Buhul ghaib

Buhul ghaib
Penyembuhan Chakra



Chakra bergerak untuk bangkit, Dina berlari dan menghampirinya. " apa sayang.. Mau ibu bantu..?" ucap Dina dengan lembut.


Chakra mengangguk. "sembuhlah duhai anakku, jangan tinggalkan rasa khawatir pada ibu.." ucap Dina dengan lembut.


deeegh...


Jantung Chakra seolah-olah ada yang menyentuh. Rasa hangat mengalir kedalam tubuhnya, menghilangkan sedikit rasa sakit yang bersemayam ditubuhnya.


"Ibu tidak akan merelakan jika orang telah membuatmu menderita menjalani hidup yang ditenang. Ia akan merasakan apa yang telah kamu rasakan." ucap Dina dengan sepenuh hati.


"sudahlah bu, tidak usah dendam. Yang penting Chakra sudah mulai sembuh.."jawab Chakra dengan lemah dan parau. Mereka berjalan menuju luar goa. Chakra ingin merasakan hangatnya mentari, setelah lama berbaring diatas goa.


Chakra merasakan jika ada sesuatu yang hilang. Sepi.. Tanpa celoteh seseorang.


Seekor kuda gagah menghampirinya, meringkik senang melihat Chakra berada diluar. Kuda itu menciumi Chkara, menggesekkan samping kepalanya di wajah Chakra.


"kamu rindu ya padaku.?" ucap Chakra, sembari membelai lembut wajah kuda itu dengan telapak tangannya.


Dina merasakan jika seperti inilah mungkin Asih, yang mengotot ingin mencari kudanya. Mungkin ada keterikatan bathin antara tuan dan hewan peliharaannya.


"Asih.. apa kabarmu sayang? Semoga kamu senantiasa dalam lindungan Illahi.." Dina memunajatkan doanya.


Chakra sedang duduk disebuah bongkahan batu besar. Ia sedang berjemur. Beberapa hari terbaring membuatnya merasa lemah. Ia membutuhkan sina ultraviolet untuk menyegarkan otot-ototnya.


Dina yang sedari tadi memandanginya, menyadari jika ada bayangan wajah Andre di wajah Chakra. "Andre, dasar kamu brengsek.. Lihatlah anakmu, kini Ia telah tumbuh menjadi pemuda yang gagah. Suatu saat nanti kamu akan berbalik mencariku, anak ini yang akan membalaskan rasa sakit hati yang pernah kau perbuat." Dina berguman lirih dalam hatinya.


Seekor kelinci mengahampiri Dina. Ia berputar-putar menegelilingin Kaki Dina.


Melihat hal itu, Dina meraihnya. Kamu mau wortel?" tanya Dina kepada kelinci itu.


Binatang imoet tersebut menggerakkan mulutnya seperti sedang mengunyah sesuatu. Dina menciumnya gemas.


"Ayo.. Kita kekebun. Hari ini kita memasak sup jamur dan jagung muda, beserta wortel kesukaanmu" ucap Dina sembari berjalan menuju kebun.


"Chakra, ibu kekebun sebentar ya.." ucapnya, sembari menggendong tas rotan miliknya.


Chakra mengangguk pertanda setuju. Lalu merentangkan tangannya keatas untuk meresapi hangatnya sinar mentari pagi. Seketika Ia merasakan dirinya mulai membaik.


--------*****-------


Sesampainya dikebun, Arini berlari mengejar Dina, Ia berlompatan kesana kemari untuk melihat wortel kesukaannya.


Setelah menemukannya, Ia mulai mencabutnya, dan mengunyahnya dengan lahab.


Dina memetik beberapa bonggol jagung, wortel, kentang dan sayuran hijau.


Setelah itu Mencoba pergi sedikit kearah lereng bukit, disana ada banyak terdapat jamur yang tumbuh dari pelapukan pohon kelapa sawit.



Jamur ini disebut jamur merang sawit. Kalau orang sumatera utara mengatakan ini jamur salah nama, karena bentuknya mirip anu..🙏🙏🙏


Setelah mendapatkan banyak jamur, Dina ingin kembali ke goa. Namun seseorang tiba-tiba mendekapnya dari belakang, melingkarkan tangannya dipinggang Dina. Ia mengenali Aroma tubuh tersebut. "Kanda.." ucapnya lirih.


Bromo diam tak menjawab, Ia meletakkan dagunya di pundak Dina. Lalu memberikan sentuhan lembut di leher jenjang istrinya.


"Hei... Jangan nakal Kanda.. Apakah kamu tidak malu dilihat oleh kelinci imoet itu..? Matanya akan ternoda melihat perbuatan kanda" Dina mencoba mengingatkan Bromo, yang tampaknya sedang berhasrat pagi Ini.


"kalau begitu aku akan menculikmu, berikan sayur mayur itu padanya, dan dia akan memasaknya." ucap Bromo sembari menatap Arini.


Arini terpaksa memunguti keranjang berisi sayur yang berserakan itu. "dasar, mesum. Masih pagi sudah gak sabaran, membuat mataku ternoda saja." gerutu Arini.


Sesaat Arini menghilang, lalu berada didalam goa. Ia menjelma menjadi seorang peri cantik nan rupawan. Lalu dengan cekatan Ia memasak untuk menyajikan sarapan pagi dan siang hari.


---------******------


Chakra yang sudah selesai berjemur, tidak melihatnya ibunya kembali. "kemana ibu? Mengapa kekenun lama sekali?" Chakra merasa heran dengan ibunya yang tak jiga kunjung pulang.


Ia merasakan ada sesuatu yang hilang. Ia baru menyadari jika Asih juga tidak berada digoa.


"kemana Asih? Apakah dia sudah pergi berburu kehutan? Aku tidak melihatnya sedari tadi." Chakra merasa jika Ia sangat kesepian tanpa Asih. Karena selain bawel, Asih juga suka membantunya berburu hewan rusa.


Seketika Ia mencium aroma masakan yang sangat lezat. "ibu..? Kapan ibu pulangnya? Perasaan aku sedari tadi duduk disini tidak melihat ibu pulang..?" Chakra beranjak dari tempat duduknya, mencoba melihat kedalam goa.


Chakra merasakan perutnya sangat lapar, karena Ia belum sempat sarapan saat berjemur tadi. Ia mencium aroma masakan yang sangat lezat.


"eemmm.. Ibu memasak sip jamur hari ini. Dari Aromanya sangat lezat, apalagi rasanya." Chakra berjalan tertatih masuk kedalam goa.


Saat didalam goa, Ia melihat seorang wanita yang sedang memunggunginya sedang menyiapkan masakan. Ia bingung dengan pakaian yang dipakai oleh wanita yang dikira ibunya.


"mengapa ibu memakai gaun seindah itu? Perasaan ibu tidak pernah memilikinya? Apakah Romo yang membelikannya?" Chakra masih diliputi rasa penasaran.


Chakra mendekati wanita yang masih memasak tersebut. Tanpa permisi, Ia memeluknya dari arah belakang. "ibu masak apa..? Aromanya sangat lezat. Chakra lapar bu.." rengeknya manja.


Seketika Arin diam mematung, matanya membulat karena dengan tiba-tiba dipeluk oleh Chakra. Seketika Ia gemetaran. Karena baru pertama kalinya Ia mendapatkan sentuhan itu.


Chakara terdiam sejenak, Ia merasakan ada janggal, aroma tubuh ibunya sangat berbeda, rambut mereka juga. Dimana ibunya memliki rambut lurus panjang, sedangkan wanita ini memiliki rambut lurus dengan ujung bergelombang.


Chakra melepaskan pelukannya. Lalu Ia berjalan mundur satu langkah, dan memutar tubuh wanita itu.


"Haaaah...!"


Seketika Ia terperanjat dengan apa yang dilihatnya. Seorang gadis cantik sedang berada didepannya, dan Ia telah salah memeluk orang.


"si..siapa kamu..?" ucap Chakra terbata


Ia Tidak pernah membayangkan jika Ia akan bertemu dengan seorang gadis cantik didalam hutan seperti ini. Selama ini Ia hanya mengenal dua wanita saja, Yaitu Dina ibunya dan Asih adiknya.


Ketika melihat ada wanita lain didalam hidupnya, tentu membuatnya merasa gemetar. Seketika Ia merasakan debaran-debaran yang begitu aneh dalam dadanya. Ia begitu terpana dengan kecantikan Arini.


Arini yang juga merasakan gugup, seketika meletakkan masakan yang baru saja dimasaknya diatas meja batu yang terpahat dari batuan cadas tersebut.


Arini berlari keluar goa. Sesampainya disana, Ia merubah wujudnya menjadi seekor kelinci nan imoet. Arinni bersembunyi dibalik rerumputan. Selama ini selalu berada disekitar Chkara, bahkan Ia yang membantu Dina saat melahirkan Chakra.


Namun setelah Chakra dewasa, Ia tidak menyangka akan merasakan hal aneh dalam dirinya.


Bagi dirinya yang kini memasuki usia 200 tahun, tentu hal yang lazim baginya jika Ia segera memiliki pendamping hidup.


Chakra berjalan tertatih untuk mengejar gadis cantik itu. Sesampainya diluar goa, Ia tidak melihat sesiapapun.


"kemana perginya gadis itu? Mengapa begitu cepat Ia menghilang? Apakah aku cuma berhalusinasi..?" Chakra mencoba menepuk keningnya, menepis dugaannya jika Ia hanya sedang bermimpi saja.


Lalu Ia celingukan mencari Ibunya yang juga menghilang tanpa kabar. "kemana ibu..? Mengapa belum juga kembali.?" Chakra merasakan pagi ini sangat sepi.


Lalu Ia menuju area memasak tadi. Ia melihat ada sup jamur disana. "jika aku bermimpi.? Lalu mengapa masakan ini nyaa?" Chakra semakin bingung.


Ia mencoba masakan itu. "emm.. Enak banget rasanya. Tapi siapa dia..? Aku jadi penasaran.." Chakra berguman lirih. Lalu menyantab makanan itu dengan lahab.