Buhul ghaib

Buhul ghaib
Memutar Arah-2



Dina melihat sebatang pohon yang tumbuh tinggi menjulang di dekatnya, Ia akan menjadikan pohon itu tempat berlindung untuk malam ini.


Sebenarnya jika Ia menggunakan jalur biasanya, maka hanya akan menempuh satu hari perjalanan, namun karena Ia memutar arah, Ia memakan waktu hingga dua malam lebih.


Niatnya ingin menghindari Jahadi, namun harus menghadapi tantangan yang lebih banyak lagi.


Sesampainya diatas dahan pohon, Dina menyandarkan tubuhnya. Ia bersedekap dengan kedua tangannya, merapikan pakaiannya yang robek.


Ia ingin memanggil Bromo, sang Suami, namun ternyata Suaminya sedang berada di istana ghaib dan sedang menjalani rapat bersmama para bawahannya.


Dina mencoba mengusir rasa sepi dan juga dingin yang menusuk tulangnya. Sesaat dari atas pohon, Ia melihat seperti ada api unggun di kejauhan. "Siapa mereka? Apakah kelompok pertama yang melakukan pembakaran api unggun itu?" Dina berguman lirih.


Namun Ia mencoba tak perduli, Ia harus mencari cara untuk menghindari jalan tersebut, agar tak bertemu dengan para bajingan lainnya.


Dina memejamkan matanya, mencoba beeristirahat dari perjalanannya yang sangat melelahkan.


Sementara itu, kelempok diseberang sana, sedang melakukan peristirahatan. Mereka memastikan jika sehari lagi mereka akan sampai dipuncak bukit, dan sesuatu yang mereka cari akan segera ditemukan.


Rocky yang sedari tadi hanya diam, merasakan tubuhnya semakin melemah. Banaspati yang menghisap energinya malam itu kejadian itu, sungguh telah membuatnya tak berdaya.


Ia kini semakin melemah, lalu tak mampu menahannya, Ia memilih untuk segera tidur.


Sementara itu, ke lima rekannya sedang bersiap untuk untuk menyantap hasil buruan mereka. Kali ini mereka memakan buruan ikan mas. Karena posisi mereka dengan aliran sungai. Mereka makan dengan sangat lahabnya.


Namun mereka juga mendapatkan seekor biawak yang berukuran lumayan cukup besar, dan mereka berniat, jika daging biawak itu untuk sarapan pagi mereka.


Sang Big Bos yang sudah merasa cukup kenyang, memerintahkan dua orang berjaga secara bergantian. Setelah mengeluarkan titahnya, Ia pun segera beranjak tidur.


Ketiga rekan lainnya mulai tidur, dan Sani juga permisi untuk tidur "Jodi, ntar kalau kamu ngantuk bangunin Aku ya, Aku tidur duluan" ucap Sani, sembari mencari posisi ternyaman untuk tidur.


Jodi menganggukkan kepalanya, dan mulai mengawasi lokasi untuk berjaga.


Ia baru kali ini mendapat tugas untuk berjaga malam, biasanya Ia bertugas untuk berburu.


Sesaat Ia memandangi Rocky yang tampak menggigil karena kedinginan. Ia mencoba melepaskan jaketnya, dan beranjak dari tempat duduknya, lalu menyelimuti Rocky yang tampak menggigil.


******


Sinar mentari menerobos dedaunan tempat Dkna bertengger. Ia menggeliatkan tubuhnya, lalu mengedarkan pandangannya.


Ia melihat aliran sungai tak jauh dari tempatnya berada. Ia mencoba melompat turun dan menuju aliran sungai.


Memastikan tak ada sesiapapun, Ia mencoba melepaskan sebagian pakaiannya, dan membenamkan diri dialiran sungai tersebut. Meskipun terasa sangat dingin, namun Ia menyukainya.


Sementara itu, dua orang bawahan yang berada dikelompok penguntit tersebut sedang berjalan turun menuju aliran sungai. Mereka berniat akan mengambil air untuk minum dan juga buang air.


Namun pandangan mata mereka tertuju pada setumpuk pakaian diatas batu besar, dan mereka meyakini jika itu milik seorang wanita.


"Menurutmu, kira-kira itu manusia atau bukan?" ucap seorang diantara mereka, bertanya kepada rekannya.


Rekannya yang ditanya mengernyitkan keningnya "Kemungkinan manusia? Tetapi disekitar sini tidak ada rumah penduduk" rekannya itu mencoba mengungkapkan pendapatnya.


Keduanya kembali ragu, namun juga penasaran.


"Kita periksa saja" seorang diantara mereka mencoba menyarankan. Lalu keduanya saling mentatap satu sama lain dan menganggukkan kepalanya.


Mereka berjalan mengendap, bersembunyi dibalik pepohonan, dan ketika jarak mereka sudah mulai cukup dekat, keduanya terperangah melihat kecantikan wanita yang sedang bermain air tersebut.


"Gila... Cantik bener! Kenapa ditengah hutan belantara ini ada wanita secantik dia?" keduanya saling berbisik dan menatap takjub.


"Tunggu, jangan gegabah. Ingat, Roby tewas menghilang dengan cara misterius, dan menyisakan sisa cairan puncaknya" seirang diantara mereka mencoba mengingatkan.


"Iya, jangan-jangan wanita itu pelakunya, Ia sengaja menjebak Roby dengan kemolekan tubuhnya" Jack yang bertubuh kekar itu menimpali.


"Lalu, kita harus bagaimana? Aku gak tahan juga lama-lama melihatnya" ungkap Black, yang memiliki kulit sangat gelap.


Black mengangguk menyetujui. Lalu keduanya mengendap-endap untuk menghampiri wanita yang sedang mandi tersebut.


Setelah jarak mereka cukup dekat, mereka berniat menyergap Dina yang tampak lengah. Keduanya menyergap Dina secara bersamaan.


Seketika Dina terperanjat, kaget karena mendapat sergapan secara tiba-tiba saat Ia lengah.


Kedua pria itu terkekeh melihat Dina yang kini dalam kungkungan mereka.


Seketika Dina mencoba mencari celah bagi keduanya yang kini tampak kelaparan "Kau sungguh cantik sekali sayang, mengapa Kau berada sendirian disini" tanya Jack yang sudah sangat tak sabar.


Dina mencoba tersenyum memandang Jack yang tampak sangat liar "Tenanglah, jangan main keroyokan. Bisa Kita lebih santai" ucap Dina mencoba bernegosiasi.


Keduanya tertawa dengan sangat menjijikkan. "Baiklah sayang, Kita akan bermain dengan santai" ucap Black yang mencoba melepaskan cengkramannya.


"Baiklah, siapa dulu yang akan Aku layani" ucap Dina mencoba merapikan rambutnya yang basah, sehingga membuat keduanya semakin menggila.


"Aku yang melihatmu terlebih dahulu, maka Aku yang pertama mendapat pelayanan" Black mengajukan dirinya.


"Baiklah, kemarilah sayang" ucap Dina mencoba menggoda si pria berkulit gelap tersebut.


Sesaat pria itu mendekat, Dina mengeluarkan ajian tapak geninya.


Buuuuugh...


Sebuah pukulan yang mengenai perut pria tersebut.


Aaaarrrrgh..


Teriak pria berkulit gelap itu mengerang kesakitan. Tampak bekas kehitaman seperti hangus membekas dikulit perutnya yang gelap tersebut.


Seketika Jack membeliakkan matanya, melihat rekannya tersungkur ditepian sungai dengan luka yang cukup parah.


Melihat semua itu, Jack mencoba menyerang Dina. Ia kini tidak bisa meremehkan wanita itu begitu saja.


Dina melompat keatas batu, lalu membalas serangan Jack yang ditujukannya secara bertubi-tubi.


Dina menangkap pergelangan tangan Jack, lalu memelintirnya dan memberikan serangan balik, dengan kembali menggunakan ajian tapak geninya, lalu mengenai punggung lawannya.


Aaaaaargh...


Teriakan kesakitan Jack menggema hingga keseluruh hutan, dan Ia tersungkur ditanah berpasir.


Setelah mendapati lawannya tak berdaya, Dina melompat keatas batu, lalu memunguti pakaiannya dan segera mengenakannya.


Kemudian Ia berjalan dengan langkah cepat, menemukan Kuda milik Chakra, dan memacunya dengan kencang.


Sementara itu, Big Bos dari kelompok yang sedang menikmati daging biawak sebagai sarapananya itu menghentikan kunyahannya.


Ia merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres dengan kedua bawahannya yang bertugas mengambil air disungai untuk minum.


Sudah sedari tadi mereka ke sungai, namun tak juga kelihatan batang hidungnya.


"Sani, Jodi...coba periksa kedua orang yang mengambil air minum disungai, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres" titah Big Bos mereka kepada Sani dan Jodi.


Keduanya menganggukkan kepalanya, lalu turun untuk memeriksa.


Sesaat Bos mereka mendengar suara derap langkah kaki kuda tak jauh menuju arah mereka. Seorang bawahannya memandang Bos mereka, dimana Ia juga mendengar suara derap langkah kaki kuda tersebut.


"Ada yang menuju kemari? Tetapi siapa? Bukankah gadis itu sudah terlebih dahulu didepan Kita" ucap Bos tersebut kepada bawahannya.


Keduanya saling pandang, dan mencoba bersembunyi dibalik pohon tersebut, untuk melihat siapa yang datang.