
Para mutan itu dengan suara desingan yang seperti sayap lebah siap menyerang dan membuat Edy mengayunkan obor buatannya.
Mutan itu secara serentak menyerang Edy dengan cepat dan bersamaan.
Edy mengayunkan obor buatannya dan dengan gerakan cepat mengarahkannya kepada para mutan-mutan itu dan membuat para mutan itu sebagian musnah dan menjadi serpihan.
Beberapa mutan berhasil menggoreskan senjata mereka pada punggung dan lengan Edy.
Edy tak memkliki waktu meresapi rasa sakit tersebut, karena para mutan-mutan itu terus menyerangnya.
Hingga sesosom mutan berhasil menendang Edy dan membuat pria itu teesungkur dilantai, dan obor buatannya terlempar jauh darinya, dan perlaham api itu padam.
Para mutan itu kembali bersatu dan membentuk formasi diudara dan kembali ingin menyerang Edy yang kini tersungkur dilantai dan dengan cepat Edy meraih senjata api yang didapatnya dari para lawannya yang telah dilumpuhkannya.
Doooor..doooor..dooor..
Peluru-peluru itu menembus para mutan yang mencoba untuk menyerangnya. Sebagian mutan itu hancur menajdi serpihan, namun sebagian lagi masih hidup karena hanya beberapa senjata apinya yang dimilikinya dengan peluru yang tidak sebanding dengan jumlah para mutan tersebut.
Edy berusaha untuk bangkit, namu salah seorang mutan itu berhasil melemparkan senjata tajamnya kepada Edy dan mengenai tepat dipaha kirinya, sehingga membuat Edy kembali tersungkur dilantai.
Luka di pahanya cukup parah, senjata tajam berupa celurit kecil itu merobek cukup dalam dan membuat darah itu semakin mengalir deras.
Sesosok mutan lainnya mengeluarkan lidahnya dan menjulur panjang serta dengan kuku tangannya yang runcing siap merobek dan mencabik tubuh Edy yang saat ini sedang dalam kondisi kepayahan untuk hanya sekedar bergeser dari posisinya.
Edy menggunakan pedangnya untuk menghalau para mutan yang datang menyerangnya, namun jumlah mereka terlalu banyak untuk Ia musnahkan.
Saat mutan itu sudah berada 25 centimeter dari tubuh Edy yang siap mencabik wajah pria itu, terdengar suara tembakan beruntun dari senjata api paling berbahaya berjenis MG-42 rancangan German yang mampu menembakkan 1200 peluru/menitnya.
Mutan yang hampir saja mencabik wajah Edy berderai tinggal serpihan saat peluru itu menembus kepalanya dan begitu juga mutan lainnya yang sudah musnah tak berbekas.
Setelah mutan itu menghilang bersama serpihannya, tampak berdiri didepan Edy berjarak sekitar 5 meter dihadapannya seorang pemuda yang tak lain ada Lee dengan membawa senjata api tersebut.
Edy bernafas lega, lalu mencabut senjata tajam yang menancap dipaha kirinya dengan perlahan, kemudian mencoba untuk bangkit dan berdiri sempoyongan.
Lee datang menghampirinya dan membantu Edy untuk bangkit dengan meraih pangkal lengannya dan merangkulnya untuk dapat berjalan meski dengan tertatih.
"Bagaimana Kau dapat masuk kesini?" tanya Edy sembari meringis dan terus berjalan.
"Tidak perlu dibahas, ini Aku ada satu lagi senjata api MG-42 yang ku dapat dari kesatuan yang datang membawa bantuan. Para pemuda yang kamu tolong waktu didalam counteiner telah sampai di kantor kepolisian dan mereka sedang menuju kekantor Kedutaan untuk dipulangkan sesuai negara mereka" ucap Lee menjelaskan.
Lee menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya dengan berat "Mereka menyampaikan apa yang sedang kita alami, dan akhirnya mengirimka bantuan senjata, dan sebentar lagi mereka akan mengirimkan hellikopter untuk membawa para tawanan" Lee kembali melanjutkan ucapannya.
Ia membantu mengenakan tali senjata api itu untuk diletakkan dipundak Edy.
Edy mencoba untuk berjalan sendiri tanpa bantuan Lee, sebab ini akan menjadi keharusan karena mereka sedang menghadapi masalah yang lebih besar didepannya.
Meskipun Ia berjalan dengan tertatih, Ia harus mencoba menguatkan semangatnya.
Lalu Ia mengunyah roti itu dengan cepat "Ke arah mana kita kita harus pergi?" tanya Lee saat menatap dua pintu yang saling bertentangan.
Edy menghabiskan kunyahannya "Aku ke kiri, dan kau menuju yang kanan" Jawab Edy dengan cepat.
Lee menganggukkan keplanya dan mereka akhirnya berpencar menuju pintu yang berbeda.
Keduanya berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan ke sebuah ruangan yang mereka juga tidak tahu dimana penghujungnya.
Edy dengan berjalan tertatih memegang senjata apinya dan peluru yang tersangkut dipundaknya.
Meski menambah bebannya, namun Ia harus kuat menahannya dan itu sebuah perwujudan cintanya terhadap seorang wanita yang kini dirindukannya dan juga menyelamatkan penduduk yang terinfeksi wabah penyakit misterius.
Disisi lain, Lee juga berjalan dengan mengendap dan memperhatikan setiap sisi ruangan mana bisa saja para bodyguard ataupun para mutan datang menyerang dengan tiba-tiba.
Edy yang masih berjalan dengan tertatih tiba-tiba harus dikejutkan dengan sebuah benda melayang berbentuk piringan yang sangat tajam dan hampir saja memenggal kepalanya jika Ia tidak awas dan waspada.
Wuuusssh..traaaang..
Suara piringan terbang itu menghantam tembok didepannya dan membuat retakan pada tembok itu.
Ternyata ruangan yang Ia lalui menyimpan banyak jebakan jika Ia tidak berhati-hati dan teliti.
Edy melirik diinding tembok yang saling berhadapan itu ternyata memiliki sinar infra red yang mana jika menyentuh suatu objek, maka dengan sendirinya senjata yang tanpa diduga datangnya menyerang dengan tiba-tiba.
Edy melihat titik cahaya infea red tersebut berada didepannya, maka Edy berjalan membungkukkan tubuhnya kebelakang agar sinar itu tak mengenai tubunya
Lalu setelah berhasil melewatinya, maka masih ada 3 halangan jebakan tersebut.
Dan Dengan bersusah payah akhirnya Ia dapat menghindari rintangan yang kedua. Namun naas saat hendak merintangi rintangan ke tiga, kakinya berdenyut hebat di bagian sisi kirinya hingga membuatnya limbung dan terjatuh sehingga membuatnya mengenai sinar tesebut dan..
Wuuuussssh...ssstt..
Sebuah tombak dengam ujung runcing yang terbuat dari logam kuningan yang melesat cepat bagaikan kilatan hampir menembus perut Edy yang berada tepat dihadapanya dan jika Ia tidak cepat menghindar, maka dipastikan akan membuatnya mati terkapar tertembus tombak tersebut.
Edy menarik nafasnya dengan berat dan menghelanya dengan kasar saat Ia menyadari masih selamat dari terjangan tombak tersebut.
Sementara itu, Lee masih tetap waspada dengan sekitarnya. Dan benar saja tiba-tiba datang satu sosok mutan yang merupakan penjaga lorong tersebut.
Dengan cepat Lee memberondongkan pelurunya kepada mutan tersebut hingga membuat sang mutan menjadi hancur berderai, namun hal itu membuatnya semakin terus waspada karena hal kejadian serupa membuatnya harus melihat dan meneliti setiap inci dari setiap dinding ruangan.
Saat bersamaan dua orang bodyguard memasuki ruangan tersebut dan melihat Lee sebagai orang asing dan merupakan penyusup.
Dengan cepat kedua bodyguard itu menyerang Lee dengan begitu sangat brutal.
Lee kembali memberondongkan senjata apinya kepada ke dua bodyguard hingga mengalami luka yang cukup parah dan tewas seketika.