
Pertengkaran Dina dan Bromo membuat Asih merasa bersalah.
Tubuh Asih kini sudah sepenuhnya pulih. Ia sudah dapat berakfitas kembali.
Asih lebih memilih keluar dari goa. Tidak ingin menjadi sasaran omelan ibunya, karena ulahnya yang telah membuat kedua orang tuanya bertengkar.
Asih berjalan-jalan disekitar halaman goa. Ia merasakan kesepian. Biasanya setiap pagi, Ia akan pergi mengelilingi hutan, berburu, berlatih dan bermain bersama Bara.
"dimana kamu Bara..? Apakah kamu dalam kondisi baik-baik saja?." Asih berguman lirih. Tatapannya menerawang jauh. Ia seperti melihat Bara sedang berlari menuju kearahnya, suara ringkiknya begitu terdengar ditelinga Asih.
"Bara..!" Asih beranjak dari tempatnya, namun Ia harus kecewa, karena itu adalah suara kuda milik Chakra.
Kehilangan Bara sungguh membuatnya hampa. Karena selama ini hanya Bara yang menjadi teman setianya.
Asih merasakan separuh jiwanya terbang.
Bromo yang memperhatikan puterinya dari kejauhan, tampak merasakan betapa puterinya itu sangat kehilangan. Layaknya seseorang yang sedang ditinggal kekasihnya pas sayang-sayangnya.
Disisi lain, Bromo melihat Istrinya yang tampak murung, semenjak Ia pergi menghilang begitu saja, Dina selalu tidak bersemangat.
Dina tampak murung atas kepergian Bromo yang pergi dengan membawa kekesalan.
"maafin Dinda sayang.. Bukan maksud Dinda mengatakan 'kata buaya pada setiap laki-laki. Tetapi kan emang kamu buaya? Meskipun kamunya buaya siluman..." Dina berguman lirih, sembari menopangkan dagunya diatas kedua lututnya.
chakra yang masih dalam proses penyembuhan, tampak masih terbaring lemah.
Ia terbatuk, dan membuyarkan lamunan Dina. Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, lalu memghampiri Chakra. Memegang kening anak lelakinya. Terasa panasnya sudah mulai menurun.
Dina mengambil obat racikan herbal yang dibuat oleh Bromo. Memanaskannya pada sebuah tungku api, dan berada dalam panci yang terbuat dari tanah liat.
Setelah itu Ia meminumkannya kepada Chakra.
Goresan peluru pada jantung Chakra mengharuskannya untuk beristirahat sedikit lama.
Setelah meminum ramuannya, Chakra kembali tertidur, Ia masih terlihat lemah.
Melihat pemandangan itu, Bromo akhirnya berdamai dengan hatinya. Ia kembali menemui wanita pujaannya. Ia tidak sanggup melihat wajah sedih sang istri.
Bromo mendekap Dina dari arah Belakang, hal itu membuat Dina merasa kaget. Setelah mengetahui jika yang mendekapnya adalah Bromo, Dina memutar tubuhnya, lalu mendekap dari arah depan, merasakan penyesalan yang mendalam atas ucapannya.
"maafin Dinda, dan jangan pernah pergi dalam keadaan marah.." pinta Dina dengan permohonan.
Bromo membopong tubuh mungil Dina kedalam pangkuannya.Ia mencoba untuk merayu Dina.
"Dinda, biarkan Asih mencari Bara.." ucap Bromo dengan lembut.
"ta..." Dina tak sempat menyambung kalimatnya. Dimana, Bromo sudah terlebih dahulu membekap bibirnya dengan dengan kecupan hangat.
Dina terdiam sejenak.
"jangan dulu potong ucapan Kanda, dengarkan saja dulu penjelasan dari kanda." Bromo menatap dengan lembut pada Dina. Membuat wanita itu tidak berkutik.
"Asih merasa patah hati..bagaimana perasaan Dinda saat kanda pergi tiba-tiba, bukankah Dinda merasakan kehilangan? Kesepian..? Dan tidak bersemangat..?" Bromo mencoba memberikan pengertian dengan perumpamaan.
Dina menatap lekat wajah suaminya, ada rasa tidak setuju dalam hatinya. Namun Ia mencoba mencermati segala ucapan Bromo, Lalu mencoba memahaminya. meski berat.
"maka ijinkan Asih pergi.. Kanda akan mengawasinya. Biarkan Ia menemukan menjemput takdir dirinya. Ia sudah dewasa, dan sudah seharusnya menemukan apa yang seharusnya." ucap Bromo, berusaha sebisa mungkin untuk memberikan pengertian kepada Dina.
"beneran Romo memberi ijin..?" Teriak Asih seolah tak percaya.
Asih tampak sumringah dengan ijin dari Bromo, lalu Ia melirik kepada Dina, ibunya. wanita itu tampak gidak rela dengan keputusan yang dibuat oleh Bromo. Namun Ia tidak memiliki pilihan.
Dina mencoba tersenyum, meski terpaksa.
"apakah Ibu mengijinkan..?" ucap Asih lirih.
Dina hanya menganggukkan kepalanya, Ia tak mampu mengeluarkan kata 'Iya'.
Asih tau jika ibunya terpaksa, namun Ia juga tak rela jika Bara harus jatuh ketangan orang yang salah.
Dina membekali Asih dengan ilmu baca, tulis dan hitung yang pernah diajarkannya waktu itu. Agar Asih tidak tersesat, apalagi sampai ditipu oleh orang.
Bromo mengeluarkan dua butir permata berkilau. Sebuah batu berlian berwarna pink yang berasal dari 5 abad yang lalu, dan sebutir batu berlian berwarna biru. Bromo menyerahkannya kepada Asih.
"simpanlah.. Jual salah satunya untuk bekalmu diperjalanan. Didunia luar kau akan memerlukan yang namanya uang. Berbeda dengan kehidupanmu dihutan. Diamana kau tidak pernah membutuhkan uang. Jika kau ingin makan, maka kau hanya tinggal memetiknya saja. Jika kau ingin daging hewan, maka kau tinggal memburunya saja."
"didunia luar, kau akan membutuhkan uang hanya untuk meneguk segelas air, mengisi perutmu yang kosong, bahkan untuk tidurpun kau harus mengeluarkan uang untuk membeli sebuah rumah."
Rumah diluar sana sangatlah berbeda dengan goa yang yang menjadi tempat tinggalmu selama ini."
Bromo mencoba menjelaskan semuanya kepada Asih. Agar puterinya itu mengerti akan perbedaan kehidupan yang akan dipilihnya.
Dina yang sedari tadi diam langsung ikut nimbrung.."dan jangan tergoda dengan rayuan maut laki-laki..!!" Dina menimpali ucapan Bromo.
asih mendengarkan semua nasehat yang ditujukan kepadanya.
"dan ingat, jangan terlalu banyak bicara, pakailah ilmu diam.." Bromo kembali memberikan nasihat.
"jangan katakan dimana asal usulmu, dan jangan pernah katakan darimana kamu mendapatkan batu permata ini. Karena jika orang-orang serakah mengetahuinya, maka nyawa ibumu menjadi taruhannya." Bromo menekankan ucapannya.
Asih sedikit bergidik mendengar penuturan romonya. Ia tidak menyangka jika kehidupan diluar sana sangatlah kejam dan juga penuh tipu daya.
"simpanlah batu permata yang berwarna pink, karena permata itu menyimpan kekuatan magic yang akan terus membantu menjagamu, dan memberikan kekuatan untukmu." Bromo menciptakan sebuah jalinan benang hitam dan membentuknya menjadi sebuah kalung dengan mainan pink diamond sebagai perbiasannya. Bromo mengikatkannya pada leher Asih.
"jangan pernah melepasnya.." titah Bromo kepada Asih.
Asih mengangguk mengerti.
"batu blue diamond ini akan ada yang menawarnya dengan harga tinggi. Jika kau sudah mendapatkan uangnya, belilah sebuah tempat tinggal yang sedikit tersembunyi sebagai tempat berteduhmu."
"jika kau sudah menemukan Bara, maka segeralah kembali. Kami menunggumu." titah Bromo kepada Asih.
Asih mencermati segala apa yang diucapkan romonya.
Dina membekalinya dengan dua pasang pakaian. Asih menyelipkan sebuah cadar. Tak lupa ia membawa pedang dan busur panahnya. Ia menyimpannya dalam sebuah gulungan kain.
Siapa menyangka, jika kepergiannya kekota bukan hanya untuk mencari Bara, tetapi juga misi balas dendam atas penembakan yang dilakukan oleh orang-orang kota itu terhadap Chakra.
Asih tidak rela melihat Chakra terbaring lemah seperti itu. Ia menginginkan mereka harus merasakan apa yang sudah dirasakan oleh kakaknya.
Asih menunggu hingga esok pagi, untuk memulai perjalanannya, dalam menjemput takdirnya.
"