Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pertemuan-2



Asih tak menyangka akan bertemu Ibunya dirumah ini. Namun Ia penasaran mengapa Ibunya sampai berada ditempat ini dan hidup ditengah Kota.


"Waktu itu Asih sudah pulang ke Goa, tetapi mengapa Ibu tidak ada disana?" tanya Asih kepada Dina.


Dina tersenyum dengan ringan. "Romomu yang menculik Ibu, dan tidak mengijinkan Ibu kembali ke goa" jawab Dina tenang.


"Lalu mengapa Ibu bisa sampai disini?" tanya Asih lagi.


"Sebab Ibu merayu Romomu, agar memberikan ijin untuk bertemu denganmu" jawab Dina tenang.


Asih menganggukkan kepalanya "Dasar, Romo nakal" ucap Asih dengan asal.


Dina mengajak Asih untuk duduk disofa yang tampak berantakan dengan meja kaca pecah berhamburan dimana-mana.


"Lalu Dimana Kak Chakra? Di goa Asih juga tak bertemu dengannya" tanya Asih kembali.


Dina menghela nafasnya dengan berat "Kakakmu saat sadar dari komanya waktu itu tidak mendapati Ibu yang dibawa oleh Romomu ke istananya. Sedangkan kamu pergi ke kota.


Setelah kesembuhannya pulih, Ia mencoba mencarimu ke kota, karena berfikir kamu diculik oleh orang-orang Kota yang membawa Kudamu" jawab Dina.


Seketika Edy terhenyak mendengar penuturan Dina. Ia merasa sangat malu karena yang menyebabkan kekacauan ini semua juga atas kesalahan dan juga Papanya yang membawa Kuda tersebut.


Edy seakan tak mampu menunjukkan wajahnya.


Rasanya Ia ingin menghilang dari hadapan orangtua Asih.


Sesaat Ia akan menyelinap untuk pergi keluar dari rumah itu.


Ia mengendap-endap dari anak tangga dan keluar dari dapur lalu menuju rumah Papanya yang tak begitu jauh dari rumah tersebut.


Saat sebelum bertemu dengan orangtua gadis itu Ia begitu sangat menggebu ingin melamar Asih, namun saat mendengar terpisahnya keluarga itu akibat dari perbuatannya saat menculik Kuda Bara Sembrani, membuatnya merasa bersalah.


Sesaat Asih menyadari jika Edy masih berada dilantai dua.


Asih memutar tubuhnya, dan melihat kearah Edy. Namun tak terihat. Asih mencoba mencarinya ke lantai dua. Namun tak terlihat kemana perginya pemuda itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Asih merasa kehilangan. Ia seperti merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.


"Siapa yang Kamu cari?" tanya Dina dengan tenang.


Asih tersentak dengan pertanyaan Ibunya. "Emmm.. Tadi Asih bersama teman, saat datang kemari" jawab Asih lirih.


Dina melihat wajah puterinya, lalu mencoba menebak apa yang sedang dirasakan oleh puterinya. "Seorang pemuda kah?" tanya Dina.


Asih menganggukkan kepalanya dengan lemah.


"Ia telah kembali ke rumah orangtuanya.."jawab Dina, lalu menyeret tubuh Wei yang tak berkutik lagi.


"Kanda... Datanglah.." ucap Dina.


Lalu seketika sebuah desiran angin yang menyapa tubuhnya. Sesaat muncullah sosok pria tampan dihadapannya.


"Ada apa, Dinda" ucap Pria yang tak lain adalah Bromo.


"Tolong Kanda bantu Dinda untuk singkirkan tubuh ketiga pria ini ditempat yang jauh" pinta Dina dengan lembut.


"Baik, Dinda sayangku" ucap Bromo lalu hanya dengan kerlingan mata saja sudah memindahkannya ketempat yang sangat jauh disebuah desa terpencil.


Sementara itu, Asih berlari menghamburkan dirinya kepelukan Romonya.


"Romo" ucapnya dengan lirih.


Bromo mengecup ujung kepala puterinya. Lalu membelai lembut rambut puterinya.


"Ada apa puteriku? Kelihatannya Kau begitu sangat gelisah" tanya Bromo dengan lembut.


Asih hanya menggelengkan kepalanya. Mencoba membohongi perasaannya.


"Tidak ingin berbagi cerita dengan Romo?" tanya Bromo dengan lembut.


Asih terdiam dalam dekapan Romonya.


"Romo... " ucap Asih lirih. Namun Ia tak ingin melanjutkannya.


Bromo hanya tersenyum lalu mengerjapkan kedua matanya. Sesaat Bromo menghilang dalam sekejap saja, dan tak lagi terlihat.


Seketika Asih terdiam. "Dimana Kak Chakra sekarang, Bu?" tanya Asih mencoba melupakan tentang pemuda itu sekejab saja.


Bersama seseorang disuatu tempat yang tak jauh dari sini" Jawab Dina, sembari memberes kekacauan yang ada.


"Aku akan mencarinya" ucap Asih.


"Esok saja, dan beristirahatlah.." Dina menyarankan.


Sementara itu, Edy menyelinap masuk kedalam kamarnya, lalu menguncinya dan menghempaskan tubuhnya ditepian ranjangnya.


Ia tak tahu dengan hatinya, namun yang jelas Ia tak memiliki keberanian untuk bertemu kedua orang tua Asih.


Edy bagaiakan buah simalakama. Disatu sisi Ia tak dapat jauh dari gadis itu, namun disatu sisi Ia merasa bersalah atas segala yang ditimbulkan akibat perbuatannya masa itu.


Edy masih mengurung dirinya didalam kamar, sementara itu Asih juga uring-uringan didalam kamarnya.


Ia tak mengerti mengapa Edy pergi begitu saja tanpa memberitahunya. Apakah pemuda itu sudah tak ingin lagi bersamanya, apalagi Ia juga mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya yang mana manusia setengah siluman.


Tak berselang lama terdengar suara ketukan pintu dikamar Asih.


Ternyata Dina yang mengetuknya.


Asih membuka pintu tersebut dan membiarkan Ibunya masuk.


"Sedang memikirkan apa?" tanya Dina dengan lembut.


Asih menggelengkan kepalanya. Namun raut wajahnya tampak begitu terlihat gurat kecemasan.


"Kamu menyukainya?" tanya Dina dengan penuh selidik.


Asih terdiam dalam kebisuan.


"Ibu tidak merestuimu jika bersmanya" ucap Dina dengan penuh penekanan.


Seketika Asih terhenyak mendengar ucapan Ibunya.


"Ibu tau darimana?" tanya Asih penasaran.


"Kamu tidak perlu bertanya darimana Ibu mengetahuinya. Jika masih ada pilihan lain, maka pilihlah yang kedua" ucap Dina dengan nada dingin.


"Tetapi apa alasannya, Bu?" Cecar Asih.


"Ibu tidak ingin mengungkapkan apa alasannya" jawab Dina, lalu pergi meninggalkan Asih yang masih terdiam dalam keheningan.


Dina meninggalkan kamar Asih, lalu menutup pintu kamar tersebut.


Ia bersandar sejenak didinding kamar Asih, memejamkan matanya dalam keheningan "Maafkan Ibu, Asih. Ibu tidak ingin darah yang mengalir dipemuda itu adalah darah seorang pria yang telah memberikan luka dihati Ibu dan juga kakakmu Chakra.


Kemudian Dina menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya ditepian ranjang. Sesaat bayangan pria itu datang dengan mengusik kenangannya.


Ia yang dulu begitu polosnya menaruh rasa cinta pertamanya terhadap pria itu dengan berbagai harapan dan impian.


Namun pria itu dengan mudahnya mencampakkannya begitu saja.


Seketika Dina menyeka air matanya. "Tidak perlu menangisi pria brengsek seperti itu.." Dina berguman dalam hatinya.


Ia menghela nafasnya, mencoba membuang segala rasa yang ada dan juga membuang semua kenangan yang sangat menyakitkan itu.


Sementara itu, dikamar lainnya. Pria bernama Andre seperti orang yang sedang linglung dan tak mampu memendam rasa penasarannya terhadap seorang wanita penghuni rumah mewah itu.


" Apakah itu Dina? Mengapa Ia begitu sangat mirip dan Aku seperti mersakan getaran hatiku yang begitu sangat kuat?" Andre sangat begitu tersiksa.


Ingin rasanya Ia menyambangi rumah tersebut dan mengintai sipemilik rumah yang begitu sangat membuatnya tak tenang.


Rasa penasaran itu melebihi rasa perasaannya yang tengah gunda gulana .