
Jhony berjalan menyusuri jalanan desa yang berbatu. Ia sangat senang hari ini, karena mendapatkan
Jhony menyusuri jalanan desa yang berbatu. Ia melangkah dengan langkah gagah dan penuh penuh percaya diri.
Jhony menenteng sebuah tongkat berkepala tengkorak, yang didapat dari gubuk reot di tengah hutan.
Ia melintasi sebuah rumah Panggung yang terbuat dari anyaman bambu. Jhony menghentikan langkahnya. Ia mekirik kiri dan kanan, Ia memastikan kondisi sudah sangat sunyi dan tidak ada seorangpun yang melihatnya.
Jhony berjalan dengan sangat cepat, seolah Ia sedang melayang bagaikan angin.
Jhony menuju kamar belakang, seolah Ia sudah pernah kesana sebelumnya.
Jhony menyelinap bagaikan seekor cicak, yang dapat menembus kamar tersebut.
Jhony memandangi wanita didepannya, yang sedang berbaring dengan begitu nyaman dan nyenyak.
Jhony terpana akan kecantikan wanita dihadapannya.."kau sungguh begitu menawan, membuat siapapun akan merasa terpesona akan kecantikanmu." Jhony berguman lirih.
Lalu Ia melangkah menghampiri Dina yang sedang tertidur lelap dan terbuai mimpi indah.
Jhony menarik kursi disisinya dengan lembut, agar tidak memgeluarkan suara sedikitpun.
Jhony terus menatap wanita itu. Lalu jemarinya meyentuh wajah ayu nan rupawan. "Siapa yang mampu menolak dengan hidangan seperti ini..? Aku berusaha untuk mendapatkanmu, namun ternyata kau tidak seperti yang ku bayangkan. Kau begitu terlalu tangguh." Jhony berguman lirih dalam hatinya.
Jhony kembali ingin menyusuri lekuk tubuh Dina yang dianggapnya begitu sangat menggodanya.
Namun belum sampai Ia berada dititik yang dianggapnya sebagai sesuatu yang menggiurkan, tiba-tiba saja Dina menggeliatkan tubuhnya dengan begitu indah.
Jhony merasakan sesuatu dibawah sana seolah sedang terbangun dan Meminta sesuatu.
Namun, belum saja Ia memenuhi hasratnya, Ia merasakan sebuah hembusan angin yang sangat dingin yang juga menembus dinding kamar tersebut.
Seketika Jhony menjadi awas dan waspada.
Ia dapat merasakan jika ini adalah sebuah kekuatan ghaib.
Jhony memilih untuk mencari aman, lalu menghilang dan menjauh.
Saat ini, Bromo telah sampai dihadapan Dina. Iya merasakan curiga jika ada seseorang yang datang kekamar istrinya. Ia mencium aroma keringat yang masih tertinggal didalam keringat. "Biadab.. Apa kau fikir kau bisa lolos dariku..?!" geram Bromo dengan sangat marah.
Bromo memejamkan matanya. Ia mencoba mencari bayangan orang yang telah mencoba mengusik wanitanya. Ia melihat sekelebat bayangan orang yang baru saja beranjak dari kamar ini.
Seketika Bromo membuka matanya, lalu menghilang dalam sekejab saja.
Bromo mengejar sosok bayangan ditengah kegelapan malam, lalu dengan mudah Bromo menghadangnya.
Seketika bayangan itu berhenti, lalu menatap tajam pada Bromo. Bayangan itu semakin lama semakin jelas dan membentuk sosok pemuda.
"Janganlah bersembunyi dibalik tubuh seseorang, lalu menjadi pecundang dan membuat pemilik tubuh yang tidak bersalah itu menjadi fitnahan." sindir Bromo kepada sosok itu.
"Mengapa kau ikut campur dengan urusanku..? Jangan terlalu mengusik hal orang lain.." ucap Sosok itu dengan senyum sinis.
Bromo tersenyum dengan sangat manis. "Aku tidak akan mencampuri urusan siapapun, selagi urusannya itu tidak membahayakan dan mengusikku.." jawab Bromo dengan tatapan Sarkas.
Sosok pemuda itu mencibir dengan sangat kesal "Apa yang membuatmu begitu sangat ingin mencampuri urusanku.."
"Kau tidak perlu tau, tapi kuingatkan padamu, jangan pernah mencoba mengganggu wanitaku, jika tidak ingin kulenyapkan kau selamanya." ucap Bromo dengan penuh ancaman.
Pemuda itu tersenyum mengejek.." Hehh..kamu fikir aku takut dengan ancamanmu..? Coba saja..! Seberapa besar kekuatanmu..!" ucap sosok pemuda bernama Jhony itu.
Jhony menancapkan tongkat seginggi 150 cm itu. Ia menatang Bromo untuk bertatung. Namun Bromo hanya diam tak bergeming, dengan tetap bersikap tenang.
Jhony yang kini dijadikan wadah bagi jiwa Jahadi menjadi begitu sangat geram.
Jhony mengangkat tongkatnya, lalu memutarkannya diudara.
Dengan gerakan cepat Ia mengayunkan kearah Bromo.
Wuuuuusssh....
Bromo hanya mundur satu langkah kebelakang, dengan gerakan menghindar.
Lalu tongkat tidak mengenai sasarannya. Jhony semakin kesal. Ia mulai menyerang Bromo dengan membabi buta, namun tak juga berhasil melukai lawannya.
Jhony lalu berdiri tegak, dan kembali menancapkan tongkat itu ketanah. Sesaat Ia membaca mantra untuk mengeluarkan kesaktiannya.
Dengan cepat, kepala tengkorak itu mengeluarkan cahaya jingga dan bersiap menyerang Bromo. Namun Bromo berhasil menghindarinya.
Bromo mengeluarkan ajian kyiai Liung ghaib yang dimilikinya. Ia ingin melumpuhkan jiwa Jahadi yang bersemayam didalam tubuh Jhony.
Ia harus berhati-hati, karena tubuh kasar Jhony tidak bersalah dalam hal ini.
Bromo mengambil busurnya, lalu membidik rongga mata kepala tongkat berbentuk tengkorak itu dengan tepat.
Wuuuuussshhh....sssssstt...
Dengan cepat Tongkat itu terbang melayang diudara.
Dan anak panah milik Bromo tertancap di sebetang pohon yang tumbuh besar.
Tongkat itu berputar-putar, lalu kembali datang lagi dengan menyerang Bromo secara cepat.
Bromo menyambutnya dengan menangkis menggunakan busurnya.
Lalu pertarungan terasa begitu sangat menegangkan. Mereka baku hantam dengan menggunakan ajian yang mereka miliki.
Bersamaan dengan itu, Banaspati muncul membantu Jahadi. Mereka bersekongkol untuk menghancurkan Bromo yang sedang bertarung melawan mereka.
Bismilahirrohmanirrohiim
Niat ingsun matak ajiku Kyai Liung Ghaib,
Awang-awang uwung-uwung,
Sadurunge bumi langit durung ana,
Lungguhku pinuju sawung. (maaf, mantra sengaja sepenggal. By jauhmenjalani).
Briko mengayunkan burusrnya, lalu..
Wwwwuuuuussh....ssst..
Ayunan busur milik Bromo menghantam bola api yang sedang berkobar.
Seketika Banaspati yang ditubuhnya dipenuhi oleh api sedang berkobar mendadak padam dan pergi melesak jauh.
Lalu kini tinggal sukma Jahadi dan tubuh kasar milik Jhony yang masih dalam pengaruh sukma pria mesum itu.
Sepertinya jahadi mengetahui gelagat darinBromo, dengan cepat Ia membawa tubuh kasar Jhony pergi melesat jauh kealam lain.
Jahadi berniat akan menggunakan tubuh Jhony tempat bersemayamnya.
Bromo mendengus kesal, lalu ddengan cepat kembali kepada Dina, kepada wanita pujaanya.
Saat Ia berada didalam kamarnya, Ia melihat Dina masih tertidur dengan pulas.
Ia membelai lembut wajah wanitanya..seketika Ia melihat bayangan-bayang buruk sedang mengintai Dina.
Akan ada banyak masalah yang bermunculan datang silih berganti.
"Di istanaku kau akan lebih aman.. Namu bagaimana dengan kedua orangtuamu..? Dimana juga mertuaku. Mereka akan bingung mencarimu, dan kau akan merasa berat untuk memilih aku atau kedua orangtuamu."Bromo berguman dalam hatinya.
"Aku menciintaimu Dinda.. Rasa cinta ini sudah tidak dapat ditawar lagi. Aku akan memberikan apapun yang kau mau, asalkan kita tetap bersama dalam keabadian. Aku akan menjadikanmu ratu dalam hidupku. Aku akan memujamu setiap saat." ucap Bromo dengan lirih.
Lalu Ia mendekati wajah wanitanya. Menyesap lembut bibir nan ranum. Meresapi setiap keindahan yang ada disana. Ia tak mampu menggambarkan bagaimana besarnya rasa cinta yang Ia miliki kepada Dina.
.