
Asih tersentak melihat sosok wanita yang berdiri dihadapannya dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Sosok itu menyeret ujung pedangnya dan dengan sorot mata yang tajam dengan manik hitam pada seluruh matanya tersenyum seringai melihat pada Asih.
Sosok wanita yang tak lain adalah Rebecca yang bersiap untuk menyerang. Dengan gerakan tak terduga Ia menghunuskan ujung pedangnya pada Asih, dan dengan gerakan cepat Asih mencekungkan tubuhnya kebelakang, lalu memberikan serangan balasan dengan menghujamkan ujung katananya tepat didada kiri Rebecca yang mana terletak jantung yang sudah tidak lagi berdetak dan hidupnya hanya karena sesuatu dari cahaya kegelapan.
Seketika tubuh Rebecca diam tak bergerak dan mematung. Lalu Asih menggunakan ajian waringin sungsangnya menendang tubuh Rebecca hingga ujung Katananya tercabut dari dada kiri wanita yang saat ini sudah tampak tak bergerak lagi.
Lalu kemudian Rebecca tersungkur dilantai dan perlahan menjadi butiran debu dan menghilang.
Asih bernafas lega, Ia kemudian menyusul tempat dimana Edy dan juga Lee membebaskan para tahanan tersebut.
Tampak semua tahanan sudah terbebas dari penyekapan dan mereka memastikan tidak ada yang tertinggal.
Terlihat Edy dan Lee penuh dengan luka disekujur tubuh mereka, terutam Edy yang mana tubuhnya penuh dengan luka dan darah yang yang masih tampak basah.
Asih menghampiri Edy. Pria itu tersentak kaget. Ingin rasanya Ia mendekap Asih, namun ada Lee yang pastinya akan melihat adegan mereka.
"Aku duluan pamit, aku ikut bersama dengan helikopter terakhir" ucap Lee sembari melirik Asih.
Ada goresan luka dihatinya, namun tak dapat membenci, mencoba melepaskan, meski tak merelakan. Kenangan yang teramat manis, saat pertama mereka bertemu tak dapat Ia lupakan begitu saja. Namun kini Ia hanya dapat mencoba melepaskan dengan keterpqmaksaan semua kenangan yang bersemayam didalam hatinya.
Sebuah helikopter datang mendarat dan Lee dan berpamitan kepada keduanya. Lee mendekap Edy, bagaimanapun mereka telah melewati masa bersama saat melawan mutan dan pasukan Wei secara bersamaan, dan mereka akhirnya berpisah.
Perlahan perlahan Lee memasuki helikopter yang sedari tadi sudah menunggunya. Ia mencoba untuk menoleh ke arah Asih sekali lagi, meyakinkan hatinya jika Ia tak dapat lagi memilikihati dan cinta dari gadis yang telah berpunya.
Ia memasuki helikopter dan duduk dengan bersandar sembari memejamkan kedua matanya. Lalu helikopter beranjak terbang mengudara dan menembus kegelapan malam untuk mengantarkan beberapa tahanan yang tersisa dan juga Lee.
Perlahan Ia mengendus aroma wangi yang tak biasa disisi kirinya. aroma wangi nan lembut serta menenangkan itu semakin kentara, dan rasa penasaran memaksanya untuk membuka matanya.
Alangkah terkejutnya Ia saat mendapati sesosok wanita cantik yang sangat begitu anggun dan ikut menatap pada Lee.
Kedua mata mereka beradu, dan keindahan bola mata dan juga tatapan teduh itu membuat Lee terkesima.
Lee tidak tahu siapa wanita itu, namun kecantikannya sungguhnlah menawan.
"Siapa, Kau?!" tanya Lee bingung.
Wanita itu hanya mengerjapkan ke dua matanya sehingga memperlihat bulu-bulu matanya yang panjang melentik.
wanita itu tersenyum menatap pada Lee, dengan senyum termanis yang menambah keindahan aura diwajahnya.
Lee hanya dapat terperangah melihat wanita disisi kirinya, sehingga membuat Ia tak dapat mengatakan apapun.
Dengan perasaan gugup, Lee menyambut uluran tangan wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Arini.
"Lee," balas Lee yang menatap wajah ayu rupawan itu.
Arini merasakan jika saat ini deguban jantung Lee berpacu lebih cepat. Sama halnya dengan dirinya yang selama ini selalu bersembunyi dibalik Tas Chakra yang mengikuti pemuda itu kemanapun saat pencarian Asih dan melihat Lee untuk pertama kalinya dan Ia merasakan getaran rasa suka pada pemuda itu kian menggunung.
"Kamu tinggal dimana?" tanya Lee yang tampaknya seperti tak ingin melewatkan kesempatan ini.
"Jika boleh Aku ingin tinggal dan menetap dihati dan hidupmu!" jawab Arini yang semakin membuat Lee salah tingkah.
"Emmm... A-Anu.." ucap Lee merasa bingung dengan jawaban Arini yang seolah menjebaknya.
Namun sejujurnya Ia sangat merasakan getaran-getaran indah mulai tumbuh dihatinya.
Disisi lain, Edy mendekap tubuh Asih penuh kerinduan. "Kamu terlalu lama sekali, Sayang!" bisik Edy sembari menghujani Asih dengan kecupan manis.
Asih membalas kecupan sang suami. Lalu Ia melemparkan sesuat ke ruangan bawah tanah milik Wei, dan membawa tubuh Edy melesat menghilang dari gedung tersebut, dan kembali ke hotel tempat pertama kali mereka menginjakkan kaki didunia belahan barat.
Bersamaan dengan perginya Asih dan juga Edy, gedung itu meledak dan hangus terbakar, hingga tidak ada satupun yang tersisa. Gedung itu hangus menjadi debu, dan tertiup angin sehingga rata dengan tanah.
Asih dan Edy melepaskan kerinduan mereka dengan memadu kasih dalam biduk asmara nan menghanyutkan.
Edy tak lagi merasakan tubuhnya yang penuh luka dan darah masih mengalir dari setiap luka yang masih menganga.
Rasa kerinduannya pada sang istri menghilangkan semua rasa sakitnya.
Sama halnya dengan yang lainnya, Chakra dan Rere dapat meneyelesaikan tugas mereka dirumah sakit dan ikut memusnakan para mutan dan kini rumah sakit kembali normal karena pasien yang sembuh dengan tiba-tiba dan tampak Andre juga sudah kembali pulih.
Jika para pasien kembali ke rumah mereka. Maka Andre kembali ke rumah tahanan. Ia harus menjalani hukumannya dan Chakra menghampirinya saat polisi menggiringnya dengan tangan diborgol. Ia menatap ayah biologisnya yang kini tinggal seorang diri.
"A-ayah.." ucap Chakra untuk pertama kalinya, meskipun lidahnya keluh. Andre menatap pada pemuda dihadapannya dengan rasa malu yang teramat sangat.
Kemudian Ia meminta Chakra untuk menghampirinya. Lalu pemuda itu menghampiriny dan mendekapnya penuh kehangatan. Ini untuk pertama kalinya mereka saling bersikap manis.
Polisi lalu menggiring Andre kedalam mobil perugas dan membawanya kembali ke ruang tahanan.
Chakra memandang kepergian Andre dengan tatapan nanar. Sesaat Chakra tersentak saat Rere menepuk pundaknya.
"Ayo.. " ajak Rere yang merangkul pundak Chakra untuk kembali ke markas besar.
~The End~