Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 238



Edy masih terjebak dalam pertarungan dengan para mutan yang dikirim oleh Wei.


Sepertinya Wei sengaja mengirimkan para mutan-mutan itu untuk menghalanginya sampai ke markas dan menemukan dimana batu mustika tersebut.


Dan siaalnya Wei dapat melacak keberadaan dimana Edy berada melalui pendeteksi bati mustika mirah delima yang bersemayam ditubuhnya.


Edy memutarkan kusarigamanya diatas kepalnya dan dengan gerakan cepat Ia mengaitkan kepala mutan-mutan itu hingga terpenggal dan menjadi serpihan.


Namun dari kejauhan tampak ratusan mutan kembali datang membuat Edy harus siap dengan segala kemungikinannya.


Edy meraup pasir berdebu, dan saat para mutan itu datang menyerangnya, Pria itu menaburkannya dan seketika mutan itu menjadi serpihan.


Edy merasakan ini sangat menyebalkan karena Wei tak memberinya bernafas untuk terus menghadapi para mutan tersebut.


Melihat mutan-mutan itu masih berada dibelakangnya, Edy kembali memasuki mobil dan mengunci semua pintu dan menutup rapat kacanya.


Edy mengemudikan mobil tersebut kembali kejalanan dan membuat kecepatan yang tinggi.


Mutan-mutan itu terbang mengikutinya diatap mobil.


Sebagian dari mereka menggunakan senjatanya untuk menembus atap mobil dan menancapkan ujung pedang mereka yang menembus dengan cepat dan hampir saja mengenai kepala Edy.


Sedangkan sebagian mutan lainnya terbang disisi pintu mobil dan berusaha menembus pintu mobil dengan pedang mereka, bahkan ada yang memecahkan kaca mobil.


Edy meraih anak panahnya, dan saat kepala mutan itu menyembul masuk Ia menusukkannya dan membuat mutan itu menjadi serpihan.


Edy terus menyetir dan berusaha membuat mutan itu terkecoh.


Namun salah satu mutan mencoba menerobos masuk melalui kaca pintu mobil yang sudah pecah, dan dengan cepat Edy menusukkan anak panahnya kepada mutan itu sembari terus menyetir.


Dan tanpa diduga, Edy hilang keseimbangan dan mobilnya tergelincir dari badan jalan lalu terguling disisi jalan.


Edy berusaha keluar dari mobil yang kini sudah terbalik dan membuatnya ikut terbalik.


para pasukan mutan yang masih tersisa terus ikut berusaha menerobos kaca mobil yang pecah.


Edy masih mengandalkan ujung anak panahnya untuk memusnahakan para mutan-mutan itu, dan berhasil keluar dari badan mobil dan merangakak untuk keluar, lalu tampak serbuan lagi dari mutan tersebut dan Edy kembali melemparkan pasir berdebu dan menaburkannya kepada para mutan itu.


Edy merangkak dipasir berdebu, jika bukan karena permata mirah delima yang bersemayam ditubuhnya, mungkin Ia sudah lemah dan tak berdaya, namun Ia masih dapat bertahan karena energi tersebut dan juga tenaga dalam yang pernah disalurkan Asih kepadanya.


Setelah dapat mengontrol dirinya, Edy perlahan bangkit dan berdiri tegak. Tampak sangat lengang, sepertinya para mutan itu telah musnah, dan Ia memandang jalanan sepi yang tak ada satupun kendaraan yang lewat.


Sementara itu, disebuah pelataran belakang rumah sakit, seorang wanita berambut cepak dan bergaya tomboy sedang menatap serpihan sosom yang baru saja Ia robohkan.


Ia bingung bagaimana sosok itu dapat berada ditempatnya dan membawa racun tersebut.


Rere celingukan kesana kemari dan mencoba memperhatikan keadaan sekitarnya, siapa tahu jika ada sosok misterius tersebut yang tiba-tiba menyerangnya.


Rere bergegas menuju kehalaman depan rumah sakit. Ia mencari keberadaan Chakra yang tak terlihat disekitar tenda.


Rere mencoba mencari kedalam ruangan rumah sakit dan juga ruangan pasien tak luput dari pemeriksaannya, namun pemuda itu tak juga terlihat.


Entah mengapa Ia merasa khawatir akan keadaan pemuda itu, benih-benih cinta sepertinya telah tumbuh didalam hatinya.


Perasaan khawatir kian merasuk didalam hatinya, Ia terus mencari keberadaan pemuda itu.


Ia kembali keluar menuju halaman depan rumah sakit. Sesaat Ia mendengar suara pertarungan tak jauh dari tempatnya berdiri.


Rere dengan cepat berlari menuju ke sumber suara tersebut. Ia menyusuri gang tersebut, dan benar dugaannya, Chakra sedang diserang oleh sosok yang tadi menyerangnya.


Rere melihat Chakra tersungkur karena mendapat tendangan dari sosok tersebut.


Rere tidak dapat menyimpulkan sebenarnya sosok itu jenis apa dan ini baru pertama kalinya Ia lihat dan tak pernah terbayangkan akan bertemu dalam hidupnya.


Chakra menarik pedangnya yang tersimpan dipinggannya, lalu menghunuskannya kepada sosok yang tak lain adalah mutan tersebut.


Namun saat menembus dada mutan itu, tidak berpengaruh pada mutan itu sama sekali.


Rere yang melihat hal tersebut bergerak dengan cepat dan menusukkan kepala mutan tersebut dan membuat mutan itu hancur menjadi serpihan


Chakra terperangah melihatnya, bagaimana mungkin Rere dengan mudah mengalahkan sosok tersebut.


Rere membantu Chkara untuk bangkit "Bagaimana Kau bisa tau jika itu kelemahannya?" tanya Chakra penasaran.


"Sebab hanya kepalanya saja berubah wujud" jawab Rere dengan cepat.


"Siapa sebenarnya mereka?" Guman Chakra dengan bingung.


Rere mengangkat kedua bahunya "Entahlah.. Mungkin juga hasil revolusi perpaduan gen manusia dan hewan, atau juga iblis" jawab Rere mencoba mengutarakan pendapatnya.


Chakra tersmdiam. Ia teringat akan Asih, sang adiknya. Andai Asih berada didekatnya saat ini, mungkin Ia akan dengan mudah menghadapi semua cobaan yang sedang dihadapinya.


Bahkan Chakra juga tidak mengetahui dimana keberadaan adik perempuannya itu, hilang bagaikan ditelan bumi.


Sedangkan ibunya juga pergi menghilang, dan hanya meninggalkan rumah mewah untuknya.


Rere melihat Chakra tampak termenung dan memikirkan sesuatu "Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Rere penasaran.


Chakra memandang pada Wanita itu "Adik perempuan dan Ibuku yang tiba-tiba menghilang begitu saja" jawab Chakra dengan lirih.


Rere mengerutkan keningnya "Masa, Sih.?" tanya gadis tomboy itu dengan penuh penasaran.


Chakra mennanggukkan kepalanya "Ya.. Dan itu benar, Aku tidak mempercayai jika harus berpisah dengan mereka lagi.


"Mungkin adik perempuan dan ibumu sedang mudik pulang kampung" jawab Rere asal.


Seketika Chakra terdiam "Tetapu mengapa tidak mengabariku?" tanya Chakra penasaran.


"Mungkin mereka sudah mengirimimu pesan WA, dan kamu belum melihatnya" jawab Rere mengingatkan.


"Pesan WA..? Apa itu?" tanya Chakra penasaran.


Seketika Rere menepuk keningnya, mungkin Ia melupakan jika Chakra pemuda unik yang pernah temui karena tidak mengenal dunia teknologi dan infomasi.


"Emm.. Bukan apa-apa, hanya makanan ringan saja" jawab Rere cepat, dan Ia beranjak dari tempatnya "Ayo pergi, masih ada tugas lain yang harus kita kerjakan. Bisa saja para makhluk iblis itu sudah menyusup di tempat lain" ucap Rere mengingatkan.


Chakra menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti arah Rere melangkah "Sekarang kita bagaimana? Apakah berpencar untuk mencari penyusup itu? Mungkin saja mereka tersebar ke segala tempat" ucap Chakra.


Rere menghentikan langkahnya "Jikapun tersebar pastinya disetiap rumah sakit, sebab hanya rumah sakit yang ramai saat ini" jawab Rere dengan nada penjelasan yang akan membuat Chakra mengerti.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya, mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Rere.