengan luka lebam serta tancapan serpihan kaca yang mengenai tubuhnya.
Sementara itu, Edy dan Asih yang berada lantai dua merasa penasaran dengan suara dentuman demi dentuman benda yang berserakan akibat sebuah pertarungan.
Asih dan Edy saling pandang, lalu berusaha mengintip dari anak tangga.
Namun tidak terlihat begitu jelas. Karena pergerakan yang berpindah-pindah dari orang yang sedang bertarung itu.
Lalu, kedua anak buah Wei berhasil dilumpuhkan dengan sangat mudah oleh wanita muda itu.
Wei berusaha bangkit dan mengambil senjata api laras panjang miliknya kepada wanita muda itu.
Namun belum sempat Wei menembakkannya, Wanita muda itu sudah mengeluarkan jurus waringin sungsangnya, dan memberikan tendangan tenaga dalam tepat didada kiri Wei. Hingga pria itu ambruk dengan luka lebam dan memuntahkan darah hitam.
Edy terperangah melihat kehebatan wanita itu, dan setelah selesai menghabisi para ketiga pria itu, Wanita muda tersebut mengusap-usapkan kedua telapak tangannya seoalah ingin membersihkan diri dari perbuatannya.
Sesaat Asih seperti mengenali wajah dan aroma tubuh wanita itu "Ibu" guman Asih lirih, yang membuat Edy tercengang mendengarnya.
Seketika Asih berlari menuruni anak tagga dan menghampiri wanita muda itu.
"Ibuuuu.." teriak Asih mempercepat larinya, dan wanita itu menoleh ke asal suara yang memanggilnya.
Ia sama terkejutnya dan menatap tak percaya "Asiiih" teriak wanita muda itu sembari merentangkan kedua tangannya menyambut anak gadisnya yang sudah lama terpisah.
Keduanya berpelukan sembari Asih menangis terseduh meluahkan kerinduannya yang sudah lama terpendam.
Sementara itu, Edy berdiri dengan mulut terbuka karena meyadari jika wanita cantik itu ialah wanita yang pernah hampir tertabrak mobilnya saat malam itu.
"Gilaaa.. Ibunya saja secantik itu.. Pantas saja Asih Cantik dan membuatku seperti budaknya, ternyata lahir dari wanita yang sama cantiknya" guman Edy lirih dalam hatinya.