
Ditempat lain, sekelompok orang kembali dalam suasana ketakutan dan mencekam. Mereka mengabarkan kepada sang Bos, jika salh satu rekan mereka yang bertugas berjaga malam telah hilang secara misterius.
Pria tampan yang menjadi Bos mereka itu tampak terdiam sejenak. "Panggil Sani" titahnya, dengan tatapan tajam.
Sani yang masih bersedih meratapi kepergian Roby, dipanggil rekannya untuk menghadap sang Big Bos.
Ia dengan wajah sedih dan tertunduk menghampiri Bos mereka.
"Apa yang terjadi sebelum Roby menghilang!" Tanya Bos mereka dengan nada introgasi.
Sani mencoba menegakkan pandangannya yang tampak ketakutan "Dia permisi Ingin buang air besar, namun tak juga kunjung kembali." Jawabnya jujur dengan nada terbata-bata.
"Bos… Kami menemukan bercak darah dan juga cairan kental milik pria yang mengalami puncak. Sepertinya Roby bercinta dengan seseorang sebelum menghilang" salah satu rekan mereka yang bernama Rocky yang tadi ikut mencari, mencoba menjelaskan analisanya.
Pria yang dipanggil Bos tersebut memanggutkan kepalanya "Ada orang lain dihutan ini, dan Kita harus waspada" titahnya mengingatkan.
"Sebaiknya Kita batalkan saja mengejar gadis itu Bos, hutan ini sangat berbahaya" saran seorang bodyguard kepada Bos mereka.
Pria yang dipanggil Bos itu menatap tajam kepada bawahannya "Kita sudah sampai sejauh ini, dan tidak boleh kembali sebelum mendapatkan apa yang Kita cari" titahnya dengan tatapan tajam dan keji nya.
Semuanya terdiam dan tak ada yang mampu membantah.
Sekarang Kau..! Berburulah, untuk makan kita pagi ini." Titahnya kepada bawahannya yang tadi berniat untuk menghentikan pengejaran kepada gadis tersebut.
Tanpa penolakan sedikitpun, Ia mematuhi perintah sang Bos untuk berburu dan ditemani oleh salah satu rekannya.
Keduanya menyusuri hutan mencari hewan buruan. Namun lama mencari, tak satupun hewan hutan yang mereka temui. Saat itu mereka melihat satu tandan pisang hutan. Mereka berinisiatif mengambilnya dan dijadikan sebagai menu makan mereka pagi ini.
Lalu keduanya membawa pisang tersebut untuk diberikan kepada Bos mereka.
Melihat bawahannya pulang dengan membawa satu tandan pisang, Bos mereka hanya menggelengkan kepalanya. "Carikan seekor kelinci atau seekor burung untukku. Pisang itu makanlah untuk kalian." Titahnya.
Maka kedua orang itu kembali berburu. Karena pisang itu sebagian masih belum matang, maka mereka membakarnya, hingga menjadi pisang bakar.
Sementara itu, kedua orang yang bertugas berburu tadi, melihat 2 ekor burung ruak-ruak yang sedang berjalan mencari pakan. Tanpa menunggu lama keduanya menembakkan peluru panas kepada kedua ekor burung tersebut, dan burung itu mati terkapar seketika.
Setelah mendapatkan kedua ekor burung itu, mereka kembali kekelompoknya, untuk menyerahkan buruan mereka.
Aroma pisang bakar sudah membuat perut mereka keroncongan.
Berbeda dari yang lainnya. Dua orang diantara mereka tak berminat untuk memakan pisang tersebut. Perut mereka terasa nyeri dan sedikit membesar, wajah mereka memucat dan semakin tak berdaya.
Saat kedua rekan mereka membersihkan dua ekor burung tersebut, perut mereka semakin nyeri. Keduanya bertatapan satu sama lain. Mencoba menyembunyikan rasa sakit yang mereka derita.. dan hingga akhirnya mereka tak sanggup lagi menahan apa yang mereka rasakan, dan…
Buuuugh…
Keduanya terjerambab ditanah, mengejang sesaat dan tak bergerak lagi.
Para rekannya yang asyik sedang menikmati pisang bakar itu tersentak bersamaan. Mereka mengahampiri rekan mereka yang mendadak terkapar tak bernyawa di atas tanah basah.
Tampak perut keduanya bergerak-gerak seperti ada yang ingin merangsek keluar.
Dan benar saja…
Seekor hewan pipih yang sudah menggembung keluar dari lubang belakang keduanya secara bersamaan, dan merambat keluar dari celah celana yang dikenakan keduanya.
Karena penasaran, mereka membuka celana rekannya yang sudah tak lagi bernyawa itu.
Seketika raut ketakutan muncul dibenak mereka. Lalu mereka serempak beringsut mundur.
Pria yang menjadi Bos mereka itu memperingatkan kepada para bawahannya untuk segera meninggalkan lokasi tersebut.
"Kita lanjutkan perjalanan saja, mari Kita tinggalkan tempat ini" titahnya tanpa persaan.
"Bagaimana dengan jasad keduanya" sergah seorang diantara bawahannya karena tidak tega meninggalkan jasad kedua rekannya begitu saja. Setidaknya di kuburkan dengan layak.
"Kita tidak memiliki waktu lagi, dan Kita tidak memikiki alat yang cukup untuk menggali lubang" jawab Bos mereka dengan mudahnya, lalu bergerak meninggalkan lokasi tersebut.
Keenam bodyguard itu merasa iba dengan jasad rekannya yang terbiar begitu saja. Akhirnya dengan terpaksa meninggalkan lokasi itu dengan perasaan berkecamuk dan juga was-was.
Mereka kini menyadari, jika ada banyak bahaya yang sedang mengincar mereka, tanpa pasti dari mana arah datangnya dan juga tiba-tiba.
Mereka kembali menyusuri jalanan menaiki puncak bukit, yang semakin terjal dan juga licin. Tak jarang mereka tergelincir dengan tanah basah yang menyulitkan perjalanan mereka.
******
Asih Menggeliatkan tubuhnya, hari sudah tampak remang-remang, dan mentari malu-malu muncul dibalik ujung bukit yang mengapitnya.
Ia melihat pemuda yang tertidur disisinya, tampak meringkuk karena dinginnya hawa perbukitan. Namun Ia tahu, jika empedu ular sanca yang kemarin masuk kedalam mulutnya dapat mengurangi rasa dingin hawa perbukitan. Karena empedu itu berfungsi untuk memberikan efek hangat ditubuhnya.
Pemuda itu tampak tertidur pulas, Ia berniat meninggalkan pemuda itu agar kembali ke kota dan tidak mengikutinya lagi.
Namun diluar dugaannya, Bara menghapiri pemuda itu, lalu memgenduskan moncongnya kepipi kiri sang pemuda.
Asih membolakan matanya, memjnta agar Bara menghentikan aksinya, karena mereka akan pergi tanpa pemuda itu. "Bara..!!" suara Asih tampak penuh nada geram dan penekanan. Tetapi sepertinya hewan itu tidak mendengarkannya, dan sengaja menginjak kaki Edy agar terbangun.
Seketika pemuda itu tersentak dan terbangun sembari berteriak memegangi kakinya yang sakit karena diinjak oleh Bara.
Seketika wajah Asih memutar bola matanya dengan kesal, karena Ia tahu jika Bara seperti sengaja membangunkan pemuda itu.
"Awas saja Kau?! Mulai membangkang Kau rupanya ya" guman Asih dengan ketus dalam hatinya.
Seketika pemuda beranjak bangkit dari tidurnya, membenahi posisi duduknya dan melihat sisa-sisa pembakaran api unggun yang kini tinggal debu.
Lalu Ia melihat daging ular sanca bakar yang tergantung di sebilah kayu yang tampak seperti panggangan. Pemuda merasa mual membayangkan memakan daging ular tersebut malam tadi.
"Bersiaplah.... Kita akan melanjutkan perjalanan, ini akan memakan waktu kurang lebih 1 hari lagi untuk sampai kepuncak bukit" Asih mencoba menjelaskan.
Edy melirik kearah sang gadis "semur hidup pun Aku juga aku rela asal bersamamu" guman Edy dalam hatinya.
Namun siapa sangka jika Asih mendengarnya, lalu Ia membolakan matanya kearah sang pemuda, sehingga membuat pemuda kebingungan.
Asih segera naik keatas punggung kudanya, lalu pemuda itu mengikutinya. Bara mulai bergerak berjalan meninggalkan lokasi mereka menginap malam tadi.
"Adakah sungai disekitar sini?" tanya Edy dengan lirih, sembari matanya celingukan kesana-kemari.
"Untuk apa?" tanya Asih penasaran.
"Aku ingin makan ikan, menu ular semalam membuat perutku mual" ucap Edy jujur.
Seketika Asih tertawa geli dalam hatinya, ada rasa Iba melihat pemuda itu, namun hidup dihutan belantara harus mampu bertahan dengan apa yang ada.