Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 214



Mentari bersinar menerpa kulit wajah sang wanita yang membuatnya begitu terlihat sangat cantik dan penuh pesona.


Ia mengerjapkan kedua matanya, menatap sekelilingnya yang mana banyak pria berseragam hitam dengan dilengkapi senjata tajam dan juga senjata api.


Wanita yang tak lain adalah Asih, mencoba beranjak dari lantai yang dingin dan duduk memandangi sekelilingnya sekali lagi.


"Edy.. Dimana dia?" guman Asih dengan lirih.


Seketika Robert datang menghampirinya "Hello, Cantik.. Apakah kau mencari seseorang?" tanya Robert sembari memegang dagu Asih dan menengadahkannya.


"Ah..sial..!! Dia terlalu cantik dan memesona" maki Robert dalam hatinya saat melihat wajah itu dari dekat.


Asih menepiskan tangan pria itu sembari menatapnya tajam "Dimana suamiku?!" tanya Asih dengan nada penuh emosi.


Robert tertawa kecil "Oh..dia suamimu? Tenanglah.. Aku meletakkannya pada sebuah tempat yang sangat nyaman, dan nanti aku akan memeperlihatkannya padamu, sebagai bahan pertimbangan agar kau menuruti keinginanku" jawab Robert yang sebenarnya sangat gemas melihat wajah kesal Asih.


"Apakah tendanganku waktu masih kurang untukmu?" tanya Asih dengan raut wajah kesal.


Robert tertawa mendengar ucapan Asih "Masih.. Tapi jangan sekeras, cukup penuh perasaan dan itu akan membuat lebih enak" jawab Robert yang membuat Asih semakin muak.


Asih berusa untuk bangkit, dan saat bersamaan, Ia melihat Sebuah kerangkeng besi yang mana didalamnya Edy sedang masih dalam kondisi tak sadarkan diri. Sepertinya pengaruh obat bius itu masih membuatnya terlelap.


Asih menatap Robert dengan tatapan tajam "Dasar, Pengecut..!! Memalukan!" maki Asih dengan sorot mata tajam.


Robert hanya tertawa sinis mendengarnya.


"Bagaimana? Kita mulai permainannya?" tantang Robert, lalu menyiramkan satu ember air kepada Edy yang membuat pria itu tersentak dan terbangun.


Dengan kepala yang terasa sangat sakit, Edy mencoba menajamkan pandangannya yang masih terlihat kabur.


Sesaat Ia terkejut melihat dirinya berada didalam kerangkeng besi, yang mana dibawahnya berada kolam air dan dialiri sengatan listrik.


Sedangkan posisinya saat ini Ia sedang digantung bersama kerangkeng besi tersebut "Siaaall..!!" maki Edy dengan sangat kesal.


Robert tersenyum licik menatap Asih. "Bagaimana? Kita mulai permainannya? Sekarang kamu serahkan berlian kuno yang kamu miliki" ucap Robert, sembari menjulurkan tangannya kepada Asih.


Asih menyipitkan matanya dan menatap pada pria itu, lalu Ia tersenyum dengan sinis.


Asih merogoh kantong saku celananya, lalu menyerahkan sesuatu kepada Robert, dan sesaat senyum Robert berubah menjadi senyum kesal, karena Asih memberikannya batu kerikil.


"Kau coba ingin bermain-main denganku rupanya?" ucap Robert, lalu melirik ka arah Edy.


"Turunkan katrolnya, dan pasang penyengat listriknya" titah Robert kepada Bodyguardnya.


Lalu Bodyguard itu menurunkan katrol hingga menyentuh kolam air dan juga memasang penyengat listrik tersebut.


Seketika tubuh Edy mengejang tersengat aliran listrik tersebut, dan Asih membolakn matanya, menatap pada Robert.


"Cukup..!!" teriak Robert dan menatap pada Asih.


Lalu Asih kembali merogoh saku celananya, dan memberikan satu buah permata white diamond yang berukuran lumayan besar kepada Robert.


Pria itu menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia begitu takjub dengan apa yang kini sedang dilihatnya.


"Lepaskan suamiku, Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, Bukan??" tanya Asih dengan tatapan tajamnya.


Seketika Robert mengulum senyumnya, lalu menyimpan batu permata tersebut dengan cepat ke saku celananya dan menatap pada Asih dengan tatapan penuh kelicikan.


Ia berjalan menghampiri Asih, dan mengikis jarak diantara mereka.


"Belum, Sayang.. Aku ingin Kau melayaniku diranjang hangatku. Melihat kelihaianmu, kau pasti sangat agresif sekali" ucap Robert dengan tatapan penuh liar.


Robert tertawa dengan geli mendengar ucapan Asih.


"Ayolah, Kucing liarku..!!" ucap Robert yang seolah sudah tak sanggup menahan gejolak di jiwanya.


"A-apa? Kucing liar? Aku bukan kucing liar..!! Mungkin Kau tidak tahu jika sebenarnya Aku ini adalah Buaya liar..!" jawab Asih dengan senyum seringai.


Robert membolakan matanya, lalu tersenyum mengejek "Woo.. Benarkah?" ucap Robert yang mengira ucapan Asih adalah sebuah lelucon belaka.


"Ya.." jawab Asih yang dengan cepat dan tak terduga menendang kembali lato-lato milik Robert yang membuat pria itu mengerang kesakitan tertahan dan mundur beberapa langkah.


Melihat bos mereka diserang, para bodyguard menyerang Asih dengan menembakkan senjata apinya secara beruntun.


Asih meraih pedangnya, lalu menangkis semua serangan peluru tersebut, sembari melemparkan 5 buah shuriken sekaligus kepada para bodyguard itu.


Lima orang tertusuk shuriken dan tersungkur dilantai. Lalu Asih melesat melayang melewati para bodyguard yang menghadangnya dan menuju katrol penghubung dengan pedangnya memutuskan katrol tersebut, lalu menendang kerangkeng besi menjauh dari kolam air, dan dengan cepat membuka gembok tersebut dengan sekali penggal.


Edy segera keluar dari tempat itu, dan para bodyguard tersebut memberondongkan peluru dengan sangat cepat dan Asih mencoba menangkisnya dengan cepat, lalu Ia melemparkan bom molotov ke arah para bodyguard tersebut, dan.


Buuumm..


Ledakan dahsyat memporak-porandakan Villa tersebut, sementara Asih dan juga Edy sudah menghilang terlebih dahulu.


Beberapa orang tewas dengan tubuh hancur terkena ledakan bom, sedangkan yang lainnya terluka parah akibat tertimpa reruntuhan bangunan.


Robert mengerang kesakitan saat menyadari jika kakinya tertimpa reruntuhan dinding batu yang membuatnya tak mampu bergerak.


Robert meraih phonselnya, meminta Lukas datang untuk membawa dokter dan juga menyelamatkannya dari bahaya yang menimpanya saat ini.


Lukas yang mendapatkan pesan tersebut, lalu bergerak mengirimkan bantuan.


Saat tiba ditempat tersebut, tampak Villa sangat kacau. Lalu Lukas mencari keberadaan Robert diantara reruntuhan bangunan yang mana memperlihatkan pemandangan yang sangat mengerikan.


Beberpa potongan tubuh yang berhamburan dimana-mana karena ledakan yang sangat dahsyat dan juga membuat bulu kuduk merinding.


"Kak Robert.." teriak Lukas mencari keberadaan Robert yang belum terlihat.


Sesaat suara erangan yang terdengar sangat memilukan dan membuat menyayat hati dari sebuah runtuhan bangunan.


Lukas mengarahkan pandangannya pada sebuah bongkahan diinding yang tampak menimpa tubuh seseorang.


"Kak Robert.." teriak Lukas sembari menyingkirkan bongkahan runtuhan dinding tersebut dan memperlihatkan kaki Robert yang tampak mengeluarkan darah.


Setelah berhasil mengevakuasi Robert, tampak kaki kanannya patah dan hal ini membuat Robert tak sadarkan diri dan segera dilarikan kerumah sakit sebelumnya mendapatkan perawatan awal.


Sesampainya di rumah sakit, Robert mendapatkan perawatan dan dinyatakan jika kakinya harus diamputasi karena mengalami patah tulang yang cukup parah.


Sementara itu, Asih dan juga Edy sudah kembali kedahan pohon tempat dimana mereka merasa nyaman.


Asih membenahi pakaiannya, dan merasa sangat kesal saat dikatain kucing liar oleh Robert.


Edy masih sangat lemah saat terkena sengatan listrik oleh Ulah Robert tadi. Asih memandangnya dengan penuh Iba.


"Masih sakitkah?" tanya Asih lirih, sembari membelai lembut wajah Edy yang tampak memucat


Edy menganggukkan kepalanya dengan lemah


Lalu Asih menempelkan kedua telapak tangannya dipunggung Edy, dan menyalurkan tenaga dalamnya untuk membuat Edy kembali mendapatkan energinya.