
Edy dan Asih masih terlibat obrolan yang begitu serius.
"Tetapi bukan berarti Kamu menghilang begitu saja tanpa memberitahuku" Asih menyela ucapan Edy.
Asih tampak begitu kesal dengan kelakuan Edy yang seenaknya.
"Apakah Kau menyukaiku?" tanya Edy tiba-tiba, dan pertanyaan itu membuat Asih terperangah.
Ia terdiam membisu. Ia masih mengingat pesan Ibunya yang tidak menyetujui hubungan mereka.
"Mengapa Kamu terdiam? Tidakkah Kau dapat memberikanku jawaban yang dapat membuat hatiku lega?" tanya Edy.
Namun Asih masih diam. Ia tidak dapat membohongi perasaannya jika Ia menyukai pemuda itu. Namun restu tak didapat dari ibunya. Meskipun ibunya tidak ingin mengungkapkan apa alasan dibalik itu semua.
"Mengapa Kamu diam? Apakah Kau merindukanku saat Kita tak bersama?" tanya Edy lagi.
Saat Asih ingin menjawabnya, pesanan mereka datang, dan tidak terasa ternyata hari sudah gelap.
Lalu keduanya menyantap pesanan mereka. Sembari menyantap makanan keduanya terkadang saling lirik namun terdiam kembali.
Hingga akhirnya Asih mata Asih tertuju pada sebuah mobil yang melintas. Ia seakan melihat ada satu wajah yang Ia kenal didalam mobil melalui pintu kaca mobil yang sedikit terbuka.
"Kak Chakra..." ucap Asih dengan lirih, lalu menghentikan suapannya, sementara itu mobil terus melintas dan menjauh.
Asih beranjak dari kursinya, mencoba mengejar mobil itu keluar, namun mobil itu tak lagi terlihat.
Edy mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu.
Edy membayar makanannya, dan menghampiri Asih yang berada ditepi jalan.
"Apa yang Kau lihat? Mengapa begitu sangat seriusnya" cecar Edy dengan rasa penasarannya.
" Aku melihat kakakku Chakra, Aku yakin sekali nika itu Dia" ungkap Asih dengan penuh keyakinan.
Edy merasa jika Asih begitu yakin dengan apa yang baru dilihatnya.
"Apakah Kita perlu mengikutinya?" tanya Edy menyarankan.
Asih menatap Edy dengan sendu. Tetapi mobilnya sudah menghilang.. "Ucap Asih dengan lirih.
"Kalau begitu Kita pulang saja. Bagaiamana jika nanti Ibumu mencarimu, pasti akan sangat gelisah Ia mebgetahui jika Kamu tak ada dirumah" Edy mengingatkan.
Sementara itu, Mobil yang dikendatai oleh Lee beserta Rere dan Chakra sampai ditrotoar tempat orang dalam gannguan jiwa itu tertidur siang tadi.
Namun, Malam ini pria itu sudah tidak ada lagi. Sesuai petunjuk ini alamatnya. "Mungkin Kita akan menyamar menjadi pembeli Sabu." ucap Lee menyarankan.
Lalu Lee meminta Rere untuk melakukan tugas itu.
Rambutnya yang potong pendek cepak dirubah menggunakan wig menjadi rambut berwrna kecoklatan dengan lurus bergelombang. Ia menggunakan lipstik dan sedikit make up.
"Wah.. Kalau rambut Kamu panjang seperti ini Kamu lebih cantik" ucap Chakra keceplosan.
Seketika wajah Rere memerah menahan malu. Lalu memulai aksinya. Lee dan Chakta turun dari mobil. Keduanya berjalan mengendap-endap menuju arah belakang. Sedangkan Rere berusaha masuk kedalam pagar rumah mewah tersebut.
bodyguard datang untuk mencegah memeriksa. Rere turun dari mobil, lalu mencoba merayu bidyguard itu dengan gaya genitnya yang terlihat sangat kaku.
"Ma..mau ingin bertemu dengan siapa?" tanya Bodyguard tersebut.
"Bos Kamu. Apakah ada? Aku ingin membeli beberapa paket saja. Jika ini menguntungkan maka Aku akan menjadi langganan dan bekerjasama" ucap Rere sembari merayu bodyguard itu.
"Ba..baiklah, akan Saya pertemukan" ucap bodyguard itu dengan gugup, sebab Rere seolah ingin menyodorkan bongkan kedua dadanya yang sangat menonjol.
Merasa berhasil, Rere tersenyum puas, lalu mengekori bodyguad itu yang akan membawanya ke Andre.
Sementara itu Asih dan Edy sedang menunggu taksi online, mereka akan kembali, meski kini Asih masih memikirkan wajah Chakra yang baru saja dilihatnya.
Disisi lain, Lee dan Chakra sudah mengendap-endap memasuki melalui jalur belakang. Saat itu seorang bodyguard memergoki aksi mereka, dan mereka terlibat pertarungan, lalu datang bebeberapa bodyguard lain, dan mereka berhasil melumpuhkan bodyguard yang mencoba menghalangi mereka.
Rere dipertemukan oleh Andre yang saat itu sedang bertelefon dengan Della.
Dimana Della sedang diperjalanan membawa kedua orangtuanya untuk kekota dan akan menjalani perawatan dan perobatan dikota.
Melihat kedatangan tamu tak diundang, Andre memutuskan sambungan telefonnya.
"Ada apa?" tanya Andre penasaran, sebab tidak ada melakukan temu janji dengan siapaun hari ini.
"Wanita ini mengatakan akan membeli beberpa paket sabu, Bos, dan jika harganya sesua, maka Dia bersedia menjadi langganan tetap dan juga mengedarkannya.." ucap bodyguard tersebut.
Seketika Andre memperhatikan lekuk tubuh wanita dihadapannya, sesaat Ia tanpa sengaja melihat sebuah senjata api yang terselip dipinggang Rere terangkat dari pakaiannya tanpa Rere sadari.
"Siall...!!" maki Andre, lalu menarik senjata apinya dan menembakkannya kepada Rere.
Rere yang sudah waspada lalu menghindar dengan lincahnya.
Seketika terjadi kegaduhan diruangan tersebut.
Lalu Rere terlibat pertarungan dengan para bodyguard Andre yang jumlahnya cukup banyak.
Sementara itu, Lee dan Chakra sedang menuju lantai dua mereka kembali terlibat pertarungan dengan bebebrapa bodyguard Andre.
Suara barang-barang berpecahan akibat pertarungan itu begitu riuh terjadi.
Disisi lain, Asih masih diam membisu dan tak banyak bicara. Hal ini membuat Edy semakin serba salah. "Ayolah, mengapa berdiam diri? Aku merasa jadi enak" ucap Edy dengan nada cemas.
Asih hanya memandang sekejap kepada Edy, lalu beralih pandangan keluar jendela.
Edy meraih jemari gadis itu, dan mencoba mgusapnya lembut.
"Kamu masih padaku?" tanya Edy, lalu mengangkat jemari-jemari lentik itu dan mengecupnya.
Asih menoleh dan melihat perbuatan Edy padanya, lalu menarik tangannya, dan menyembunyikannya didekapan dadanya.
Sementara itu, Lee dan Chakra berhasil menaiki anak tangga, dan meringsek masuk keruangan tempat Andre berada.
Saat itu seorang bodyguard sedang membidik Rere dengan senjata apinya, tanpa berfikir panjang Chakra langsung menghajarnya, dan melumpuhkan bodyguard tersebut.
Seketika kelompok Andre tercengang, mereka tidak menduga jika akan mendapati penyergapan secara mendadak seperti ini.
Chakra berhasil melumpuhkan bodyguard yang akan melukai Rere. Lalu kini Andre dan Chakra saling bertatapan. Kedua pernah terlibat pertempuran dimasa silam.
Namun saat itu Chakra berhasil melarikan diri dan kini mereka dipertemukan kembali.
Chakra merasakan hal yang aneh saat menatap Pria tersebut, ada sesuatu yang menjalar aneh direlung hatinya.
"Kau lagi. Ternyata waktu itu tidak memberikanmu efek jera, dan kini Kau kembali lagi ingin mengantarkan nyawamu" ujar Andre dengan nada kesal. Namun Ia merasa lemah saat menatap bola mata penuda itu, ada wajah seorang wanita tergambar disana, yaitu Dina.
Disisi lain, Edy dan Asih sudah hampir mendekati kediaman Asih dan Ibunya. Saat taksi ingin berhenti karena perintah Edy, Asih gak juga mau turun.
"Aku ingin kerumahmu" ucap Asih dengan nada tak bisa dibantah.
"Tetapi mengapa? Tidak perlu Kamu mengetahui rumahku, buat apa?" tanya Edy memprotes.
"Jika Kamu menghilang lagi, Aku bisa mencari kesana" jawab Asih seenaknya.
Seketika Edy melongo mendengar jawaban Asih.. "Baiklah.. Hanya sampai pagarnya saja ya" pinta Edy dengan berusaha lembut.
Adih menganggukkan kepalanya dan menyetujui.