Buhul ghaib

Buhul ghaib
Kepanikan 2



Dina berhasil membawa Umi dan bocah tersebut kedalam rumah.


Ular-ular itu tidak mampu memasuki rumah, karena sudah diberi perisai ghaib oleh Bromo saat sebelum pergi meninggalkan rumah Abah Kasim.


Dina melihat ular-ular tersebut mulai memasuki rumah- rumah warga.


Ular-ular yang berhasil masuk dan menemukan korbannya, akan segera menyerang dan meresapi energi korbannya.


Tampak dua orang pria yang tadinya diperingatkan oleh Umi Lastri agar tidak keluar rumah, berlari-lari sembari berteriak meminta tolong.


"tolooooong...tolooooong.."


Suara keduanya bersahut-sahutan meminta tolong. Teriakan dan jeritan kesakitan dari keduanya sungguh memilukan dan menyayat hati. Seketika keduanya berubah menjadi debu, lalu tertiup angin dan menghilang.


Energi mereka terserap habis oleh kekuatan hitam yang dikendalikan oleh seseorang dari arah kejauhan dialam sana.


Suara isak tangis ketakutan, jeritan kesakitan, serta teriakan panik ada dimana-mana.


Seketika desa yang semula tenang, berubah menjadi riuh dan tak terkendali.


Warga terlihat sangat panik, di dalam rumah, mereka saling berpelukan. Seolah-olah akan mati bersama jika ular-ular itu datang menyerang mereka.


Dina menatap penuh amarah kepada ular-ular tersebut, Ia menggunakan ajian Liung Ghaib untuk menghancurkan ular-ular siluman tersebut.


Ajian itu sering disebut dengan Aji Liung Gaib, yakni sebuah ajian yang berpusat pada tujuan untuk membuat jin, siluman, iblis, bahkan sebuh benda pusaka akan menuruti dan patuh kepada si pemilik ajian ini.


Dina menatap seluruh ular-ular tersebut.


Lalu Ia samar-samar membaca mantra Ajian ' Kiyai Liung Ghaib':


Bismillahirrahmanirrahim..Niat ingsun matak ajiku kiayi Liung Ghaib. awang-awang uwung-uwjng sadurunge bumi langit durung ana, lungguhku pinuju sawung panguwasane sepi ing awakku, rame ing kona kono .....dst..


Dina menjejakkan tumit kakinya kelantai rumah, menekannya dengan kuat sembari menekankan ujung lidahnya kelangit-langit mulutnya, lalu berseru...


"hai... Kalian para siluman, patuhilah aku..!! Pergilah kalian dari desa, sebelum aku menghancurkan kalian.. Berkat laa Ilaha Ilallah.."


Seketika ular-ular siluman itu berhenti, diam tak bergeming. Perlahan tampak ular-ular itu memutar arah kepalanya menghadap kepada Dina.


Mereka merayap memenuhi halaman rumah Abah Kasim, seketika halaman rumah itu berubah menjadi lautan ular hitam. Abah Kasim dan Umi Lastri seketika bergidik melihatnya.


Lalu Dina memerintahkan kepada ribuan Ular-ular itu agar pergi kealamnya, dan mematuhi apa yang diperintahkan oleh Dina.


Ular-ular tersebut merundukkannya kepalanya, lalu mematuhi apa yang diperintahkan oleh Dina. Mereka perlahan merayap, lalu menghilang.


Abah Kasim yang melihat kejadian itu amat heran. Bagaimana mungkin Dina dapat memiliki ajian-ajian yang sangat langka tersebut.


Abah Kasim menatap Dina dengan bimbang. Ia meragukan apakah ini Dina anaknya yang hilang sekitar 20 tahun yang lalu atau hanya siluman yang menjelma menjadi Dina.


Kasim tak mampu mencerna dengan akalnya. Apakah yang dilihat nyata atau hanya ilusi belaka.


Ia menatap nanar pada anak wanitanya. pandangannya seolah menggambarkan keraguan dan meminta kepastian tentang jati diri anaknya.


Bagaimana mungkin ribuan ular-ular itu begitu mematuhinya. Bahkan itu bukan ular nyata, melainkan ular siluman. Lalu hanya dengan seruannya saja ular-ular itu tak mampu melawannya.


Saat suasana hening, tiba-tiba terdengar suara seruan orang yang berjalan mengarah kehalaman rumah Abah Kasim.


Seorang pria berbadan kekar, diperkirakan berusia 40 tahun, berambut panjang dibawah ketiak, sembari membawa tongkat.


Ia berjalan tertatih. Seolah-olah ada yang sangat sakit diarea sensitifnya.


Ia berdiri dengan bantuan tongkat berkepala tengkorak.


Sesuatu diarea sensitifnya tampak membesar, layaknya membawa satu buah jeruk bali.


Ia berteriak kepada seluruh warga yang selamat. Teriakannya itu membuat para warga menjadi penasaran dan memberanikan diri keluar dari pintu rumahnya.


Pria itu memprovokasi warga agar mendengarkan seruannya.


Dina yang merasa penasaran lalu membuka pintu rumahnya. Ia berdiri diambang pintu rumah panggung setinggi satu meter.


Abah Kasim dan Umi Lastri, serta bocah berusia 6 tahun itu ikut mengekori Dina.


Dina mengernyitkan keningnya. Ia seperti pernah melihat orang tersebut, tapi entah dimana.


"wahai warga desa... Berkumpullah kalian kemari. Kalian akan menyaksikan tentang sebuah kebenaran..!!" seru Pria itu dengan lantang.


Warga mulai datang berkumpul, mereka merasa penasaran dengan pria tersebut.


Apalagi warga desa tidak mengenal pria tersebut. Ia seperti Asing bagi warga.


Setelah warga berkumpul, Pria itu menatap menantang kepada Dina.


"Dengarkanlah ucapan saya..!!" pria itu berkata sembari menatap tajam pada Dina.


Warga semakin penasaran dan membentuk kerumunan, sunyi, senyap. Seolah-olah mereka diperintahkan untuk diam.


"Lihatlah wanita itu..!! Ia adalah wanita pemuja iblis kegelapan..! Dia juga yang telah mengirimkan ular-ular ini kepada kalian..!!" Ucap Pria itu dengan lantang.


Warga saling pandang, namun tidak bersuara. Suara mereka seolah tercekat ditenggorokan mereka, tak mampu disuarakan.


"Wanita ini jugalah yang harus bertanggung atas segala apa yang baru saja terjadi..!!" pria itu yerus melontarkan tuduhan-tuduhannya terhadap Dina.


Abah Kasim memucat, Ia tidak dapat membayangkan, jika saja yang dikatakan oleh pria itu benar, bahwa Dina yang sedang bersamanya kini adalah makhluk jelmaan siluman.


Abah Kasim bergetar, namun Ia juga tidak ada buktinya. Ia bingung bercampur dengan bimbang tentang hatinya, apakah Ia akan mempercayai Dina atau mempercayai ucapan pria itu.


"cobalah kalian perhatikan dengan seksama..!! Semenjak kehadirannya di desa ini, banyak sekali kejadian-kejadian aneh yang menimpa warga." Pria itu terus saja berceloteh.


"serangan banaspati, serangan ular-ular yang sudah merenggut nyawa keluarga kalian. Semua itu adalah karena sihirnya...!!"


"lihat saja mereka, ular itu tidak mampu menyentuh rumahnya, itu semua karena wanita ini telah membentengi rumahnya dengan sihir..!!"


Warga mulai terpancing, dalam hati mereka membenarkan apa yang sedang diucapkan oleh Pria itu.


Mereka juga heran mengapa Dina tiba-tiba datang setelah 20 tahun menghilang, dan kini telah berubah menjadi sakti.


"Wanita ini adalah penyihir..!! Dia adalah penganut ilmu hitam, dan kehadirannya akan membawa malapetaka bagi warga desa ini. Maka sebaiknya kita bakar saja dia hidup-hidup.." ucap Pria itu semakin lantang.


Mendengar hal itu, Lastri gemetaran, Dia tidak mempercayai apa yang diucapkan oleh pria itu.


"Heii.. Kau pria asing.!! Jangan kau menuduh apalagi sampai memfitnah anak saya..!! Apa bukti dari tuduhanmu itu.?" ucap Lastri menantang .


Pria itu tertawa sinis..


"Tanyakan saja pada Wanita iblis itu, apakah yang kukatakan ini benar atau tidak..!!" ucap Si Pria mencoba menantang kembali.


~Dina mendapatkan kesaktian Bayu Bajra dan kesaktian lainnya saat Ia dibawa oleh Bromo ke istana siluman. Saat mereka selesai bercinta, Bromo menyesapkan kekuatan pink diamond kedalam tubuh Dina, sehingga Dina dengan mudah menyesap dan menyerap kekuatan serta ajian yang diturunkan kepadanya.~