
Setelah mengalami kesulitan yang sangat panjang. Sekelompok orang tersebut akhirnya kelelahan juga. Mentari sudah tampak setinggi bayangan manusia. Perut mereka keroncongan karena pagi tadi belum sempat sarapan.
"Lihat...!" ucap Rocky kepada yang lainnya. Tangannya menunjukkan sesuatu yang menarik perhatian rekan-rekannya.
Lalu langkah mereka dipercepat untuk sampai ketempat yang menjadi pusat perhatian mereka.
"Sepertinya malam tadi mereka bermalam disini" ucap Sani dengan memeriksa lokasi tersebut.
"Masih ada sisia daging ular bakar, sepertinya dapat Kita manfaatkan untuk mengganjal perut kita yang kelaparan" ucap salah seorang diantara mereka.
Sementara itu, Pimpinan mereka memperhatikan setiap detailnya. "mereka menuju kearah sana" ucap sang pimpinan yang merupakan bos mereka.
"Tetapi Kita beristirahat sejenak. Daging ular ini dapat kita jadikan sebagai santapan" titah Sang Big Bos. Lalu keenam bawahannya hanya bisa mematuhi saja.
Sani dan Rocky yang tadi sempat mengambil golok rekan mereka yang sudah tewas dikehabisan darah karena hewan lintah, keduanya lalu mengerat-ngerat daging ular bakar tersebut untuk dibagikan kepada Bos mereka dan rekan lainnya.
Mereka lalu menikmati daging bakar ular sanca tersebut dengan sangat rakusnya, dimana mereka merasa ini sebuah rezeki nomplok tanpa harus berburu.
Disisi lain, dua jasad yang tertinggal begitu saja, kini menjadi santapan hewan-hewan liar yang berjenis carnivora, dan tak meninggalkan sedikitpun. Para hewan-hewan itu berpesta pora dengan kedua jasad tersebut, dan hanya meninggalkan tulang belulang saja.
Jiwa keduanya hanya mampu menantap nanar dan penuh kebingungan. Keduanya seolah tak rela jika mereka diperlakukan tidak layak.
Sementara itu, setelah menikmati daging ular bakar tersebut, sekelompok orang tersebut memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan mereka dengan terus mengikuti jejak tapak kuda tersebut.
Jalanan yang licin mempersulit gerak mereka. Namun iming-iming dari sang Big Bos membuat mereka terus saja melangkah, meski kadang harus merasa kelelahan dan berniat menyerah.
"Bos... Sepertinya Kita sudah menempuh perjalanan yang sangat jauh, apakah Bos yakin jika usaha Kita tidak sia-sia?" Rocky mencoba mengungkapkan rasa penasarannya. Ia sepertinya mulai ragu, apalagi saat menyaksikan keempat rekannya tewas secara mengenaskan dihutan yang liar ini.
"Jangan menyerah begitu saja, Kita sudah hampir dipuncak, dan sebentar lagi Kita akan menemukan apa yang Kita cari" Sang Bos berusaha menyemangati para bawahannya.
********
Asih menghentikan laju kudanya, Ia melihat aliran sungai yang cukup deras "Kita berhenti sejenak"Ucap Asih, lalu meminta Edy segera turun.
Pemuda itu kemudian melompat dan turun dari atas punggung kuda. Ia mencoba menuruni sungai yang tampak deras tetsebut.
Asih kemudian juga melompat turun dari punggung kuda dan menuju aliran sungai, Ia berjalan dengan begitu cepat, hingga meninggalkan Edy yang terlebih dahulu berjalan.
Pemuda itu hanya dapat terperangah melihat kelincahan sang gadis, lalu mencoba menyusulnya.
Asih melepas tas jorannya, lalu mengambil senjata Dwi Sulanya dan membuka pakaian atasnya, menyisakan tanktopnya, lalu menceburkan dirinya kedalam sungai.
Edy berteriak memperingatkan, karena aliran sungai itu sangat deras dan berbahaya, namun sepertinya sang gadis tak memperdulikannya.
Gadis itu menyelam kedalam sungai berair sedikt coklat karena pengaruh hujan sebelumnya. Namun hal itu tak menyulitkan pandangannya.
Edy tampak panik. Ia seperti kebingungan mencari Asih didalam sungai tersebut, Ia mulai khawatir jika Asih tenggelam dan hanyut atau juga diterkam hewan buas didalam sungai tersebut.
Tak berselang lama, kepala Asih menyembul dari bawah air, lalu memperlihatkan senjata Dwi sulanya yang kini sudah tertancap 2 ekor ikan mas berukuran besar sedang menggelepar.
Asih naik kepermukaan dengan tubuh basah kuyup, mencetak lekuk tubuhnya yang sempurnah, membuat Edy kelimpungan melihatnya.
Belum sempat pemuda itu mengatur nafasnya yang memburu, Asih sudah memberinya tugas untuk membersihkan ikan tersebut dan membakarnya.
"Bersihkan, dan bakarlah" ucap Asih sembari melemparkan dua ekor ikan mas berukuran besar tersebut kebawah kaki pemuda itu.
Edy melompat karena kaget, dan mencoba meredakan gemuruh didadanya.
Setelah puas mentertawakan pemuda itu, Asih kembali masuk kedalam sungai dan berendam sepuasnya.
Edy memunguti dua ekor ikan besar tersebut, membersihkannya dan membuat perapian untuk segera membakar ikan itu, perutnya sudah sangat keroncongan.
Mencium aroma ikan bakar, membuat Asih merasa lapar. Ia kembali naik kepermukaan, dan menghampiri pemuda itu lalu menndekati perapian. "Hemmm..aroma sangat enak" ucap Asih sembari menghirup aroma dari ikan tersebut.
Ia sepertinya tidak memperdulikan pakaiannya yang basah. sinar mentari dimanfaakannya untuk mengeringkan tubuh sekaligus pakaiannya.
"Nah... Makanlah" ucap Edy, sembari menyodorkan seekor ikan mas yang ditusuk menggunakan ranting kayu. Asih menerimanya, dan mulai mencubit daging ikan tersebut.
"hemmm... Manis sekali rasa daging ikan ini" ucap Asih yang mencoba menikmati lezatnya rasa daging ikan bakar tersebut.
"Ya, sangat manis. Namun lebih manis lagi kamu" ucap Edy meluncur begitu saja.
Asih yang mendapatkan pujian tersebut, hanya mengernyitkan keningnya saja, dan tak memperdulikan ucapan Edy. Dalam sekejap daging ikan itu habis dilahabnya. Lalu Ia meminum air sungai dan duduk menyandar disebatang pohon kayu besar karena kekenyangan.
"Percepatlah makanmu, Kita akan melanjutkan perjalanan" titah Asih kepada Edy, yang tampak lamban dalam menghabiskan makanannya.
Edy hanya menganggukkan kepalanya saja, mematuhi setiap ucapan sang gadis.
"Mengapa Kau mengikutiku? Seharusnya Kau kembali ke kota. Untuk apa membahayakan dirimu dihutan belantara ini" ucap Asih sembari memandang pemuda didepannya.
Edy menghabiskan suapannya, dan melemparkan sisa tulang ikan itu kesembarang arah. Lalu mencuci tangannya dan meminum air sungai.
Ia menghampiri Asih, lalu duduk disisi sang gadis. "Aku pernah kehilanganmu, dan aku melewati hari-hariku dengan begitu sulit agar dapat melupakanmu" ucapnya dengan lirih, mengenang masa itu.
"Dan saat Aku menemukanmu kembali, bagaimana mungkin Aku harus melepaskanmu lagi" Edy menatap gadis disisinya. Ia meraih jemari gadis itu, yang mulai mengering terkena terpaan sinar mentari.
Ia menggenggam jemari sang gadis yang sudah membuatnya hampir kehilangan akal sehatnya.
"Aku tidak tahu dengan hatiku, saat pertama kali melihatmu, Aku jatuh hati padamu. Kamu gadis yang berbeda" ucap Edy mengungkapkan perasaannya. Ia benar-benar jatuh cinta.
"Mau kah Kau menikah dengan Ku? Aku mengikutimu, untuk meminta restu pada orangtua mu, agar dapat menikahimu" ucap Edy dengan nada serius.
Asih memandang pemuda dihadapannya "Pemuda lain pernah mengatakan ini padaku" ucap Asih dengan polosnya.
Seketika Edy menatap gadis itu dengan penasaran "Benarkah? Siapa?" tanya Edy penasaran bercampur rasa cemburu.
"Pemuda Kota juga, Ia juga tampan seperti mu" Jawab Asih seenaknya, membuat Edy semakin terbakar cemburu.
"Apakah Kamu menyetujuinya?" desak Edy tak sabar.
"Tidak... Karena Aku tidak tahu apa tujuan menikah" jawab Asih dengan santai.
Edy menepuk jidatnya, Ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada gadis itu.
"Bawa Aku kepada orangtua Mu, jika mereka merestui Ku menikahimu, maka saat itu kamu akan mengerti apa itu menikah serta hak dan tanggungjawab masing-masing dari Kita." pinta Edy dengan memohon.
"Lalu bagaimana dengan pemuda Kota itu" tanya Asih masih santai.
Edy kembali menatap lekat mata sang gadis "Kau menyukaiku atau menyukainya?" tanya Edy penasaran dengan perasaan sang gadis.
"Aku menyukai kalian berdua" jawab Asih masih dengan santai dan polosnya.
Edy membeliakkan matanya, Ia tak rela jika Asih menyukai dua pria, hanya ada satu pria saja dihati sang gadis, yaitu dirinya. Maka Ia harus segera menemui kedua orangtua gadis itu untuk meminta restu.