Buhul ghaib

Buhul ghaib
Kembali-5



Para pelanggan berlarian kebingungan dan tak tahu harus kemana.


Pintu terkunci begitu saja sehingga membuat kegaduhan dan kericuhan.


Sesaat Asih mengambil sendok yang berada di dalam mangkuk ikan asam pedas. Lalu dengan kecepatan tangannya Ia melemparkan sendok tersebut kepada kakek tua itu.


Wuuuuusssh...sssst..


Sendok itu melesat dengan suara desingan yang nyaring menuju kearah si kakek.


Dan dengan cepat si kakek menangkapnya dengan tepat berada dianta jemari telunjuk tangan dan jari tengahnya.


Sesaaat para pelanggan terbengong melihat pertempuran antara Asih dan si kakek, begitu juga halnya dengan Edy yang masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Lalu sang kakek mengangkat piring kosong diatas meja yang berada didepannya, dan melemparkan ke arah Asih yang masih tampak duduk menatap tajam pada kakek tersebut.


Lalu dengan cepat Asih menangkap piring yang hampir saja mengenai wajah Edy yang kini sedang menatap dengan bola mata membeliak karena kaget dan juga ketakutan.


Jika saja Asih tidak saja cepat menangkap piring tersebut, maka dipastikan hidung Edy akan terpotong menjadi dua, dan kemungkinan juga wajahnya.


Nafas pemuda itu naik turun karena ketakutan dan tak jantungnya berpacu dengan sangat cepat.


Sesaat Asih mendorong mejanya kedepan, hingga sajian itu berantakan dan berhamburan.


Lalu Asih melompat naik keatas meja, dan menatap tajam pada sang kakek. Asih mencabut pedangnya, dan bersiap-siap.


"Pergilah menjauh dari tempat ini, lalu tutup hidung dan mulutmu" titah Asih kepada Edy yang masih duduk termangu, sembari menarik kain serbet yang disediakan oleh penjual makanan itu, lalu membentuk segitiga dan mengikat diantara pangkal hidungnya kebelakang kepala, untuk menutupi hidung dan mulutnya.


"Cepaaaat..!!" teriak Asih dengan keras, sehingga membuat Edy tersentak dan beranjak bangkit mencari tempat yang berbaur dengan para pelanggan lain yang berkumpul disatu sudut dengan tatapan mata ketakutan.


"Tutup hidung dan mulut kalian semua.." titah Asih kepada pelanggan lainnya, dengan keras.


Meskipun mereka tidak mengenali Asih, namun entah mengapa ucapan Asih bagaikan sebuah titah penglima perang yang harus mereka patuhi.


Dengan cepat mereka membuka pakaian mereka dan menjadikan masker dadakan.


Lalu mereka seolah berharap jika mereka mempercayakan kepada Asih untuk menyelamatkan mereka.


Asih melihat kuku-kuku kaki sang kakek yang terlihat panjang dan menghitam, berbeda dengan kuku manusia normal lainnya.


Asih memastikan jika si kakek adalah seorang peracun dengan kekuatan sihir dan penganut ilmu hitam.


Kakek itu juga berdiri, lalu menendang kursinya kesisi kirinya.


Ia tampak terdiam, tampaknya sedang membaca sebuah mantra. Lalu terlihat sedang menggerak-gerakkan kukunya dan....


Ia merentangkan tangan kirinynya dan..


Wuuuuushh...ssst..


Seketika Asih menggerakkan pedangnya dengan cepat seolah sedang menghalau sesuatu. Jika dipandang dengan mata kasar, Maka tidak akan terlihat apapun. Namun dalam pandangan Asih, Ia meihat banyaknya miang atau rambut halus yang tumbuh dibatang bambu muda. Dan siapa yang sampai menghirup atau memakannya atau tertelan tanpa sengaja maka akan mengalami batuk darah dan kematian.


Sesaat Asih berjuang keras menghalau semua serbuk miang tersebut dan berjatuhan kebawah.


Kakek itu tersenyum licik dan tampak tak suka. Lalu dengan cepat kembali membaca mantranya dan ingin menaburkannya kepada Asih, namun dengan cepat Asih melompat ringan diudara dan...


Kreeeeeessss...


Asih menebas pergelangan tangan si kakek dan darah mengucur dari pergelangan tangannya.


Aaaaaaaaagghh...


Lalu Asih dengan cepat memungut potongan telapak tangan milik sang Kakek menggunakan ujung pedangya, dan berlari kencang sembari menuju arah pintu keluar, dan menyerobot kerumunan, lalu membuka pintunya.


Sesaat para pelanggan lainnya menyerobot keluar dari dalam warung dan berhamburan sedangkam Asih masih menenteng telapak tangan si kakek yang berkuku panjang dan menghitam.


Kakek itu kebingungan, lalu mengambil serbet untuk membungkus lukanya.


Sementara itu, Asih menuju dapur dan memaksa pemilik warung untuk menyalakan kompor.


Dengan wajah ketakutan, Pemilik warung mengikuti perintah Asih. Lalu dengan cepat Asih membakar telapak tangan sang Kakek, sehingga si kakek terdengar berteriak dengan suara lengkingan yang sangat memekakkan telinga.


Segera keluar dari warung ini.." titah Asih kepada pemilik warung, lalu mereka berhamburan keluar.


Seketika aroma daging panggang keluar menyeruak dan asap hitam kebiruan terbang mengudara.


Setelah daging telapak tangan itu hangus, Asih kembali membawanya masih dengan ujung pedangnya, lalu membiarkan sang kakek mengerang kesakitan.


Asih segera keluar dari warung, lalu melempar sekeping koin emas kepada pemilik warung sebagai pengganti kerusakan yang ditimbulkan.


Sedangkan para pelanggan lainnya sudah berlarian dan kembali keperahu masing-masing.


Lalu Asih menarik serbet diwajahnya, dan membungkus telapak tangan panggang itu dan menarik lengan Esy agar segera naik kerakit.


Edy bagaikan kerbau dicocok hidungnya mengikuti saja perintah Asih, lalu naik ke rakit.


Asih menepuk-nepuk air sungai, lalu muncul seekor buaya dan Asih memberikan bungkusannya..


"Bawalah kelaut dan lepaskan disana" titah Asih kepada buaya sungai tersebut. Seketika hewan predator tersebut menganggukkan kepalanya dan menyelam lalu berenang membawa bungkusan tersebut sesuai perintah Asih.


Seketika Edy melongo melihat ulah Asih. "Buaya sungai saja menuruti perintahnya, apalagi buaya darat" Edy berguman lirih dalam hatinya.


Seketika Asih menoleh kearah Edy yang masih menggerutu dalam hatinya.


Edy ngengir mendapat tatapan intimidasi dari Asih.


Lalu Asih berjalan diatas rakit, mengambil pengayuh bambu dan mulai melakukan pelayaran mereka mengarungi sungai tanpa sarapan apapun.


Edy menatap punggung Asih. Ia menyaksikan bagaimana sang gadis berulang kali menyelamatkannya dari segala mara bahaya.


"Siapa orangtuamu? Mengapa Aku tak bertemu dengan mereka? Kalau saja waktu itu Aku bertemu dengan Ayahmu, pasti sekarang kita sudah menikah" Edy berguman dalam hatinya sembari mengkhayal hal nakal didalam benaknya.


"Mengangkat batang bambu dalam jumlah banyak saja Ia sanggup, apalagi dalam hal ranjang, pasti dia sangat kuat" Edy kembali berkhayal hal nakal.


Namun khayalannya seketika menjadi hal mengerikan, ketika seandainya mereka bertengkar, lalu Asih dengam mudahnya mengangkat tubuhnya dan melemparkannya keluar rumah dan juga men-smack dwonnya..


Atau juga mungkin Asih akan mencincangnya seperti si kakek tadi, atau juga menendangnya dengan sangat mudah.


Edy bergidik membayangkannya. Namun Ia tersentak dan terkejut saat arus sungai tiba-tiba menjadi deras, dan hampir saja membuat pemuda itu terlempar kesungai.


Edy lalu berjongkok dan berpegangan batang bambu yang menjadi rakit tersebut.


Asih terus berusaha mengendalikan rakitnya agar tetap berlayar dengan benar.


Sedangkan Edy hanya menjadi penumpang yang hanya bisa berpasrah diri apa yang akan terjadi pada perlayaran mereka dan bergantung kepada sang nakhoda.


Tampaknya mereka sudah memasuki perkampungan yang sedikit modern. Itu terlihat dari banyaknya bangunan rumah permanen.


Edy memastikan jika mereka tak lama lagi akan segera sampai kepinggir kota.