
"Apa maksudmu?" tanya Lee dengan rasa penasaran yang sangat besar.
Asih kembali menatap pemuda dihadapannya. Ikutlah denganku. Aku akan menunjukkan sesuatu denganmu" ucap Asih dengan tatapan serius.
Asih beranjak dari tempat duduknya, berjalan dengan melenggang dan penuh dengan keanggunan.
"Pantas saja Ia cantik, karena Ibu yang melahirkannya juga cantik" Lee berguman dalam hatinya, sembari berjalan mengikuti langkah kaki Asih.
Lee melihat jika Asih membawanya kesebuah tempat yang sepi dan sunyi. Sebab ini sudah hampir mendekati waktu pukul 2 dini hari.
Sebuah lokasi gang sempit tak berpenghuni, gelap dan juga terlihat menyeramkan.
Lee melihat jika Ia merasakan bulu kuduknya meremang. Mata bathinnya seperti terbuka dan melihat apa saja yang terlintas.
Lee merasa bergidik melihat semua itu. Karena dimana-mana Ia harus melihat berbagai makhluk astral dengan berbagai bentuk dan menyeramkan.
Sesampainya digang sempit tersebut, Asih menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya menghadap pemuda yang sedang mengikutinya.
Lee berhenti tepat dihadapan Asih. Lalu Asih mendekatinya, dan meraih bibir pemuda, menyesapnya dengan sangat liar dan penuh hasrat.
Lee terkejut dengan perbuatan Asih barusan. Sebab selama ini Lee yang selalu melakukannya.
Setelah merasa puas, Asih melepaskan sesapannya.
"Mengapa Kau begitu berbeda malam ini?" tanya Lee antara senang dan juga penasaran.
"Mungkin malam ini tetakhir kali Aku merasakan bibirmu" jawab Asih dengan nada lirih.
Lee yang tadi merasa senang seketika terdiam "Apa maksudmu? Apakah Kau akan meninggalkanku?" tanya Lee dengan perasaan cemas.
Asih menatap pemuda itu dalam kegelapan. "Kau yang akan meninggalkanku setelah mengetahui siapa Aku sebenarnya" jawab Asih dengan lirih.
Lee tak memahami apa yang dimaksud oleh Asih. Apa sebab ucapan gadis itu.
"Sekarang perhatikan Aku baik-baik. Lihatlah apa yang seharusnya Kau lihat, dan tentukan keputusanmu" ucap Asih. Lalu mengatupkan kedua tangannya didedapan dada.
Gadis itu memejamkan matanya, lalu mencoba berkonsentrasi memusatkan fikirannya. Tampak sebuah cahaya berkilau keluar dari tubuh gadis itu, dan seketika Tubuh Asih berubah dari batas pinggangnya menjelma menjadi seekor buaya dengan berkepala manusia.
Seketika Lee terperangah memandangnya, Ia tak berkedip memandang apa yang terlihat jelas dimatanya.
Lee tampak syok, diam tak bergeming dan tubuhnya bergetar saat melihat kenyataan yang ada.
Ia berharap jika ini hanyalah mimpi dan bukan kenyataan.
Lee terhenyak saat Asih kembali seperti semula, menjadi wanita normal.
Lee berjalan mundur beberapa langkah kebelakang, sedangkan Asih masih berdiri menatap Lee yang tampak begitu ketakutan.
Nafas pemuda itu sangat memburu dan begitu sangat sulit dikontrolnya.
"Tidak..tidak.. Ini hanya ilusi belaka" ucap Lee lirih sembari menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Asih masih terus menatapanya dengan tatapan sendu.
Ia tau jika akhirnya pemuda itu akan terkejut dan juga syok atas apa yang disaksikannya, namun lebih cepat Lee mengetahuinya, itu lebih baik, daripa harus Ia sembunyikan, sebelum perasaan pemuda itu terlalu dalam.
Lee memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan gadis itu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, ini terlalu mengejutkan buatnya.
Hingga Lee berada dijalan utama, Ia memesan taksi online didini hari, dan berharap masih ada taksi yang stanby.
Ternyata masih ada yang menerima orderan. Lalu Lee menunggu taksi itu dengan perasaan gelisah. Namun sesekali Ia melihat kearah belakang, jkka saja Asih mengikutinya, namun tak terlihat.
Sementara itu Asih tersedu. Ia berlari memutar arah jalan yang berbeda dari Lee.
Lalu berlari dengan membawa lukanya. Air matanya tampak jatuh tak terbendung. Ia terus berlari, hingga tanpa sadar Ia menabrak tubuh seseorang yang sedang berdiri tepat dihadapannya.
Ia menengadahkan kepalanya, lalu melihat pemilik wajah tersebut.
Sosok itu memeluknya erat, dengan begitu lembut dan cinta kasih.
Sementara itu, taksi yang dipesan oleh Lee telah tiba dan Lee buru-buru menaiki taksi tersebut.
Lee naik kedalam taksi, hatinya begitu sangat kacau dan juga bingung.
"Mengapa.. Mengapa ini harus terjadi? Seharusnya tak begini" Lee berguman dalam hatinya.
"Kita kemana Pak?" tanya sopir taksi itu dengan ramah.
Lee menyebutkan sebuah alamat, yang mana nantinya Ia akan meminta Rere untuk menjemputnya.
Disisi lain, Asih masih terus menangis dalam kesedihannya dan merasa jika Ia sedang dalam suasana yang sangat begitu kacau.
"Romo.." ucap Asih lirih dan mengeratkan pelukannya.
Lalu sosok yang dipanggil Romo itu membelai lembut ujung kepala puterinya, dan membawanya pergi menghilang entah kemana.
Saat Asih membuka matanya, Ia berada disebuah tempat yang sangat indah. Sebuah taman dengan pephonan rindang, sungai kecil yang berair jernih dan begitu menyejukkan.
Berbagai kupu-kupu warna-warni berterbangan kesana kemari dengan begitu sangat riangnya.
"Tempat apa ini Romo?" tanya Asih dengan perasaan yang takjub.
"Ini tempat untuk Kamu menghilangkan sejenak rasa lelah hatimu.
Bermainlah disini sesukamu. Jika nanti hatimu tergerak ingin pulang, maka panggil Romo" ucap Bromo, lalu membelai rambut puterinya.
Asih menganggukkan kepalanya, lalu menatap sendu pada Romonya.
Bromo memberikan senyum keteduhan pada Puterinya, lalu berpamitan untuk pergi.
Sepeninggalan Romonya, Asih duduk dibawah pohon rindang tersebut, lalu bermain air dengan sangat riangnya.
Seaaat tampak bayangan wajah Edy dan juga Lee yang saling bergantian menatap kepadanya.
Asih menyibakkan air tersebut hingga membuat riak dan mencoba menghapus bayangan wajah kedua pemuda itu.
Asih beranjak dari tepi sungai kecil tersebut. Lalu berjalan menuju dibawah pohon rindang, mencoba merasakan desiran angin yang membelai lembut.
Sementara itu, Edy sibuk dengan Papanya. Ia mencoba mengobati luka Andre, Papanya yang tampak parah.
Sementara itu, Dori mengajak Edy untuk membawa Andre keruang rahasia bawah tanah. Sebab dipastikan pihak aparat akan menggeledah rumah mereka karena telah ketahuan memiliki pabrik pembuatan uang palsu.
Edy terpaksa menuruti perintah Dori. Lalu mereka membawa Andre keruang rahasia bawah tanah.
Setelah menyelamatkan papanya, Edy keluar dengan menggunakan jaket hoodynya.
Kepergian Asih yang begitu saja membuatnya merasa sangat galau.
Di waktu yang hampir mendekati subuh tersebut, Edy berjalan menyusuri troatoar dan dengan perasaan yang sangat merasa bersalah Ia ingin meminta maaf kepada gadis itu.
Edy yakin jika Asih marah kepadanya. Apalagi Papanya telah melukai Kakaknya sehingga Edy merasa jika Asih membencinya.
Pemuda itu menyusuri trotoar dengan sangat gelisah. Ia telah sampai didepan rumah Asih. Namun Ia tak memiliki keberanian untuk itu.
Ia berharap Asih muncul dibalkon dan melihatnya.
Karena lama menunggu, akhirnya Edy tertidur didepan pagar rumah tersebut.
Hingga akhirnya Ia tersadar saat mentari menyapa kulitnya.
Edy mengerjapkan kedua matanya, mengusap dengan kedua tangannya.
Ia baru terasadar jika Ia menjadi pusat perhatian orang-orang yang melintas.