
Asih masih terbaring dengan lemah. Dina telah memberikan perawatan yang maksimal, hingga tinggal pemulihannya saja.
Chakra yang terluka parah, kini masih belum sadarkan diri. "kanda..bagaimana nasib chakra..?" isak Dina ditengah kekalutannya.
"bersabarlah dinda, dia akan selamat, namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Jantungnya tergores peluru tersebut." ucap Bromo dengan lembut, berusaha menenangkan hati Dina.
Dina masih terisak dengan kepiluan.
"ambilkan kanda sebutir telur ayam, kanda akan berusaha mengeluarkan peluru yang bersarang didadanya." pinta Bromo.
Dina bergegas keluar dari goa, Ia mencari ayam kampung peliharaannya yang bebas berkeliaran dikebunnya.
Setelah mendapatkan sebutir telur yang diminta oleh Bromo, maka Dina membawanya kembali ke goa, dan menyerahkannya kepada Bromo.
"kanda, ini telurnya.." Dina mengulurkan tangannya dengan sebutir telur yang berada ditelapak tangannya.
Bromo meraihnya. "terima kasih Dinda.."
Bromo memejamkan matanya, lalu merafalkan doa. Tampak Sebuah cahaya masuk kedalam telur itu.
Bromo meletakkannya di tempat peluru yang bersarang ditubuh Chakra.
Seperti subuah magnet yang dapat menarik benda besi, maka seperti itulah gambaran Bromo saat mengambil peluru itu dengan media telur.
"pecahkanlah telur ini Dinda.." pinta Bromo kepada Dina.
Lalu Dina memecahkan telur tersebut diatas sebuah cawan batu keramik, dan alangkah terkejutnya Ia, saat mendapati peluru itu kini berada didalam sebutir telur dengan gumpalan darah. Dina membuangnya keluar
Chakra terbatuk, saat peluru itu berhasil diangkat.
"uhuk..uhukkk" Ia memuntahkan darah hitam.
"Chakra..!! Kamu baik-baik saja sayang..?" Dina mendekapnya penuh dengan kekhawatiran.
Seketika Chakra tak sadarkan diri lagi.
"Chakra.. Bangunlah sayang.." isak Dina dengan suara tertahan.
"tenangkan dirimu dinda.. Chakra akan baik-baik saja." Bromo menyentuh pundak Dina.
Dina menghamburkan dirinya kedalam pelukan Bromo. "hiks...hiks..hiks.." isakan Dina masih tertahan. Ia tidak dapat membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Chakra.
"ibu..." ucap Asih dengan lirih.
"Asih.." Dina melepaskan pelukannya pada Bromo. Lalu berjalan menghamipiri Asih yang masih lemah.
"Apa sayang..? Kamu mau makan..? Ibu suapin ya..?" ucap Dina sembari menyeka air matanya.
"dimana Bara Bu..?" ucap Asih dengan lirih.
Dina terdiam, lalu menatap Bromo, meminta pendapat.
Bromo hanya mengerjapkan kedua matanya. "Kamu pulihkan dulu kesehatan kamu sayang." ucap Dina mengalihkan pembicaraannya.Ia tidak tahu harus menjawab apa tentang Bara yang dibawa oleh orang yang tidak dikenal.
Asih menatap dengan tatapan selidik. "dimana Bara bu..?" tanya Asih kembali.
"emmm..ada..Ia masih memakan rumput di sekitar sini.." Dina mencoba berbohong.
Asih mengetahui jika ibunya sedang berbohong. Ia mencoba untuk bangkit, namun kepalanya masih terasa pusing.
"uhuk..uhuk..uhuk.." Chakra terbatuk.
" Ibu lihat kondisi kakakmu dulu ya.." Dina beranjak bangkit, lalu menghampiri Chakra. "mana yang sakit sayang..?" ucap Dina dengan rasa kekhawatiran.
Mata itu sayu, tak mampu untuk dibuka terlalu lama.
Bromo sedang mencari ramuan untuk menghentikan pendarahan yang terjadi pada Chakra, serta sebagai radang inflamasi.
Setelah mendapatkan semua bahannya, Bromo mulai meracik dan meminumkannya kepada Chakra.
Ramuan itu untuk mengobati luka dalam yang dialami pemuda itu.
Dina memandangi Bromo dengan penuh arti. Ia melihat sebuah ketulusan arti cinta seorang pria. Dimana Ia mencintai wanitanya dengan menerima masa lalu dari wanita yang dicintainya dengan tanpa mengungkitnya, bahkan mencoba untuk menutupinya.
"meskipun Chakra bukan anaknya, Ia tetap merawat Chakra dengan tulus. Mungkin tidak salah jika aku memilih untuk menikah dengannya." Dina berguman dalam hatinya.
"terimakasih Kanda, atas semua yang telah kamu berikan kepadaku.." ucap Dina dengan tulus.
Dina merasakan sebuah kehangatan cinta. Ia merasa jika hidupnya berada pada kesempurnaan. Meskipun Bromo bukanlah sejenis dengannya, meskipun Bromo berbeda alam dengannya.
Asih yang melihat itu semua terperangah. "yaelah, yang lagi jatuh cinta, sampai gak lihat ada orang disekitarnya" Asih menggerutu dalam hatinya.
"uhuk..uhuk..uhuuuk.." Asih terbatuk lebay.
Dina yang menyadari hal itu segera melepaskan pelukan Bromo. Lalu menghampiri Asih. "apa yang sakit sayang..?" ucap Dina penuh khawatir.
"mau minum saja bu.." ucap Asih tersipu malu karena kepergok mengintip.
Dina lalu mengambil segelas air minum untuk diberikan kepada Asih.
Asih merubah posisinya menjadi duduk bersandar. Dan meneguk air minum itu hingga habis.
"sudah sayang minumnya..?" Dina meraih gelas tersebut, lalu meletakkan diatas meja yang terbuat dari batuan cadas.
Asih menganggukkan kepalanya.
Bromo datang menghampiri Asih. "bagaimana dengan lukamu sayang? Tanya Bromo dengan suara selembut mungkin.
"sudah membaik Romo.."
"Syukurlah."
"Romo..." Asih menggantung ucapannya.
"ya, ada apa..?" ucap Bromo dengan menatap Asih.
"ijinkan aku pergi mencari Bara.." pinta Asih dengan permohonan.
"Bara ada disekitar sini sedang mencari rumput.." Dina menyela.
"Ibu berbohong.. Asih tau bara dibawa oleh orang-orang kota itu..!"
Dina terdiam, Ia tidak dapat mengelak lagi. "Disini masih banyak kuda yang lain, yang sama seperti Bara.." Dina mencoba memberi pilihan.
"tidak..Asih tidak mau, Asih mau Bara Sembrani." Dina mulai membantah.
"Tidak...Ibu tidak akan mengijinkanmu.. Diluar sana banyak terdapat kejahatan yang kamu tidak pernah tau..!" sergah Dina dengan tatapan amarah. Ia tidak ingin berjauhan dengan Asih. Apalagi jika harus mencari kuda itu sampai ke kota.
"Romo... Ijinkan Asih pergi Romo.." rengek Asih kepada Bromo.
Bromo menatap kepada Dina yang sedang kesal. Ia berusaha tenang menghadapi kedua wanita yang saling berdebat ini.
Bromo menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya.
"mungkin sudah saatnya kamu untuk menemukan duniamu.." ucap Bromo dengan tenang.
Dina membulatkan matanya menatap Bromo.
" Kanda.. Mengapa kau malah mengijinkan puterimu berkeliaran diluar sana..?" Dina menatap tak setuju dengan keputusan Bromo. Asih adalah seorang gadis. Dan Ia tidak rela jika Asih sampai terjerumus seprtinya dahulu.
Bromo memahami apa yang ditakutkan oleh Dina, namun, Asih adalah gadis yang berbeda. Maka Bromo yakin, jika Asih akan mampu menjaga dirinya dengan baik.
"tenanglah Dinda, Kanda akan selalu mengawasinya." ucap Bromo meyakinkan Dina.
"Asih kamu itu jangan keras kepala.. Ibu hanya tidak ingin kamu sampai masuk kedalam kandang singa." ucap Dina memberikan penekanan kepada Asih.
Asih menoleh kepada Dina. "dihutan Asih biasa bertemu dengan Singa bu, bahkan harimau dan sejenisnya." jawab Asih mencoba mengukuhkan keinginannya.
"tapi Singa yang ibu maksud adalah para lelaki sayang.! kamu tidak tau, jika lelaki diluar sana itu semuanya buaya..!" ucap Dina tanpa aling-aling.
Seketika Bromo memandang Dina dengan mengerutkan keningnya.
Dina menjadi kikuk.. "emmm...maksud Dinda buaya darat, Kanda.. Bukan buaya....emm itu..anu.." Dina kebingungan untuk meneruskan Ucapanya.
"kalau cuma buaya mah kecil bu.. Masa iya buaya harus kalah dengan buaya.." jawab Asih dengan melirik Romonya.
"Romo mengijinkanmu, meski tanpa ijin dari ibumu.." ucap Bromo dengan tatapan ketus.
Lalu Bromo menghilang dari pandangan mata.
"Kanda.. Bukan itu maksud dinda.." Dina berguman lirih..
Lalu menatap pada Asih, dan asih merundukkan kepalanya merasa bersalah atas pertengkaran kedua orangtuanya.