
Asih tersentak dari tidurnya. Matanya tajam menembus kegelapan malam.
Saat ini Ia melihat dalam pandangan matanya ada 5 buah mobil berwarna hitam yang menuju ke kantor polisi dengan membawa 30 orang pasukan bersenjata api MG-42 buatan Jerman yang memiliki kemampuan membrondongkan peluru sebanyak 1600/menitnya. (sumber kontenpedia)
Asih membolakan kedua matanya, lalu melirik Edy yang masih tertidur pulas dengan suara dengkuran khsanya.
Asih meraih tas joranya dan membawanya kepunggungnya. Tak lupa Ia mengambil beberapa buah bom molotov milik Edy yang Ia masukkan kedalam tas jorannya. lalu Ia menggunakan celana panjang fullbody berwarna hitam berbahan kulit dan dengan sebuah jacket hitam yang sangat pas ditubuh rampingnya, lalu Ia memakai cadar sebagai penutup wajahnya.
Asih melesat membelah kegelapan malam dan menuju ke kantor polisi dimana para gadis belia san juga wanita berstatus janda ditempatkan untuk dikarantina sebelum dipulangkan ke negara asalnya.
Wanita lincah tersebut melompati bangunan demi bangunan dan akhirnya tiba diatas atap kantor polisi tersebut.
Ia menyembunyikan tubuhnya dibalik kegelapan malam dan menanti kedatangan rombongan yang sudah semakin dekat.
Asih memegang busur panah beserta anak panahnya dan bersiap kapan saja jika para pengacau itu tiba.
Tampak iringan lampu sorot mobil berwarna hitam itu menuju mendekat kearah kantor polisi.
Mereka sudah dilengkapi dengan senjata api yang siap memporak porandakan kantor polisi jika saja berani menghalangi membawa para wanita tersebut.
30 orang pria keluar dari mobil dan dengan cepat memberondongakan senjata apinya kepada para polisi yang saat itu sedang bertugas menjaga didepan kantor.
Seketikan suaran rentetan senjata api merobohkan ke tiga polisi yang sedang berpiket tersebut.
Seketika ketiga polisi itu roboh dan tak bergerak lagi.
Sementara yang lainnya meringsek masuk kedalam kantor polisi dan mengancam untuk membunuh mereka jika berani melawan.
Asih yang telah berdiri diatas bubungan atap kantor polisi tersebut mengikatkan bom diujung anak panah, lalu membidik mobil berwarna hitam yang berada ditengah dan masih ada para pasukan yang bersiap memberikan tenaga keahliannya untuk membela sang majikan
Mereka sebagian menanti para tawanan yang akan dibawah ke hadapan bos mereka.
Sebuah mobil boks telah menanti yang mana baru saja tiba untuk mengangkut para tawanan yang akan dibawa.
Tiba-tiba terdengar suara desingan anak panah yang melesat dengan cepat menuju ke arah mobil boks yang bersebelahan dengan mobil hitam lainnya.
Lalu...
Wuuuuuuussh...ssssttt...
dan..
Buuuuuuuuummm...
Suara ledakan yang sangat dahsyat menghanguskan mobil boks dan juga mobil hitam lainnya.
Seketika para pasukan yang berada disisinya ikut meledak dan hangus terbakar dengan kobaran api yang sangat dahsyat.
Seketika suasana menjadi riuh tak terkendali, dimana sebagian dari pasukan yang masih menunggu di sisi mobil tersebut ikut terbakar dan ada yang hancur karena bom tersebut.
Suasana didalam kantor polisipun menjadi gaduh. Sebab pasukan yang mengancam para polisi dan sudah menggiring para tawanan untuk segera keluar dari dalam kantor polisi, namun mobil yang akan digunakan sebagai pengangkut tawanan hangus terbakar beserta mobil merekan juga ikut meledak hingga sampai terbang ke udara beserta suara ketakuatan dan kesakitan yang mengiringi mobil itu terbalik dengan kobaran api yang maha dahsyat.
Seketika para pasukan itu keluar dari kantor polisi dan ingin melihat siapa yang telah melakukan itu semua.
Lalu mereka melihat kelebatan bayangan diatas sana, dan dengan cepat memberondongkan peluru ke arah si pengacau tersebut.
Dengan cepat sosok yang tak lain adalah Asih itu menggunakan pedangnya menghalau seluruh peluru yang menghujaninya.
setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya mereka kehabisan peluru, lalu mengeluarkan pisau sebagai senjata berikutnya.
Asih memanfaatkan kegelapan sebagai persembunyiannya untuk mengarahkan anak panahnya kepada seorang yang sedang bersiap melemparkan pisaua tersebut keatas atap bangunan. namun belum sempat Ia melemparkannya,anak panah sudah terlebih dahulu melesat dan menghujam hingga menembus dadanya, lalu seketika pria itu roboh dilantai halaman kantor tersebut.
Mereka semakin penasaran siapa yang ada dibalik semua kekacauan ini.
Lalu sosok wanita bercadar melesat dari atas atap sembari membidik dan melepaskan anak panahnya pada pria lainnya yang tengah menatap sosok Asih melesat turun dari atas, dan..
Wuuusshh..sstt..
Aaarrrgggh..
Satu orang lagi roboh dan menyisakan 10 orang lainnya.
Melihat sang pengacau telah berada dihadapan mereka, maka dengan cepat mereka menyerang sang pengacau dengan cara beramai-ramai alias keroyokan.
Tampak beberapa anggota kepolisian yang berada di dalam ruangan itu mmebatu Asih dengan menembaki para utusan anggota mafia tersebut.
Lalu Asih menggunakan busur panah untuk mengahalau segala serangan dari musuhnya yang tertinggal 6 orang saja. sebab sebagian diantaranya sudah roboh diberondong senjata api oleh para petugas kepolisian.
Asih berkesempatan membantai ke enamnya seorang diri. Sedangkan para petugas mengevakuasi para tawanan wanita dan gadis belia ke ruang bawah tanah yang tidak dapat di deteksi oleh orang suruhan mafia tersebut.
Seorang diantara pasukan mafia itu melemparkan pisaunya ke arah Asih, lalu dengan cepat Ia menangkapnya, dan mengembalikan pisau itu kepada pemiliknya tepat dikening sang pria, hingga membuat sang pemilik pisau tersebut terperangah dengan kedua bola mata yang terbeliak, hingga akhirnya roboh.
Lalu sisa ke limanya semakin kesal dan terbakar emosi melihat rekannya dikalahkan dengan mudahnya.
Lalu mereka menyerang Asih secara bersamaan. Seorang diantaranya melayangkan tendangannya kepada Asih, lalu wanita itu menangkap pergelangan kaki si penyerang dan berbalik menendangkan kakinya tepat di lato-lato sang pria, yang membuat pria itu meringis menahan ngilu..
Dan..
Asih memutar tubuhnya, lalu mendaratkan ujung sikunya didada kiri sang pria, hingga pria itu meringis menahan sakit dengan bersamaan menyemburnya darah dari mulut pria tersebut.
Q
Lalu sang pria ambruk seketika dan tak bergerak lagi.
Tersisa 4 orang lagi.
Mereka mengelilingi Asih dan siap menyerang. Seorang diantaranya melayangkan tinjunya dan diikuti oleh yang lainnya, Asih mencondongkan tubuhnya hingga 180° ke arah belakang dengan gerakan melengkung, hingga membuat tinju ke empat pria itu saling beradu satu sama lainnya, dan Asih membuat gerakan menggunting kaki para lawannya dengan menggunakan kaki sebelah kanannya untuk menyapu ke empatnya sekaligus hingga mereka terjatuh saling menindih sama lainnya.
Asih mengikat mereka menggunakan tali yang entah dari mana datangnya dan mengkat kedua tangaan kearah belakang, lalu menyatukan talinya dengan mengikat pergelangan kaki para utusan mafia tersebut hinnga membuat mereka melengkung kebelakang.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Asih segera ingin beranjak pergi, dan saat bersamaan, seseorang pria baru saja sampai menggunakan sepeda motor.
seorang pria yang tak lain adalah Lee yang diberitahu oleh Irjen kepolisan agar segera datang karena kantor mendapatkan serangan dari orang suruhan para mafia tersebut.