
Lee menggeliatkan tubuhnya yang tampak lelah. Ia merentangkan kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Ujung matanya menangkap sesuatu, Ia baru menyadari jika dirinya telah berada diatas meja.
"Haaah..? Sejak kapan aku berada diatas meja..? Siapa yang mengangkatku kemari..?" Lee merasa bingung dengan dirinya. Lalu Ia kaget saat mekihat Asih tidur terlelap disisi kanannya.
"Apakah Dia pelakunya..? Tapi bagaimana mungkin..? Bukankah tubuhnya yang begitu ramping bagaimana mungkin dapat mengangkat tubuhku..?" Lee merasa bingung dengan semua yang terjadi.
"Apakah aku tidur melindur, hingga tidak menyadari jika sudah berjalan dan pindah sendiri..?" Lee masih terus berfikir dengan dirinya yang tiba-tiba sudah berada diatas meja.
Lee menatap wajah gadis itu. Ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah ayu sang gadis.
Ia menatap lekat pada wajah polos tanpa riasan itu. "Tanpa make up sekalipun kamu tetap cantik, bagaiamana jika di make up..? Bisa gak tidur aku memandangimu.." Lee berguman lirih dalam hatinya.
Tangannya begitu sangat ingin menyentuh hidung bangir sang gadis. Ia menelusurinya dari kening hingga ujung hidung Asih. Sesaat Asih bersin, karena merasa gatal diujung hidungnya, hingga air sedikit kental dari bersin tersebut menempel dijemari Lee.
Pemuda itu terperangah..memandangi jemarinya yang sedikit basah karena percikan air bersin Asih. "Cantik-cantik tapi jorok banget ini anak dara.." Ucap Lee kesal lalu menarik tangannnya dan mengelapkannnya pada ujung pakaian Asih.
Sesaat Asih mengerjapkan matanya, lalu menggeliatkan tubuhnya. Sesaat Ia melihat Lee yang masih terpaku memandanginya dalam posisi berbaring.
Buku mata lentik itu tampak begitu menggoda, siapa yang tahan melihat pesona kecantikannya. Lee menggerutu dalam hatinya, mencoba menahan hasrat yang menggebu saat berduaan dengan sang gadis.
"Mengapa kau menatapku seperti itu..?" ucap Asih, lalu mencoba bangkit dan duduk dengan benar. Ia membenahi kucir rambutnya yang terasa longgar.
Lee kemudian beranjak, dan ikut duduk diatas meja tersebut. "siapa yang memindahkanku ke atas meja..?" tanya Lee dengan penuh selidik.
Asih membolakan matanya, lalu tersenyum tipis.."Aku.. Mengapa..?" Asih balik bertanya dengan menolehkan wajahnya kepada Lee.
Seketika Lee terperangah. "Kamu..?! Bagaimana bisa..?" tanya Lee dengan bingung.
"Itu sangat mudah bagiku, apalagi hanya tubuhmu yang begitu ringan.." jawab Asih seenaknya.
"Apa..? Jelas bobotku lebih berat dari tubuhmu yang sangat ramping itu..!" Lee merasa kesal dengan sang gadis.
"Oh..ya..?" jawab Asih. Lalu Ia melangkah mendekati ranjang dan mengangkat ranjang jati yang berukiran indah itu, tentu bisa dibayangkan bagaimana beratnya ditambah dengan kasur busa yang melapuk dan bangkai ular yang masih teronggok disana, diangkat dengan mudahnya oleh Asih, lalu dihempaskannya kembali kelantai.
Lee merasa bergidik melihat gadis itu.."Kamu salah satu atlet angkat besi kelas 100 kg ya..?" tanya Lee semakin bingung dengan gadis dihadapannya.
"Apa itu Atlet..? Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan." tanya Asih santai.
Lee menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia merasa jika Asih memilki sebuah keunikan yang luar biasa.
"Apakah kamu mau aku praktikkan bagaimana cara aku mengamgkatmu..?" tantang Asih.
Lee menoleh kearah gadis itu.."Boleh dengan senang hati.. Tetapi jangan kau hempaskan dengan kasar, perlakukan aku dengan lembut.." jawab Lee sembari tersenyum nakal pada sang gadis.
"Maksudmu.." tanya Asih dengan bingung, sembari mengerutkan kedua alisnya.
"Maksudku seperti ini." Lee menghampiri gadis itu, lalu menggendongnya tanpa sempat Asih untuk menghindar.
Lee membawa tubuh ramping itu keatas meja, dan duduk dipangkuannya, layaknya memangku seirang bocah balita. lalu Ia menatap wajah sang gadis dengan lembut. "Aku mencintaimu.. Sejak pertama bertemu, adakah kau merasakan getaran yang sama terhadapku..?" Lee mulai tak mampu meguasai perasaannya.
Berada terlalu lama dekat dengan sang gadis membuatnya begitu tersiksa akan perasaannya.
Asih hanya menatap bingung pemuda itu, Ia tidak tahu apa kata cinta yang dimaksud oleh pemuda dihadapannya, namun Ia tau jika Ia merasakan sebuah kenyamanan jika berada disisi pemuda itu.
Kedua insan itu mulai terbakar hasrat menggebu, Lee mulai berani menelusuri leher jenjang milik Asih, dan gadis polos itu mulai mengikuti semua permainan yang diberikan oleh Lee. Ia yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan tak biasa dari lawan jenisnya, merasakan tubuhnya terbakar oleh hasrat yang menggebu.
Hingga sebuah dentuman benda seperti dihempaskan dengan sangat keras terdengar disudut kamar itu.
Seketika keduanya menghentikan semua kegiatan panas tersebut, lalu menoleh kesudut kamar asal suara dentuman.
Asih melihat bayangan Romonya yang melintas dan menghilang dengan cepat. "Romo.." ucapnya lirih dalam hati.
Seketika Asih mendorong tubuh Lee, dan melompat ringan kelantai, lalu mencari sosok Romonya.
"Siapa yang sedang kau cari..?" Tanya Lee bingung, karena Ia tidak melihat apapun, sementara Asih hanya diam dan memandangi setiap sudut ruangan untuk menemukan sosok Romonya.
"Sepertinya Romo sedang marahku..? Apakah aku melakukan sebuah kesalahan..?" Asih bertanya dalam hatinya.
Lalu Ia beranjak berjalan keluar dari ruangan kamar itu. Perbuatan Lee barusan masih melekat diingatannya, naluri wanitanya mengatakan itu sesuatu yang sensasional, namun sepertinya Romonya tidak menyukainya.
Asih menuruni anak tangga dan memeriksa kondisi para ninja yang malam tadi mereka bantai. Namun Ia tak menemukan satupun tubuh para ninja itu.
Lee yang mengekori Asih juga terperangah. "Kemana menghilangnya para tubuh ninja itu..?" Lee tampak bingung dengan semua yang terjadi, Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, namun tak menemukan apapun disana.
"Sepertinya ada seseorang yang memindahkan tubuh-tubuh mereka ketempat lain, atau mereka masih bernyawa saat kita tinggalkan ke lantai atas lalu menyelamatkan diri." jawab Asih mencoba menganalisa pendapatnya.
"Mungkin juga.." jawab Lee, namun seketika wajahnya berubah menjadi panik. " jika ada yang memindahkan tubuh mereka, berarti ada orang lain selain kita..?" tanya Lee dengan nada khawatir.
Asih mengangkat kedua bahunya, sembari tersenyum datar.
"Sebaiknya kita segera meninggalkan lokasi ini, sebelum ada yang melacaknya.." Titah Lee lalu beranjak meninggalkan ruangan kastil dan mencari jalan keluar yang diikuti oleh Asih.
Keduanya berjalan dengan langkah cepat menyusuri hutan yang sangat liar dengan beraneka ragam tumbuhan dan hewannya yang masih tampak tak terjamah oleh tangan-tangan manusia.
Mereka tiba disebuah sungai, yang membentang dihadapan mereka. Asih memandangnya dengan nanar. "Aku ingin mandi.. Tubuhku terasa gerah.." ucap Asih, lalu menceburkan dirinya kedalam sungai yang membuat Lee terperangah atas tindakan ceroboh sang gadis.
"Heei.. Naiklah.. Sungai ini belum kita kenal, bisa saja ada buaya didalamnya dan sedang mengincarmu." teriak Lee memperingatkan.
Seketika Asih menyelam, lalu menghilang.
"Haaah.. Kemana dia menghilang.? Apa dimangsa buaya.?" Lee mulai mencemaskan gadis itu.
Lee merasakan kekhawatiran yang kuar biasa, apalagi Asih lama tak juga timbul ke permukaan.
Didalam Air, Asih melihat Romonya dalam wujud buaya putih. "Puteriku.. Jagalah dirimu dan kehormatanmu, berikan itu semua jika Ia menikahimu dalam ijab qabul pernikahan." ucap Bromo mengingatkan.
"Apa itu pernikahan Romo..?" tanya Asih dengan penasaran.
"Sebuah ikatan yang dimemiliki sayarat dan aturan dalam sebuah agama.. Kelak kamu akan mengetahuinya." jawab Bromo dengan lembut, sembari membelai rambut puterinya.
Sekarang pergilah, Pemuda tengil itu sedang kebingungan mencarimu.." ujar Bromo dengan lembut.
Asih mengamggukkan kepalanya, lalu menagkap seekor ikan yang melintas didepannya untuk dijadikan sarapan pagi ini.
Sesaat Asih muncul kepermukaan, lalu memvawa seekor ikan dikedua tangannya dengan bobot sekitar 2 kg, dengan mudahnya Ia melemparkan ikan tersebut tepat dibawah kaki Lee yang saat itu sedang bingung mencarinya ditepian sungai.
Seketika Lee merasa kaget dengan tindakan Asih, lalu membeliakkan matanya. "Kau.. Ku kira kau sudah habis dimangsa buaya.. Cepatlah naik, sebelum buaya itu berubah fikiran untuk menyantapmu.." teriak Lee dengan kesal.