Buhul ghaib

Buhul ghaib
episode 219



Edy kemudian melesat pergi dari rumah tersebut dan menyelinap diantara gedung yang kini sunyi tanpa ada kebahagiaan.


Edy menuju rumah sakit terdekat untuk melihat kondisi terkini.


Ia memasuki rumah sakit, dan menyelinap ke ruang ganti untuk memakai pakaian alat pelindung diri lengkap agar tak dicurigai.


Sepanjang koridor, banyak warga yang tampak kejang dengan kondisi sangat mengenaskan dan ada yang tertangani karena jumlah tenaga medis yang tidak sesuai dengan jumlah pasien yang membludak.


Bahkan ada beberapa pasien yang meregang nyawa tanpa ditangani.


Mayat bergelimpangan dengan sangat mengenaskan.


Edy terus berjalan dengan memperhatikan segala yang terlihat.


Saat bersamaan, Edy melihat seorang tenaga medis yang sangat mencurigakan berjalan didepannya.


Edy membolakan matanya dan mencoba mengikuti langkah tenaga medis tersebut.


Seperti mengetahui sedang diikuti. Tenaga medis itu mempercepat langkahnya dan menghilang diantara tenaga medis yang sedang sibuk melayani para pasien.


Edy memastikan jika tenaga medis palsu itu berniat menyebarkan racun misterius tersebut ke ruangan rumah sakit untuk mencelakai para tenaga medis yang sedang berusaha menyelamatkan para pasien yang kini jumlah terus bertambah, sebab mobil ambulance terus saja datang dengan membawa pasien baru.


Edy mengedarkan pandangannya. Ia mencari sang tenaga medis palsu yang kini sedang berbaur diantara para tenaga medis lainnya.


Dan saat bersamaan, Ia melihat seseorang yang memncurigakan tersebut dan Ia segera menghampirinya, lalu menarik pundak seseorang yang dicurigainya itu, dan..


Ternyata Ia salah orang, lalu sang tenaga medis palsu yang berada tak jauh darinya tersenyum dengan licik, lalu berjalan dengan cepat.


Edy melihat gelagat yang aneh sosok tersebut, dan Edy kemudian mengejarnya dan sosok itu terus mempercepat langkahnya dengan terus menerobos ke arah keramaian.


Saat tak terduga, sosok itu sepertinya hendak melemparkan tabung kaca sebesar jari telunjuk tersebut, dan Edy dengan cepat menangakapnya sebelum tabung itu jatuh ke lantai dan pecah lalu menyebarkan racun mematikan tersebut.


Akhirnya Edy berhasil menangkapnya meski harus tersungkur dilantai.


Ia bergegas ke tolilet, lalu membuang tabung itu disana dengan memecahkannya dan menyiramnya, lalu menutupnya dengan cepat.


Setelah itu Ia kembali keluar untuk kembali mengejar sosok tersebut.


Edy mencarinya ditenda-tenda tempat pasien yang sedang menajalani perawatan. Tanpa sengaja Edy melihat Lee ditenda tersebut bersama dengan gadis pirang tersebut dan sedang membantu para tenaga medis yang sedang melakukan perawatan kepada para pasien.


Dan..


Sosok mencurigakan itu menghampiri Lee dan tampaknya ingin menyebarkan racun itu kepada Lee dan seluruh pasien dan tenaga medis yang ada didalam tenda darurat tersebut.


Edy membolakan matanya, dan segera menghampiri Lee dengan berpura-pura menyentuh tubuh pria itu tanpa sengaja dan meminta Lee untuk keluar dari tenda karena ada pasien yang baru datang dari ambulance dan meminta bantuan untuk dimasukkan kedalam tenda darurat baru.


Lee yang tak mengenali Edy menganggukkan kepalanya dan segera keluar bersama Rebecca dan juga para medis lainnya.


Namun saat sosok itu akan ikut keluar, Edy mencengkram pergelangan tangan sosok itu, dan memuntirnya agar mendapatkan tabung tersebut.


Sosok itu menyeringai, dan melakukan perlawanan.


Edy meraih sebuah pisau medis yang terdapat tak jauh dari tempatnya, dan menusukkan kepada Sosok itu tepat di ubun-ubunnya hingga membuat sosok itu mengejang dengan cepat dan mengeluarkan asap hitam lalu menghilang menjadi serpihan daging yang berwarna hitam.


Edy kembali keluar dari tenda. Ia mendengar suara keributan yang sangat kacau di sebuah tenda darurat.


Kini para medis dan juga pasien yang baru saja diantar oleh ambulance mengalami kejang dan mengeluarkan buih dan akhirnya meregang nyawa.


Edy mencari keberadaan Lee, dan ternyata tidak ada didalam tenda tersebut, Ia akhirnya merasa bernafas lega, sebab pemuda itu tak menjadi salah satu korban dari penyebaran racun tersebut.


Sementara itu, Lee masih berada diluar tenda bersama Rebecca untuk membantu membangun tenda darurat lainnya, karena diapstikan aka ada jumlah pasien lain yang datang.


Edy terus mengedarkan pandangannya menyapu sekelilingnya.


Ia masih merasakan jika masih ada penyusup lainnya yang ingin membuat kekacauan.


Sebab itu adanya penyusup yang berhasil masuk ke tenda darurat tersebut.


Edy menghampiri Lee. Lalu mencoba menyapanya dan membawa pria itu keluar tenda.


Edy memperlihatkan wajahnya kepada Lee, dan membuat pemuda itu terperangah "Kau..?! Apa yang kau lakukan ditempat ini..?" tanya Lee dengan nada penuh penekanan.


Edy menutup mulut Lee dengan cepat, lalu memperlihatkan tabung yang berisi cairan berwarna hitam kepada pemuda itu.


"Dengarkan Aku, diantara tenaga medis ada yang merupakan penyusup untuk menyebarkan racun ini, dan Kau harus dapat mengenalinya. Jangan sampai tabung ini pecah, karena dapat membuat racun bertambah parah" Edy mencoba menjelaskan.


Lee tampak terdiam "Dan jika Kau menemukan sosok mencurigakan, maka kau harus berhati-hati, sebab Ia bukan manusia asli, melainkan Mutan. Maka Kau harus menusuk ubun-ubunnya untuk memusnahkannya" ucap Edy sembari memberikan satu pisau medis dari tangannya ke saku jas milik Lee.


Lee semakin terdiam "Tabung ini pecahkan ditoilet, siram lalu tutup, atau buang kesaluran air" ujar Edy kembali.


Lee menatap pria dihadapannya "Kemana Asih?" tanya Lee lirih.


"Ia sedang mencari penawarnya, doakan saja semoga Ia berhasil" jawab Edy, lalu beranjak pergi meminggalkan Lee.


Lee menatap kepergian Edy yang tampak menuju keluar dari pekarangan rumah sakit.


Lee tak tahu harus apa. Apakah Ia membenci pria itu atau apa.


Namun Ia mengingat pesan dari pria yang kini menjadi suami pujaan hatinya, jika ada penyusup yang berusaha untuk membuat kekacuan ditempat ini.


Lee kemudian mulai waspada dan memperhatikan setiap tenaga medis yang datang, sebab bisa saja mereka menjadi salah satu penyusup.


Tampaknya Edy harus mempercayai ucapan Edy untuk kali ini.


Ia kembali membantu para militer untuk mendirikan tenda darurat dan terus memperhatikan setiap orang yang Ia curigai gerak- geriknya.


Edy melesat mencari tempat pembuangan saluran air.


Setelah mematikan tak ada yang melihatnya, Ia memasukkan tabung kaca tersebut kedalam saluran pembuangan air dan menutupnya dengan segera.


Edy melihat dari kejauhan sebuah mobil berwarna hitam melaju kencang menuju ke arahnya yang saat ini baru selesai menutup saluran air.


Mobil itu melaju mengarak kepadanya dengan sengaja ingin menabraknya.


Edy dengan cepat melompat dan kini berada diatas badan mobil dibagian depan.


Mobil itu melaju kencang dan ingin menjatuhkan Edy dari atas mobil dan meliuk- liukkannya agar Edy kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.