Buhul ghaib

Buhul ghaib
Tamu-3



Asih terhenyak saat melihat Edy berlumuran darah.


Sesaat emosinya memuncak, lalu Ia memberikan serangan kepada ketiga pria tersebut dengan tendangan telak diperut Sani, lalu sebuah pukulan didagu Dori dan satu pukulan didada Jodi. Lalu membuat ketiga pria itu tersungkur.


Dengan tatapan tajam, Asih memandang kepada pria bernama Andre. Ia mengambil batu permata yang terdapat didinding goa dengan begitu mudahnya.


Lalu dengan gerakan berputar Ia melemparkannya kepada Andre dan tepat mengenai bola mata kirinya.


Aaaaaaaarrgghh..


Teriak Andre kesakitan, sembari memegangi matanya yang berlumur darah.


Lalu Asih membopong tubuh Edy kesebuah ruangan rahasia didalam goa.


Ia berlari dengan sangat kencang. Setelah melalui lorong yang memiliki banyak cabang, akhirnya mereka sampai ditempat tersebut.


Asih lalu meletakkan tubuh Edy disebuah meja berbentuk segiempat yang terbuat dari batu pahatan.


Asih memandangi pemuda itu yang nafasnya tampak tersengal-sengal. Ia mengambil Katananya, lalu melakukan sebuah sayatan menggunakan ujung Katana tersebut.


Perlahan Asih menyungkit sebuah peluru yang menembus didada sebelah kanan Edy dengan menggunakan sebuah alat pipih terbuat dari besi stainles, dan beruntungnya tidak mengenai organ vital tubuh lainnya.


Asih tampak begitu sangat hati-hati dalam mengerjakannya. Setelah berhasil mengeluarkan peluru tersebut, maka Ia membubuhkan ramuan yang berfungsi untuk mengurangi rasa sakit dan juga menghentikan pendarahan pada luka pemuda itu.


Setelah selesai melakukan operasi dengan peralatan seadanya,maka Asih membalutnya dengan menggunakaan sebuah kain yang telah robek, dan membalut luka tersebut agar segera membaik.


Edy sedang tak sadarkan diri. Asih merasa sangat kesal terhadap mereka yang berbuat sesukanya. Saat ini Asih sedang ingin menjaga Edy yang sedang melewati masa kririsnya.


Sementara itu, Andre masing mengerang kesakitan. Ia memejamkan matanya sembari memmegangi matanya yang tertancap batu pemata tersebut. "Gadis sialan..!!" maki Andre dengan berang.


Ketiga bawahannya sedang berusaha untuk bangkit meski dengan sempoyongan.


"Dori, Sani..! Cari gadis sialan itu..!!" teriak Andre dengan suara lantang sembari menahan sakit. telapak tangannya dipenuhi oleh darah yang terus mengalir dengan deras.


"Baik, Bos.." sahut Keduanya dengan sedikit berteriak, lalu menyusuri lorong goa dengan membawa senjata golok dan senjata api.


"Jodi... Mendekatlah..! Aku butuh bantuanmu" ucap Andre dengan nada perintah.


Jodi berjalan dengan sempoyongan mendekati Bos mereka yang dalam pesakitan.


Setelah berada tepat didepan Andre, Jodi berdiri tegak tepat menghadapnya.


"Apa yang harus saya lakukan sekarang, Bos?" ucapnya dengan lirih.


"Mendekatlah lagi" ucap Andre meminta dan merendahkan nada bicaranya.


Jodi melangkah mendekat, lalu berdiri tegak menghadap Bosnya.


"Cabutkan batu permata yang menancap di bola mataku" pintanya, lalu mencoba membuka kelopaknya dengan menggunakan kedua tangannya.


Sesaat Jodi mematuhinya "Bersiaplah, Bos. Mungkin akan terasa sakit" ucapnya mengingatkan.


Andre menganggukkan kepalanya, lalu Jodi bersiap mencabut batu permata berbentuk limas segitiga yang meruncing ujungnya.


Creeees...


Suara cabutan batu permata yang ternyata blue diamond .


Aaaaaaargh...


Iringan teriakan Andre saat bersamaan dengan tercabutnya blue diamond.


Andre mengerang kesakitan, namun sedikit berkurang karena benda itu sudah terlepas dari bila matanya.


"Carikan saya kain untuk menyumbat pendarahan dimata saya" titahnya dengan nada menahan rasa sakit.


Lalu jodi merobek kaos bajunya, dan melipatnya menjadi tiga lipatan, lalu mengikat sebelah mata milik Andre.


Ikatan kain dibola matanya mengurangi rasa sakitnya.


"Gila..!! tapi mengapa gadis itu begitu mudah mencabutnya? Sedangkan kita begitu kesulitan?" Andre merasa kebingungan.


Saat ini Ia hanya bisa menggunakan satu matanya saja untuk melihat sesuatunya.


"Sebaiknya kamu menyungkit batu-batu permata itu, dan biarkan Sani serta Dori yang membereskan gadis sialan itu" ucapnya dengan nada perintah.


Jodi menganggukkan kepalanya, dan mulai menyungkit batu-batu permata itu. Pria itu merasa sangat kesulitan dalam menyungkitnya, sedangkan gadis itu begitu mudahnya hanya dengan menggunakan jemarinya saja.


Sementara itu, Sani dan Dori masih menyusuri lorong yang terlalu banyak liku-likunya dan juga bercabang.


"Kita harus kearah yang mana, San?" Tanya Dori dengan kondisi bingung dan juga lelah. Apalagi suasan malam dan pencahayaan yang minim.


"bawah salah satu suluh bambu itu sebagai penerang" ucap Sani sembari terus berjalan menyusuri lorong yang remang-remang.


Dori mengukuti perintah dari Sani, Ia mengambil suluh bambu yang dititahkan Sani kepadanya, lalu mengekori Sani yang sudah berjalan terlebih dahulu.


"Apakah kita tidak salah mengambil jalan?" tanya Dori yang sedkit lelah karena membutuhkan asuoan energi dan juga belum beristirahat, ditambah lagi terkena pukulan oleh Asih saat pertempuran tadi, begitu menguras tenaganya.


"Kita beristirahat sejenak ya, San? Aku kelelahan" ucap Dori memohon.


Sani mengamggukkan kepalanya, lalu mereka duduk dimenyandar didinding lorong goa.


"Aku sangat lapar , San" ucapnya mengeluh.


Sesaat Sani mengingat Ia tadi mengambil ubi jalar rebus diatas piring batu giok diruang utama goa.


Saat hendak memakannya, Ia diperintahkan untuk menangkap Asih dan Edy. Lalu Ia memasukkan kedalam saku jaketnya.


"Ini.. Ada satu, makanlah" ucap Sani menyodorkan satu buah ubi jalar rebus dengan ukuran sekepalan tangan orang dewasa.


Dori meraihnya, lalu mematahkannya menjadi dua bagian. Satu untuknya, dan satunya Sani.


Lalu mereka memakan ubi jalar itu dengan perasaan yang nestapa.


"Mengapa Kita harus terjebak dalam situasi yang sesulit ini ya, San? Ucap Dori, sembari mengunyah ubi jalarnya dengan sangat lemah.


Sani hanya diam membisu, namun mencoba mencernah ucapan dari Dori.


"Lihatlah Roby, Rocky, Jalu. Mereka mati dengan cara yang mengenaskan. Bahkan Roby tak tau dimana rimbanya" Ucap Dori, mencoba mengenang kisah saat perjalanan menuju goa.


"Benar katamu, bahkan Black, dan juga Jack, Kita tidak tahu bagaiamana mereka kondisi mereka saat ini, semua ini bukankah karena bentuk dari keserakahan semata?" Sani menimpali.


Dori mengangguk membenarkan. "Dan Kita yang ditumbalkan. Ingat dalam permainan catur, kita diidbaratkan seperti pion belaka, hanya menjadi tumbal untuk melindungi sang Raja" Dori mengucapakan kata yang sedikit menyayat hatinya saat ini.


"Apa yang bisa Kita lakukan?" tanya Sani dengan penasaran.


"setelah Kita mampu mengalahkan gadis itu, kita meminta bagian untuk batu permata yang sudah didapat, dan kita bisa bebas untuk keluar dari pekerjaan ini dan mencari pekerjaan yang halal saja" ucap Dori menjelaskan.


Sani mencoba menganggukkan kepalanya. Ia membenarkan apa yang diuucapkan oleh sahabatnya itu. "Benar juga, Aku juga sudah lelah, dan ingin berkumpul dengan keluargaku, Aku merindukan anakku yang paling bungsu, dan belum sempat menjenguknya daei sejak lahir" ucap Sani dengan linangan aur matanya, yang tanpa sadar terjatuh, saat mengingat buah hatinya.


"Aku sudah selesai dengan makanku, apakah Kita akan bergerak sekarang?" tanya Dori memberikan pertanyaan yang membuat Sani menyeka air matanya.


"Kalau begitu mari Kita bergerak, agar segera menyelesaikan tugas ini" ucap Sani, beranjak dari duduknya menuju lorong berikutnya.


Disisi lain, Jodi hanya mampu menyungkit tiga buah berlian Blue diamond yang begitu sangat menyulitkannya.


Kini total blue diamond itu sudah mencapai 4 buah dengan yang tertancap di bola mata kiri milik Andre.


"Bos... Sepertinya akan mudah jika kita menggunakan alat gerinda untuk mengambilnya" saran Jodi yang tampak kelelahan. Andre menyimpan keempat batu berlian itu kedalam balik saku jaketnya yang memggunakan resleiting.


Andre menghampiri Jodi, lalu meminta golok yang dipegang oleh Jodi tersebut untuk menggantikan bawahannya yamg tampak kelelahan.


Jodi menyerahkan golok tersebut, dan berlari menuju makanan gratis yang terhidang di meja batu. Dan sebuah batu giok tersebut.


Jodi menguyah dengan cepat, Ia sudah sangat lapar dan juga haus. Setelah melahab ubi jalar rebus dan juga jagung muda itu, Ia mulai terlihat segar.


Ia melihat sang Bos dengan kesusahan mencoba menyungkit batu permata itu, namun tak juga berhasil.