
Setelah berhasil melumpuhkan para brandalan tersebut, Asih mencari keberadaan ibu sipendorong gerobak.
Ia mengedarkan pandangannya dikegelapan malam. Asih melihat ujung gerobak dibalik tiang jembatan jalan tol.
Asih berjalan mendekati Ibu tersebut. Si ibu bergetar ketakutan. Ia tidak kngin bernasib sama dengan brandalan itu.
Ibu tersebut merunduk dibalik gerobak. Saat Ia membuka matanya, Ia mencoba mengintai kearah tempat Asih berdiri.
Namun si ibu tak menemukan Asih berada lagi disana. Ia bernafas lega, lalu mengelus dadanya.
Baru saja Ia merasa senang, tiba-tiba Ia dikejutkan dengan sebuah tangan yang menyentuh bahunya. Si ibu membulatkan matanya, lalu mencoba menoleh kesisi kiri, dimana, orang tersebut menyentuh bahunya.
Saat Ia melihat sosok yang menyentuhnya adalah Asih, si ibu terlonjak karena merasa ketakutan. "jangan..jangan sakiti saya, saya akan memberikan uang hasil penjualan rongsokan hari ini, tapi tolong jangan sakiti saya.." ucap Si ibu sembari mengatupkan kedua tangannya dengan isakan tangis yang memilukan.
"aku tidak akan menyakitimu ibu, aku hanya butuh tumpangan tidur malam ini." ucap Asih dengan lembut dan tatapan memyejukkan.
Si ibu lalu berhenti terisak, Ia menyeka air matanya. "kamu tidak bohongkan..?" tanya ibu itu meyakinkan hatinya.
Asih menganggukkan kepalanya, pertanda Ia benar-benar jujur.
Si ibu lalu melongok kedalam gerobaknya, mengambil beberapa kardus yang dipungutinya dari pasar dan toko-toko yang dilewatinya.
Si ibu membentangkannya diatas lantai papan bekas yang juga didapatnya dari tempat sampah.
"duduklah.. Ini sudah menjadi tempat berlindung yang sangat nyaman untuk orang seperti kita." ucap si ibu dengan hati nelangsa.
Asih lalu duduk diatas kardus tersebut.
Udara dingin menusuk ketulang. Bahkan nyamuk bernyanyi ria dengan suara yang sangat nyaring.
Si ibu sesekali melongok kedalam gerobak, seorang anak perempuan berusia 5 tahun, tampak terbaring lemah disana.
Asih yang tadi sedang duduk, baranjak bangkit karena penasaran dengan apa yang sedang dilihat siibu. "siapa dia..?" tanya Asih lembut.
"anak saya mbak. Ia terkena gagal jantung, harus segera melakukan operasi. pihak rumah sakit sudah menghubungi dan menemukan jantung yang sesuai dengan anak saya. Namun biayanya sangat besar." ucap Si ibu dengan raut wajah sedih.
Mendengar penuturan si Ibu, seketika fikiran Asih melayang jauh mengingat Chakra kakaknya yang kini juga terbaring lemah karena jantungnya tergores sebuah peluru yang disebabkan oleh orang kota yang datang tak pernah diundang, lalu meninggalkan kekacauan.
Namun Ia tidak memahami, jika dikota untuk mendapatkan kesembuhan dari suatu penyakit, maka manusia harus berusaha mengumpulkan uang untuk menyembuhkannya.
Sedangkan Ia dan keluarganya, hanya mengandalkan ramuan dari tanaman hutan yang tersebar, dan tinggal mengolahnya saja, tanpa harus mengeluarkan yang namanya uang.
Bahkan Romonya juga dapat mengobatinya dengan mudah, meski membutuhkan waktu, tergantung tingkat keparahannya.
"berapa biaya yang dikeluarkan untuk mengobati penyakitnya?" tanya Asih penasaran.
"sekitar 300 juta, untuk cangkok jantungnya." ucap si ibu dengan mata nanar. air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.
Asih yang tidak begitu mengerti apakah jumlah uang 300 juta itu jumlah yang seperti apa banyak nilainya. Maka Ia hanya mengangguk saja.
Si ibu menutupi anaknya dengan menggunakan kain usang, untuk mengusir rasa dingin yang mendera.
Setelah itu, si ibu mengeluarkan 5 bungkus roti isi selai bluberry yang dibelinya di warung pinggir jalan dengan harga seribu rupiah per bungkusnya. Ia juga membeli sebotol air mineral kemasan sedang.
"makanlah, ini sebagai pengganjal perut yang lapar." ucap si ibu sembari mengulurkan dua bungkus roti kepada Asih. Ia menyisakan satu bungkusnya untuk anaknya jika terbangun nanti.
"terimakasih.." ucap Asih tulus.
Si ibu menganggukkan kepalanya. "sama-sama.." jawab si ibu, sembari membuka bungkus roti tersebut, lalu memakan isinya.
Asih memperhatikan cara si ibu yang membuka bungkusnya. Lalu Ia mengikutinya.
Asih menggigit roti tersebut. Rasa lembut dan asam manis dari selai bluberry membuatnya penasaran untuk mengkunyahnya. Rasa yang tak pernah dikecap lidahnya selama di goa.
"enak.." ucap Asih polos.
Si ibu tersenyum melihat kepolosan Asih. Ia meyakini jika Asih adalah gadis yang baik.
"Asih.." jawabnya singkat, Ia masih menikmati rasa lembut roti tersebut.
"darimana asal kamu..?" tanya si ibu penasaran.
"emm..dari desa yang sangat jauh." jawab Asih.
Si ibu mengerti, jika Asih tidak ingin kepribadiannya terlalu dipertanyakan. Lalu Ia mengalihkan pembicaraannya.
"kamu kemari dengan tujuan apa..? Ingin bekerjakah?" tanya Si ibu penasaran.
"emm..mencari Bara.." jawab Asih singkat.
Si Ibu mengira jika Bara yang dimaksud Asih adalah pemuda tampan yang lari meninggalkannya. Maka Asih mengejarnya hingga kekota.
Si ibu menganggukkan kepalanya. Setelah selesai memakan dua bungkus rotinya, si ibu mulai mengantuk karena kelelahan bekerja seharian.
"oh ya, nama ibu Rumini, dan ibu permisi dahulu hendak tidur, karena ibu akan berangkat bekerja esok." ucapnya dengan lembut. Lalu membaringkan tubuhnya di atas kardus bekas tersebut. Dan menutup tubuhnya dengan lembaran kardus, untuk mengusir rasa dingin.
Asih juga mulai merasakan mengantuk. Ia membaringkan tubuhnya di atas lembaran kardus bekas tersebut.
Saat matanya akan terpejam, Asih mencium aroma amis dan suara desisan. Asih membuka matanya, lalu mulai merasa awas.
Ia menggenggam pedangnya yang masih terbungkus dengan kain.
Asih merasakan sebuah hawa negatif sedang berada disekitarnya.
Sesaat muncul seekor ular berkepala manusia yang sangt mengerikan. "Rekso..?" Asih berguman dalam hatinya.
"mengapa Ia sampai kemari..?" Asih masih bersikap waspada.
Rekso merayap hendak mendekati Asih. Dengan cepat Asih mencabut pedangnya dan menghunuskan ujung pedangnya kepada Rekso.
Rumini yang tertidur pulas tidak menyadari jika ada bahaya yang sedang mengancam. Ia masih merajut mimpinya untuk menemukan cara agar dapat menyembuhkan anak semata wayangnya.
Asih melompat dari tidurnya, lalu bersalto sedikit menjauh dari Rumini. Ia tidak ingin Rekso sampai melukai Rumini dan anaknya.
Asih memancing Rekso untuk menjauhi lokasi tersebut.
Rekso yang terpancing rencana Asih mengekorinya. Setelah menjauh, Asih menyiapkan kuda-kuda pertahanan. "mengapa kau mengusik dan mengikutiku..?" tanya Asih dengan kesal.
"aku menyukaimu, mengapa kau meninggalkan hutan.?" jawab Rekso yang mana Ia masih dalam kondisi terluka karena terkena goresan dwi sula yang direbut Asih dari tangan Rekso. Dimana giresan itu mengandung racun yang mematikan. Hanya saja karena Rekso memiliki daya tahan tubuh yang kuat, Ia masih bisa bertahan sampai saat ini.
"jangan pernah membuntutiku, atau ikut campur dengan urusanku. Jika kau masih membandel, aku akan melenyapkannmu. Ucap Asih dengan kesal.
Rekso tak mengindahkan ucapan Asih, Ia ingin tetap mengejar cinta Asih.
Asih yang merasa dirinya terganggu dengan kehadiran Rekso merasa kesal.
"pergilah, jika tidak aku akan berbuat lebih jauh." ancam asih.
"aku tidak perduli!!.." jawab rekso dengan menantang.
Asih terpaksa mengusir Rekso dengan sebuah sabetan pedangnya. "pergilah.." ucap Asih sembari melayangkan tendangan dan sabetan pedangnya.
Serangan mendadak itu, membuat Rekso terkejut , dan mengalami luka parah dibagian lengannya, lalu Ia terpekik menghilang.
Asih kembali ke tempat Bu Rumini. "mengganggu saja!" ucap Asih kesal. Lalu Ia mencoba membaringkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak, melepaskan lelahnya.
~terimakasih kepada senua Readers uangbsudah setia mengikuti perjalanan Author menulis.
Tanpa kalian author bukanlah siapa-siapa..
Terimakasih yang yang sudah memberikan tips hadiah bunga, tips nonton iklan, like, vote and komen kocak kalian yang membuat author semangat untuk menulis ditiap bab nya.~
Love u all ❤❤❤❤~