Buhul ghaib

Buhul ghaib
Markas



"Apakah kau yakin jika diq tidak berbahaya..?" tanya Lee kepada Rere dengan penuh selidik. Ia ingin memastikan jika orang tersebut bukanlah mata-mata dari kelompok Wei ataupun Andre


Rere menganggukkan kepalanya. "Aku pastikan dia bukan dari pihak manapun." jawab Rere menegaskan.


Lee menelisik penampilan Chakra, seketika wajahnya berubah masam, karena sesuatu yang dilihatnya.


"Brengsek Kau..! Mengapa Kau memakaikan pakaianku padanya..?" ucap Lee dengan kesal kepada Rere.


Rere tertawa geli melihat rau wajah Lee yang tampak masam saat mengetahui Rere memberikan pakain miliknya kepada pemuda asing tersebut.


"Sudahlah.. Janganlah mengomel, masalah kecil saja bos ributkan.. Masih ada masalah lain yang akan kita bahas." jawab Rere sekenanya.


"Heeem.." ucap Lee, lalu mengacak rambut cepak milik gadis tomboy itu.


lalu keduanya berjalan menuju sebuah meja dan terdapat sebuah lampu neon sebagai penerangannya.


Rere mengeluarkan chip yang disimpannya melalui pengaman bukit kembarnya, Ia menyobek sedikit benda itu, lalu mengambilnya dari busa yang yang melekat di benda pengaman tersebut. Lee memalingkan wajahnya saat gadis gila itu berbuat nyeleneh tanpa rasa bersalah sedikitpun, jika perbuatannya itu menodai mata lelaki.


Sementara itu, Chakra mengernyitkan keningnya, melihat apa yang dilakukan oleh Rere. Ia baru pertama kalinya melihat benda itu tanpa pengaman. Maka Ia terlihat sedikit norak saat memandangnya.


Sedang gadis tomboy itu tampak santai tanpa merasa berdosa sedikitpun. Lalu Ia mengambil dua buah chip yang Ia selipkan disana.


"Ini.. Ambillah.. Semuanya ada disini.." ucap Rere dengan tegas sembari menyodorkan dua buah chip tersebut kepada Lee.


Lee mengambilnya. "Kenakan pakaianmu dengan benar, jangan membuat pemuda yang duduk disudut sana menerkammu.." ucap Lee mengingatkan, sembari melirik kepada Chakra yang sedari tadi melirik benda kembar milik Rere tanpa berkedip.


Rere kemudian membenahi pakaiannya dengan santai.


Sementara itu, Lee berjalan kesudut ruangan, menggeser meja sudut yang tampak usang dan berdebu, lalu tampak sebuah berangkas yang terdapat dibawah lantai. Brangkas itu terbuat dari plat baja tebal itu ditanam dibawah lantai, lalu Lee mengambil sebuah laptop, dan membawanya kemeja tempat Ia dan Rere akan membahas masalah pekerjaan mereka.


Lee menghidukan layar laptopnya yang masih berfungsi dengan baik. Lalu menyambungkan chiip tersebut kelayar monitornya.


Tampak disana bagaimana Wei dan para Geng nya sedang menyeludupkan senjata Api ilegal dalam sebuah kontainer dan juga para gadis-gadis yang akan dilakukan trafiking keluar negeri.


Gadis-gadis yang didapat dari desa dan dijanjikan akan dipekerjakan sebagai asisten rumah tangga dibebagai negara dengan gajih yang fantastis, sehingga membuat mereka tergiur. Namun, semua hanyalah modus belaka.


"Brengsek sekali Wei.. Kita harus melaporkan hal ini ke pusat, agar kapal yang membawa para gadis dapat dicegah di tengah laut." ucap Lee menyarankan.


"segera hubungi kantor pusat, dan kita akan ikut segera mencegahnya. Jika terlambat, para gadis akan kehilangan nyawanya terkurung dikontainer tanpa makan apapun.." ujar Lee memerintahkan. Lalu Ia menutup layar laptopnya, dan bergeges menyimpannya kembali.


"Jangan lupa laporkan masalah penyeludupan senjata api tersebut, minta mereka menggerbek gudang penyimpanan barang tersebut. Lee terus mengoceh dan Ia tampak terburu-buru keluar dari markas. "Aku tunggu dipelabuhan, lakukan dengan cepat." ucap Lee, lalu melemparkan sebuah senjata api laras panjang kepada Rere. Dengan cepat gadis tomboy itu menangkapnya.


"Ok, Bos. Aku akan segera sampai kesana." ucapnya meyakinkan.


Rere tampak menghubungi kantor pusat, meminta bantuan dan melaporkan semua informasi yang telah mereka dapatkan. Lalu Ia menutup panggilan telefonnya, dan mengajak Chakra agar keluar dari markas dengan segera dan nenuju pelabuhan untuk menyusul Lee.


Sementara itu, Lee memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ia memperkirakan kapal itu sudah berlayar selama 3 hari sejak Rere mendapatkan chips tersebut. Maka diperkirakan kapal sudah jauh berlayar.


disisi lain, Rere yang sudah mempersiapkan segala peralatannya bergegas keluar, namun melihat Chakra masih bengong disudut ruangan.


"Heeii.. Cepatlah.. Apa yang kau lamunkan disana..?!" hardik Rere dengan kesal, tatapannya penuh intimidasi.


Chakra tersentak dan beranjak dari duduknya, lalu mebgekori sang gadis tomboy yang tampak sangat tergesah-gesah.


Rere menghidupkan mesin mobilnya, lalu Chakra duduk disisi kirinya. Mobil meluncur menuju pelabuhan.


sementara itu, Lee sedang mengangkut beberapa jerigen bahan bakar untuk persediaan perjalanan mereka kedalam speedboat. Setelah menunggu waktu yang lumayan lama, akhirnya mobil Rere tampak dikejauhan menuju pelabuhan tikus.


Mobil itu semakin mendekat dan nenepi. "cepat turun..!! Terlalu lamban..!" hardik Lee yang sedikit kesal dengan keterlambatan Rere. Entah mengapa saat ini perasaannya sangat mudah emosi dan tak terkendali. Sepertinya kepergian Asih yang tanpa pamit membuatnya sangat terpukul, dan itu baru kali ini Ia merasakan perasaan kehilangan terhadap seorang gadis.


Rere mengernyitkan keninganya.. "Ne, si Bos kenapa..? Apa kesambet atau bagaimana, koq emosian banget." Rere berguman dalam hatinya.


Tak ingin berdebat, Rere segera menghampiri Lee yang tampak seperti orang ditinggal nikah kekasihnya, wajahnya tampak gusar, sedangkan Chakra terus saja mengekori Rere bak seorang anak kecil yang tak ingin kehilangan ibunya.


"Cepat naik..!" titah Lee, sembari melompat ringan keatas speedboat, uang diikuti Rere dan Chakra.


Kemudian Lee menghidupkan mesin speedboat dan mengarungi lautan untuk mengejar kapal layar yang membawa para gadis untuk dikirim keluar negeri sebagai traficking dan perbudakan.


Speedboat itu mengarungi lautan luas, dan dengan kecepatan tinggi.


Setelah satu hari perjalanan, tiba-tiba saja mereka dihadang 3 buah speedboat yang kini tepat berada didepan mereka. Lee memperlambat laju mesin speedboatnya. "Siaall..! Siapa yang membocorkan rahasia penyergapan kita..? Sepertinya ada penyusup diantara kita." ucap Lee, seraya melirik kepada Chakra.


Lalu Lee meninta Rere menggantikannya untuk mengemudikan speedboat tersebut, dan gadis itu menuruti perintah atasannya.


Lee mendekati Chakra yang kini berada disudut ruangan speedboat. Lee mencengkram kerah baju Chakra dengan kasar, sedangkan Rere merasa ini akan terjadi keributan dan kesalah fahaman antra Chakra dan Lee.


"Heei.. Brengsek.. Katakan siapa yang mengutusmu..? Sebelum ku ledakkan kepalamu..?!" ucap Lee dengan berang, tampak sekali jika saat ini Ia sedang tidak baik-baik saja.


"Aku datang sendiri.." Jawab Chakra dengan santai.


Buuuuuugh...


Sebuah pukulan mendarat diperut Chakra dengan tiba-tiba.."Jangan membuatku habis kesabaran..!" ucap Lee dengan tatapan intimidasi.


"Cukup Bos..!! Dia tidak ada kaitannya dengan semua ini..!" ucap Rere mencoba menghentikan kesalah fahaman kedua pria tersebut.


"Jika tidak ada.. Lalu mengapa para orang-orang tersebut berada didepan kita, untuk mengahalangi pergerakan kita..?!" ucap Lee sembari menunjuk arah ke tiga speedboat yang sudah bergerak untuk mendekati soeedboat mereka.


"Tenanglah.. Ini semua tidak ada kaitannya dengan Dia.. Mungkin saja pembelot itu ada didalam kesatuan kita..!" ujar Rere mencoba menerka-nerka.


Seketika Lee terdiam, lalu melepaskan cengkramannya dari pakaian Chakra.


"Siaalll..!" sepertinya kita harus bersikap hati-hati.. Dan kita juga tidak dapat mempercayai orang asing itu begitu saja.." ujar Lee yang ekor matanya melirik kepada Chakra.