Buhul ghaib

Buhul ghaib
Tudingan



Dina menatap pria yang sedang berceloteh didepan sana. Ia mencoba mencermati setiap kalimat yang diucapkannya.


Dina terus memperhatikan setiap gerak gerik dan tingkah pria Asing tersebut.


"hemm.. Sepertinya Ia punya dendam pribadi dengnku.. Atau ada niat terselubung lainnya.?" ucap Dina dengan lirih.


Sesaat awan menghitam.. Dina melihat kepala tongkat berkepala tengkorak yang dipakai oleh pria asing tersebut mengeluarkan asap hitam dari celah mulut dan dan matanya.


Langit yang awalnya terang, kini berubah gelap.. Petir menyambar-menyambar dilangit. Warga terlihat panik dan saling berpandangan.


Namun langkah mereka terkunci, tidak bisa beranjak atau hanya sekedar bergerak.


Mereka merasa ketakutan, dan suasana berubah mencekam.


"Abah, Umi, dan bawa bocah ini masuk.. tutup dan kunci pintunya.." titah Dina kepada kedua orangtuanya, sembari melangkah menuruni anak tangga.


Pria bertongkat itu berdiri dengan tegak menantang Dina dengan angkuhnya.


"aku tidak mengenalmu, namun mengapa kau tampak begitu dendam padaku..?" ucap Dina sembari terus berjalan menghampiri pria tersebut.


Dina berjalan mengelilingi pria itu sembari memperhatikan tiap inci dari tubuhnya.


Saat Dina tak sengaja melihat area sensitif milik pria itu, Ia mengingat sesuatu kejadian dimalam itu. Disaat seorang penyusup datang dan memaksa masuk kekamarnya.


"apakah dia orang yang sama yang menyusup kekamarku..?" Dina berguman dalam hatinya.


Dari langit yang menggelap, tampak asap hitam bergulung-gulung seperti angin ****** beliung.


pria itu tertawa mengejek dan senyum penuh kelicikan. Warga terlihat panik ingin berlarian, namun mereka tak mampu bergerak, seolah-olah mereka dipaksa untuk menyaksikan semua yang akan terjadi, sebagai pertunjukkan yang siap di pertontonkan.


"Heeei.. Wanita Iblis..!! Enyahlah kau dari desa ini.." seru pria tersebut. Sembari membuka lebar telapak tangannya, lalu membawa angin ****** beliung yang berwarna hitam seperti asap berada tepat diatas telapak tangannya.


Dina yang melihat itu semua, bersiap untuk memasang kuda-kuda pertahanannya. Namun belum sempat Ia membaca kekuatan lawannya, Dina sudah dikejutkan dengan gulungan asap hitam yang menyelimuti dan menggulungnya naik keudara.


Asap hitam itu seolah mengunci Dina yang menyebabkan Dina seakan terikat oleh sebuah tali tambang yang tak dapat dilepaskan.


pria itu tertawa sembari menatap penuh dendam kearah Dina. Entah dari mana datangnya, beberapa ekor burung gagak berputar-putar mengikuti putaran asap hitam yang kini sedang menggulung tubuh Dina.


Dina berusaha untuk tenang, sembari membacakan mantra ajian Waringin Sungsang yang dipakai Bromo saat menghadapi pasukan banaspati.


Setelah memusatkan fikirannya, lalu dengan sebuah kekuatan tenaga dalamnya, Dina melepaskan dirinya dari gulungan asap yang menggulungnya.


Dina menerobos keluar asap hitam tersebut. Lalu berputar diudara, meluncur dengan sebuah pukulan ajian waringin sungsang yang tepat mengarah kepada Pria tersebut.


Pria itu dengan cepat menyambut pukulan yang diarahkan Dina kepadanya dengan tongkat tengkorak yang dipegangnya.


ketika kepalan tangan Dina beradu dengan tengkorak dari kepala tongkat tersebut..


Duuuuuaaaar....


sebuah suara ledakan yang sangat dahsyat, memecah langit dari dua pertempuran insan tersebut.


Dina terpental dan berusaha mendarat ditanah dengan sangat hati-hati. Ia merasakan sedkit nyeri dibagian ulu hatinya.


Pria Asing tersebut terdorong jauh kebelakang sembari terhuyung-huyung dan dan memegangi dadanya.


Ternyata pri itu memiliki ilmu tenaga dalam yang tidak dapat diremehkan, dimana jika lawan terkena pukulan ajian Waringin Sungsang akan segera roboh dan terpisah jiwa dari raganya.


Namun pria itu hanya terhuyung-huyung saja. Ia memegangi dadanya yang terasa panas. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar, mungkin Ia terluka dalam, karena terkena pukulan dari ajian Waringin Sungsang yang digunakan oleh Dina.


Pria itu membuka pakaiannya, tampak warna biru kehitaman membekas didadanya, akibat dari pukulan Dina.


Ia baru menyadari jika tengkorak dari kepala tongkatnya telah hancur berkeping-keping dan meninggal batang tongkat yang hanya setengahnya saja.


Dengan kelicikannya, pria Asing itu berkelebat, lalu menghilang.


Setelah pria itu mengh


Ia memilih untuk meninggalkan tempat pertarungan, dan akan kembali setelah Ia mampu untuk mengumpulkan segala kekuatannya dan menantang Dina kembali.


Setelah kepergian pria itu, warga yang semula tak dapat bergerak, kini dapat kembali bergerak. Mereka seolah-olah terkena ilmu sirep yang mana korbannya dapat melihat jelas apa yang dilakukan pelaku, namun tidak dapat bersuara dan bergerak, apalagi melawan.


Setelah kesadaran mereka kembali, mereka melihat Dina yang memegangi dadanya dengan rasa nyeri sedang berdiri dihadapan mereka.


"Hei..Dina.. Apakah benar kamu seorang penyihir.? Bagaimana kamu bisa dapat terbang dan menghilangkan semua ular-ular yang yang telah menyerang kami.?" teriak seorang warga dari dalam kerumunan.


Seorang wanita paruh baya telah berdiri dihadapannya, meminta penjelasan tentang semua yang terjadi.


[iya..iya..iya..]


Suara serentak dari warga meminta penjelasan Dina.


"tolong jelaskan kepada kami dari mana asal ular-ular yang datang menyerang.? sebelum kamu pulang kemari, tidak ada kejadian aneh apapun didesa ini.! Kamu ini telah membawa bencana.!!" ucap warga lainnya.


Dina menatap dengan tenang, lalu berusaha untuk menyempurnakan tenaga dalamnya yang terkuras, sembari mendengarkan ocehan warga yang mengintimidasinya.


"jika kamu pulang kedesa ini hanya sebagai pembawa bencana, lebih baik kamu tidak usah kembali lagi ke desa ini..!!" warga yang lain menimpali.


Dina merasakan jika pengaruh sihir dari pria itu sudah menguasai akal fikiran seluruh warga. Dina tidak ingin terpancing emosi.


Dina merasakan nyeri didadanya sedikit membaik meski belum sepenuhnya pulih. Ia mencoba menetralkan degub jantungnya, Ia merasakan akan terjadi huru hara dari apa yang telah diciptakan oleh pria asing tersebut.


"ayo.. Kita usir saja Dina dari desa ini.. Ayo..!! Dia hanya pembawa bencana bagi desa ini..!!" teriak seorang warga lainnya.


[ayo..ayo..ayo..]


Suara-suara sumbang itu terus menggema diudara.


Umi Lastri yang sedari tadi mendengarkan semua ucapan dan teriakan para warga tidak dapat menahan lagi dirinya untuk diam. Sebagai seorang ibu, Ia tidak ingin kehilangan lagi puterinya. Ia harus melundungi Dina bagaimanapun caranya.


Lastri membuka pintu rumahnya, lalu menuruni anak tangga, dan bergegas menghampiri Dina.


"tenang.. Tenang.. Tenanglah kalian..!!" ucap Umi Lastri sembari menengangkat kedua tangannya dengan gerakan naik turun seperti isyrat aga warga tidak terpancing emosinya.


"kalian tidak dapat melemparkan begitu saja tuduhan yang belum terbukti kebenarannya. Apakah kalian lebih mempercayai pria Asing yang sama sekali kalian tidak mengenalnya, dibanding Dina anak saya.?!" ucap Umi berusaha tenang namun penuh penekanan.


"Dina lahir didesa ini, tidakn mungkin Ia membuat kekacauan didesa kelahirannya.! Andai saja itu sebuah fitnah belaka, apakah kalian tidak memikirkannya? Bisa saja pria itu yang melakykan sihir, lalu menuduhkannya kepada Dina." ucap Umi Lastri berusaha meyakinkan warga.


Warga mulai terpecah, ada yang pro dan kontra. Bagi yang kontra terhadap Dina adalah rata-rata yang keluarganya menjadi korban keganasan serangan ular yersebut. Mereka belum dapat mencerna dengan akal mereka tentang apa yang terjadi.


Sedangkan mereka yang kontra, adalah orang-orang yang berusaha berfikir jernih dimanan mereka tidak ingin menghakimi tanpa penyelidikan terlebih dahulu.


"sudah.. Usir saja Dina dari desa ini, Ia memang wanita Sial pembawa bencana.!!" ucap Susi dengan lantang disaat warga yang lain masih terdiam.


Beesamaan dengan itu, seorang bocah laki-laki berumur 6 tahun keluar dari rumah Abah Kasim, menuruni anak tangga dan berlari, sembati berteriak..


"emaaak.." teriak bocah laki-laki tersebut.


Lalu Susi yang baru saja memprovokasi warga terdiam mematung, melihat anak lealkinya menghambur kepelukannya.


"Rio...." ucapnya dengan girang, Ia tak menyangka jika anaknya yang dikira sudah tewas tetapi masih hidup dan segar bugar.


Susi menciuminya dengan perasaan yang tak mampu Ia gambarkan.


Bersambung....