Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 233



Lee dan Edy tersentak saat mendengar suara desingan bagaikan ribuan lebah yang tiba-tiba menyerang mereka saat akan menunggangi Bara Sembarani.


Keduanya ingin mencari keberadaan Markas tempat Wei menyimpan batu permata yang dicuri oleh Wei.


Edy menarik tali kekang kuda tersebut dan membuat Bara berlari kencang dan menyusuri jalanan yang berdebu.


Sementara itu, para mutan itu berterbangan bagaikan kawanan lebah dan menghitam diudara lalu terbang mengejar kemana arah Edy dan Lee yang menunggangi Bara.


Kuda itu berlari kencang untuk menghindari kejaran para mutan yang berada terbang diudara.


Semakin lama semakin dekat para mutan itu untuk mendekati keduanya.


Edy merubah posisinya menjadi dibelakang Lee, lalu mencabut pedang yang terselip dipinggang Lee.


"Apakah kamu masih memiliki senjata api?" tanya Edy yang tubuhnya terguncang oleh gerakan Bara yang berlari sangat kencang.


Lee menganggukkan kepalanya " Bagus, arahkan kekepalanya dan kenai ubun-ubunnya" titah Edy.


"Baiklah" jawab Lee yang kemudian meraih senjata apinya yang masih tersisa satu saja dengan beberapa peluru didalamnya.


Sesaat kemudian, para mutan itu sudah sangat dekat dengan mereka. Lalu Edy memutarkan pedang diatas kepala, lalu gerakan menghunus, Edy menyambut serangan para mutan tersebut sembari berdiri diatas Bara sembrani yang masih berlari sangat kencang.


Sementara itu, Lee menembaki para mutan yang mencoba menghampirnya. Beberapa mutan tampak hancur menjadi serpihan, namun jumlah mereka yang sangat banyak membuat keduanya harus cepat untuk menghadapi serangan yang mengganas.


Disisi lain, Edy terus membinaskan para mutan tersebut dengan sabetan disetiap ujung pedangnya.


Hingga akhirnya Lee kehabisan pelurunya, Ia meraih anak panah Edy dan menjadikannya sebagai senjata. ujung anak panah Ia gunakan sebagai senjata untuk memusnakan lawannya.


Tanpa sadar, Edy hilang keseimbangan dan kakinya tergelincir, hingga membuatnya terjatuh dan tersungkur kejalanan hingga berguling-guling ditanah berdebu.


Bara sembarani memperlambat laju larinya, dan ingin kembali mengahampiri Edy, namun para mutan yang mengejar mereka membuat Lee harus melawan para mutan hanya dengan menggunakan anak panah saja layaknya seperti tombak.


Sementara itu, Edy berusaha bangkit, dan sebagian para mutan membelah pasukannya untuk mengejar Edy yang tertinggal di belakang.


Sementara itu, Edy melihat ratusan mutan berterbangan menuju kearahnya, Ia memutar tubuhnya dan menyerang para makhluk tersebut yang sepertinya sengaja dikirim oleh Wei untuk menghalangi mereka sampai ke markas.


Wei menciptakan para mutan tanpa henti dan dapat melipat gandakannya.


Beberapa serum telah Ia kirim ke dua negara dibagian Eropa sebagai bentuk pesanan dari kepala negara tersebut.


Jika sampai serum itu disuntikkan kepada para warganya, maka dipastikan warga yang mendapatkannya akan menjadi mutan dan bersikap agresif dan akan tunduk patuh pada Wei.


Wei akan menguasai dunia dan semua akan berada dalam kendalinya. Narkotika akan bebas dimanapun dan kejahatan akan merajalela.


Wei terus tertawa dan menatap pada mutan-mutan ciptaannya.


Wei akan terus mengirimkan mutan-mutan itu agar menghalangi langkah Edy dan juga Lee.


Bara Sembrani berlari kencang dan berputar untuk mengecoh para mutan tersebut.


Lee yang takut menunggangi kuda, akhirnya kini terbiasa setelah beberpa hari bersama Edy dan menunggangi Bara.


Ia memegangi tali kekang tersebut sembari terus menyerang mutan yang datang menyerangnya.


Edy bergerak cepat mengayunkan pedangnya untuk memusnakan ratusan mutan yang terus datang tanpa henti.


Sambaran pedangnya bergerak bagaikan kilatan cahaya yang setiap kali mengenai mutan-mutan itu akan terdengar suara desingan bagaikan sayap lebah.


Edy tersungkur saat salah satu mutan menendangnya, dan Ia terjerembab ditanah berdebu.


Sesaat bola-bola formasi mutan itu melesat dengan cepat dengan ribuan racun yang siap membinasakan Edy.


Dengan sigap Edy meraih tanah berdebu dan melemparkannya kepada bola-bola formasi mutan tersebut, dan..


Wuuush..


Para mutan itu berjatuhan diatas tanah berdebu. Edy tercengang melihatnya. Ratusan mutan itu menggelepar bagaikan ratusan lebah yangvtak berdaya.


Edy dengan cepat kembali meraup pasir debu itu dan melemparkannya kembali kepada Para mutan yang masih tampak menggelepar.


Lalu perlahan para mutan Itu berderai bagaikan serpihan yang terus terbang menghilang.


Sementara itu, Lee masih berjuang menghindari dan mencoba melawan para mutan tersebut dengan menggunakan anak panah sebagai senjata.


Sedangkan Bara sembrani masih terus berlari kencang dan berputar untuk menghindari kejaran para mutan itu.


"Heeeiii.. Disini" teriak Edy memancing para mutan itu mengejarnya.


Mendengar teriakan Edy, para mutan itu memutar arah dan mengejar Edy dengan terbang membentuk formasi, lalu melesat cepat mengejar Edy.


Edy bergerak dengan cepat dan saat bersamaan, Ia melompat dengan membawa pasir berdebu dalam genggaman kedua tangannya dan gerakan memutar diudara, Ia melemparkannya kepada para mutan tersebut dan membuat para mutan yang terkena dengan pasir berdebu itu seketika berjatuhan dan menggelepar ditanah, lalu dengan cepat Edy menaburkannya kepada para mutan yang telah berserakan tersebut berderai menjadi serpihan.


Lee terperangah melihatnya, Ia tak menduga jika para mutan itu akan musnah hanya dengan pasir berdebu yang ditaburkan oleh Edy.


Lalu Bara sembrani menghampiri Edy dan Lee mengulurkan tangannya untuk menyambut pria itu.


Dengan cepat Edy meraih uluran tangan Lee, lalu melompat naik ke atas kuda dan melanjutkan perjalanan mereka.


Diperjalanan Lee merasa lapar. Mereka belum makan seharian bahkan meneguk setetes air.


Keduanya mencoba melihat apakah ada yang minimarket yang menjual makanan.


Jauh memandang hanya ada fatamorgana.


"Kita harus menemukan penjual makanan. Melawan Wei juga butuh energi" ucap Lee yang kini beralih menarik kekang kuda tersebut, lalu melaju kencang mencari penjual makanan.


Tampak dikejauhan sebuah mini market yang menjual berbagai kebutuhan. Lee dan Edy menghentikan Bara didepan minimarket, lalu keduanya masuk kedalam dan mencari beberapa makanan dan air mineral.


Suasana minimarket tampak lengang dan juga sepi.


Hanya seorang kasir yang tampak diam dan tak bergeming. Lee mengambil beberapa roti dan juga air mineral, sedangkan Edy mengambil sebungkus rokok yang dan satu pemantik api.


Lee yang sudah kelaparan langsung memakan roti tersebut, dan meneguk air mineral dengan tak sabar.


Sedangkan Edy mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan pemantik api.


Lee melemparkan sebungkus roti kepada Edy, dan juga sebotol air mineral, dengan cepat Edy menangkapnya, lalu membuka bungkusnya dan segera mengkunyahnya.


Edy merasakan jika mini market ini sangat aneh juga mencurigakan.


Ia terus menguyah rotinya hingga saat kunyahan terakhirnya, Ia melihat sang penjaga kasir yang sedikit mencurigakan.


Sementara itu, Lee berjalan ke arah kasir untuk membayar belanja mereka. Namun Edy merasakan hawa negatif muncul begitu saja, dan dengan cepat Edy melemparkan pemantik api yang dipegangnya dan mengenai penjaga kasir tersebut sebelum Lee sampai ke meja kasir, dan..


Buumm...


Penjaga itu terbakar, lalu menjadi serpihan...