Buhul ghaib

Buhul ghaib
Kelahiran Dewi Asih



sembilan bulan kemudian..


Dina kini memasuki masa akan persalinan. Ia mengandung benih cintanya dengan Bromo.


Bromo mendampinginya dengan penuh kasih . Ia tak ingin mengulangi kesalahannya dimasa lalu. dimana Dina melahirkan Chakra tanpa didampingi olehnya.


Dina merasakan kontraksinya mulai terasa. Bromo menggenggam jemari Dina, memberikannya kekuatan agar Dina melahirkan dengan perasaan nyaman.


ketika matahari berada tepat pada bayangan manusia. maka bayi itu lahir ke dunia.


seorang bayi mungil petempuan nan cantik jelita, lahir dengan rupa yang sempurna.


"oeeek...oeeek.." suara tangisan itu menggema keseluruh ruangan goa. Bromo menatapnya takjub, Ia lalu meng-iqamahkan bayi tersebut.


~sorry, bab kelahiran Chakra juga diadzanin ye.. hanya author lupa nulisnya..🙏🙏~


Dina menatap bayinya, penuh dengan cinta. setelah proses pemotongan tali pusat, dan membersihkan si jabang bayi. maka Bromo menyerahkannya kepada Dina, untuk disusuinya.


bayi itu menyusu dengan sangat lahab.


setelah bayi itu puas menyusu dan terlelap, Bromo menyediakan air hangat untuk mandi Wiladah bagi Dina. mandi Wiladah ialah mandi untuk wanita sehabis melahirkan, meskipun itu keguguran. hal ini sesuai dengan kaidah ilmu Fiqih menurut Imam Syafii.


setelah selesai dengan mandi Wiladahnya, Dina menyalin pakaiannya. lalu duduk di tepian ranjang. meraih bayi mungil dalam dekapannya.


Bromo mendekatinya. "kita beri nama apa puteri kita Dinda..?" ucap Bromo dengan lembut.


Dina menoleh kearah Bromo, "menurut Kanda..?" ucapnya dengan penuh suka cita.


Bromo berfikir sejenak. "Dewi Asih, apakah dinda setuju..?" ucap dengan berbisik lirih.


Dina tersenyum bahagia. "boleh.. kedengarannya bagus." ucap Dina sumringah.


Bromo mengecup ujung kepala Dina dengan lembut. "terima kasih, sudah memberikanku keturunan yang cantik" ucap Bromo tulus.


"Dia mirip kanda.." ucap Dina dengan jujur.


"oh..ya..? kalau begitu kanda tampan dong?" ucapnya nakal.


"iya..Kanda paling tampan deh.." jawab Dina menggoda.


Chakra yang kini berusia 2 tahun, berusaha naik keatas ranjang sepertinya Ia ingin melihat adiknya yang baru lahir.


Bromo membantunya naik keatas. "huup..anak pintar.." ucap Bromo.


wajah Chakra sangat mirip dengan Dina. maka Chakra berwajah tampan. Ia begitu antusias menyambut kelahiran sang adik. kini Ia memiliki teman bermain, dan tak kesepian lagi.


"dede..."ucapnya dengan nada cedal. Ia mencoba mencium sang adik. setelah puas mencium Ia pun mengoceh seolah ingin mengajak sang adik bermain.


Dina merasakan, jika kelak Chakra akan menjadi pelindung bagi Asih.


----------


Arini mempersiapkan bahan makanan dari kebun. Ia menyeret keranjan mini dengan beberapa sayuran. ada jagung, bayam dan wortel.


Bromo pun memasaknya untuk makanan Dina yang baru saja bersalin.


setelah selesai, Ia menghidangkannya kepada Dina.


Dina menikmatinya dengan sangat lahab. Chakra memghampirinya, meminta untuk disuapi. lalu Bromo meraihnya, memyuapi Chakra agar tak mengganggu ibunya yang sedang makan.


setelah merasa cukup, Ia pun bermain kembali. sepertinya Chakra mengerti, jika kini ibunya bekum pulih. maka Ia memilih bermain bersam Arini si kelinci imut.


Arini mampu memgalihkan perhatian Chakra, sehingga lebih intens bermain dengannya.


-----------


meskipun hati Dina merasakan perasaan yang sangat berat, namun Ia harus merelakannya. dan kini Ia harus mengasuh kedua anaknya seorang diri, hanya ditemani oleh Arini.


dalam masa iddah, Ia harus melakukan semuanya sendiri. Arini bertugas mengambil bahan makanan dari kebun. dan Ia yang memasaknya.


Ia juga harus mencuci pakaiannya, dan Arini membantu membersihkan ruangan goa., serta mengasuh Chakra.


Dina mengikat perutnya dengan kain panjang dengan kencang, agar tidak merasa sakit saat bekerja.


hingga pada suatu malam, Chakra mengalami demam tinggi. karena tingginya demam tersebut, membuat matanya membola keatas, tubuhnya kejang dan kedua kakinya menyilang.


hal ini membuat Dina sangat panik. bersamaan dengan itu, Asih juga menangis. menambah hal yang sangat membingungkan bagi Dina.


Arini mendekati Asih, memberikan kepalanya untuk mengusap-ngusap wajah Asih agar diam. dan usahanya berhasil membuat Asih tertidur kembali.


kini chakra yang harus menjadi perhatian Dina, Ia merasa kebingungan. entah bisikan dari mana, jika Dina harus membakurkan air liurnya keseluruh tubuh Chakra.


tanpa berfikir panjang, Dina meludahkan air liurnya ketelapak tangannya, lalu membacakan shalawat nabi sebanyak 3 kali, sembari berdoa "Ya Rabb.. sembuhkanlah puteraku Chakra, angkatlah segala penyakitnya" lalu Ia meniupkannya ke kedua yelapak tangannya, lalu menggosokkan kedua telapak tangannya dan membalurkannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


dengan ijin Allah, Chakra langsung menormalkan pandangan matanya, dan tidak kejang lagi. panasnya berangsur menurun dan perlahan muali sembuh.


Hati Dina menjadi lega. Ia tak merasakan kepanikan lagi. kini Chakra sudah mulai tertidur pulas.


---------


semakin hari, pertumbuhan Asih semakin meningkat. dengan bertamnah usianya, kecantikannya kian memancar. Ia tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat mengagumkan.


aura kecantikannya sangat menggetarkan siapa saja yang memandangnya.


Chakra yang menjadi kakaknya, selalu mengawasi kemanapun adik kecilnya itu pergi.


kini Ia merasakan memiliki seorang teman bermain.


Bromo yang melihat pertumbuhan anak perempuannya, membekalinya dengan ilmu kanuragan yang tak pernah Asih sadari. semua itu demi untuk melindungi Asih dari segala mata jahat.


Ia juga memnurunkan ilmu kanuragan kepada Chakra, agar kelak mampu melindungi Dina, ibunya dan Asih.


-----------


kini usia mereka menginjak 10 tabun untuk Asih, dan Chakra 12 tahun. Bromo mulai melatih Chakra dan Asih dengan keahlian memanah dan dan pedang.


mereka harus dapat bertahan pada kerasnya dunia.


karena kelak, sesuai ramalan Bromo, mereka akan menghadapi bahaya yang sangat luar biasa, dimana mereka akan keluar dari hutan ini dengan melihat hal baru.


sebagai anak yang dibesarkan dihutan belantara, kehidupan dunia luar adalah hal yang sangay asing bagi keduanya.


sebekum mereka menghadapi itu semua, maka Bromo mempersiapkan mereka semenjaak sekarang.


mereka dilatih ilmu seni bela diri, kemampuan memanah, dan juga pedang.


takdir mereka berbeda dengan ibunya, jika ibunya harus terdampar dihutan belantara, maka Asih dan Chakra memiliki takdir hidup berada dikeramaian.


keduanya juga akan berhadapan kelak dengan musuh yang akan membuat keduanya diantara pilihan.


setelah genap usia mereka memasuki 20 tahun untuk Chakra, maka Bromo akan mengijinkannya untuk keluar hutan.


mengembara menemukan desa serta jati dirinya, dan kemana arah kakinya melangkah.


setiap harinya, Bromo akan datang mengunjungi kedua anaknya. melatih mereka agar terus menjadi manusia kuat dan mampu membasmi kejahatan yang kian meresahkan.


Dina merasa sangat sedih, mengetahui jika kelak kedua anaknya akan meninggalkannya. sebenarnya Ia merasa tak rela, jika harus melepaskannya. namun jika sudah menjadi suratan tangannya, maka Ia harus memyiapkan hatinya sejak kini.


jarak antara