Buhul ghaib

Buhul ghaib
Hemmm-1



"Bagaimana, Bos. Apakah barang-barang seludupan itu akan masuk hari ini?" tanya Jodi kepada Andre.


Sebenarnya Andre masih sangat frustasi atas hilangnya seluruh batu permata yang dengan susah payah Ia bawa daro goa.


Bagaiamana tidak, bayangan mendapatkan uang triliunan yang kini sudah berada didepan mata tiba-tiba menguap begitu saja, dan berubah menjadi debu yang dapat hidup.


Namun Ia tidak ingin bisnis gelapnya kali ini gagal. Penyeludupan senjata api ilegal dan juga pembuatan uang palsu yang sedang dikerjakannya kini harus benar-benar berhasil.


"Bos.. Mengapa Tuan Muda Edy belum Juga kembali dan seharusnya Ia yang memimpin pergerakan ini" ucap Jack mencoba mengingatkan.


Andre menatap tajam lurus kedepan "Anak itu benar-benar tidak dapat diandalkan.!! Bagaimana Ia dapat meneruskan bisnisku, jika menghadapi wanita saja Ia sudah lemah" guman Andre dengan geram.


"Namanya juga anak muda, Bos. Apalagi gadis itu cantiknya luar biasa, wajar saja jika Tuan Muda oleng, Bos" jawab Jodi sedikit membela.


"Haaah..!! Tidak ada kata lemah dalam kamusku..!! Wanita itu hanya sebuah barang mainan, jika merasa bosan tinggal ganti dengan yang lainnya, maka jangan terfokus pada satu mainan" Ucap Andre menegaskan.


Jack mencoba mencerna ucapan Bos nya.


"Mungkin Bos belum merasakan jatuh cinta, jika Bos sudah merasakannya... Beeegh... bisa lebih parah dari Tuan Muda" Jack mencoba mengingatkan.


Andre menoleh kepada Jack yang mencoba menasehatinya "Jangan mencoba menceramahiku tentang wanita dan cinta, karena Aku lebih berpengalaman" jawab Andre dengan nada dingin.


Jack menelan salivanya, namun Ia malas berdebat dengan Bos nya itu.


"Kena Karma atas ucapannya baru tau si Bos, ntar beneran jatuh cinta klepek-klepek Dia" Jack menyumpahi Bos nya sendiri dalam hati.


Andre meraih sebuah koper yang berisi 2 milyar uang palsu dalam pecahan seratus ribu rupiah.


"Tugas ini Aku serahkan kepadamu, Jack.. Kumpulkan orang-orang untuk menyebarkan uang ini Tujuan Kita Ialah untuk mencaro kembaliannya" titah Andre dengan penuh harap kepada Jack.


Jack mengamggukkan kepalanya dan mengerti dengan apa yang harus menjadi tugasnya. Ia akan merasa bangga diberi kepercayaan sepenuhnya dari Si Bos.


"Siap, Bos. Saya akan memikul kepercayaan Bos dengan penuh tanggungjawab" ucapnya mantab, sembari memegang koper tersebut.


"Jodi, Kamu saya tugaskan untuk menemui para pemasok senjata api ilegal di tengah lautan, bergeraklah sekarang" ucap Andre dengan nada perintah.


Jodi menganggukkan kepalanya, lalu bersiap untuk beramgkat.


Setelah kedua orang kepercayaannya pergi, Andre kembali kekamarnya.


Malam ini begitu terasa sangat dingin, iatrinya sedang berada dikampung halaman, melihat orang tuanya yang sakit parah.


Ia menikahi istrinya karena sebuah keterpakasaan saja, sebagai penyalur hasratnya saat Ia inginkan dan juga untuk mendapatkan keturunan untuk mewarisi bisnis gelapnya.


Andre mengambil jakcetnya yang tergantung didinding kamarnya. Ia ingin mengenakan jacket itu untuk mengurangi rasa dinginnya.


Dan saat akan mengenakannya, Sepasang jepit rambut terjatuh dari saku jacketnya.


Andre memungutnya, lalu memperhatikannya. "Dina.." ucapnya lirih, lalu menggenggam jepit rambut itu, sebuah memory yang mengantarnya pada masa lalunya.


Dimana seorang gadis cantik nan lugu menjadi pelampiasan kebejad-annya dan Ia tinggalkan begitu saja.


Ia kembali memasukkan jepit rambut itu kembali kedalam saku jacketnya.


Sementara itu, Dina merasa bosan berada didalam istana milik Bromo. Ia ingin mereasakan kehidupan alam dunia yang penuh kebebasan. Ia ingin kembali.


"Kanda... Aku merindukan Chkara dan Asih.. Aku ingin bertemu dengan mereka, kembalikan Aku ke alam dunia" rengek Dina kepada suami silumannya.


Bromo menatapnya lembut, lalu memeluk istrinya tersebut. Ia memiliki sebuah rencana terselubung untuk membalaskan sakit hati istrinya kepada seorang pria yang pernah mencampakkannya waktu itu.


"Apa syaratnya?" tanya Dina yang sudah mulaiencurigai gelagat suami silumannya itu.


"Layani Kanda dengan baik" ucap Bromo dengan senyum seringainya.


Dina mendenguskan nafasnya, tentu saja Ia sudah dapat menebak apa yang akan diinginkan suaminya itu.


"Baikalh.. Tetapi janji untuk mempertemukan Dinda dengan Asih dan Chakra" ucap Dina dengan sedikit ancaman.


Bromo menarik dagu sang istri, lalu mengecup bibirnya, dan membawanya mengarungi samudara percintaan.


Disisi lain, Andre tiba-tiba saja teringat akan gadis dimasa lalunya. Namun Ia meyakinkan jika Dina pastilah sudah menua sama seperti dirinya yang kini sudah berusia mencapai 40 tahun.


Andre memastikan jikapun bertemu dengan Dina, pastinya gadis desa itu sudah dalam kondisi gendut karena proses hamil dan melahirkan.


Andre buru-buru menepis semua bayangan tentang perubahan fisik Dina yang sekarang, apalagi Dina hanya seorang gadis desa yang tentunya tidak tahu bagaiamana caranya merawat diri.


Sementara itu, Dina dan Bromo baru saja selesai melaksanakan tugas berat karena banyak mengeluarkan keringat. Nafas Dina yang tersengal karena harus mengimbangi keperkasaan suaminya membuatnya selalu kewalahan. Ia kini terkapar dalam lautan kenikmatan.


"Kanda, kapan Dinda bertemu dengan Asih dan juga Chakra?" rengek Dina kembali.


"Kita mandi dulu, setelah itu akan Kanda antrakan" jawab Bromo dengan lembut, lalu mengajak Dina untuk mandi bersama.


Mentari pagi bersinar dengan terang. Andre terbangun dari tidurnya. Ia mencoba membersihkan dirinya dimamar mandi. Ia berniat untuk jogging pagi ini, tanpa ditemani oleh para pengawalnya.


Dina sudah selesai dengan mandinya, lalu Bromo memenuhi janjinya untuk membawa Dina kealam dunia dan mempertemukan dengan Asih dan Chakra.


"Pejamkan matamu, Dinda.. Kanda akan memberikan kejutan untukmu" ucap Bromo dengan tenang.


Dina memejamkan matanya, lalu dalam sekejap, Ia merasakan sesuatu yang berbeda, terdengar banyak suara kendaraan yang sangat bising.


"Bukalah matamu, Dinda.." ucap Bromo dengan lembut.


Seketika Dina membuka matanya. Kini Ia terperangah karena telah berada ditengah keramaian kota.


"Kanda... Mengapa Dinda dibawa ketempat ini?" tanya Dina dengan bingung.


"Karena ditempat ini Dinda akan menemukan yang Dinda cari" jawab Bromo dengan tenang.


"Lalu dimana Asih dan Chakra?" tanya Dina bkngung, karena tidka menemukan kedua anaknya.


Bromo mentap dengan lembut "Mereka yang akan menemukanmu, maka ikuti saja jalannya bagaikan air mengalir" jawab Bromo mencoba menenangkan istrinya.


"Lalu dimana Dinda akan tinggal?" ucap Dina penasaran.


"Disana" tunjuk Bromo dengan menunjukkan jemari tekunjuknya pada sebuah rumah mewah yang tampak sempurnah berada ditengah-tengah rumah mewah lainnya.


"Itu sangat mewah sekali kanda" ucap Dinda takjub.


Bromo membawa Dina menuju rumah tersebut dan memperlihatkan segala isinya.


"Dinda akan tinggal disini?" tanya Dina dengan nada tak percaya.


Bromo menganggukkan kepalanya."setiap malam kanda akan mengunjungimu, dan akan menemanimu" jawab Bromo mencoba menenagkan Dina.


Dina memeluk Bromo dengan penuh cinta. Ada rasa yang begitu indah dihatinya.