
Delia berlari menuruni anak tangga bawah tanah. Ia menyusuri lorong menuju sebuah kamar.
Saat ini Andre sedang menyusun rencana untuk melarikan diri ke luar negeri karena akan ada gerakan penggerebrekan kedua.
Andre sedang berbicara dengan Dori. Satu-satunya orang kepercayaannya yang masih hidup.
Dellia menerobos masuk kedalam ruangan tersebut yang membuat rasa marah pada Andre.
"Mengapa Kau begitu sembarangan masuk tanpa memberitahu dahulu" ucap Andre dengan nada tak suka.
Seketika Delia merasa tersinggung dengan ucapan Andre. Ia tak pernah mendapatkan perlakuan yang baik dari suaminya. Entah apa yang membuat pria itu bersikap acuh padanya.
"Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu tentang Ayahku" ucap Delia lirih.
"Keluar.. Saat ini Aku lagi sibuk.. Keluar kataku!!" ucap Andre dengan kesal.
Kalimat itu membuat goresan yang sangat dalam pada hati Delia.
Ia memasang wajah memelas sembari berjalan mundur dan memutar tubuhnya lalu berlari keluar meninggalkan ruangan tersebut.
Edy yang berpapasan dengan Mamanya merasa ada sesuatu yang tidak beres pada hubungan Mama dan Papanya.
Edy segera menghampiri Mamanya dan melihat wanita itu tampak begitu sangat bersedih.
"Ada apa, Ma?" tanya Edy dengan lembut.
Delia memandang wajah Edy, lalu mendekap puteranya.
"Mama sudah tidak tahan lagi menghadapi Papamu, kesabaran Mama sudah pada batasnya"Ucap Delia, sembari menyeka air matanya.
Edy tak mampu mengatakan apapun. Sebab itu adalah urusan keduanya. Disamping itu Edy juga mengetahui bagaimana sikap Papanya, maka hal wajar jika mamanya yang hanya seorang wanita desa tidak sanggup menghadapi semua sikap dan pekerjaan Papanya.
"Mama akan pulang hari ini. Namun mama ingin menitipkan sesuatu kepada orang yang sudah menyembuhkan kakekmu. Sampaikan ucapan terimakasih mama kepadanya." ucap Delia dengan hati yang sangat sakit.
Edy menganggukkan kepalanya. Lalu tampak olehnya, ibunya itu mengambil sebuah liontin memperlihatkannya kepada Edy. "Berikan ini pada wanita itu. Sampaikan ungkapan terimakasih Mama kepadanya" ucap Delia, sembari menyerahkan liontin tersebut.
"Akan Aku sampaikan, Ma. Tapi Edy tidak bisa mengantar Mama, Maaf ya, Ma" ucap Edy merasa bersalah.
"Tak mengapa, namun jaga dirimu baik-baik. Jangan mengikuti jejak Papamu, jadilah anak yang baik" pinta Delia kepada Edy.
Edy menganggukkan kepalanya. Lalu menyimpan liontin tersebut.
sementara itu, Lee yang memakan makan siangnya dengan rasa was-was segera menyudahinya.
Setelah itu Ia berpamitan dan Chakra memintanya untuk ikut.
Lee merasa bingung, sebab Ia telah berbohong kepada Rere jika tak menemukan Chakra. Karena merasa serba salah, akhirnya Lee mengijinkan Chakra ikut dengannya.
Chakra berpamitan kepada Ibunya dan juga Asih. Sementara itu Asih memasang wajah masam kepada Lee.
Lalu Lee dan juga Chakra menuju markas. Mereka akan melakukan penggerebekan sore ini dirumah Andre.
sementara itu, Edy mengantar Mamanya sampai dipagar rumah dan bersalam perpisahan dengan kakek dan neneknya.
Edy menatap nanar kepergian Mamanya. Setelah mobil itu tidak lagi terlihat, maka Edy berjalan menyusuri trotoar untuk menuju rumah Asih.
Setelah cukup jauh berjalan, Ia sampai didepan pagar rumah mewah itu.
Ia menatap rumah tersebut, ada keraguan, namun Ia harus menyampaikan amanah tersebut.
Edy nekad menghampiri rumah itu. Lalu mengetuk pintunya.
Tok..tok..tok..
Terdengar suara derap langkah kaki menuju pintu, lalu pintu terbuka.
Seketika Edy merundukkan kepalanya. "Ada apa?" tanya wanita itu berusaha tenang, meskipun gejolak didadanya begitu sangat kuat.
"Bolehkah saya masuk, Bu?" tanya Edy yang tak berani menatap wanita didepannya.
Lama wanita itu berdiri dan baru memberikan jawaban.."Masuklah.." jawab wanita itu.
Lalu Edy memberanikan dirinya memasuki rumah tersebut. Lalu duduk diatas sofa.
"Apa yang ingin Kamu bicarakan?" tanya wanita muda itu yang tak lain adalah Dina.
Edy tak menjawab pertanyaan itu, Ia hanya mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan memberikannya kepada wanita tersebut.
"Ini pemberian dari Mama saya. Ia ingin mengucapakan terimakasih karena Ibu sudah menyembuhkan kakek Saya, dan beliau menitipkan salamnya untuk Ibu." ucap Edy sembari menyerahkan liontin tersebut.
Dina meraihnya, memperhatikan liontin tersebut. Jika dibanding dengan apa yang dimiliki oleh bromo, maka liontin itu tidaklah ada apa-apanya sama sekali.
Namun Ia hanya mencoba untuk menghargai pemberian orang lain.
"Saya tidak mengharapkan imbalan apapun, saya ikhlas untuk menolong. Bawalah kembali liontin ini, dan berikan kepada Mamamu" ucap Dina dengan nada rendah.
"Jika saya bawa kembali liontin ini, maka saya tidak akan amanah kepada Mama saya, sebab Mama Saya juga sudah pulang kekampung halamannya" jawab Edy dengan lirih.
Sesaat Esy mendengar suara derap langkah kaki seseorang berasal dari dapur. Ia melihat Asih berada diambang pintu dapur.
Matanya tertuju pada gadis itu, tak berkedip. Sehingga gadis itu serba salah.
Rasa kerinduan pada gadis itu begitu membuncah, beberapa hari saja tak bertemu membuatnya begitu merindu. ingin rasanya saat ini Ia berlari dan memeluk gadis itu, namun rasa bersalah yang terjadi karena ulah Papanya yang menikam kakak gadis itu membuatnya tak berdaya.
"Saya permisi, Bu" ucap Edy, lalu beranjak pergi.
"Ya.. Jawab Dina singkat. Ia dapat melihat bagaimana mata pemuda itu untuk anaknya. Namun rasa sakit terhadap perbuatanya ayah dari pemuda itu Ia belum mampu menerimanya.
Edy beranjak pergi, menatap sejenak pada Asih, lalu terus pergi dan melangkahkan kakinya.
Meskipun langkahnya ragu, namun Ia tak berdaya.
Asih berlari menuju lantai, lalu menuju balkon. Dina yang melihat hal tersebut terhenyak melihat kelakuan puterinya.
Edy memutar tubuhnya, lalu menatap pada balkon dimana tempat gadis berdiri menatapnya.
Keduanya terpaku, menatap dengan perasaannya masing-masing.
Entah apa yang difikirkan Asih saat ini, Ia melompat dari atas balkon, dan berlari mengejar pemuda itu.
Setelah keduanya berhadapan, lalu keduanya saling berdekapan satu sama lain. Mereka seolah terikat dengan sesuatu yang mereka tidak ketahui.
"Apakah Kau memaafkanku?" tanya Edy dengan lirih.
Asih tak menjawab apapun. Sebab Iabtak tahu apa kesalahan pemuda itu, yang Ia tahu Papanya seorang kriminal.
Dina tercenung memandang dibalik tirai dinding kaca. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Haruskah Ia mebmngorbankan perasaan puterinya demi sebuah dendam pada Papa Pemuda itu. Dina menjadi dilema. Ia juga tak memahami mengapa batu mirah delima itu memilih tubuh pemuda tersebut.
Apakah pemuda itu memiliki hati yang suci dan bersih? Dina tak mampu menterjemahkannya.
Doooor... Doooor...
Sesaat terdengar suara tembakan yang mengudara.
Dina tersentak dan memejamkan matanya, mencoba mencaritahu dari mana asal suara tersebut.
Asih dan Edy melepaskan dekapannya, lalu berlari keluar pagar dan berdiri ditrotoar. Tampak orang-orang berkerumun dari jarak yang jauh, sepertinya terjadi sebuah penyergapan.