Buhul ghaib

Buhul ghaib
Rumor



"jika kamu menyusul kemari..? Lalu bagaimana puteramu yang mengira kamu disini.?" tanya Kasim bingung.


Dina mengernyitkan keningnya." putera..? Maksud Abah Cakra.? Dia datang kemari mencariku..?" tanya Dina dengan penasaran.


"Iya.. Bahkan pagi tadi Ia baru Abah antar naik mobil pick up untuk menuju kota. Ia mengira kamu dan Asih pergi kemari, namun karena tidak ada, Ia berniat mencari ke kota. Karena beberapa waktu yang lalu ada orang kota yang mencuri kuda milik Asih. Ia meyakini Asih mencari kudanya." ucap Abah Kasim menjelaskan.


Dina memejamkan matanya. Ia melihat jika Chakra sedang berada disebuh tempat, menaiki sebuah mobil pick up. Lalu Ia membuka matanya kembali.


"iya Abah, Chakra sedang menyusul Asih. Nanti juga kembali. Jangan khawatir." jawab Dina mencoba menenangkan.


"Oh.. Syukurlah kalau begitu. Abah jadi tenang." jawab Kasim, menarik nafas lega.


"oh Iya Din, suami kamu mana..? Mengapa Ia tidak ikut mengantarmu..?" tanya Lastri penasaran.


Dina tergagap, Ia tidak menyangka jika Uminya akan bertanya hal itu.


"emmm.. Nanti malam dia datang koq Mi, kalau siang Ia bekerja, jadi hanya malam saja baru kembali." jawab Dina mencoba tenang.


Lastri menganggukkan kepalanya, mencoba menerima alasan yang diberikan oleh Dina.


"oh, begitu.. Syukurlah.. Setidaknya Ia suami yang bertanggung jawab kepadamu. Tetapi bagaimana Kamu bisa bertemu dengannya dihutan.? Abah sama Umi sudah mencarimu waktu itu, namun tidak dapat menemukanmu, kami hampir putus asa." ucap Lastri dengan nadah lirih, mencoba mengingat masa dimana Ia dan Kasim hampir putus asa saat mencarinya.


"dia seorang pemburu Mi, sama denganku tersesat dihutan bersama rombongannya. Karena untuk melindungiku dari bahaya buruk teman-temannya yang semuanya pria, kami memutuskan untuk menikah disana, disaksikan oleh temannya, yang mana seorangnya ahli ibadah yang ikut dalam rombongan, lalu menjadi wali hakim kami."jawab Dina berbohong


Kasim dan Dina mencoba mempercayai ucapan Dina, meskipun tidak masuk akal bagi mereka. Lalu Dina mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"abah, bisa minta tolong buatkan kamar satu lagi untuk Saya. Karena Kanda Bromo akan pulang malam, kasihan tidak ada tempat untuk beristirahat yang bersifat pribadai." pinta Dina dengan memohon.


Kasim mengangguk mengerti. "baiklah. umimu ada membuatkan dinding dari anyaman bambu pesanan pengepul, nanti kita pakai dua lembar untuk membuatkan kamar untukmu, dan Abah akan coba selesaikan sebelum suami pulang." jawab abah dengan tulus.


Baginya, siapapun suami Dina, yang terpenting bertanggung jawab untuk kehidupan puterinya, dan kini juga telah memberikan dua orang cucu yang sangat cantik dan tampan.


--------------♡♡♡♡--------


Abah kasim memulai mengerjakan kamar pesanan Dina. Kamar itu terletak dipenghujung dekat dengan dapur yang mengarah tepat pada sungai belakang rumah. Lastri menyambut kehadiran Dina dengan suka cita. Ia memasak sangat banyak, dan berniat untuk menyambut kedatangan menantunya malam nanti.


Sebelum maghrib tiba, abah Kasim sudah selesai membuat kamar yang terbuat dari bilik bambu. Agar menjadi privasi, Abah menutup bagian dalamnya dengan bahan yang sama, sehingga tidak dapat orang mengintip dengan segala aktifitas yang dilakukan penghuni didalamnya.


Abah Kasim juga membuatkan ranjang tidur untuk Dina, agar Puterinya dapat beristirahat dengan nyaman.


Menjelang Isya.. Terdengar suara ketukan pintu.


Tok..tok..tok..


"Assalammualaikum.." suara orang memberi salam, dari arah luar rumah.


"Waalaikum salam.." jawab Lastri. Lalu Ia bergegas membuka pintu. Tampak diluar seorang pria tampan sedang berdiri sembari tersenyum. Sesaat Lastri mematung, mencoba mengenali siapa pria itu.


"Kanda.. Baru datang. Ayo masuk.!" ucap Dina sembari mengajak Bromo masuk.


"saya Bromo Mi, menantu umi.. lupakah..?" ucap Bromo sembari tersenyum yang memukaukan siapa saja yang melihatnya. Laku Ia menyalim tangan Lastri dengan rasa hormat.


Lastri terkesiap, lalu mengangguk dan memberi jalan kepada menantunya. "ayo masuk.." ajaknya ramah.


Lalu Bromo mengekori kedua wanita itu.


Abah Kasim sedikit kaget dengan kehadiran Bromo, meskipun Dina sudah memberitahunya, namun Ia merasakan ada sedikit rasa janggal pada hatinya. Tetapi Ia mencoba menepisnya.


"apa kabar Abah, umi.?" tanya Bromo dengan sopan.


"alhamdulillah baik, kabar kamu bagaimana? " kasim balik bertanya.


"alhamdulillah baik Abah.." jawabnya dengan suara nan lembut syahdu.


"oh.. Syukurlah.." jawab Kasim dengan sumringah.


"mari kita makan.." Ucap Lastri kepada semuanya.


"terimakasih umi, Abah.. Tetapi saya sudah makan tadi dijalan. Abah sama Umi silahkan makan saja, nanti kalau saya lapar, saya akan memakannya. Saya hendak beristirahat dahulu." ucap Bromo, sembari beranjak bangkit menuju kamarnya.


Senelum memasuki kamarnya Ia berkata "Abah, terima kasih untuk kamarnya, saya suka." ucap Bromo tulus.


Kasim dan Lastri saling pandang, meskipun ada rasa sedikit kecewa, karena Ia sudah memasak dengan banyak untuk menyambut menantunya. Namun tidak disentuh sama sekali.


Dina yang membaca fikiran uminya segera mengambil tindakan. "Umi, saya ambilin makan untuk Kanda kedalam kamar saja ya, mungkin Ia kelelahan bekerja, makanya tidak berselera makan." ucap Dina mencoba menghargai perasaan Uminya.


Dina mencoba makan bersama dengan kedua orangtuanya, Ia memakan sangat banyak. Sudah lama sekali Ia merindukan masakan uminya. Rasanya sangat lezat sekali.


Setelah selesai, Ia membawa makanan dalam sebuah piring yang disajikan dengan satu wadah.


Dina memasuki kamar tersebut lalu menguncinya. "Kanda, makanlah, sari makanan ini, setidaknya kamu menghargai usaha umi yang sengaja memasak untuk menyambutmu." ucap Dina sembari menghampiri Bromo.


Bromo meraih piring tersebut, lalu meletakkannya diatas meja yang terbuat dari anyaman bambu.


"Mendekatlah Dinda, Kanda sangat merindukanmu." ucap lirih. Lalu meraih tubuh ramping Dina dalam pangkuannya


"mengapa kamu begitu nakal malam ini Kanda.?" jawab Dina yang merasa Bromo sangat berhasrat.


Tanpa menjawab apapun dari pertanyaan Dina, Ia menyergap tubuh Dina dengan sangat liar. Tampaknya Ia berbeda dari malam-malam sebelumnya.


Dinda.. Malam ini malam jum'at, tepat satu suro. Jangan kaget jika kita selesai ber jima' kamu melihat perubahan tubuh kanda." ucapnya lirih yang semakin terbakar oleh hasrat yang menggebu. Ia seperti tak sabar untuk menuntaskan segalanya. Suara ranjang berderit-derit menjadi melodi bagi dua insan beda dunia yang tengah memadu kasih.


Setelah mencapai puncak tertingginya, seketika Bromo mengalami sebuah kejangan yang sangat hebat. Seketiaka tubuhnya perlahan berubah menjadi seekor siluman buaya putih seutuhnya.


Sontak saja Dina hampir terlonjak kaget. Karena semenjak pernikahannya, baru kedua kalinya ini Ia melihat perubahan seluruhnya. Pertama saat mereka baru pertama menikah, lalu yang kedua malam ini.


Karena masih dikuasai kesadaran, Dina mencoba menetralkan detak jantungnya. Lalu berusaha tenang.


"mengapa kau sampai begitu terkejutnya Dinda..? Apakah kau berubah fikiran tentang perasaanmu padaku.?" Ucap Bromo dengan wujud aslinya.


--------♡♡♡♡-----


pukul empat subuh, Dina keluar dari kamar, untuk mandi junubnya dan melakukan Shalat subuh. Bromo memantau situasi, Ia memastikan jika kedua mertuanya masih tidur terlelap.


Bromo mengikuti Dina menuju pintu dapur dan pergi kesungai belakang rumah. Masih dalam wujud buaya Putih, Bromo mengikuti Dina, lalu menyelam kedalam sungai. Dina memulai ritual mandinya, setelah selesai, Ia menghampiri Bromo. " dinda masuk dulu ya kanda.. Sudah hampir subuh, nanti ada warga yang terbangun untuk menggunakan sungai ini juga." ucap Dina, sembari mengecup moncong buaya tersebut.


"Iya Dinda, besok malam aku tidak mengunjungimu, karena aku harus bertirakat untuk mengembalikan kembali wujudku agar kembali tampan, aku tidak ingin kamu berpaling dariku jika melihatku terus dalam wujud seperti ini." ucap Bromo dengan lirih


"baik kanda. Dinda akan merindukanmu, jangan terlalu lama menghilang.." rengek Dina dengan manja.


Sesaat, pintu dapur terbuka, Lastri muncul dari balik pintu. "Dina.. Kamukah yang disana?" tanya Lastri memastikan.


"Iya Umi, saya sedang mandi.." jawab Dina was-was. Ia takut jika tiba-tiba Uminya melihat Ia sedang berbicara dengan Bromo dalam wujud seperti itu.


"Kanda pergi dulu Dinda, jaga dirimu" ucap Bromo, sembari menyelam dan menghilang.


Dina beregegas meninggalkan sungai, lalu masuk kedalam dapur dan menuju kamarnya. Ia menhalin pakaiannya, dan menunggu adzan subu berkumandang.


---------♡♡♡♡-----


"Umi.. Ambilkan abah sebilah golok untuk menebang bambu, kita mendapatkan banyak pesanan minggu ini." abah menjelaskan.


Lastri bergegas menuju dapur, Ia melihat Dina sedang memanaskan sisa masakan tadi malam untuk sarapan mereka.


Saat mengambil golok, Lastri merasakan jika tidak melihat tanda-tanda keberadaan menantu laki-lakinya. "kemana suamimu Din..? Mengapa tidak terlihat." tanya Lastri penasaran.


"sudah berangkat bekerja Umi, sebelum subuh tadi Ia sudah berangkat. Mau berpamitan kepada Abah dan umi segan untuk membangunkan." ucap Dina berbohong.


"oo.. Ya sudah. Ibu mau kedepan dulu mengantarkan golok ini kepada abahmu. Nanti ambil beberapa beberapa butir telur dikandang, buat sambal balado, Lalu sayur bening bayam dan jagung muda, semuanya ada dikebun belakang. Kemungkinan nanti umi akan ikut abah ke hutan mengambil bambu."Lastri menjelaskan.


Baru satu hari Dina dirumah mereka, keanehan terjadi. Mereka mengalami peningkatan jumlah pesanan yang sangat banyak.


"baik bu.. Ini Dina panaskan sisa makanan tadi malam untuk sarapan kita, sayang dibuang, mubazir." ucap Dina sembari meletakkan makanan dalam wadah plastik. Ia juga membuatkan teh hangat untuk Abah dan Umi.


Lastri menuju halaman depan. "abah.. Ini goloknya, sebaiknya kita sarapan dulu, umi ikut kehutan mencari bambu. dirumah sekarang ada Dina yang mengurus." ucap Lastri dengan wajah datar.


"oh.. Ya sudah kita sarapan dulu saja. Suami Dina kemana Mi? Mengapa sudah hampir siang tidak kelihatan?" tanya Abah penasaran, sembari mengasah goloknya.


"katanya sudah pergi bekerja sejak subuh tadi Bah.. Umi merasa ada sesuatu yang disembunyikan Dina dari kita tentang suaminya itu Bah.?" ucap Lastri dengan berbisik.


"sudahlah Mi, mungkin itu hanya kekhawatiran kita saja. Yuk kita masuk kedalam untuk sarapan" ajak abah sembari memasukkan golok yang sudah diasahnya kedalam sarung golok, lalu mengikatnya dipinggang. dengan senyum termanisnya, abah meraih tangan Lastri dan membawanya masuk kedalam rumah, tindakn kecil abah membuat Lastri langsung menurutinya dan merasa tersanjung.


----------♡♡♡♡-------


Setelah Abah dan Umi pergi ke hutan. Dina menuju kebun yang dibelakang rumah. ia memetik beberapa sayur mayur yang akan diolahnya menjadi lauk untuk siang ini.


Saat akan kembali, Ia berpapasan dengan warga sekitar rumah Abah Kasim.


."Dina..?" sapa seorang warga yang sedkit penasaran.


"iya mbak Uci, masih ingat ma saya toh..?" jawab Dina ramah.


"ya..ampun Din.. Syukur alhamdulillah kamu kembali, kami mengira kamu sudah tiada." ucap Mbak Uci senang, lalu memeluk Dina.


Terjadi obrolan singkat, karena terdengar anak Mbak Uci menangis.


Kepulangan Dina yang dengan tiba-tiba saja telah menggemparkan warga desa. Dimana warga yang mengira Dina telah tewas 20 tahun yang lalu kini kembali lagi dengan keadaan sehat bugar. Bahkan mereka mendengar jika Dina telah memiliki 2 orang anak yang kini berada di Kota.


Penasaran dengan kepulangan Dina, warga berbondong-bondong ingin melihat Dina. Mereka tidak percaya dengan kepulangan Dina yang dengan tiba. Mereka saling bersalaman dan mengucapkan rasa syukur dengan kepulangan Dina. Wajah Dina bahkan terlihat lebih cantik dengan aura yang memancar keluar.


seketika rumah Abah Kasim menjadi ramai bak seperti pasar. Karena warga masih mengingat peristiwa kehilangan Dina dan ikut mencarinya.


Semua warga merasa bersyukur dengan kepulangan wanita cantik itu.


dari balik kerumunan, ada sepasang mata yang terus menatapnya. Mata penuh kerinduan, yang menantikan seseorang yang tak pernah membalas perasaannya.


Mata itu semakin terkeskima dengan pesona Dina yang semakin memancar.


Warga Desa menduga jika Dina menikah dengan Andre, pemuda yang dulu pernah mengaku sebagai Dokter dan KKN dikampung mereka.


Namun Dina tidak menjawab hal tersebut. Ia hanya mengatakan Ia sudah menikah dan kedua anaknya berada dikota untuk bekerja.


Didalam kerumunan itu, seorang yang sudah senja datang menghampirinya. Ia menatap lekat pada Dina, Ia mencoba mengingat wajah Dina.


"kamu adalah wanita yang menolongku saat ditengah hutan." ucap Pria itu.


Semua warga terdiam. Menatap pada Dina.


"apakah kamu juga yang menyembuhkan abah Kasim dari santet Banaspati..?" tanya Abah salim dengan lirih.


Dina tergagap. Ia tidak menyangka jika Abah Salim mengingat peristiwa yang sudah sangat lama tersebut. Itu kira-kira saat Ia sedang hamil tua dan akan melahirkan.


semua warga saling berbisik. "jadi kamu seorang paranormal sekarang Din.? Kamu bisa menyembuhkan penyakit..?" hcap Seorang warga.


Dina merasa kebingungan. "emm..itu hanya kebetulan saja." jawab Dina gugup.


"waah.. Kalau begitu saya nisa donk berobat dengan kamu malam kni..?" ucap Mbak Any dengan sumringah


Lalu semua saling berbisik satu sama lain.


"emm.. Buat semuanya, saya mau melanjutkan memasak , soalnya abah dan Umi sebentar lagi akan pulang dari hutan, kasihan jika mereka mendapatibsaya belum memasak. Maslah yang diucapkan abah Salim, itu hanya kebetulan belaka. Maaf, saya tinggal dulu." ucap Dina segera masuk kedalam rumah dan meningglkan para warga.


satu persatu warga meninggalkan rumah Abah Kasim, lalu dengan cepat rumor berkembang, Jika Dina pulang kekampung halamannya dan menjadi seorang paranormal sakti.


Rumor itu terdengar sampai ke desa-desa tetangga. Sehingga membuat warga semakin penasaran apalagi banyak yang menyematkan dengan kata 'paranormal Cantik' .


Bersambaung😴😴😴