Buhul ghaib

Buhul ghaib
Pergi



Rumini masih membeli semua perlengkapan untuk menyambut pertemuannya kembali dengan Asih. Ia berencana ingin memasak masakan paling enak untuk disajikan kepada gadis yang pernah menolongnya waktu itu.


Rumini begitu tampak bersemangat. Ia memilih bahan berkualitas dan sayuran hydroponik yang dianggapnya baik.


Setelah semuanya selesai, Ia pun bergegas pulang untuk melanjutkan memasak.


Sementara itu, Asih masih dengan pakainnya yang basah mencoba mengeringkannya dengan berjemur dipinggir kolam renang. Setelah merasa cukup kering, Ia berjalan melintasi Supir yang tadi berbuat mesum kepadanya.


Dengan sedikit gerakan, Ia mengayunkan kembali kakinya, lalu menendang sopir yang masih belum juga dapat bangun tersebut.


Aaarrrrgh...


Kembali terdengar suara erangan kesakitan yang keluar dari mulut sang sopir. Lalu Asih memandang sinis pada pria tersebut. Lalu Ia berjalan melenggang meninggalkan kolam renang menuju kamar Lee dirawat.


Ia menghampiri pemuda tersebut. Lalu memandanginya dengan seksama. Tampak pemuda itu sangat terlelap tertidur.


Entah dorongan apa, Ia memberikan kecupan lembut di kening sang pemuda. Lalu Ia mengemasi barang-barangnya berupa tas jorannya. Sebilah pedang yang dibawa Lee dari pertempuran kemarin tak luput juga Ia bawa.


Ia beranjak dari kamar Lee, dan sebelumnya menoleh kearah pemuda itu, lalu beranjak pergi dan tanpa sepatah katapun.


Asih menyusuri jalanan yang berada tetap ditrotoar jalan. Ia bertanya kepada pengguna jalan yang ditemuinya saat melintasi jalanan yang sama dengannya untuk bertanya kemana Ia harus pergi untuk mencapai pacuan Kuda.


Lalu seorang pemuda yang sedang berjalan kaki memberinya sebuah arahan, dan harus menaiki angkot yang mana.


Sesaat Asih mengikuti semua petunjuk uang didapatnya dari pemuda tersebut.


Sesaat Ia menghentikan sebuah angkot yang melintasi dan sesuai dengan petunjuk pemuda yang tadi ditemuinya.


Asih memasuki badan angkot. Terlihat sedikit ramai penunpang, dan penumpangnya ternyata isisnya para pria semua. sedangkan perjalanan kali ini membutuhkan waktu 3 jam perjalanan, karena sudah berada keluar kota.


Asih bersikap santai saja saat memasuki angkot tersebut, lalu seorang pemuda menggeser tempat duduknya memberikan ruang untuk Asih. Sepertinya mereka sengaja ingin mengapit Asih.


Asih duduk dengan santainya.


6 orang penumpang pria dan satu orang wanita yaitu Asih. Sedang penumpang pria lainnya ada dibangku depan dekat sopir.


Sesaat angkot berjalan dan mulai melanu meninggalkan perbatasan kota yersebut. Sesaat masih terasa aman dan santai. Namun, semakin angkot menjauh melaju, beberapa otang pria mulai memberi kode satu sama lainnya.


Dengan tanpa Aba-aba, seorang diantara mereka menutup pintu angkot dan menguncinya.


Sopir yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik penumpangnya merasa curiga, apalagi sampai mereka menutup pintu angkot.


Namun, dengan sebuah ancaman, seseorang yang duduk dibelakang sopir menodongkan sebilah pisau kepada sang sopir.


"Maju saja bang, jangan mencoba melawan jika abang masih sayang nyawa abang.." ujarnya dengan nada ancaman.


Sopir itu seketika ketakutan dan gemetaran. Ia tampak ketakutan dan juga masih sayang akan nyawanyanya, karena Istrinya baru saja melahirkan dan butuh biaya untuk membeli keperluan anaknya dan keluarganya.


Akhirnya sang sopir mematuhi perintah sang pria yang mengancamnya dengan sebilah pisau tersebut.


Asih merasakan jika ada gelagat yang tidak baik dari para penumpang pria tersebut. Apalagi mereka sengaja mengunci pintu angkot. Sedangkan Asih memperhatikan setiap angkot yang melintas, tidak ada satupun yang menutup pintunya.


"Bgaiamana nona, apakah kau menyukainya..? Sepertinya kau hobby memancing, bagaimana jika kau memancing ikan yang menyenangkan hati kami." ujar seorang diantara mereka yang sudah bergerilya ditubuh sang gadis.


Namun dengan cekatan, Asih memelintir kedua tangan tersebut dengan mudahnya.


Para pria itu terkejut, lalu kedua pelaku itu mengerang kesakitan dan wajahnya memerah menahan ngilu saat tanggannya dipelintir oleh Asih.


Lalu gadis itu dengan mudahnya menghempaskan kedua tangan tersebut dengan sangat kasar.


Pria yang sedari tadi menggegam pisau seketika mengarahkan pisau tersebut keleher Asih, memaksa Asih agar jangan banyak berontak dan menyerah saja.


Namun siapa sangka, Asih dengan cekatan menekuk pergelangan tangan pria itu hingga ujung pisau tersebut menusuk pergelangan tangan si empunya pisau.


Pria itu meringis kesakitan, lalu pria lain nya menyerang, dan Asih menangkisnya dengan tangan kirinya menggunakan tas joran yang sedari tadi dipegangnya.


Lalu Ia melumpuhkan seoarang pria yang memegang pisau tersebut dengan satu pukulan saja.


Tanpa diduga, sesorang dari mereka menarik tas joran milik Asih, hingga sedikit robek, lalu menyembul ujung sebilah pedang dari robekan tas tersebut.


Dengan serentak, keenam pria itu membeliakkan matanya. Siapa sangka, tas yang mereka kira isinya joran, ternyata ada berbagai senjata tajam.


Lalu Asih mengambil kesempatan dari rasa ketakutan para pria itu. Asih mengeluarkan sebilah Katana yang diambilnya dari Lee waktu diarena pertempuran saat melawan ninja.


Asih lalu meletakkan ujung katana itu diatas lantai angkot dan menggenggam ujung kepala katana tersebut.


Seketika keenam pria itu menggigil ketakutan, wajah mereka memucat karena ketakutan.


Siapa sangka, seorang gadis yang mereka kira lemah itu memiliki berbagai persenjataan yang sangat membahayakan.


"Bang.. kiri bang.." teriak seorang pria yang sudah sangat ketakuhan, wajahnya memucat bagaikan kapas.


Lalu sopir angkot tersebut menepikan angkotnya, dan dengan seperti dikomando, para pria itu ngacir ketakutan dan turun dipertengahan jalan.


Asih memandang sinis kepada keenam pria yang tampak sangat ketakutan dan tergesah-gesah berhamburan seolah melihat hantu disiang bolong.


Sementara itu, sang sopir merasa lega, karena para pria sialan itu akhirnya turun juga dari angkotnya. Meskipun disisi lain, Ia sendiri juga merasa ketakutan dengan apa yang baru saja Ia lihat, dan juga tentang nasibnya yang akan terjadi selanjutnya.


Setelah para pria mesum itu turun dari angkot, Asih kembali memasukkan pedangnya kedalam tas joran yang sudah sedikit robek. Asih mencoba menutupi seluruh alat persenjataannya, agar tidak terlihat oleh siapapun.


"Ma..mau kemana Nona." ujar sang sopir dengan nada ketakutan.


"Antarkan saya ke tempat pacuan Kuda.." ujar Asih dengan tenang.


"Ba..baik Nona.." jawab sopir itu tergagap.


"Bagusah, kalau begitu segera lajukan mobilmu , jangan mencoba berbuat curang sedikitpun.. jika sampai kau berusaha mencari celah dariku, jika kau sampai berniat bernuat cela,maka aku tidak segan untuk memisahkan kepalamu.." ancam Asih dengan tatapan tajamnya yang membuat sopir angkot mendadak semakin pucat.


Tanpa jawaban apapun, sopir segera melajukan angkotnya menuju lokasi yang dipinta oleh sang gadis misterius.


Asih membenahi letak duduknya dan menatap tak sabar untuk segera sampai kepacuan kuda.