
Rumini terbangun dari tidurnya saat mentari masih sembunyi diufuk timur.
Ia mendengar anak semata wayangnya merintih menahan sakit dari penyakit yang idapnya.
"kamu kenapa sayang..? Rumini tampak panik.
Ia melihat anaknya sangat pucat, hanya bermodalkan cahaya dari sebuah pemantik api, Ia melihat wajah gadis kecilnya yang tampak hampir membiru.
"tidak saya... kamu harus bertahan." ucap Rumini sembari menggengam jemari puterinya.
Ia sendiri bingung harus berbuat apa, karena Ia tidak memiliki uang untuk membawanya kerumah sakit.
Asih yang mendengar isakan Rumini, lalu betanjak bangkit, mengucek kedua matanya. "ada apa bu.." tanyanya sembari menguap, Ia masih sangat kantuk karena pertempurannya beberapa jam yang lalu mengusir Rekso.
"anak saya.. Dia harus segera dibawa kerumah sakit, tetapi saya tidak memiliki Uang." ucap Rumini jujur.
"apakah rumah sakit jauh dari sini..?" tanya Asih dengan tenang. semenjak mengenali Rumini, akhirnya Ia mengetahui sedikit hal. Seperti mendengar kata rumah sakit.
Rumini mengangguk, jika berjalan kaki membutuhkan waktu sekitar satu jam." ucap Rumini.
"kalau begitu kita bawa sekarang." Asih menyarankan.
Rumini terdiam. Ia bingung harus apa. Membayangkan uang 300 juta saja Ia sudah keder.
"uang darimana? 300 juta itu jumlah yang banyak, saya tidak memiliki uang sebanyak itu. Hanya ada 30 ribu rupiah." jawab Rumini dengan linangan air mata.
Ia teringat akan suaminya yang sudah sangat kejam meninggalkannya seorang diri diperantauan.
Asih menyentuh pundak Rumini. "jangan fikirkan masalah uang, kita bawa saja dahulu Puteri ibu ke rumah sakit, nanti kita fikirkan bagaimana caranya." ucap Asih, memberikan dorongan semangat kepada Rumini.
Akhirnya mereka sepakat membawa gadis kecil itu kerumah sakit, dengan berjalan kaki menggunakan gerobak sorong.
Rumini tampak kelelahan, Asih menggantikannya.
" Jika Ibu lelah, ibu naik saja kedalam gerobak, saya masih sanggup untuk mendorongnya." ucap Asih dengan lembut dan tulus.
Rumini menggelengkan kepalanya. "saya masih sanggup berjalan. Terimakasih atas kebaikanmu." Rumini tersedu dalam ucapannya. Ia begitu terharu melihat Asih yang tampak perduli padanya. Selama ini Ia selalu diabaikan. Tidak ada yang perduli padanya.
setelah jauh berjalan, matahari yang masih bersembunyi dibalik awan, mulai tampak malu-malu untuk memberikan Sinarnya.
Terpaan sinarnya membuat Asih dan Rumini merasakan sedkit kehangatan, setelah lama melawan dinginnya angin malam.
Warga mulai tampak ramai. Mereka mulai berakitifitas dengan kesibukannya.
Asih yang mengikat rambutnya seperti ekor kuda, tentu membuatnya semakin menarik. hampir setiap mata yang memandangnya merasa takjub.
Bagaimana mungkin seorang gadis cantik mendorong gerobak yang biasa dipakai untuk mencari barang rongsokan.
tak jarang para pria menyiulinya saat Asih melintasi mereka. Asih yang tidak memahami bahasa verbal mereka, merasa cuek saja.
Rumini melihat jika para pria itu mengagumi kecantikan Asih, meski penampilannya sedikit lusuh dan tampak kampungan, namun tidak mengurangi kecantikannya.
"apakah masih jauh bu..?" tanya Asih. Ia melihat bibir gadis itu semakin pucat.
"sebentar lagi Nak..gedung didepan yang berwarna biru itu." tunjuk Rumini kepada Asih.
Mereka mempercepat langkahnya. Lalu mereka tiba didiepan rumah sakit.
Asih menggendong gadis kecil dalam dekapannya. "tunjukkan jalannya kemana kita membawa puteri ibu.." ucap Asih sembari membenahi gendongannya.
Rumini mengangguk,.lalu berjalan menuju ruangan administrasi untuk mendaftarkan diri.
Sesampainya disana, mereka terlihat tidak disambut ramah. Karena penampilan mereka yang tidak meyakinkan.
"buk.. Saya yang kemarin mendaftarkan puteri saya Kaila, untuk cangkok jantung. Kondisinya sudah sangat kritis." ucap Rumini dengan perasaan kalut.
petugas itu memandang Rumini dan Asih secara bergantian. "maaf bu, prosedurnya ibu harus memberikan uang jaminan sebesar 10 juta rupiah, baru dapat kami tangani." petugas itu menjelaskan kepada Rumini.
Sesaat datang sepasang suami istri dengan penampilan glamour dan pakaian mahal, yang mana akan membawa anaknya berobat sesak akut.
Petugas dan perawat datang dengan ramah menyambut pasangan itu dengan ranjang troli. Mereka tampak cekatan menangani pasien tersebut.
Sedangkan mereka, sedari tadi Asih masih menggendong Kaila yang tubuhnya sudah membiru.
Asih menyerahkan Kaila kepada Rumini. Lalu Ia menghampiri petugas administrasi tersebut.
"Tangani gadis itu segera, aku akan menjamin biaya perobatannya." bisik Asih, namun penuh penekanan disetiap katanya.
"maaf mbak, harus ada uang jaminannya dulu, baru kami tangani." jawab petugas itu dengan nada mengejek.
Asih merogoh sesuatu dari saku kecil seperti uncang yang dibawanya dari goa, uncang itu pemberian Ibunya, dimana Dina juga menyelipkan beberapa koin emas untuk bekal Asih diperjalanan.
Asih mengeluarkan sebjah koin emas dengan ketebalan 12 mili. "apakah ini masih kurang sebagai jaminananya?" tanya Asih dengan tatapan tajam yang menghujam jantung.
petugas itu gemetar, bagaimana tidak, koin emas yang sangat mahal dengan jumlah harga hampir mencapai setengah milyar berada didepan matanya. Dimana emas itu berasal dari emas berumur ribuan tahun dengan kadar emas yang tinggi.
"tetapi harus dalam bentuk uang.." ucap Petugas itu dengan gemetar. Ia tak percaya bagaimana mungkin Asih memiliki emas dengan semahal itu. Jika dilihat dari penampilannya, tidaklah mungkin dan hal yang mustahil.
Lalu Asih meraih koin emasnya m, dan menyimpannya kembali kedalam uncang kecil miliknya. Asih meletakkan pedang yang masih terbungkus dengan kain pakaiannya diatas meja petugas itu. Sepertinya kesabarannya mulai menipis. Namun Ia mencoba menahannya.
Ia tidak ingin larut terbawa emosi, lalu ekornya muncul dengan tiba-tiba, maka akan menimbulkan kegemparan dan membuatnya viral.
Asih membuka sedikit celah pedang tersebut, lalu memperlihatnya kepada Petugas itu. "apakah kamu pernah merasakan bagaimana rasanya terkena sayatan benda ini..?" ucap Asih dingin, sembari menatap tajam pada Petugas.
Petugas itu gemetaran. Ia merasa jika Asih sudah tidak waras. Bagaimana mungkin seorang gadis membawa-bawa senjata.
Petugas itu memastikan jika Asih adalah komplotan begal atau perampok yang biasa beraksi dimalam hari. Maka dari itu Asih memiliki emas semahal itu. Mungkin saja Asih merampoknya dari seorang kolektor ternama.
"cepat tangani anak itu, atau kupastikan malam nanti benda ini akan menyapa kulitmu." ancam Asih penuh dengan penekanan.
Petugas itu semakkn bergidik. "dasar, gadis gila..!!" bathinnya.
Lalu Ia melakukan apa yang diminta oleh Asih. Maka penanganan Kaila segera dilakukan.
Lalu Asih berbisik kepada petugas itu "aku akan melunasi biayanya, maka lakukan yang terbaik.." ucap Asih dengan tatapan dingin dan kejam.
Petugas itu mengangguk dengan tubuh yang bergetar. Ia tidak menyangka jika harus mengalami hal buruk pagi ini, dengan bertemu keluarga pasien yang sangat menakutkan.
Asih tersenyum sinis kepada petugas itu.
"ternyata kehidupan di kota semuanya diukur oleh uang dan penampilan..!" Asih berguman lirih.
Lalu Ia berjalan menghampiri Rumini.."Dimana aku dapat menjual emas bu..?" tanya Asih berbisik agar tidak didengar oleh yang lainnya.
"apakah kamu memiliki emas untuk dijual..? Tetapi apakah kamu tidak sayang jika emas milikmu melayang..?" tanya Rumini merasa tak enak. apalagi Asih hanya baru dikenalnya tadi malam. Lalu dengan tiba-tiba datang seperti malaikat yang memberikan kemurahan hatinya untuk menolong Kaila.
"mungkin ini jawaban atas doaku selama ini.." Rumini berguman falam hatinya.
"apa ibu tau dimana aku dapat menjualnya.?" bisik Asih kembali, lalu menyadarkan Rumini yang sedang melamun.
"ada.. Didepan sana, cari saja toko yang bertusikan 'Toko Mas', maka itu menerima penjualan emas." jawab Rumini gugup.
"baiklah, aku akan mencarinya. Ibu jaga Kaila disini. Aku akan segera kembali." ucap Asih menegaskan.
Rumini mengangguk, menyetujui usul Asih.
Saat Asih akan melangkah meninggalkan Rumini, tiba-tiba saja wanita itu berbisik kepadanya."kamu pandai baca tulis gak..?" tanyanya hati-hati.
"aman tu.. Jangan khawatir, ibuku sudah mengajariku baca, tulis dan hitung!!" ucap Asih sembari melenggang bergegas pergi.
Rumini memandangi kepergian Asih. "Kamu malaikatku.. Bidadari tersembunyi.." Rumini berguman lirih.
Lalu terdengar seorang perawat memanghilnya, untuk menemui dokter yang akan menangani operasi pencangkokan jantung untuk Kaila.