
Rere, Lee dan juga Chakra sedang berada di markas mereka. Setelah melakukan perjalanan bersama Pemuda polos itu, kini Lee menyadari jika Chakra bukanlah mata-mata apalagi penyusup yang berbahaya.
Lee mulai dapat menerima kehadiran Chakra dan kini benar-benar percaya jika pemuda sedang mencari keluarganya yang hilang karena penculikan.
Kelinci kecil nan imut berwarna putih, keluar dari dalam tas milik Chakra, Ia melompat keatas meja, lalu duduk diatasnya.
Rere baru saja membersihkan diri, dan keluar dari kamar mandi.
"Hei.. Mandilah.. Dilemari sana ada pakaian ganti" titah Rere si gadis tomboy sembari menunjukkan telunjuknya kesebuah nakas yang terdapat didekat sudut ruangan.
"Itu pakaianku" Lee menyela ucapan Rere, saat ini Ia sedang membuat peta rencana untuk tindakan apa selanjutnya.
Rere membolakan matanya "Kasihan Dia, Bos. Tidak ada pakaian gantinya" jawab Rere sekenanya.
Lee hanya mendenguskan nafas kesal. Lalu kembali melanjutkan pekerjaaannya. Sementara itu, Arini hanya memandangi sebuah coretan garis demi garis yang dibuat oleh Lee.
Chakra beranjak dari duduknya, lalu menuju kamar mandi dan segera mandi.
Setelah selesai mandi, Ia keluar begitu saja dari kamar mandi hendak menuju lemari nakas yang berisi pakaian seperti yang diucapkan oleh Rere barusan.
Sesaat mata Rere membola dan menyaksikan ulah Chakra "Heeei.. Masuk kekamar mandi!" titah Rere yang tanpa sengaja sempat melihat belalai gajah milik Chakra.
Chakra kembali kekamar mandi mendengar hardikan dari Rere, sedangkan Lee menatap bengong dengan apa yang dilihatnya barusan.
"Oh Tuhan, apakah Ia benar-benar seorang primitip?" Lee menepuk keningnya, lalu menggelengkan kepalanya.
Rere beranjak dari duduknya, memilihkan pakaian yang sesuai untuk Chakra, sebuah Kaos oblong dengan celana jeans panjang.
Ia mengetuk pintu kamar mandi, lalu mengulurkan tangannya yang memegang pakaian ganti dari balik pintu kamar mandi.
Chakra meraihnya, dan tanpa sengaja jemarinya yang basah menyentuh punggung tangan Rere.
Sesaat Rere tersentak, ada rasa berbeda disana, debaran hatinya begitu sangat menderu. Ia segera menjauh dari kamar mandi dan kembali duduk dikersinya.
Tak berselang lama, Chakra keluar dari kamar mandi setelah mengenakan pakaian ganti yang diberikan oleh Rere.
Rere terperangah, melihat penampilan Chakra saat ini "Dia tampan sekali, tapi sayang ada bloonnya" Rere berguman dalam hatinya yang tak berkedip menatap pemuda itu.
Lee yang tak sengaja melihat itu semua, mencoba berdehem, dan membuat Rere tersadar. Sesaat Rere merasa malu saat ketahuan sedang memperhatikan pemuda itu.
Chakra menghampiri Rere yang sedang duduk dikursi, lalu duduk dikursi kosong yang ada didekat Rere.
Gadis tomboy itu merasakan debaran jantungnya seakan berpacu lebih cepat, seolah Ia sedang menaiki roller coaster "Sekali lagi jangan melakukan hal konyol seperti itu. Jika akan mandi bawa memang pakaian ganti kedalam kamar mandi, jangan keluar tanpa apapun, setidaknya pakailah handuk" omel Rere kepada Chakra.
Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Lee yang mendengar Rere mengomel serasa geli mendengarnya, dan tersenyum-senyum mengingat aksi konyol pemuda itu.
Arini yang kini duduk diatas meja sedang santai, menatap Chakra dan Rere. Ia dapat merasa detak jantung gadis tomboy itu yang dalam diam menaruh hati kepada Chakra.
Ada rasa cemburu dihati Kelinci imut itu, namun Ia juga tak mampu mencegahnya.
Rere beranjak dari duduknya, berlama-lama duduk disisi pemuda itu membuat jantungnya tidak aman.
"Rere mengambil 3 buah mie cup, lalu menyeduhnya. Ia memberikan untuk Lee satu, Chkara dan dirinya satu.
Saat melihat Chakra memakannya, Ia duduk dipangkuan Chakra untuk meminta mie cup tersebut.
Chakra menghembusnya, karena merasa masih panas, lalu memberikan kepada Kelinci putih itu.
Dengan lahab Arini memakannya, lalu memintanya lagi. Sesudah mendapatkan dua sendok mie cup tersebut, Arini turun dari pangkuan sang pemuda, lalu duduk diatas tas sandang milik Chakra.
Chakra melanjutkan makannya, baru kali ini Ia merasakan makanan seperti itu, dihutan Ia hanya mengemal daging hewan dan juga sayuran serta umbi-umbian, dengan pengolahan yang alami.
"Enak" ucap Chakra setelah menghabiskan mie cupnya dalam sekejap.
Rere hanya menggelengkan kepalanya, Ia memastikan jika Chakra tidak pernah memakan makanan enak didesanya.
Itu dapat ditebak dari cara Chakra makan dan terlihat sekali primitipnya.
Namun entah perasaan apa yang membuatnya begitu terpesona oleh pemuda desa itu, satu rasa yang tidak pernah Ia rasakan terhadap pria sebelumnya
Setelah kenyang, Chakra mencari tempat untuk tidur. Ia melihat sebuah alas dari terpal tebal, Ia membentangnya lalu tanpa berfikir panjang Ia merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya.
Rere menatapnya, sembari menghabiskan suapan terakhirnya, Ia meneguk air minum dan memungut cup sisa makan Chakra, lalu membuangnya ke ting sampah.
Lee baru selesai dengan pekerjaannya, Ia membuka mie cupnya yang pastinya sudah mengembang dengan cepat. Namun karena lapar Ia tetap memakannya.
Rere juga merasakan kantuk yang luar biasa, perjalanan mereka dalam membebaskan sandera membuat tubuhnya terasa penat dan lelah.
Ia membaringkan tubuhnya disisi Chakra yang sudah terlelap. Sedangkan Arini sudah terlelap sedari tadi.
Lee memandangi Rere, Ia melihat sikap yang tak biasa dari gadis tomboy saat memperlakukan seorang pria. Ia benar-benar dapat menebak, jika si gadis tomboy akhirnya jatuh cinta.
Sesaat Lee teringat akan gadis desa yang pergi begitu saja meninggalkannya.
"Asih.. Dimana Kamu?" gumannya dalam hati sembari mengunyah mie cupnya.
Hatinya begitu nelangsa, Ia merindukan gadis itu, Ia berharap Tuhan mempertemukan mereka kembali.
Bahkan selera makannya menghilang, Ia terbayang akan wajah ayu gadis itu. "Mengapa Kau mengusik hari-hariku? Dimana Kamu sekarang?" Lee terus berguman lirih.
Sesaat Ia teringat akan sesuatu. Lee mengambil phonselnya, lalu membuka sebuah aplikasi dan melakukan pelacakan terhadap Asih melalui titik signal yang tertera dilayar phonsel canggihnya.
Lee pernah menanamkan chips kedalam lengan Asih saat terkena tembakan melawan para otang suruhan Wei.
Ia sengaja memasang alat tersebut karema tidak ingin kehilangan gadis itu dan akan menemukannya jika tiba-tiba gadis itu pergi.
Sesaat Ia melihat lokasi tersebut berada disebuah hutan belantara.
"Asih.. Apakah Ia sudah kembali kedesanya?" Lee tampak begitu berputus asa, namun Ia masih berharap suatu saat akan menyusul gadis itu setelah menyelesaikan semua tugasnya.
"Apakah Aku merasakan hal yang sama dirasakan oleh Rere saat ini? Jatuh cinta dengan orang desa yang begitu lugu, namun penuh pesona" Lee berguman lirih, lalu melirik Rere dan Chakra yang kini tidurnya sudah berubah arah.
Keduanya tidur saling berhadapan satu sama lainnya, serta tanpa disadari oleh Rere, kini salah satu kakinya sudah naik keatas pinggang Chakra.
Lee hanya menggelengkan kepalanya, lalu teedengar suara dengkuran keduanya yang saling bersahutan.